twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • ABOUT
  • CATEGORIES
    • DIY
    • TRAVEL
    • THOUGHTS
    • KOREAN WAVE
  • About
  • Contact

a wonderful life

Jika kalian suka jalan-jalan atau traveling ala-ala backpacker, variety show (VS) Traveler mungkin bisa jadi tontonan yang menyenangkan. Tayang di stasiun JTBC, variety show yang dibintangi Ryu Jun Yeol dan Lee Je Hoon ini bisa disaksikan juga di aplikasi Viu. Berdasarkan artikel yang saya baca di Soompi, Traveler adalah VS yang nggak pake script, jadi emang dibikin biar para cast-nya bener-bener bisa menjadi diri mereka sendiri selama jalan-jalan dan merasakan jadi traveler sejati. Lagi-lagi masih berdasar infonya Soompi, PD Traveler (yang juga merupakan PD-nya Knowing Brothers) mengungkapkan bahwa tujuan acara ini tuh bukan buat bikin pemirsanya mikir "I wanna go there" tapi lebih ke "I wanna travel like that". Saya rasa tujuan itu bener-bener tercapai setelah saya menyaksikan sembilan episode Traveler.

Salah satu aktor favorit saya adalah Ryu Jun Yeol. Selain karena baper pasca menyaksikan Reply 1988, sikap doi ketika traveling bareng Geng Ssangmundong di variety show Youth Over Flower edisi Afrika  makin bikin saya jatuh cinta sama karakter doi yang dicitrakan di kamera. Maka, ketika mendengar kabar bahwa Ryu Jun Yeol bakal membintangi acara variety show bertema jalan-jalan saya semangat dong nunggu-nunggu tanggal rilisnya hahaha.

alasan harus nonton variety show traveler

Alhamdulillah, Viu dengan baik hati berkenan menyediakan VS ini di platform mereka, jadi dengan mudahnya saya bisa mengikuti Traveler dari episode awal. Jun Yeol nggak sendirian, aktor lain yang dipasangkan sebagai travelmate-nya adalah Lee Je Hoon, mas-mas yang pertama saya kenal lewat film Architecture 101. Btw, ada kemiripan antara Jun Yeol di Reply 1988 dengan Je Hoon di Architecture 101, yaitu: sama-sama nggak gercep nyatain perasaan sehingga ceweknya diambil orang HAHAAHHA. Di tiga episode awal, Ryu Jun Yeol yang ternyata punya english name: Anthony masih solo travel ke Kuba. Pasalnya, Je Hoon masih ada jadwal nge-MC KBS Drama Awards, jadi doi dateng belakangan.

Seperti biasa, saya selalu bingung merangkai kata saking banyaknya yang ada di kepala kalau mau bahas sesuatu yang saya sukai. Maka saya akan membaginya dalam beberapa sub-judul dengan ketagori: hal-hal yang bikin saya bertahan nonton sembilan episode Traveler edisi Kuba dan siapa tau jadi gambaran juga buat kalian yang masih bingung mau nonton apa enggak HAHAHA. Well, smeoga membantu.

SEKILAS TENTANG KUBA

Negara yang menjadi tujuan pertama Traveler adalah Kuba, sebuah negara di Perairan Karibia. Nggak tanggung-tanggung mereka explore Kuba sekitar empat belas hari lamanya. Sekilas tentang Kuba yang saya lihat dari VS adalah bahwa negara dengan bahasa utama Bahasa Spanyol ini adalah kota yang 'tenang', orang berlalu lalang tapi tidak penuh sesak seperti kota besar di negara kita, ketika malam hari aktivitas luar rumah bahkan cenderung sangat sepi.

ryu jun yeol traveler kuba
Once upon a day, in Cuba. Ryu Jun Yeol took photo of a street musician in Havana.
Sebagai negara yang bahkan udah lebih duluan merdeka daripada Indonesia, Kuba tampak agak ketinggalan teknologi. Seriously, mereka bahkan masih kesulitan nyari sinyal internet, Wi-Fi nggak bisa didapat di sembarang tempat dan akses sinyal 3G internet untuk ponsel bahkan baru masuk negara ini pada penghujung tahun 2018, itupun sangat terbatas dan harganya mahal. Buat dapetin akses Wi-Fi, Jun Yeol dan Je Hoon harus beli semacam voucher dulu yang bisa dipake secara general dimana-mana. Jun Yeol harus ngantri dua jam buat beli voucher Wi-Fi itu. Perjuangan banget kan?

Entah karena yang dilihatin di VS adalah kota-kota wisata atau emang semua kayak gitu. Jalan-jalan di Kuba tuh lengang gitu, nggak banyak mobil berkeliaran yang makin menambah polusi. Warga Kuba juga tampak ramah dengan para pelancong. Kadang, nuansa tradisional masih begitu terasa di Kuba. Di beberapa lokasi pedesaan, bahkan masih umum orang bepergian naik kuda ala koboi gitu.


TRAVEL DOCUMENTARY

Bagi teman-teman yang mungkin gemar menyaksikan cerita beralur cepat, mungkin bakal agak bosen nonton Traveler, soalnya menurut saya Traveler tuh alurnya lambat dan bener-bener menikmati perjalanan gitu. Dia dibikin kayak travel diary atau kalau bahasanya Jun Yeol: Travel Documentary. Jadi si Jun Yeol dan Je Hoon nggak cuma dateng ke suatu kota dengan segala fasilitas yang udah tersedia, dateng ke tempat wisata yang menarik, syuting-syuting bentar lalu pulang...enggak gitu.

ryu jun yeol lee je hoon traveler iznaga tower
TRAVELER: Lee Je Hoon & Ryu Jun Yeol menikmati pemandangan 'pasar' souvenir dari Menara Iznaga.
Traveler memperlihatkan bagaimana dua aktor ini nyari penginapan, nyari transport dan nawar harganya, nyari tempat makan, belajar referensi tempat tujuan dari buku, ngobrol sama sesama pelancong, ngobrol sama warga asli Kuba, bahkan ngantre beli kartu Wi-Fi, dan segala drama-drama jalan bakal jadi bumbu menarik di VS ini. Sesekali, diselingi suara Jun Yeol dan Je Hoon yang seolah sedang membacakan buku catatan perjalanan mereka. Sisi-sisi kayak gitu diperlihatkan dengan cukup detail di Traveler, seolah membawa kamu merasakan suasana perjalanan yang sebenarnya halah.


MENGANGKAT NILAI SEJARAH

Suatu tempat nggak bakalan lepas dari nilai sejarah dan peradaban orang-orang terdahulu. Poin ini tidak dilewatkan begitu saja oleh tim Traveler. Sementara kita disuguhkan video Jun Yeol dan Je Hoon di sebuah tempat, suara salah satu dari mereka akan mengiringi dengan cerita sejarah dibaliknya. Seperti misalnya ketika Jun Yeol singgah di suatu kafe yang ada patung legendaris Ernest Hemmingway-nya, dia bakal cerita tentang Hemmingway dan sekilas tentang kafe tersebut.

Kuba juga nggak akan lepas dari nama Che Guevara dan Fidel Castro. Berhubung hampir semua tempat yang dikunjungi terkait dengan dua tokoh revolusi itu, maka nama keduanya bakal sering disinggung di Traveler.

variety show traveler episode kuba
Ryu Jun Yeol dan Lee Je Hoon di Revolution Square, Havana.
Atau juga ketika mengunjugi Menara Iznaga yang konon dulunya digunakan penjajah Spanyol untuk mengawasi budak Afrika yang dipaksa bekerja di perkebunan tebu di sekitarnya. Bagaimana orang-orang Afrika itu bisa sampai Kuba bisa sampai kesana juga dibahas di VS.

Selain disuguhkan perjalanan, kita juga bisa belajar sejarah. Nggak cuma dari narasi yang dibacakan cast-nya tapi juga dari semacam video dokumenter atau ilustrasi yang membuat kita semakin mudah mereka ulang kejadian dalam benak. Sebagai penyuka sejarah, saya menganggap hal ini menjadikan perjalanan lebih berarti. 


THE (NOT SO) DEEP CONVO

Traveler, selain membawa Jun Yeol dan Je Hoon untuk lebih dekat mengenal satu sama lain juga pasti bakal penggemar bakal lebih tau tentang keduanya. Soalnya percakapan ngalor ngidul keduanya selalu ditampakkan dengan durasi yang lumayan panjang. Mereka ngobrol soal masa kecil, film-film yang mereka tonton, perjalanan karir hingga jadi kayak sekarang, senengnya mereka pas akhirnya kerja bareng atau ketemu aktor senior yang jadi panutan,  pembicaraan keluarga, bahkan pekerjaan-pekerjaan part-time yang mereka jalani sebelum jadi aktor. Not an instan way of course, it's a very long story of struggle, apalagi Jun Yeol yang belum lama debut. Pemirsa bakal dibawa merasakan dua manusia itu secara lebih manusiawi halah halah bahasanya wkwkk.

sinopsis variety show jtbc
Ngobrol sambil menanti sunset di Caleta Buena, Playa Giron.
Ini jadi poin favorit saya sih. Karena bagi saya, perjalanan bareng partner tuh ya serunya disitu. Lebih dari sekadar dateng ke tempat baru atau tempat bagus tapi juga buat lebih mengenal partner kita lewat percakapan-percakapan berarti. Ngomongin kerjaan, sambat kehidupan, impian, insecurities, apaaa ajaa...syahdu banget kaan. Yang tak jarang justru sering pula bikin kita sejenak merenung dan memahami diri sendiri. Halah HAHAHAH. Kayak seru aja gitu liatin Jun Yeol dan Je Hoon gegoleran sambil lihat sunset di pantai dan cerita banyak....ugh, I really wanna travel like that. Apalagi, Jun Yeol ini yaa...meskipun lebih muda dari Je Hoon, dia tuh keliatan banget yang ngemong travelmate-nya gitu lho, nggak cuma itu dia juga always taking care para staff. Seru banget kayaknya tuh kalau jalan bareng pacarnya Mbak Hyeri ini HAHAHA.


PENGINAPAN LUCU

Lagi-lagi saya nggak paham, apakah memang karena lokasi-lokasi yang dikunjungi memang kota wisata atau memang semua daerah di Kuba kayak gitu, tapi nyari penginapan di Kuba bisa dibilang gampang. Perjuangannya mungkin nyari yang nggak penuh dengan harus jalan door to door kalau kita belum reservasi jauh hari sebelumnya. Disini penginapan disebut "kasa" dan setiap rumah/bangunan yang menyediakan fasilitas menginap bakal memasang logo khas kasa untuk memudahkan wisatawan. Gak ada reklame-reklame heboh yg semrawut karena logo-logo kasa menempel langsun di dinding bangunan dengan ukuran wajar.

Jun Yeol dan Je Hoon bisa dibilang selalu dapet penginapan menggemaskan dan bersih. Seperti umunya rumah-rumah di Kuba, kasa juga dicat beraneka warna terang, dengan interior yang semarak. Summer vibes- banget laah hahaha. Saya suka aja gitu lihat desain penginapan-penginapan di Kuba. Bahagia pasti kalo lagi plesiran terus dapet penginapan yang memanjakan mata kayak gitu HAHAHA.


KOTA YANG DIKUNJUNGI

I don't know much about Cuba, almost have no clue about this country. Jadi, justru saya bener-bener dapat insight baru dan nggak expect anything ke tujuan-tujuan wisatanya. Saya jadi kayak yang...yaudah sih, mau lihat sini kayak apa Kuba itu... Nggak ada kota tertentu yang bikin saya excited sebelumya, karena emang nggak pernah kepo Kuba. Saya juga jadi menemukan kejutan-kejutan di sepanjang perjalanan. Sesekali juga bikin saya tambah bersyukur.

backpacker kuba malecon morro castle
Ryu Jun Yeol di Malecon, berlatar Morro Castle.
Kota pertama yang menjadi tujuan tim Traveler adalah Havana, ibukotanya Kuba, tempat yang ada Revolution Square berhiaskan sclupture Che Guevara dan menyediakan transportasi mobil-mobil klasik yang cuma ada di Havana. Sampingan sama Havana ada Malecon, tempat favoritnya Jun Yeol buat lihat sunrise maupun sunset. Di Malecon, ada Morro Castle, benteng dan mercu suar yang dulunya dijadikan pertahanan buat menghalau bajak laut.

Sebelum Je Hoon nyusul ke Kuba, Jun Yeol sempet main ke Vinales, tempat para petani tembakau dan produksi cerutu. Kuba konon adalah penghasil cerutu terbaik di Amerika. Jun Yeol bahkan sempet naik kuda menuju salah satu kebun tembakau di Vinales. Menurut saya, Vinales yang dikelilingi pegunungan ini adalah yang paling sejuk dari semua kota yang dikunjungi Traveler. Di Vinales ini pula, Jun Yeol dihadapkan pada tradisi tahun baru yang unik. Kalau mau lihat lengkapnya, tonton aja episode dua Traveler hihihi. Bakal terpesona sama luwesnya Jun Yeol ketika solo traveling wis hahaha.

variety show traveler episode vinales
Jun Yeol menikmati suasana pagi nek nggak sore ya itu, dari rooftop kasa di Vinales.

Berkuda ke perkebunan tembakau di Vinales.
Kota yang selanjutnya dikunjungi adalah Playa Giron. Disini, mereka berjuang cari penginapan dan baru berhasil di detik-detik terakhir hahaha. Siangnya mereka sepedaan dan mainan air di Pantai Caleta Buena sepanjang hari.

Dari Playa Giron, Jun Yeol dan Je Hoon naik bus ke Trinidad. Di kota ini mereka memutuskan buat jalan sendiri-sendiri. Si Jun Yeol jalan keliling kota sambil motret-motret suasana kota, sedangkan Je Hoon memilih belanja ke semacam pasar tradisional. Nah, abis itu drama terjadi di episode ini, dimana mereka nggak bisa menemukan satu sama lain hihihi.

Sepedaan menuju Caleta Buena.
Main air di Caleta Buena.
Dengan menaiki kereta api super unik yang kayak udah jadul banget gitu, Jun Yeol dan Je Hoon pergi ke Menara Iznaga, yang dulu dipake buat mengawasi budak perkebunan Tebu. Pemandangan dari menara ini beneran bagus banget. Bisa lihat lembah dan pegunungan tanpa terhalang bangunan-bangunan tinggi. Tapi entah kenapa pemandangannya mengingatkan pada Perbukitan Menoreh di Borobudur hahahaah.

Kota terakhir yang jadi tujuan wisata Traveler episode Kuba adalah Varadero. Di kota ini mereka nggak lagi menikmati liburan ala backpaker tapi udah liburan lux di hotel bagus HAHAHA. Ini tuh kayak bonus setelah empat belas hari hidup menggembel di Kuba sebelum melanjutkan ke negara berikutnya, Meksiko. Berhubung saya baru nonton sampai episode sembilan, saya belum tau mereka ngapain aja di varadero selain menikmati sunset di pantai deket hotel. Kayaknya sih, mereka juga bakal sky diving di Varadero jadi yaa...beneran menikmati hari-hari terakhir di Kuba dengan berwisata layaknya orang bergelimang harta. Yaa, gimana yha...Mas Jun Yeol ini kan salah satu sumber duitnya sebagai brand ambassador Cadillac, masa nggak punya harta kekayaan wkwkwk.


MOBIL TUA

Salah satu hal yang mungkin ikonik dari Kuba adalah keberadaan mobil-mobil tua berwarna-warni di Havana. Ya, mereka cuma ada di Havana dan nggak ada di tempat lain. Jun Yeol sempat dua kali menikmati perjalanan jauh pake mobil tua. Pertama adalah dari Havana ke Vinales, dan selanjutnya ketika Je Hoon dateng doi juga pake mobil tua ke Playa Giron. Sementara di hari pertama kedatangan Je Hoon di Kuba, keduanya memutuskan keliling kota naik mobil merah yang bagus dan berakhir menyaksikan matahari tenggelam di tepi pantai.

mobil tua di kuba variety show traveler

Meskipun mobilnya jadul, tapi mesin yang dipasang tentu saja sudah diperbaharui. Seorang pengemudi bahkan dengan bangga menunjukkan kepada penumpangnya yang berkebangsaan Korea bahwa mobil Chevrolet-nya (atau apa itu mereknya lupa) bermesih Hyundai hahaha. Konon keberadaan mobil-mobil tua ini nggak lepas dari pengaruh embargo AS kepada negara komunis Kuba, yang bikin warga yang udah terlanjur beli mobil nggak bisa beli spare part mobil ataupun mobil baru karena harganya mahal dan dipatok pajak mahal pula. Jadi, pilihannya cuma memperbaiki mobil jadul atau utak-atik mesinnya.


BERTEMAN MATAHARI

Di setiap kota yang dikunjungi, hampir selalu duo travelmate ini menyempatkan buat lihat sunrise dan sunset. Mulai dari niat banget bangun pagi-pagi buat mendaki gunung di Trinidad sampai yang sekedar naik ke atap kasa buat menikmati sore. Senja-senja indah di pantai juga selalu menemani perjalanan mereka. Jadi kalau in case kita lagi nggak sempet jalan-jalan dan belom punya cukup duit, tonton ini dulu deh...dibikin mabuk senja kamu hahaha.

sunset di moro castle malecon
Pada suatu senja di Malecon.
Matahari terbit di sebuah gunung di Trinidad.



SABOR A MI

Well, sebenarnya ini nggak terlalu related dengan unsur utama variety show, tapi menjadi salah satu pelengkap yang memorable bagi saya. Selama empat belas hari di Kuba yang dirangkum dalam sepuluh episode, entah sudah berapa kali lagu Sabor a Mi dijadikan backsound Traveler. Hal ini tuh bikin saya teringat perform-nya anak-anak EXO pas acara Music Bank Meksiko, dimana mereka menyanyikan lagu ini diiringi alunan gitar Park Chanyeol, hahaha. Sebagai fangirl anyaran saya jadi terbayang ekspresi Do Kyungsoo pas nyanyi lagu berbahasa spanyol ini di panggung hahahah. Oh, apa? Kalian mau lihat perform-nya para main vocal juga? Click below WKWKWKW


Nah, gimana? Kelihatan kan kalau dari gambar-gambarnya aja, Traveler emang nggak menampilkan tempat-tempat tamasya yang extravagant. Jadi menurutku, acara ini emang fokus membawa pemirsa untuk menikmati feel perjalanannya...gimana ya, susah menggambarkan dengan kata-kata, tapi semoga kalian menangkap maksudku. Kayak diajak untuk merasakan suka duka jalan-jalan gitu wkwkwk. Sepertinya negara selanjutnya yang bakal jadi tujuan Traveler adalah Meksiko. Entah kenapa ini kekoreyaan lagi suka sama negara-negara Amerika Latin yaa. Kemarin Park Bo Gum - Song Hye Kyo syuting drama juga di Kuba, SMTOWN di Chile, Music Bank di Meksiko, dan sekarang Traveler. Ah..itu mungkin cuma cocoklogiku aja kali ya hahaha.

PS: all pictures are from JTBC.


Minggu, 11 Mei 2019
Lega banget rasanya bisa mencurahkan pikiran dan isi hati
lewat tulisan ini. LUV!!
May 11, 2019 4 comments
Tahun 2019 sudah memasuki penghujung bulan keempat (bahkan udah masuk awal bulan kelima ketika saya memberikan suntingan terakhir untuk tulisan ini) dan saya belum sempat sama sekali mengirimkan kartu pos-kartu pos untuk sesama penggemar Postcrossing. Terakhir kali melakukan kegiatan yang Postcrossing-related adalah tahun lalu, beberapa hari setelah upacara penutupan Asian Games 2018, yaitu kirim kartu pos lewat Direct Swap ke Korea (baca kisahnya di sini), setelah itu saya belum sempat lagi mengirimkan kartu pos. Belakangan saya bahkan memutuskan untuk menonaktifkan akun Postcrossing untuk sementara mengingat saya kayaknya bakal vacuum pula selama beberapa bulan ke depan. By the way, akun Postcrossing itu emang bisa hangus kalau kita nggak login secara rutin. Makanya, untuk menghindari hangusnya akun, kalau sekiranya kita mau sejenak mengambil jeda kehidupan (halah), Postcrossing memberikan opsi untuk menonaktifkan akun...dan itulah yang saya lakukan saat ini. Sebenarnya stok kartu pos di rumah masih sangat cukup untuk kirim kartu pos beberapa periode, prangko juga masih ada tapi sudah sangat minim, namun saat ini saya stay di Magelang, udah nggak sering-sering ke Jogja lagi. Sementara mengirim kartu pos di Magelang nggak segampang di Jogja. Dulu sih, pulang kerja tinggal mampir, sekarang susah. Apalagi saya diharuskan meminimalisir keluar rumah hehehe.


Beberapa koleksi kartu pos saya.

Eh, sebelum saya nulis banyak-banyak, adakah yang belum tau Postcrossing itu apa? Well, itu tuh semacam komunitas online buat seseorang dari berbagai negara di dunia bertukar kartu pos secara offline. Jadi nanti kita bisa punya akun online, tapi ngirim kartu pos fisik ke si pemilik akun-akun itu. Kalo penasaran caranya dan info lainnya, silakan mampir ke tulisan ini, saya bahas lumayan lengkap disitu hehe.

Kalau di Jogja, kantor pos andalan buat kirim kartu pos tuh Kantor Pos Bulaksumur UGM, alasannya adalah karena para petugasnya tampak familiar dengan aktivitas manusia-manusia yang suka kirim kartu pos yang saya duga merupakan anggota komunitas Postcrossing juga hehehe. Selain itu, kantor pos yang bisa dijangkau naik sepeda kampus dari Fisipol ini menyediakan prangko dengan variasi harga dan gambar yang beragam jadi lebih memudahkan buat menyesuaikan prangko dengan kebutuhan. Jika di Jogja, ketika sedang selo, saya bahkan bisa mampir ke Kantor Pos Besar Yogyakarta yang ada di Nol Kilometer, disana ketersediaan prangko tentu saja sangat beragam, bisa milih yang sesuai selera atau sesuai permintaan calon penerima kartu pos, bahkan bisa memilih seri-seri terbaru seperti seri prangko Asian Games 2018 yang pernah saya unggah di blog. Hal itu tentu saja tidak mudah didapatkan di Magelang.

Suatu hari, saya pernah ingin mengirim kartu pos lewat kantor pos dekat rumah saya. Saat itu saya membutuhkan prangko enam ribu rupiah dan tujuh ribu rupiah untuk mengirim kartu pos, sayangnya kantor pos tersebut hanya memiliki stock prangko dengan nominal lima ribu rupiah saja, itupun dengan jumlah terbatas. Ketika saya mencoba ke kantor pos lain yang jaraknya juga lumayan terjangkau dari rumah, saya juga menemui problematika yang sama, mereka cuma punya prangko lima ribuan. Kan sedih yaa huhuhu. Ketika kita cuma butuh prangko tujuh ribu misalnya, tapi untuk memenuhi kebutuhan tersebut kita nggak bisa pakai prangko tiga ribu dan empat ribu, melainkan harus bayar sepuluh ribu karena yang tersedia cuma prangko lima ribuan. Yaa...kalo kartu posnya cuma satu, kalo misal mau kirim lima kan mayan uga....yang harusnya cuma bayar tiga puluh lima ribu, jadi harus bayar lima puluh ribu. Biaya tambahannya lima belas ribu sis, duit segitu bisa dipake kirim dua kartu pos ke Jerman tuh huhuhu.

Selain menyediakan prangko dengan pecahan harga yang nggak banyak, di dekat rumah saya varian prangko juga monoton, nggak bisa milih yang seri-seri tertentu. Padahal biasanya penggemar Postcrossing kan auto gemar mengumpulkan prangko juga tuh. Alangkah seneng kan kalau kita bisa melengkapi koleksi-koleksi mereka juga. Iya sih, sebenernya nggak masalah kalau dikasih prangko monoton, tapi apa iya...kita ngasih orang, bawa nama Indonesia pula, terus ngasihnya asal-asalan? Nggak bisa gitu dong, tetep harus berusaha memberikan yang terbaik ye, kan? Hihihi.

Ya, dua alasan itu sih yang membuat saya memutuskan sejenak vacuum dari dunia Postcrossing. Mungkin itulah tantangan yang harus dihadapi orang-orang di komunitas Postcrossing yang tinggal di kota kecil. Sebenernya ada opsi lain sih, yaitu beli prangkonya online, biar bisi milih aneka harga berikut serinya, tapiii...tentu saja harganya lebih mahal, belum lagi ongkos kirimnya. Nggak bisa, sedang hemat aku tuh...butuh nabung banyak-banyak buat biaya perniqahan kita mz. Hahahaha alesan aja aku tuh, bilang aja kagak punya duit hahaha.

Ngirim kartu pos emang kayaknya gampang dan "gitu doang". Tapi menurut saya Postcrossing ini juga butuh ketelatenan. Dari awal, pas kita klik pengen kirim, dapet alamat dan nama akun, kepoin akun-akun yang bersangkutan buat tau kartu pos kayak apa yang dia suka berdasar keterangan di profil dia, terus milih kartu pos yang sekiranya suitable, mikirin mau nulis apa di kolom yang cuma secuil tapi harus menarik, beli prangkonya, trus sampe ngirim. Butuh effort. Aku sendiri selalu mengusahakan setiap kartu pos itu tulisannya beda-beda satu sama lain, lebih personal, dan berusaha menyesuaikan tema kesukaan yang ditulis si empunya akun di profilnya. Sekali lagi, nggak mau asal-asalan. Yaa, namanya juga hobi. Pasti kamu lakukan wholeheartedly kan? Kadang, memang susah dimengerti buat sebagian orang hahaha, tapi kamu hanya perlu "mau mengerti" untuk belajar sedikit memahami (yaelah...kuwots receh mode on).

Yaudah sih, sekian dulu curhatan saya yang udah lama vacuum blogging ini. Btw, besok insyaallah udah masuk Ramadhan ya, maafkan saya ya kalau dalam menulis dan merangkai kata di blog  ini sering ada banyak salahnya. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga Ramadahan ini kita sama-sama sehat dan senantiasa dilimpahi berkah. Semoga saya segera menemukan kekuatan lahir dan batin untuk kembali menghidupkan hobi Postcrossing dan mendapatkan pencerahan hidup untuk kembali curhat di blog.  Semoga besok pas ndilalah pengen kirim kartu pos kantor pos deket rumah tiba-tiba punya koleksi postcard kece haha.

Oh iya, Minseok hyung mau berangkat wamil besok Selasa, mohon doanya semoga beliau sehat-sehat dan kembali tanpa terluka hehehe.

Magelang, 05 Mei 2019
May 05, 2019 1 comments

Kalimat itu dulunya mungkin hanya sebuah kutipan yang saya iyakan hingga saya benar-benar mengalami the real definition of hard time dan merasakan betapa hanya orang-orang yang benar-benar peduli yang menemani di sisi kita dalam menjalani masa-masa sulit. Semandiri apapun seseorang, dalam hidupnya bisa jadi akan ada satu titik dimana dia benar-benar membutuhkan bantuan dari orang lain. Ya, dalam masa sulit itu Tuhan mengingatkan kembali bahwa sebagai manusia, ada saatnya kita PASTI membutuhkan bantuan orang lain untuk sekedar melakukan hal-hal yang sepele sekalipun. Bahwa 'hal sepele' itu sungguh nggak bisa kita lakukan sendiri tanpa izin-Nya. Bahwa kita tak bisa hidup sendiri. And in the end, they're always a family. Not everyone else.

Saat masa sulit itu datang, akan begitu terasa mana orang yang benar-benar peduli. Dan hal itu sangatlah wajar. Karena memang setiap orang sibuk dengan kehidupannnya masing-masing, sibuk dengan pekerjaan, dan keluarga masing-masing. Setiap orang punya prioritasnya sendiri. Tak jarang, yang kita kira akan ada justru tiada. Yang kita kira dekat ternyata begitu jauh. Dan sebaliknya, yang dari jauh justru yang paling peduli. We never know. Tapi keluarga, mereka selalu ada, selalu menemani.

Kim Jongin and his hard time, with his friend beside (pic source: pinterest)

Masa itu justru merupakan sebuah kesempatan kita untuk kembali merunung dan belajar...menjadi manusia. Lewat masa-masa diuji oleh-Nya, seringkali kita juga justru punya kesempatan untuk berkontemplasi. Lebih sensitif terhadap hal-hal di sekitar kita, lebih memikirkan keadaan dan perasaan orang lain. Lebih banyak memikirkan hal-hal yang sebelumnya jarang kita pikirkan dalam-dalam...karena mungkin selama ini saya terlalu egois, terlalu sombong. Benar adanya jika di balik setiap musibah pasti ada hikmah. Setidaknya saat ini, hikmah yang dapat saya ambil adalah sebuah kesempatan untuk banyak-banyak mendapat self-reminder dan meneladani sikap baik yang ditunjukkan orang-orang di sekitar kita. Agar kelak, jika berhadapan dengan orang dengan masa sulitnya, kita juga bisa menjadi lebih bijak dari kita sebelumnya. 

Dan sejatinya lewat setiap cobaan kita sekali lagi diingatkan untuk senantiasa kembali pada-Nya.

Magelang | February 08, 2019
It's rain outside
and I miss you a lot...just like always
February 08, 2019 1 comments
Suatu hari ketika saya sedang dalam keadaan sangat down, saya tiduran sambil buka Instagram, liatin story orang-orang. Niatnya sih "refreshing" but...damn, everyone seems so good that day. Kalo kata Rihanna mah mereka keliatan shine bright like a diamond di story masing-masing. Alih-alih refreshing, saya justru berakhir dengan membandingkan apa yang ada di story-story itu dengan kondisi yang sedang saya alami dan ngerasa sangat miserable HAHAHA. Apakah kalian pernah mengalami hal yang sama?

Yorobun, membuka Instagram saat kamu down dan membandingkan insta-life dengan kondisimu adalah kesalahan hahaha, yang ada malah bikin tambah ngerasa sedih dan stress sendiri. Kerena menurut saya yang umumnya diupload orang di IG tuh yaa cuma bahagianya, sedih-sedihnya enggak...padahal everyone fights with their own battles. Saya pun gitu hahaha, yang saya upload ya yang pas bahagia, jarang banget upload penderitaan di IG, because...yha ngapain? Kan penderitaanku udah aku upload ke chat room sahabatku ehehehe. Foto-foto insta juga umumnya adalah momen terbaik yang udah dipoles filter jadi makin waow. Saya aja, kalau mau upload IG adalah kalo lagi dapet momen dan foto bagus, fotonya pun  diedit dulu pake VSCO sebelum diupload.  Orang lain juga mungkin melakukan hal yang sama. We only show our best, and so they do. Well, mungkin nggak semua tapi saya rasa mayoritas juga gitu. Dan yang kayak gitu dibandingin sama momen tersedih kita, yhaa gak mashokkk hehehe. Dulu mungkin saya sering lupa perkara itu, tapi alhamdulillah sekarang udah enggak lagi.

Nah, setelah kejadian itu saya jadi teringat pernah baca artikel yang menyebutkan bahwa ada penelitian yang mengungkapkan kalau Instagram itu adalah social media yang rawan bikin insecure, bahkan cenderung unhealthy. Kenapa? Ya salah satunya mungkin kaya saya tadi, tanpa sadar kita membandingkan kesedihan kita dengan kebahagiaan orang lain dan akhirnya sedih dewe. Pernah juga baca artikel tentang orang-orang yang rela mengeluarkan effort dan budget luar biasa (bahkan saya bilang sih gak wajar) demi sebuah konten Instagram. Ada juga artikel tentang selebgram yang mengubah kepsyen-kepsyen foto "flawless" yang pernah dia unggah dengan cerita di balik setiap foto yang sayangnya kebanyakan adalah kisah yang ironis. 

anxiety instagram
(pic source)
Tapi yang menarik, saya juga jadi inget beberapa statement teman terkait per-instagram-an yang sempet bikin saya kepikiran. Is instagram really unhealthy for your mental well-being? Ada beberapa pengalaman dan perbincangan yang bikin saya mikir setelah percakapan itu terjadi dan belajar dari kejadian itu. Beberapa hal yang mungkin ada kaitannya sama mental well-being. Itulah yang mau saya share disini. Sebenernya udah lama banget pengen share tentang Instagram tapi selalu bingung mau mulai darimana bahasnya. Maka inilah pembahasan hari ini. Maaf yaa kalau alurnya agak random hehehe.

Suatu hari, seorang teman berkata kepada saya yang intinya: "aku upload story dan upload foto (di feed), yang liat story-ku udah banyak tapi yang like fotoku cuma dikit dan aku lihat (di tab like following -red) mereka malah nge-like foto-foto lain yang biasa aja." Saat itu, saya yang bahkan belum update Instagram yang adanya story-nya (iya, saya tergolong telat banget update IG yang mendukung feature story hahaha) agak kaget dengan pernyataan itu. I thought...oh this is not good, why she thought something like that? She should know, that she still amazing and the number of likes didn't define her.

Iya, interaksi yang diharapkan (dan disediakan) di Instagram kalo kita upload foto, ya emang like atau komen, tapi...seriously don't let it stress us. Khawatir nggak di-like atau khawatir dapet komen nggak enak misalnya. Well, bukankah ada banyak alasan bagi seseorang buat nge-like foto? Foto bagus bukan satu-satunya alasan. Bisa jadi seseorang nge-like karena foto itu punya kekuatan emosional buat dia, karena kepsyen yang menyertai foto itu menarik, or simply karena yang upload temen satu circle, bahkan bisa jadi juga karena algoritma Instagram atau apalah itu, bikin foto kita jadi tenggelam dari pantauan timeline kawan kita. 

Saya juga jadi inget pembicaraan dengan Bapak Kormanit (yang kemarin baru saja menikah, selamat!), saat itu kami membahas tentang beberapa akun yang menurut kami punya konten bagus dan dimiliki oleh seorang yang menurut kami "berkualitas", tapi konten-konten dia nggak dapet like banyak dan dia juga gak punya follower sebanyak Park Chanyeol (oke, ini lebay) dan saat itu obrolan kami memutuskan kalau jumlah like yha memang bisa jadi mempengaruhi kualitas foto, tapi tidak selalu demikian. Lesson learned: the number of likes is not everything, well except your 'gram is for business or something that need that much likes to reach the target. No need much worry about likes and comments things. 


(pic source)
Di hari lain seorang kawan cerita kalau dia memutuskan buat delete akun Instagramnya karena dia ngerasa Instagram banyak "mudharatnya". He didn't tell me what the negativity on Instagram that he faced. Beberapa bulan kemudian, orang ini udah bikin akun lagi dan aktif aja sampe sekarang. Mmm..okay hehe. Ada juga yang bilang resolusi 2018 adalah buat gak main IG lagi. But...this person comes back in daily Instagram lyfe a few days later and are active on IG until now. Well, basically I wanna laugh SO HARD sama yg model begitu, Ya Allah maaf jahat banget...habis gimana lha udah koar-koar gitu eh taunya.... Eh tapi saya nggak sejahat itu kok, saya ketawa dulu tapi tetep bersimpati hahaha.

Kalau dipikir-pikir lagi hal-hal kayak keinginan buat deactivate Instagram itu saya temui nggak cuma satu dua kali, nggak cuma di real life teman sekitar tapi juga wira-wiri di TL twitter. Pernyataan yang mereka buat sebelumnya menurut saya pasti sempat didasari rasa insecure atau apapun namanya, yang dipicu sosial media bernama Instagram,  yang bikin mereka emosi sesaat dan bilang gitu......yet they can't stay away from Instagram. So sad actually. Lesson learned: emotional control takes strong part in social media lyfe. I hope you're all okay dan kalau ada yang kayak gitu jangan diketawain laah yaa, kan problematika hidup orang beda-beda yhaa, prosesnya juga beda-beda hmm. Biarin aja kalau misal ada kawan atau bahkan kita sendiri yang mau sejenak rehat dari kehidupan sosial media ini, mungkin cara itu bakal baik untuk kebahagiaan dia.

Saya juga pernah merasa dibikin sakit hati sama konten Instagram dari seorang ehem...my crush wlllekekek. Jadi dia unggah sesuatu yang bikin saya patah hati AHAHAHA padahal yaa sopo aku. And I decide to logout my Instagram for a few days, biar gak tau kisah hidupnya di story LoL. Tapi jangan lupa, ada feature mute di Instagram. You can mute everyone story and the posts if it doesn't match your style. Seperti misalnya kalau ada teman yang sering unggah perpolitikan, apalagi yang mengarah ke SARA, mute aja haha. I think it's okay, you do not unfriend them, you do  not hate them in real life, you just didn't match with their content. Eh tapi btw, si "crush" tadi nggak saya mute kok, karena alhamdulillah udah bisa noto ati jadi nggak "terganggu" sama unggahan semacam itu. Lesson learned: noto ati is so important, nggak cuma dalam hal main Instagram kalo ini mah, tapi dalam kehidupan sehari-hari. Ngetik gampang, praktinya susah! Tentang mute-mute-an ini, juga perlu diingat: you can mute everyone, and so does everyone. They can mute you too. Nah, jangan sakit hati kalau pas tau begini. Coba introspeksi, bisa jadi kita di-mute kerena emang ada masa masalah personal, bisa juga konten kita yang annoying hayo...semoga jangan sampai yaa.


membandingkan gaya hidup di instagram
Source: Pinterest
Selanjutnya tentang unfriend, ada temen yang pernah curhat kalau dia pengen unfriend orang karena keberadaan akun tersebut wira-wiri di timeline dia bikin hatinya nggak nyaman. Wait...ini kenapa saya banyak menerima curhatan tentang hal-hal kayak gini di Instagram ya? Sementara saya malah mayan bahagia dengan memantau kehidupan para chingu EXO di platform social media yang satu itu. Meskipun saya nggak pernah sejauh unfriend orang karena emang gak seterganggu itu sama konten orang lain, tapi seandainya ada yang unfriend pun yaudah sih, mungkin dia mau membatasi circle dia di sosial media.  Misalnya aja nih, saya pernah nemu akun blogger yang memutuskan buat cuma follow akun-akun oppa dan noona karena dia emang lebih bahagia sama konten-konten para oppa dan noona ini. Kalo dibilang apa yang dia lakuin itu tergolong: ngapain bikin sosial media kalau nggak mau bersosialisai, kok saya kurang setuju ya. I mean...ya nggak apa-apa gitu kamu membatasi followingmu, asalkan tetep bergaul dengan baik di kehidupan nyata demi mewujudkan masyarakat madani (apasih ini bahasanya). Setting boundaries is pretty okay, isn't it? Ribet kadang memang dunia maya ini yhaa wkwkwk. 

Pernah juga baca sebuah artikel tentang orang yang mengalami anxiety tiap kali mau posting di Instagram, kalo nggak salah dia tuh model gitu. Btw, iya, saya memang sempet baca beberapa artikel tentang Instagram dan mental health karena udah dari jaman kapan kepikiran nulis, makanya baca-baca artikel yang terkait. Sayangnya saya nggak simpen link sumbernya dari dimana aja huhu maafkan. Oke, lanjut... Si orang ini tiap kali dia posting foto di Insta, dia bakal delete foto itu beberapa saat kemudian karena ngerasa kurang wow. Terus diedit lagi fotonya, abis itu di-posting lagi. Ngerasa ada yang kurang lagi - disunting lagi - diunggah lagi. Gitu aja terus, Ferguso hehe. Nah dia ini ngerasa takut kalau foto sekaligus kepsyen yang dia posting nggak "perform well" di hadapan masyarakat jagad maya. Padahal kalau dipikir lagi, yaa who care sih, siapa yang bener-bener memperhatikan postingan kita sampai sangat-sangat detail, kok selo banget hidupnya hehe. Orang kan rata-rata ngeliat foto yaa cuma beberapa detik nggak sih. Yuk, nggak usah terlalu khawatir sama perfotoan ini. Maksud saya, idol macam Kim Jongin aja posting foto blur di Instagramnya nggak apa-apa lho. Oh Sehun yang followernya di atas empat belas juta aja posting selfie kayak pake kamera Nokia 6600 (padahal doi pake aifon) aja nggak apa-apa lho. Yhaa tapi mereka Kim Jongin dan Oh Sehun from EXO siih yhaa HAHAHA. Tapi imperfect pictures itu malah menunjukkan kalo akunnya manusiawi kan hahaha.



88lovelife happiness quotes

Belum lagi nanti yang membandingkan kondisi fisik diri sendiri dengan kondisi fisiknya Kendall Jenner, atau membandingkan love life-nya sama cuople-couple fotogenik di Instagram. Yha, Instagram ini tanpa disadari memang memunculkan semacam standar yang disebut #bodygoals #relationshipgoals #weddinggoals dan goals lainnya. Kadang itu bisa memotivasi bikin kita jadi lebih baik, tapi ketika berlebihan bisa membawa pada satu titik anxiety tersendiri. Padahal siapa tahu kan di balik semua itu, apa yang orang-orang itu perjuangkan buat mencapai titik "goal" itu yang mungkin nggak dipublikasikan. Accept yourself, love yourself!

Itu baru beberapa dari mungkin sekian banyak yang kaitan antara Instagram sama mental well-being. Baru contoh kecil yang saya dapat dari pengalaman pribadi dan percakapan dengan beberapa kawan. Pengalaman dan  percakapan kayak gitulah yang justru bikin saya mikir kalau emang ada yang insekyur dalam bersosial media...dan saya bingung juga harus gimana. Share sini di kolom komentar boleh lho. Karena kondisi orang kan beda-beda ya, nggak bisa saya begitu saja minta dia buat selow aja maen IG mah, IG buat liatin oppa-oppa eqso aja dan niscaya kamu akan bahagia, tapi yha kan gak semua orang suka eqso LoL. Soalnya kayak gitu yaa jatuhnya kembali ke diri masing-masing, gimana kita mengontrol dan menata hati dan pikiran buat bijak bersosial media dan bijak menyikapi sosial media. Dan jangan lupa use our common sense tiap kali mau unggah di sosial media, jangan melulu insekyur dan nyalahin konten orang lain tapi diri sendiri nggak tahu diri hehe.

I don't say Instagram or other social media is all bad. Yha semua pasti ada plus minusnya, meski didapuk jadi sosial media paling toxic, tapi di sisi lain banyak juga lho orang yang sukses dari Instagram, entah karena mengelola bisnis yang dipromosikan lewat Instagram atau juga karena skill dia manage Instagram yang jadi nilai plus dan bisa jadi social media strategist. Nggak semua yang pakai Instagram juga pasti ngerasa insekyur juga, saya rasa banyak juga yang pake IG dan doi bahagia aja karena itu nggak ngaruh besar ke kehidupan dia. Orang-orang yang posting cuma buat mengekpresikan diri dan yhaa kadang sedkit pamer nggak apa apa, tanpa terobsesi dengan hal-hal yang sebenernya bikin diri ini stress. Karena dia lebih fokus ke real life daripada dunia maya. Sekali lagi semua balik lagi ke kita bagaimana manage diri kita.

Mari berbahagia di sosial media!!!


31 Desember 2018 | 21.24 KST
Sambil menyimak MBC Gayo di TL twitter
seneng melihat Yoona - Minho satu panggung
tapi nggak paham sama tempat duduk buat idolnya
WAEE?? (pake nada Jongdae)

December 31, 2018 2 comments
Variety show (VS) yang saya ikuti dari awal perjalanannya adalah Jibsabu Ilche, alias All The Butlers, alias Master in The House. Bermula dari membaca artikel di Soompi tentang VS baru yang konsepnya menurut saya menyenangkan, saya jadi pensaran sama Jibsabu. Alhamdulillah acara ini ada di Viu jadi sangat memudahkan saya buat nonton hahaha. Sejak itu saya mengikuti Jibsabu dari awal tayang hingga kini, meskipun ada beberapa episode yang gak saya tonton full karena bosan hehe. Nggak terasa, November lalu Jibsabu udah merayakan setahun mereka tayang dan menghibur saya. So, they deserve to be written here hahaha. Btw, Jibsabu ini sangat recommended karena setiap minggunya kita bakalan dapet insight baru dari beragam bintang tamunya.



Tentang apa?

Jadi, Jibsabu ini tuh ceritanya variety show yang dibintangi empat orang anggota tetap: Lee Sang Yoon, Yang Se Hyeong, Lee Seung Gi  dan Yook Sung Jae. Nah, empat orang ini setiap minggunya bakal dipertemukan dengan seorang "majikan" dan nginep dua hari satu malam di rumah sang majikan. Selama nginep, Seung Gi cs diwajibkan mengikuti gaya hidup sang majikan dan belajar sesuatu dari majikan alias sabu-nim. Yang menarik adalah: setiap minggunya sabu-nim mereka selalu breganti-ganti dan identitas sang majikan selalu dirahasiakan. Sesekali bakal ada sesi dimana member Jibsabu diberi kesempatan menebak siapa majikan mereka berdasar petunjuk yang diberikan seseorang via telepon, ini juga bakal jadi sesi paling seru dalam VS. Dalam 42 episode yang sudah tayang, tim Jibsabu menyajikan sabunim yang sangat bervariasi, ada rocker senior, atlet speed skating, biksu, aktris senior, penyanyi muda berbakat, aktor yang lebih sering tampil di panggung musikal, pelatih sepak bola, dll.


Para Member Jibsabu

Pertama adalah Lee Seung Gi (aktor, penyanyi, entertainer laah pokoknya, 32 tahun), doi baru sebulan keluar dari wamil kala memutuskan join Jibsabu, makanya dia nggak bisa berhenti ngomongin militer di awal-awal episode dan sering ditegur sama Se Hyeong hahaha. Btw, Seung Gi ini emang keren sih, wamilnya dia ditempatkan di unit tempur Kopassus-nya Korea, makanya dia sombong banget hahaha. Diantara empat member, Seung Gi ini yang semangat gitu orangnya sekaligus paling kompetitif misal lagi ada game, meskipun endingnya cuma gede omongan tapi kalah. Dia juga sering didapuk sebagai leader-nya tim Jibsabu, bahkan para hyung mengagumi dan mengakui leadershipnya Seung Gi di depan maupun di belakang kamera.

Lee Seung Gi leadernim (pic source)
Meskipun debut sebagai penyanyi, tapi akhir-akhir ini kita bakal lebih sering disuguhkan Seung Gi sebagai aktor di layar kaca. Namun, pada episode-episode Jibsabu pemirsa bakal sering menjumpai Seung Gi nyanyi dengan suara emasnya. Fans lama mungkin bakal jadi kangen lihat dia di panggung.


View this post on Instagram



A post shared by 양세형 (@ysh6834) on Oct 15, 2018 at 4:51am PDT

Kedua, Yang Se Hyeong  (komedian, 34 tahun)...saya beneran baru kenal orang ini disini. Dia adalah komedian yang bener-bener menceriakan tim Jibsabu, siap-siap aja dibikin ngakak dengan ucapan-ucapan doi yang out off the box. Sebagai orang yang agak banyak tingkah, Se Hyeong sering menarik perhatian dan jadi favorit sabunim, tapi ada juga saat ketika sabunimnya nggak suka sama orang banyak tingkah macam Se Hyeong hahaha.

Sung Jae, the Jibsabu maknae (pic source)
Ketiga, Yook Sung Jae (idol, aktor, 24 tahun)...personil boyband BtoB yang juga dikenal lewat drama Goblin sekaligus maknae di Jibsabu. Sung Jae ternyata adalah fans beratnya Seung Gi, bahkan lagu yang dia nyanyikan pas semacam audisi dulu adalah lagunya Seung Gi. Betapa Sung Jae adalah fans yang sukses menyetarakan diri dengan idolanya, bahkan kerja bareng di satu program TV.

Kalo lagi ada sesi game atau dikasih tantangan sama sabunim, Sung Jae ini tipe yang gak banyak komentar dan nyimak dengan baik, nggak jumawa macam Seung Gi atau Se Hyeong, tapi eksekusi doi seringkali boleh juga daripada para hyung. Sebagai maknae yang jarak usia dengan hyung-nya lumayan jauh, menurutku Sung Jae bisa menyesuaikan dengan baik.

Lee Sang Yoon ahjussi (pic source)
Member terakhir adalah Lee Sang Yoon  (aktor, 36 tahun), aktor smart lulusan Teknik Fisika SNU yang baru pertama kali ikut variety show. Awalnya Sang Yoon ini kaku banget asli, awkward gitu keliatannya. Tapi kelempengan doi ini malah jadi hiburan tersendiri. Seringkali kepolosan Sang Yoon sungguh menggemaskan dan bikin ngakak meskipun saya merasa jahat telah menertawakan doi haha. Btw, saya sebelumnya udah kenal Sang Yoon dari drama On The Way to The Airport, he’s soo good in this drama. Kalo kata lagunya taylor Swift sih "he's so tall, handsome as hell~" huhuhu. Apalagi suaranya kalo ngomong, hmm...enak banget didengerin, macam suara Hong Jong Hyun di King in Love. Eh tapi jangan tanya kalau dia lagi disuruh nyanyi sama sabunim, suaranya entah kenapa jadi aneh gitu haha, mungkin karena doi nggak terbiasa nyanyi kali ya.

Jibsabu Edisi Penyanyi

Majikan di episode perdana Jibsabu adalah rocker senior Korea, Joen In Kwon.Beliau ini nggak asing bagi saya. Saat itu saya cuma pernah lihat Pak Joen In Kwon nyanyi lagu Don’t Worry bareng almarhum Jonghyun SHINee. So sweet banget video itu rasanya. Ternyata Pak Jo In Kwon yang bergaya hidup nyentrik inilah pencipta lagu Don’t Worry yang juga jadi soundtrack K-Drama Reply 1988.
 
(pic source)
Pak Joen In Kwon nggak tinggal di pusat kota seperti umumnya artis, tapi beliau memilih tinggal di sebuah rumah sederhana pinggiran kota. Member Jibsabu harus menempuh perjalanan jauh dan mendaki banyak tangga buat sampai rumah beliau. Meski rumah beliau kecil dan sederhana, tapi beliau punya studio musik yang lumayan bagus. Yaa gimana yaa, namanya juga penyanyi. Pak Jo In Kwon bahkan sempet nyanyiin lagu Don't Worry di studionya, suara dan penghayatan beliau sukses bikin member tertua, Sang Yoon, nangis bombai. Selain itu, sabunim pertama ini juga punya kebiasaan makan makanan yang mungkin agak nggak umum yaitu bubuk madu, yaudah itu seharian anak Jibsabu kenyang makan bubuk madu yang konon rasanya aneh hahaha. Di episode ini para member beneran harus mengikuti gaya hidup majikan yang sangat-sangat nggak biasa menurut saya.
 
Jika kamu menggemari korea, khususnya KPop, nama SM Entertainment pasti nggak asing lagi. Suatu hari, Jibsabu pernah syuting di kantor salah satu agensi besar di Korea Selatan ini. Kala itu, yang jadi sabunimnya adalah BoA, penyanyi SM yang udah debut sejak usia 15 tahun. BoA yang usianya sepantaran dengan para member Jibsabu saat itu lagi mau launching single barunya, jadi diliatin ketika BoA latihan dance dan meminta para member buat ikut nyobain dance juga. Siap-siap aja dibikin ketawa ngakak sama dance-nya Lee Sang Yoon. Oh iya, di bagian ini juga ada saat dimana BoA ngenalin boyband NCT ke Seung Gi cs. Di episode ini pula netizen baper karena berharap Lee Seung Gi ketemu mantannya yang anak SM, Im Yoona hahaha.

Member Jibsabu ketemu NCT di studio tarinya SM Entertainment (pic source).
Nggak cuma itu, sebagai sunbaenim yang udah banyak makan asam garam dunia hiburan dan berprestasi lewat banyak awards, BoA ternyata juga menduduki jabatan penting di manajemen SM Entertainment. Saya lupa nama jabatannya apa, tapi yang jelas salah satu tugas BoA adalah ngedengerin curhatan idol-idol hubae (junior) terkait karir. Ketika para member pura-pura jadi idol muda dan curhat ke sabunim, wow...BoA ini berubah jadi ngeri gitu wkwkwk. Yha gimana, berkarir sejak remaja dan masih eksis sampe kini, pastinya berarti BoA sanggup menghadapi segala rintangan dan nggak nyerah, so that's also the thing that SM idols have to learn. Inikah yang dihadapi idol-idol SM saat ketemu BoA?? hihihi.

Jibsabu nge-dance bareng BoA sabunim.

Tapi kengerian itu berubah jadi keramahan pas mereka nginep di rumah BoA. Kayak BoA bahagia gitu diinepin temen-temen seumuran, mereka ngobrol semaleman cerita ngalor ngidul layaknya kalau kita ketemu teman. Lalu ada saat ketika para member mengagumi BoA yang udah kerja kelas sejak muda banget di industri hiburan yang keras, mana solo karir, pasti nggak mudah...dan dengan jadwal super padat, mungkin agak susah buat sosialisasi. Makanya para member bahagia saat mereka bisa jadi "teman" buat BoA sabunim.

Jibsabu Edisi Olahraga

Jibsabu di arena speed skating Taereung Sport Center bareng Lee Seung Hoon sabunim (pic source).
Episode favorit saya sejauh ini ya tetep episode 10-11 ketika majikannya adalah Lee Seung Hoon, peraih medali emasi cabang speed skating di Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang 2018. Mereka syuting episode ini nggak di rumah sang majikan tapi di pusat pelatihan Korea yang kalo nggak salah paling gede di negara itu, Taereung Sport Center. Jadi diliatin tuh gimana supernya fasilitas latihan buat para atlet Korea dan saya sungguh takjub pemirsa. Tempat gym-nya luassss sekali, ada "lapangan" speed skating juga yang  juga gede bingit, terus kantin makanan yang tentunya menjaga banget gizi-gizi para atletnya, dan yang paling bikin takjub adalah cerita sabunim-nya soal 'menu' latihan yang harus dilakukan atlet-atlet Daehan Minguk demi mengharumkan nama negara. Hasil latihan mereka, bisa dilihat dari hasil Asian Games 2018 kemaren yang menempati posisi tiga dengan 177 medali dan di Pyeongchang dapat peringkat tujuh. Si member kayak seneng banget bisa masuk Taereung Sport Center dan ketemu atlet langsung, apalagi si atlet ini umurnya nggak jauh beda dari mereka jadi nyambung banget ngobrol dan guyonnya. 

Member Jibsabu dapet telepon petunjuk dari MC Nasional Korea Yoo Jae Suk tentang sang majikan berikutnya, yaitu pesepakbola Park Ji Sung. (pic source)
Jibsabu bareng Park Ji Sung sabunim.

Sabunim di bidang olahraga nggak cuma Lee Seung Hoon saja. Pesepak bola legendaris Manchester United, Park Ji Sung juga pernah jadi sabunim pas musim-musim piala dunia. Ini episodenya juga semangat banget gitu, para member diliatin museum pribadinya Park Ji Sung dan jadi host siaran piala dunia kemaren. So lovely.

Ada juga atlet baseball. Yha, di Korea kan baseball tuh kayaknya sangat dihargai ya. Episode bareng si atlet baseball ini agak berasa Superman Return karena beliau punya anak masih kecil dan para member dilibatkan merawat balita-balita lucu itu. Nggak nyangka aja, si atlet yang badannya gede ternyata adalah sosok sangat penyayang sama keluarga.

Jibsabu juga pernah syuting di Vietnam ketika sabunimnya adalah pelatih timnas sepakbola Vietnam yang merupakan warga negara Korea. Beliau ini tergolong berhasil mengharumkan sepak bol Vietnam dan sangat dielu-elukan warga Vietnam. Ketika mereka syuting di jalan umum, orang kayang nggak peduli Sang Yoon, Se Hyeong, Seung Gi, atau Sung Jae...yang mereka panggil cuma nama park Hang Seo sabunim hahaha. Dan saya lihat di Twitter, tahun ini tuh Vietnam menang Piala AFF dan mereka selebrasi warga Vietnam atas kemenangan ini sungguh luar biasa. Nama Park Hang Seo tentu makin dipuja di Vietnam.

Park Hang Seo sabunim, pegang piala kemenangan Vietnam di AFF 2018 (pic sourse)


Jibsabu Ter-Emosional

Kalau mengikuti Jibsabu, atau mungkin nonton satu episodenya saja, cukup keliatan kalo Sang Yoon, Se Hyeong, Seung Gi, dan Sung Jae ini punya kepribadian yang berbeda-beda, bahkan bisa dibilang kontras. Sang Yoon, member tertua dan paling nggak pengalaman di VS adalah yang paling sering keliatan "struggling" di acara ini. Nah, suatu hari mereka dapet sabunim Nyonya Shin Ae Ra yang sedang ambil S3 Psikologi di LA dan mereka tentu saja syuting di LA. Episode bersama Nyonya Shin Ae Ra adalah episode paling emosional karena disitu, para member diminta sang calon doktor untuk melakukan tes psikologi dan dianalisis bareng-bareng. Hasil tes itu menunjukkan bahwa keempat orang emang punya kepribadian berbeda dan analisis Nyoya Shin Ae Ra sangat membantu para member untuk lebih memahami diri sendiri ataupun temannya. Para member juga mengungkapkan tentang apa yang dirasakan mereka tentang dirinya, tentang temannya, dan tentang acara Jibsabu. Tentu saja, air mata nggak tertahankan. Tapi sejak saat itu, kayaknya member jadi ngerasa lebih dekat satu sama lain, episode ini tuh kayak apa yaa...refresh-nya Jibsabu gitu. Kayak para member siap menyambut hari baru setelah mereka saling memahami. Thanks a lot to Shin Ae Ra sabunim.


Jibsabu emotional moment with Shin Ae Ra sabunim (pic source).
Perbedaan karakter para member menurut saya adalah salah satu kekuatan Jibsabu. Ada yang citra yang khas dari tiap member yang bikin mereka unik dan saling melengkapi di acara ini. Empat orang itu bener-bener pas buat memberi warna di acara ini. Thank you.

Jibsabu Rasa Law of The Jungle
 

Setiap episode Jibsabu selalu berbeda "warna"-nya, entah itu dari faktor karakter majikan, lokasi syuting, atau challange-challange yang dikasih, tapi ada satu yang menurut saya paling enggak biasa, yaitu ketika sabunimnya adalah Kim Byung Man. Karena sabunimnya merupakan host variety show Law of The Jungle, maka episode kali itu saya sebut: Jibsabu rasa Law of The Jungle hahaha.

Ada bagian yang Law of The Jungle banget  (meski saya baru nonton satu episode Law of The Jungle , itupun nggak kelar) ketika mereka kerja keras buat membangun sesuatu dari alat-alat ala kadarnya dan masak di tempat terbuka di tengah guyuran hujan, meskipun malamnya mereka tetep bobok di semacam homestay dan nggak di tenda ala-ala Law of The Jungle hahaha.


Lewat episode ini pula kita bisa belajar tentang arti kerja keras. "If you want something that you never have before, you've to work harder like you never did before." Kim Byung Man sabunim orangnya pensaran banget sama banyak hal random dan dia belajar dan berlatih keras buat menguasai hal itu. Beliau punya banyak banget lisensi resmi misal buat skydiving, yang untuk mendapatkannya seseorang harus terjun payung 500 kali. Atau sertifikat selam yang juga harus diperoleh dengan syarat tertentu. Lisensi-lisensi semacam itu nggak cuma dia punya satu dua tapi banyaaaakkk banget di berbagai bidang! Takjub aku sama perjuangannya.

Nah, yang diliatin di episode ini sekaligus yang bikin beda adalah karena saat itu Kim Byung Man sedang ngejar sertifikat pilot, iya...pilot! Dan buat dapetinnya, beliau harus belajar teori penerbangan setahun full dan praktik terbang hingga jam terbang tertentu. Terus tim Jibsabu diajak juga buat terbang pake pesawat kecil, bahkan Lee Sang Yoon dapat penghargaan buat jadi co-pilot. Seru banget itu Sang Yoon untuk pertama kalinya terbang, pake baju pilot....aaaa soo cool, as expected from Lee Sang  Yoon hahaha. Langsung keinget drama On The Way to The Airport saya, dimana saat itu doi selingkuh sama istri pilot hahaha. Trus sekarang jadi pilot 'beneran' wkwkwk.
 

Jibsabu Edisi Ulang Tahun
 

Bocah-bocah yang kaget ketemu Son Ye Jin.
Episode Jibsabu yang terakhir saya tonton adalah edisi anniversary-nya mereka, dimana mereka dapet hadiah ulang tahun seorang tamu (karena doi nggak mau disebut sabunim) yaitu aktris senior Son Ye Jin yang kemarin habis maen drama fenomenal Pretty Noona Who Buys Me Food bareng Jung Hae In (tapi saya nggak nonton drama ini sama sekali). Di episode inilah, pertama kalinya saya ngelihat semua member Jibsabu berada dalam suasana sangat awkward yang begitu lama. Kayak mereka udah terpesona duluan sama Son Ye Jin noona hingga tak mampu berkata-kata HAHAHA. Tapi serius deh, lama banget kayaknya sampe mereka bener-bener bisa get along sama Son Ye Jin, katanya sih hal ini dikarenakan mereka terbiasa ketemu sabunim sepuh terus tiba-tiba ketemu yang muda kinyis-kinyis macam Ye Jin noona hahaha.
 

Sabunim Idaman Saya

Sebagai seorang fans, saya tentu memiliki harapan dan angan-angan yang semoga bisa jadi kenyataan. Kalau bisa milih sabunim yang saya pengen lihat buat 'membimbing' bocah-bocah Jibsabu ada beberapa nih HAHAHA.

  • Aktor kawakan Song Kang Hoo, well menurut saya Song Kang Hoo adalah jaminan mutu. Hampir semua film favorit saya ada beliaunya. Penasaran aja saya sama kehidupan beliau dan penasaran sama nasihat-nasihat apa yang bakal dikasih ke Seung Gi cs, atau at least pengalaman-pengalaman menarik beliau. Apalagi beliau kan sangat jarang tampil di variety show yaa.
  • Lee Byung Hun, yaa jelas kalau ini mah. Anak-anak Jibsabu juga pasti pengen banget dapet sabunim beliau. Tapi Pakde Byung Hun pasti kan jadwalnya padet banget yaak syuting film hollywood dan film dalam negeri, belum lagi datengin award-award huhuhu.
  • Son Heung Min, punggawa Tottenham Hotspurs hahaha tentu saja saya pengen anak muda berprestasi yang dapet izin gak join wamil ini jadi sabunim. Seru lagi kalo syutingnya di UK, sekalian meet up sama mantan sabunim Park Ji Sung. Well, Heung Min mungkin masih muda tapi tentu saja banyak pengalaman berharga yang bisa dia bagi kan. Sayangnya jarak memisahkan dan Heung Min pasti sibuk banget dengan jadwal bareng Spurs dan timnas Korea.
Eits...tapi nggak ada yang nggak mungkin kan? Kru-nya Jibsabu kan super banget. Kalo Park Ji Sung, aktor hollywood Lee Ki Hong, biksu Pomyun, dan syuting di LA aja mungkin buat mereka kenapa enggak dengan kemungkinan-kemungkinan di atas. Hahaha. Semoga saja yaa. Saya juga pengen Yoo Jae Suk, Ha Joong woo, jadi sabunim hahaha.

Itu tadi cerita saya tentang satu-satunya variety show yang saya ikuti tiap episodenya. Nggak semua sabunim bisa saya sebutkan di cerita ini, makanya saya cuma menuliskan yang menarik perhatian aja. Sebenernya semua sabunim itu seru dan menyenangkan, selalu beda atmosfernya. Saya merekomendasikan variety show satu ini buat ditonton menemani weekend Anda. Nggak cuma bikin ngakak tapi juga inspiratif.

Well, selamat ulang tahun buat Jibsabu, semoga makin semangat menghibur pemirsa dengan sabunim yang keren-keren. Luv you!
 

22 Desember 2018
Selamat Hari Ibu
Ditulis sambil menanti EXO tampil di Knowing Brothers
December 22, 2018 1 comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Live in small and lovely town, Magelang. Enjoy making DIY project, especially hand-embroidery. Really love writing here, share some thoughts, experience, and everything that popping in my mind.

Follow Us

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Popular Posts

  • [K-Drama] Queen Seondeok: Kisah Cinta Deokman, Kim Yu Shin, dan Bidam
    Sebuah drama yang tanpa kisah percintaan sepertinya akan terasa hambar, sehambar hidup tanpa cinta mungkin #halah maka The Great Queen Seon...
  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (2): Bacpacker ke Baluran di Musim Hujan
    Setelah kemarin menulis tentang rincian teknis jalan-jalan ke Banyuwangi, kali ini saya hendak menuliskan cerita tentang tempat wisatanya. ...
  • [K-Drama] Queen Seondeok: Drama vs Realita
    The Great Queen Seondeok adalah sebuah drama yang dibuat berdasarkan sejarah tapi dengan menyisipkan tokoh dan cerita fiksi di dalamnya. T...
  • [K-Drama] Tokoh Favorit dalam Drama "The Great Queen Seondeok"
    Nonton K-Drama berjudul  The Great Queen Seondeok (QSD)   telah membuat saya begitu excited atau apalah perasaan ini namanya, saya kurang ...
  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (3): Pendakian Gunung Ijen
    Setelah puas menikmati pesona Taman Nasional Baluran di Situbondo (seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya), saya sholat kemudian ma...
  • Review Film 'A Taxi Driver': Peran Supir Taksi dalam Membangkitkan Demokrasi di Korea Selatan
    Mumpung masih bulan April dan masih konsisten sama postingan per-korea-an, saya mau menulis tentang A Taxi Driver . Sudah lama banget saya ...
  • Tentang Kerajinan Kristik
    Selain menyulam yang telah saya bahas sebelumnya, di tahun 2018 ini saya juga mulai bikin kristik lagi. Sejauh ini, sudah ada dua kristik y...
  • Sebuah Kesempatan: MDP V Net Mediatama Television
    Sabtu sore, seminggu lalu, saya mendapat email dari Net Mediatama (perusahaannya Net TV) yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi administr...
  • Jalan-Jalan ke Banyuwangi (1): Itinerary, Transportasi, dan Biaya
    Banyuwangi adalah sebuah tempat yang ingin saya kunjungi sejak sebelum KKN. Saya bahkan sudah menggali informasi dari teman kuliah yang sud...
  • [K-Drama] Ringkasan Drama The Great Queen Seondeok: Perjuangan Wanita Meraih Tahta
    [ WARNING : Tulisan ini bakal sangat panjang, karena emang banyak yang harus dibahas dan karena saya begitu antusias. Nggak tahu lagi g...

Labels

  • DIY Project
  • Drama Korea
  • Jalan-jalan
  • KKN
  • Korean Wave
  • Life Story
  • Something Wonderful
  • Thoughts

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (3)
    • ▼  December (1)
      • Overwhelmed
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2022 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  September (5)
    • ►  July (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  October (1)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2018 (29)
    • ►  December (5)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (7)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (35)
    • ►  December (7)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  January (11)
  • ►  2016 (28)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (9)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (38)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (5)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  June (4)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (1)
    • ►  January (11)
  • ►  2013 (46)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  October (9)
    • ►  September (8)
    • ►  August (8)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (6)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (7)
    • ►  December (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
  • ►  2011 (19)
    • ►  October (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (8)
  • ►  2010 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose