twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • ABOUT
  • CATEGORIES
    • DIY
    • TRAVEL
    • THOUGHTS
    • KOREAN WAVE
  • About
  • Contact

a wonderful life

Libur panjang di penghujung tahun ini, sudah ada rencana kah hendak liburan kemana? Atau ingin merencanakan liburan di beberapa bulan ke depan? Mungkin kota kelahiran saya, Magelang, bisa manjadi pilihan untuk mengisi liburan. Mau menikmati indahnya matahari terbit, merasakan segarnya air terjun, mengagumi peninggalan situs bersejarah, hingga mendaki gunung (yang nggak terlalu tinggi), bisa Anda lakukan di Magelang. Ada tempat wisata apa sajakah yang ada di kota kecil ini yang menarik untuk dikunjungi? Saya akan merekomendasikan 10 tempat wisata berikut ini:

Candi Borobudur

This is a must! Nggak lengkap rasanya kalau mampir ke Magelang tapi nggak mengunjungi candi Buddha terbesar di dunia ini. Cara menuju kesini? Oh tinggal google maps saja, tempat ini sangat mudah ditemukan :) Terakhir saya kesana itu beberapa hari setalah lebaran Idul Fitri tahun ini,harga tiket masuknya Rp40.000,-. Mahal? Menurut saya cukup murah. Dengan biaya masuk sebesar itu, kita tak hanya bisa masuk candinya, tapi juga bisa masuk museum-museum di dalamnya. Ada Museum Samudraraksa yang berisikan replika Kapal Samudraraksa (kayak yang ada di relief candi). Ada juga Museum Karmawibangga, yang memuat relief Karmawibangga, relief tentang hukum karma dan cerita manusia ketika masih dikuasai hawa nafsu (karena pada candi relief ini ditutup, jadi kalau mau lihat harus ke museum). Ada juga Museum Rekor yang isinya berbagai keunikan-keunikan yang pastinya tak lazim kita temui di kehidupan sehar-hari gitu. Saran saya sih, kalau ke candi yaa harus sekalian masuk semua museumnya hehe.

wisata hits magelang


Perjalanan dari pintu masuk menuju candi cukup jauh dan panas, jadi...pakailah alas kaki dan pakaian yang nyaman, juga topi atau payung untuk melindungi diri hehe. Kalau mau nggak panas sih kesini pagi aja, toh Candi Borobudur sudah buka sejak jam 06.00 pagi.
Oh iya, pastikan Anda berfoto di dekat pohon bodhi sisi Selatan candi, karena disitu kamu bakal dapet background candi yang paling mantap (menurut saya) hehehe. Buktikan saja deh! :D

Gereja Ayam

Nah, tempat yang kemudian menjadi booming gara-gara menjadi lokasi syuting Mbak Cinta dan Mas Rangga ini berada tak jauh dari Candi Borobudur. Dari candi, Anda bisa lewat jalan raya depan Hotel Manohara, karena jalan selanjutnya adalah jalan desa kecil dan banyak belokan, Anda mungkin harus sesekali bertanya kepada warga selain mengandalkan google map. Tidak jauh, mungkin 10-15 menit berkendara Anda akan menemukan lokasi parkirnya. Dari tempat parkir menuju Gereja Ayam, Anda harus berjalan kaki. Harap untuk tetap semangat demi memperoleh foto seperti Dian Sastro yaa haha. Saya sudah pernah menulis cerita tentang wisata Gereja Ayam (silakan klik disini).


rute gereja ayam
Gereja Ayam, Borobudur.

wisata gereja ayam AADC
Pemandangan dari atap Gerja Ayam.
Dulu sih waktu saya kesana, masuk ke Gereja Ayam bayar seikhlasnya, tapi sekarang konon harga tiket masuknya Rp10.000,- dan nggak bisa foto-foto sepuasnya di atap jengger ayam yang fenomenal itu, melainkan diberi batas waktu tertentu. Tapi pemandangan dari atap ini nggak mengecewakan kok.


Di sekitaran Candi Borobudur banyak spot-spot 'bukit kecil' atau 'punthuk' yang merupakan spot bagus untuk melihat matahari terbit. Dari punthuk-punthuk ini, kita (seharusnya) bisa melihat sunrise dengan latar Gunung Sumbing, Gunung Andong, Bukit Telomoyo, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, dan di kejauhan sana tampak samar-samar Gunung Lawu. Apa saja Punthuk-punthuk itu? Mari simak:

Punthuk Setumbu

wisata punthuk setumbu magelang
Pemandangan di Punthuk Setumbu.
Jika diperhatikan, sebelah atas tangan kiri saya terlihat Candi Borobudur.
Dari semua punthuk yang pernah saya kunjungi, saya hanya melihat sunrise yang lumayan indah di Setumbu. Selain itu, jalan menuju Setumbu juga tidak sulit. Dari candi, pergilah ke arah Jalan Salaman-Purworejo. Pelan-pelan saja, setelah pertigaan dekat pom bensin Kujon Anda akan menemukan Toko Besi Lancar di kiri jalan (catnya hijau kekuningan), nah tepat setelah toko besi itu ada jalan kecil, masuk saja. Ikuti jalan sampai ketemu Hotel Plataran, Setumbu letaknya tak jauh dari Hotel Plataran, mungkin Anda bisa bertanya kepada warga sekitar untuk arah lebih jelasnya. Tapi seingat saya ada plang-plang penunjuk jalan kecil yang mengarahkan ke Setumbu. So, don't worry! :) Harga tiket masuk Punthuk Setumbu dipatok Rp15.000,-/orang.

Sekarang di Setumbu Anda tak hanya bisa menikmati matahari terbit tapi juga berfoto kekinian di salah satu spot foto berbentuk 'love' atau di ayunan yang keduanya dihiasi daun-dunan dan bunga-bunga indah :)

Punthuk Gupakan

pemandangan punthuk gupakan magelang
Salah satu "panggung" bambu di Punthuk Gupakan.
wisata hits magelang
Gunung Sumbing terlihat dari Punthuk Gupakan.

Ketika mengunjungi Punthuk Gupakan sesungguhnya kami agak kesiangan, jadi matahari udah agak tinggi dan agak berkabut. Tapi perjalanan cukup terbayar dengan pemandangan pagi yang indah. Di tempat ini banyak 'panggung' kecil yang terbuat dari bambu gitu, untuk apa lagi kalau bukan untuk spot foto. Oh iya, di tempat ini sepertinya juga bisa digunakan untuk berkemah sambil menunggu pagi. Saya melihat ada rombongan camping disini. Tapi mungkin tidak bisa memuat banyak tenda. Harga tiket masuk Punthuk Gupakan kala itu (Januari 2017) adalah Rp5.000,-. Cukup murah, bukan?

Punthuk Sukmojoyo

wisata hits puthuk sukmojoyo
Sisi lain Punthuk Sukmojoyo selain spot foto iconic di "panggung" bambu.
Saya ke Sukmojoyo memang tidak diniati untuk menyaksikan matahari terbit, tapi simply karena ingin main bersama teman-teman, refreshing dari kesibukan (yang katanya) mengerjakan skripsi kala itu. Jadi kami berangkat sekitar jam 08.00 pagi dari rumah kawan saya untuk menuju kesini. Sama dengan di Punthuk Gupakan, Sukmojoyo juga memiliki aneka 'panggung' bambu untuk mendukung eksistensi di media sosial. Punthuk ini terbilang paling luas di antara semua punthuk yang saya kunjungi. Selain panggung bambu, Punthuk Sukmojoyo juga memiliki beberapa batu besar yang cukup kukuh untuk berpijak, bisa dijadikan spot berfoto juga. Oh iya,di punthuk ini juga terdapat sebuah makam, jadi bersikap sopanlah :) Ketika saya ke Punthuk Sukmojoyo, saat itu tidak dikenakan tiket masuk dan hanya membayar parkir.

Punthuk Mongkrong

Melihat matahari terbit, sebenarnya adalah untung-untungan. Mengunjungi Mongkrong dengan berangkat subuh, saya dan teman-teman tidak mendapat pemandangan matahari terbit yang didambakan. Kabut tebal menutupi pemandangan hampir selama kami disana. Tapi tak apalah, bertemu kawan lama dan bertukar cerita telah membayar perjuangan kami untuk sampai sini. Anda akan dikenakan harga tiket masuk sekitar Rp10.000,- untuk masuk Mongkrong yang lagi-lagi memiliki panggung-panggung bambu.



Kabut begitu tebal menutupi pemandangan dari Punthuk Mongkrong.

Konon, Punthuk Mongkrong ini letaknya nggak jauh dari Sukmojoyo, tapi menurut saya jalan menuju Mongkrong adalah yang paling ekstrem dari semua punthuk yang pernah saya kunjungi. Pastikan rem kendaraan Anda dalam keadaan baik. Selain itu, rasanya punthuk ini yang terjauh (atau mungkin karena track-nya tidak bersahabat saja?". Jalannya adalah jalan beton dan sesekali jalan tanah atau berkerikil yang cukup menanjak dan berkelok, banyak-banyaklah berdoa selama perjalanan haha.

Ketep Pass

Dari sisi selatan Magelang, mari beranjak ke sisi utara yaitu di daerah Kecamatan Sawangan. Jika dari punthuk-punthuk Anda dapat melihat Gunung Merapi dan Merbabu dari jauh, di Ketep Pass kedua gunung itu akan tampak lebih dekat. Pemandangan sangat menawan akan diperoleh jika cuaca benar-benar cerah. Ada penjual jasa sewa teropong jika Anda ingin mengamati Gunung Merapi atau Merbabu lebih dekat. Ada juga penjual jagung bakar di depan pintu masuk yang lezat disantap kala cuaca dingin hehe.

ketep pass fotografi
Gunung Merapi terlihat dari Ketep Pass.
Jalan menuju kesini juga tak sulit. Anda dapat berpegang teguh pada google map hehe. Kalau dari arah Jogja, di pertigaan Palbapang Magelang, lurus saja (arah Semarang) nanti Anda akan menemukan lampu merah pertama yang di sisi kanannya ada plang Pesantren Gontor , nah disitu masuk saja lurus ikuti jalan hingga Ketep Pass terlihat di sisi kanan Anda. Jalannya agak menanjak tapi sudah diaspal halus, jadi tidak perlu khawatir :) Harga tiket masuk Ketep Pass adalah Rp7.500,-/orang dan tambah biaya parkir.

Selain menikmati pemandangan Anda juga dapat menyaksikan film dokumenter letusan Gunung Merapi dan masuk ke museumnya (semua sudah ter-cover tiket masuk, jadi nggak perlu membayar lagi). 

Air Terjun Kedung Kayang 

jalur air terjun kedung kayang magelang
Air Terjun Kedung Kayang dari sisi atas.
Turun dari Ketep Pass, Anda akan menemukan pertigaan cukup besar. Beloklah ke kiri dan ikuti jalan, niscaya Anda akan menemukan gang masuk menuju Air Terjun Kedung Kayang. Dari parkiran, Anda harus berjalan menuju lokasi air terjun setinggi sekitar 40 meter ini. Ada dua jalan yang seluruhnya berupa tangga yang dapat dipilih. Satu tangga menuju spot untuk melihat air terjun dari atas, dan satu tangga lagi menuju spot air terjun untuk melihat lebih dekat dari bawah (dengan jumlah anak tangga yang lebih banyak tentunya). Saya memutuskan untuk melihat dari atas saja karena terlalu lelah untuk turun hehehe. Pastikan Anda membawa pakaian ganti jika ingin bermain air di area air terjun dan tetap berhati-hati. 

Pinus Top Selfie

Kalau Air Terjun Kedung Kayang dapat ditempuh setelah turun dari Ketep, Pinus Top Selfie bisa ditempuh dari Ketep, naik lagi. Lurus saja, sekitar 5-10 menit Anda akan menemukan plang masuk wisata ini di kiri jalan, silakan berbelok dan Anda telah memasuki kawasan hutan pinus ini. Dulu ketika tahun 201 saya kesana, jalannya masih ada yg berupa tanah dan sangat becek ketika hujan, tapi beberapa minggu lalu seorang kawan baru saja dari sana dan katanya sekarang jalannya sudah bagus. Alhamdulillah.


wisata pinus magelang
Pinus Top Selfie sehabis hujan, kabut-kabut tipis tersisa diantara pepohonan.
Jika Anda ingin menemukan lokasi foto menarik, hutan pinus ini memiliki beberapa panggung, ayunan, dan bangku kayu yang bisa Anda manfaatkan untuk berfoto atau sekedar untuk istirahat sambil menghirup udara segar pegunungan. Jangan lupa tetap menjaga kebersihan yaa! Harga tiket masuk Pinus Top Selfie ini kala itu sekaligus mencakup biaya parkir yaitu sebesar Rp3.000,-. Sangat terjangkau, bukan?


Gunung Andong

Jika ingin mencoba wisata yang cukup menantang, Gunung Andong bisa menjadi salah satu alternatif. Terletak di daerah Kecamatan Ngablak, gunung setinggi 1726 mdpl ini bisa ditempuh dengan tik-tok (naik langsung turun), bisa pula dengan camping terlebih dahulu sambil menyaksikan matahari terbit dari ketinggian. Bersiap dengan suhu udara yang dingin yaa. Waktu yang dibutuhkan untuk naik mungkin sekitar 1,5-2 jam.


pendakian guung andong

Sebelum masuk, Anda akan dikenakan biaya masuk (seingat saya sekitar Rp10.000,-) dan melaporkan identitas. Yah, selayaknya pendakian ke gunung-gunung lain. Pastikan Anda menggunakan alas kaki yang tidak licin, membawa perbekalan yang cukup, juga senantiasa berdoa dan berhati-hati selama perjalanan.


Itulah 10 tempat wisata di Magelang yang dapat Anda kunjungi untuk melepas penat dan mengisi liburan. Bagaimana? Tempat mana yang sekiranya akan Anda pilih?
Selamat berlibur dan selamat berkunjung ke Magelang! Jangan lupa tetap berhat-hati dan tetap menjaga kebersihan tempat wisata ya! :)


Magelang, 24 Desember 2017
Happy Holiday!! :D
Diunggah ulang karena kemarin ada kesalahan hehe
December 26, 2017 4 comments
Drama Korea sering dilabeli sebagai sesuatu yang dekat dengan galau dan menye. Benarkah demikian? Hmm, bisa iya, bisa juga tidak. Sebelum memutuskan mungkin ada baiknya terlebih dahulu menyaksikan beberapa K-Drama atau memahami keunggulannya. Sebenarnya apa yang menarik dari K-Drama hingga begitu digemari di beberapa negara, khususnya Asia? Tak hanya drama-nya semata tapi dari konferensi pers dalam rangka promosi sebelum drama tayang, hingga video-video behind the scene K-Drama begitu menarik minat pemirsanya. Pastinya ada keunggulan yang ditawarkan di balik sebuah kesuksesan besar suatu karya bukan? Lewat tulisan ini saya akan mencoba mengungkap alasan K-Drama begitu digemari, masih berdasarkan riset yang dimuat di Tirto kemarin plus penjelasan yang saya tulis berdasar pendapat saya. Check this out!


Drama fenomenal Descendants of The Sun yang dibintangi Song Joong Ki & Song Hye Kyo.
(pic source)

Alur cerita yang menarik menjadi penyebab mayoritas responden Tirto menonton drama Korea. Memang sih, menurut saya drama korea ini alur ceritanya jelas dan fokus. Rata-rata episode setiap drama adalah 15-25 episode. Hal ini menyebabkan para penulis cerita harus memuat segala hal yang ingin diungkapkannya dalam rentang episode tersebut. Jumlah episode yang nggak terlalu banyak ini juga membuat para responden tertarik. Setuju sih, mungkin karena nggak bertele-tele sehingga mereka bisa menyelesaikan satu drama dengan waktu yang cenderung singkat. Mungkin ada juga drama Korea yang jumlah episodenya buanyak macam The Great Queen Seondeok yang kalo nggak salah mencapai 60-an episode, (yang kemudian bikin saya mager download padahal pengen nonton) tapi menurut saya sih lebih enak nonton yang singkat-singkat yaa ehehehe. Drama korea juga bervariasi ceritanya, ada cerita tentang kehidupan tentara, cerita dokter dan pasien-pasiennya, cerita anak-anak sekolahan, penyiar, pemain taekwondo, pemadam kebakaran, hingga cerita era kerajaan pun ada. Masing-masing varian drama dengan alur ceritanya akan menyajikan pengetahun baru yang berbeda-beda pula bagi pemirsanya dan memberikan nilai moral positif.

Sebuah quotes dari Reply 1988.
Faktor kedua yang menyebabkan para responden gandrung terhadap drama Korea adalah pemainnya yang menarik. Ini jelas nggak bisa dipungkiri. K-Drama menyajikan pemain-pemain dengan visual yang menyenangkan dilihat ditambah kemampuan sandiwara mereka yang juga mumpuni. Bahkan, kebanyakan para aktor dan aktris Korea ini dibekali dengan pengetahuan terkait industri peran yang digelutinya. Sebut saja aktor terkenal Lee Min Ho yang lulusan Departemenrt of Film Arts dari Konkuk University. Ada juga Mbak Kim Ji Won, second lead dalam Descendants of The Sun ini adalah lulusan Dongguk University jurusan Teater dan Film. Atau Mas Ryu Jun Yeol favorit saya, yang konon sering dibilang nggak tampan, tapi menurut saya menarik ini adalah lulusan jurusan Film di Universitas Suwon. Soal pemain menarik ini pasti sering dikaitkan dengan 'trend' operasi plastik di Korsel sono. Ya, bisa jadi sih good looking-nya mereka ada faktor plastic surgery, eits tapi nggak semua kok.

Ryu Jun Yeol. (pic source)
Selain sebagai sebuah hiburan dan bisnis, K-Drama ini menurut saya juga merupakan ajang promosi kebudayaan Korea. Para responden dalam riset Tirto pun sepakat kalau alasan mereka menonton drama Korea salah satunya adalah untukk mengenal budayanya. Hal ini bisa dilihat dari banyak hal, misalnya makanan. Hampir di semua drama yang pernah saya lihat pasti ada adegan makan yang pasti menyajikan makanan khas Korea yaitu kimchi. Ada pula drama (utamanya drama sejarah) yang setiap pemerannya mengenakan pakaian tradisional Korea yakni hanbok dalam berbagai mode. Antara raja dan keluarga, pejabat, bangsawan, dan rakyat biasa akan memiliki perbedaan hanbok. Begitu pula busana-busana raja/ratu di era Silla, Goryeo, atau Joseon yang juga beda-beda. Drama sejarah yang mengambil lokasi syuting di Istana Gyeongbokgung juga pastinya menarik pemirsanya untuk mampir ke tempat iconic tersebut jika suatu saat berkesempatan ke Korea. Belum lagi, drama sejarah juga menyajikan adat istiadat Korea seperti adat pernikahan, penguburan orang meninggal, bahkan hiburan tradisional. Penampilan kebudayaan khas ini yang pada akhirnya menarik orang dari luar Korea untuk datang ke negeri gingseng tersebut untuk merasakan langsung pengalaman yang selama ini hanya dilihat dalam drama. Bukankah setiap mengunjungi suatu tempat baru yang coba kita temukan adalah something unique yang nggak bisa kita temui di kegiatan sehari-hari? Oh iya, kebiasaan bersikap sopan juga ditampilkan disini. Bahkan di kehidupan nyata sekalipun, para aktor dan aktris K-Drama ini begitu sopan terhadap sunbae (senior)nya.

Setiap menyaksikan film/drama, musik latar menjadi sesuatu yang mendukung terciptanya emosi penonton dalam memaknai suatu adegan. Dalam K-Drama, musik latar digarap dengan sangat apik menurut saya. Beberapa musik bahkan berhasil terngiang dalam benak. Kalaupun saya belum paham apa arti dari suatu lagu (yang kemudian saya akan cari tau artinya lewat google) paling tidak seseorang bisa menikmati musik itu karena terbayang adegan atau cerita yang ada di balik lagu tersebut. Bagi saya pribadi, beberapa musik yang membekas diantaranya adalah musik latarnya Reply 1988 yaitu Richard Marx-Right Here Waiting, dimana setiap saya mendengar lagunya selalu teringat akan Jung Hwan hahaha. Sungguh ini lagu jadul dalam bahasa inggris yang easy listening, coba klik di sini buat dengerin. Atau juga lagunya Lee Juck-Don't Worry, saya nggak tau ini aslinya lagu jama kapan, udah ada dari dulu atau emang baru ada pas mengiringi Reply 1988. Tapi kayaknya lagu ini terkenal banget di Korea sono. Lagu-lagu lainnya seperti Lee Hi-My Love, Hyorin-Our Tears juga berhasil masuk playlist lagu saya hehehe. Yaa, meskipun saya nggak tau liriknya, at least saya paham makna lagu itu cerita tentang apa dan yang pasti musiknya enak hehe.

Hanbok dalam pernikahan era Kerajaan goryeo dalam drama Moon Lovers.
(pic source)
Yang terakhir, drama Korea ini pastinya nggak lepas kan dari sponsor produk-produk tertentu, khususnya produk lokal. Nah, merek-merek lokal kayak Samsung, Hyundai, Goldstar, bisa dilihat sering wira-wiri di setiap adegan drama. Belum lagi produk-produk kecantikan yang dipakai para pemerannya. Di Indonesia sendiri terbukti, produk-produk kecantikan made in Korsel ini sekarang mulai masuk pasaran, bersaing dengan produk lokal dan produk-produk luar negeri lain yang telah mendunia. Produk di sini nggak cuma sebatas pada produk elektronik, kendaraan, kecantikan, atau makanan, tapi menurut saya termasuk pula semisal perguruan tinggi atau rumah sakit. (Can it consider as a product?) Seoul National University (SNU), universitas terbaik di Korea Selatan ini beberapa kali disebut dalam drama. Seperti Reply 1988 dimana kakak dari pemeran wanita utama digambarkan seorang yang pandai dan mendapat banyak pujian karena berhasil masuk SNU. Disadari atau tidak, itu bisa jadi ajang promosi untuk audiens kayak saya buat at least kepo: how good is SNU? Hehe. Kalau kamu ngefans dengan para pemain ataupun idol Korea kamu juga bakal lihat sederet nama selebriti yang ternyata merupakan lulusan perguruan tinggi favorit lain di Korea, macam Sungkyunkwan University, KAIST, Kyung Hee University, dll. Trus rumah sakit juga, nggak tau yaa ini masuk promosi atau engggak tapi nama rumah sakit yang dipakai buat syuting K-Drama juga biasanya disorot. Betapa yaa, lewat drama mereka nggak hanya promosi budaya tapi juga produk-produk dalam negeri mereka. Very nice!!

Oke itu tadi beberapa alasan K-Drama digemari banyak kalangan. Apakah kamu setuju?Atau kamu punya pendapat lain? Boleh lho berbagi pendapat :D


Senin, 11 Desember 2017 | 8.23 PM
Ini gimana kok Korea-an terus?
Apa blog-nya dijadiin blog per-korea-an aja po?
December 11, 2017 2 comments
Wanna write something that I like, at least for now. Something about Hallyu or Korean Wave that 'waving' me in this past few months. Sebenarnya saya terinspirasi buat nulis ini karena baca tulisannya Mas Arman Dhani di Tirto, kalau di artikel tersebut Mas Arman Dhani menuliskan tentang drama Korea secara umum, di sini saya akan menulis berdasar pengalaman emosional (halah) saya dan sebatas pada beberapa drama yang menurut saya menarik.

 Ilustrasi sebuah adegan di drama Reply 1988 (pic source)
K-Pop, K-Drama, maupun K-Movie sebenernya nggak asing dalam hidup saya. Boys Before Flower dan The Moon That Embraces The Sun adalah drama yang sejak dulu saya gemari. Saya bahkan memiliki sejumlah soundtrack drama seperti T-Max-Paradise, atau LYn-Back In Time. Beberapa film Korea juga pernah saya tonton, kayak Architecture 101, Always, Unforgettable, dll. Kakak sepupu saya pun adalah penggemar K-Pop, dimana tiap main ke rumahnya hampir bisa dipastikan bakal terdengar lagu-lagu BTS atau EXO plus poster-poster oppa boyband terpasang di dinding kamarnya. Teman sebangku saya waktu SMA juga penggemarnya Super Junior, khusunya Siwon Oppa. Tak jarang, buku catatan saya jadi sasaran coretan Hangul-nya dia. Terhadap mereka yaa saya memaklumi saja, mungkin karena saya juga menggemari Kate Middleton dan Princess Diana, jadi saya tau rasanya mengidolakan seseorang itu kayak apa heheh. 

Lalu, akhir-akhir ini, mungkin karena keseloan hidup dan kurang piknik, saya mencari hiburan dalam bentuk nontonin drama korea hasil minta dari kakak sepupu. Setelah sekian lama off dari dunia K-Drama, saya menonton Hwarang yang kemudian saya bikin ulasannya di blog juga. 

Reply 1988 cast. (pic source)
Nah disini saya akan bahas singkat beberapa drama korea yang pernah saya tonton. Menurut riset yang ditulis Mas Arman Dhani untuk Tirto itu, lima drama teratas yang digemari masyarakat Indonesia adalah Goblin, Reply 1988, Descendants of The Sun, Signal, dan It's Okay, That's Love. Kecuali Signal, semua drama yang paling digemari itu pernah saya tonton, tapi nggak semua saya suka. Reply 1988 yang dalam riset menempati urutan kedua terfavorit (14,83% suara) adalah yang terbaik menurut saya. Drama yang mengisahkan kehidupan sehari-hari di tahun 80-an ini sangatlah well, meski jujur awalnya sempet bosen karena alurnya lambat banget, mana durasi per episodenya 1,5 jam pula. Menurut saya, Reply 1988 ini digemari karena kisahnya dekat dengan masyarakat, cerita tentang keluarga sederhana, kehidupan bertetangga, dan persahabatan yang tidak digambarkan dengan berlebihan. Ke-menye-an juga masih dalam batas wajar, yaa meski saya akui Episode 18 bikin saya baper gilak hahahah. Di drama ini saya nemu Ryu Jun Yeol, pemeran Jung Hwan yang mantap banget aktingnya. Atau mungkin saya sebenarnya hanya jatuh cinta sama tokoh Jung Hwan yang diperankannya (?). Sejak itu, saya jadi nyari-nyari film-filmnya Jun Yeol Oppa, bahkan nonton variety show-nya dia yang tamasya ke Africa yang kemudian membuat saya ingin segera tamasya ke Baluran (loh?)

Selanjutnya It's Okay That's Love yang menempati urutan kelima dalam riset dengan perolehan 7,98% suara juga menurut saya oke punya. Drama dengan enam belas episode ini mengangkat kehidupan psikiater dan beberapa pasien dengan masalah kejiwaan. Jadi disitu diliatin gimana seorang psikiater ketika konsultasi sama pasien, gimana memperlakukan pasien, dan diliatian juga gimana gangguan jiwa yang dihadapi si pasien. For me this is the great way to rise awareness that...it's okay not to be okay, it's okay seeking help to solve your problem. Punya gangguan kejiwaan itu nggak masalah, dan konsul ke psikiater itu bukan hal yang tabu. Begitu pula punya keluarga yang memiliki masalah kejiwaan itu juga bukan suatu hal yang harus diumpetin, tapi didukung untuk mengatasinya. 

The lovely second lead couple in Decendants of The Sun. (pic source)
Sementara untuk Goblin yang digemari oleh 30,04% suara (menempati urutan pertama) menceritakan manusia yang dikutuk jadi imortal dengan pedang tertusuk di dada, mmm bisa mati ding asalkan ada 'pengantin' yang ditakdirkan mencabut pedang tersebut, menurut saya nggak bagus. Tapi ada bonus wajah tampannya Lee Dong Wook Oppa sebelum reinkarnasi jadi Grim Reapper, alias pas doi jadi raja. Decendants of The Sun yang kayaknya banyak penggemarnya di seantero Asia itu juga menurut saya..."halah, drama banget, gak mungkin ono sing koyo ngene" haha. Meski demikian, saya akui, chemistry second lead couple-nya mantaapp jiwaaa hehehe. Kalo untuk pemeran utamanya, saya juga malah lebih antusias sama Song Jong Ki dan Song Hye Kyo di kehidupan nyata daripada di drama Descendants of The Sun hehe. 

Pangeran-pangeran Goryeo di Mon Lovers. (pic source)
Nah, selain drama-drama yang konon terpopuler di Indonesia itu, ada beberapa K-Drama yang udah saya tonton dan menurut saya menarik. Yang pertama ada Moon Lovers, sebuah drama sejarah yang mengambil latar di era Kerajaan Goryeo. You know-lah, saya suka drama era kerajaan hehe. Cerita tentang pangeran-pangeran yang berebut tahta gitu dan tentu saja dengan bumbu-bumbu roman. Yang menurut saya menarik adalah, untuk meraih tahta kerajaan para pangeran-pangeran ini melakukan cara-cara kotor bahkan saling membunuh yang mungkin 'agak lazim' di jaman dulu. Nah, si protagonis di sini bahkan tidak digambarkan benar-benar bersih, doi juga melakukan beberapa 'cara jahat' untuk melanggengkan tahtanya. Entah kenapa menurut saya itu justru terkesan lebih nyata. Jadi nggak ada orang yang bener-bener suci gitu, semua ada plus minusnya. Eh iya, bagi saya ending-nya Moon Lovers ini sungguh tak terduga hahaha.

Penyiar cuaca Pyo Na Ri dan Reporter Lee Hwa Sin dalam Jealousy Incarnate.
(pic source)
Kalau It's Okay, That's Love membuka mata pemirsanya tentang kesehatan jiwa, ada lagi drama yang menyadarkan kita tentang kemungkinan adanya penyakit yaitu kanker payudara. Bahkan, di drama yang berjudul Jealousy Incarnate ini, yang kena kanker payudara adalah laki-laki. Jujur, saya pun baru tahu kalau laki-laki bisa terserang breast cancer dari drama ini. Jealousy Incarnate juga seolah mengkampanyekan agar khususnya wanita untuk rutin memeriksa payudaranya agar apabila terjadi sesuatu dapat segera mendapatkan pertolongan medis. Drama yang diperankan dengan apik oleh Jo Jung Seok, Gong Hyo Jin, dan Go Kyung Pyo ini mengangkat cerita kehidupan pekerja di industri pertelevisian yang dijamin seru. Selebihnya adalah soal cinta-cintaan manusia di usia 30-an.

Potret persahabatan dalam Fight for My Way. (pic source)

Selanjutnya, ada Fight for My Way, drama komedi romantis yang sukses bikin saya ngakak oleh guyonannya yang super receh. Menurut saya, drama ini menggambarkan kondisi anak muda jaman sekarang haha, yaitu anak muda yang semangat menggapai impian sekaligus pejuang job seeker. Atau mungkin lebih tepatnya yang sedang galau: antara mewujudkan impian atau memenuhi kebutuhan hidup eheh. Saya nonton drama ini karena direkomendasikan oleh teman KKN, Ria Putri. Jadilah, entah kenapa setiap ada adegan lucu saya bakal terngiang tawa khas-nya Ria Putri berikut suara tawa gadis-gadis KKN Seliu di pondokan. Serius! Tiap ada adegan lucu yang bikin saya terbahak, saya jadi keinget mereka -_-

Oke, itu tadi deretan K-drama yang berhasil membuat saya jatuh hati hahaha. Semoga kalau kalian belum pernah nonton dan lagi pengen hiburan seru, bisa loh nontonin drama yang saya tulis ini hehehe. Atau, punya rekomendasi drama/film bagus buat saya? Boleh lho share sini. Selain drama sebenernya ada juga K-Movie menarik yang saya tonton. Kapan-kapan saya bakal nulis tentang K-Movie juga, tapi mungkin satu artikel bakal mengulas satu judul film-nya, nggak kayak artikel ini yang emang memuat banyak judul drama tapi dibahas singkat-singkat. Drama Korea memang sebagian meyuguhkan kemenyean dunia, tapi juga menawarkan jalan cerita unik dan pesan-pesan moral positif. Semoga saya tidak terjebak sisi-sisi menye K-drama ini ya, tapi tetep bisa ambil moral value dan sisi-sisi baiknya hehe. Annyeonghi gaseyo! Ddo bwayo!




Sabtu, 9 Desember 2017
Come back,
after more than two weeks vacuum from blogging
December 09, 2017 5 comments


Some friends graduated in August this year and I want to make something simple but hopefully meaningful for them. I was in the mood to do some DIY project that time. So I prepare those simple gifts for them.

I made that very very simple pop-up (if it can consider as a pop-up) for Athia, my KKN team-mate who had also attended the same faculty with me, a friend who always open her 'kos' door anytime I need to 'numpang bobok' hehe. I made the pop-up in ocean theme to remind her about our glorious KKN days, living a beach-life in Seliu island. I also put "KKN Seliu 2015" logo on it. And she loves it so much! I'm so happy knowing her so enthusiast with the gift :)

I also made six flower bouquet for the others friends. I bought the flower, what flower is that? I think it was chrysanthemum or what...do you have a clue? Hahaha, I do not know exactly what kind of flower is that I just go to the florist and I think this yellow flower is eye-catching so I buy it. In Jogja flower bouquet usually being wrapped using plastic but I don't like it. Meanwhile, if you order florist who provides paper to wrap it, it will little bit pricey. So I buy some black papers to make contrast color with the flower and wrap the bouquet by my self. I think my DIY flower bouquets is not so bad hehe. Of course, I put some personal message for them, a different message for each person.

One for Voila, my KKN friend who is very very kind, humble, and smart. That one person who always spread positive energy. One for A'yun, my friend in pesantren who is also hafidzoh, a kind person and who I adore so much. One for Indrawan, my partner during my internship in Media Fisipol. It is great to collaborate with him making some social media contents with hashtag #RisetFisipol. Indra is now taking his master degree in one of the best uni in Southeast Asia, Chulalongkorn University. Another bouquet is for Sabrina, my se-per-Magelang-an friend. One for Rizka, the girl who works the office is next to my office room. And also for Tita, my friend who is also my lecture's daughter.

(pic source)

Because I made six bouquets something silly yet funny happened. The bouquet for Sabrina and Rizka was tertukar....and I realize it when I wanna give the last bouquet for Sabrina. Suddenly I read the message on it and it wrote "Rizka, S.IP." instead of "Sabrina, S.Si.". Feel shocked and wanna laugh at the same time, so I contacted Rizka for apologizing and send her the right "message". The girl who shows me Baby Shark video which is the song ringing in my ears a whole day long, just laughing and forgive me. Hahaha, thank you. And the last bouquet, I change the message on it before giving it to Sabrina. So, I didn't just give the "Rizka, S.IP." bouquet for Sabrina hehehe.


So, that's all I wanna tell you about  my very very simple DIY project that I made for my friends's graduation gift. What do you think of it? Have you ever receive a DIY Project gift or...what is your latest DIY project? Share with me if you do not mind :D


Kamis, 7 Desember 2017 

December 09, 2017 No comments

"Where the flower blooms,
and so does hope."



That quote I found on Mbak Dian Pelangi's insta story hehe.
The sunflower bouquet, wrapped in the black fabric,
special for my greatest friend :)

August 2017

December 07, 2017 No comments
Beberapa hari belakangan, saya terlibat dalam sebuah program yang mengharuskan saya berinteraksi dengan orang-orang di panti asuhan atau rumah pengasuhan anak, baik dengan anak-anak asuhnya maupun para pengasuhnya. Lewat interaksi itu, saya mendapat satu lagi pelajaran baru, bahwa dalam hidup kadang kita dihadapkan pada keadaan yang tak semudah dan seindah yang pernah kita bayangkan.

Saya mendapatkan beragam kisah latar belakang anak-anak asuh itu, tentang bagaimana mereka bisa sampai ke rumah pengasuhan. Ternyata, tak semua anak disini adalah yatim-piatu, ada diantara mereka yang masih punya orangtua lengkap, tapi karena ekonomi yang kurang mendukung, anak-anak itu harus diasuh di rumah pengasuhan. Mendengar itu, mungkin sempat terpikir, kenapa orangtua tega membiarkan anaknya hidup jauh dari mereka. Tapi, mungkin saja hal itu adalah yang terbaik yang bisa mereka pilih demi kebaikan anak mereka, bukan?  Ada juga yang orangtuanya masih ada tapi memutuskan untuk berpisah dan karena suatu hal sama-sama tak bisa mengasuh anak mereka, lalu si anak diasuh neneknya yang sudah renta dan tak mungkin lagi megasuh si anak ini, akhirnya pengurus lingkungan tempat ia tinggal memutuskan bahwa anak ini sebaiknya diasuh di rumah pengasuhan anak. Ada juga yang memang ayah-ibunya telah meninggal dan anak itu tinggal bersama kakaknya, tapi pergaulan kakaknya dianggap kurang baik bagi si anak, akhirnya entah mungkin guru atau pengurus lingkungan yang peduli, membawa ia ke rumah pengsuhan ini. Tentu saja masih banyak lagi latar belakang keluarga yang dimiliki beragam anak di rumah pengasuhan yang tentu saja membawa pengaruh pada kondisi psikologis si anak.

pic source: google.com

Saya tidak akan pernah bisa merasakan apa yang sesungguhnya mereka rasakan dan perjuangan apa yang telah mereka lakukan. Yang saya tahu, anak-anak disini juga cerdas dan memiliki keunikan masing-masing. Saya juga salut kepada pengasuh yang juga menjadi teman curhat anak-anak, saya rasa ketika mereka memiliki seseorang untuk sekedar menceritakan aktivitas mereka di sekolah atau mungkin masalah mereka dengan kawan, dengan pelajaran...hal itu akan memberi pengaruh baik bagi psikis mereka. Kayak campign-nya Kate Middleton sih, hehe...bahwa mengungkapkan apa yang dirasakan dan menceritakan pengalaman sehari-hari itu menyehatkan...good for our mental health. Entah kenapa, saya lega ketika anak-anak itu memiliki tempat untuk berbagi cerita.

Mendengar cerita-cerita itu, yang terpikir dalam benak saya adalah bagaimana perasaan si anak dan bagaimana ia berjuang menyikapi peristiwa yang mungkin kurang menyenangkan yang terjadi kepada mereka...tentang bagaimana melanjutkan hidup. Bukankah trauma-trauma akan masa lalu mereka akan tetap ada? Mungkin selama di rumah pengasuhan anak mereka telah mendapat beragam pemahaman dari para pengasuhnya untuk mengembalikan rasa percaya diri mereka, untuk meredakan trauma mereka, dan untuk berbesar hati dan berdamai pada kenyataan. Lalu pertanyaan selanjutnya, ketika anak-anak ini sudah cukup dewasa dan harus meninggalkan rumah pengasuhan, terjun ke masyarakat, bagaimana nanti penerimaan orang-orang di sekitarnya? Entah kenapa saya khawatir jika kondisi psikologis yang telah behasil dibangun selama di rumah pengasuhan anak akan hancur jika mendengar komentar-komentar miring dari orang-orang di sekitar, tentang masa lalunya mungkin? Apakah saya terlalu mendramatisir? Ah, tapi bukankah hidup bahkan kadang lebih dramatis daripada sinetron-sinetron jaman now? :') 

Dari situ saya belajar, bahwa kita nggak bisa nge-judge orang sembarangan, entah bagaimanapun masa lalu mereka atau bagaimana kondisi keluarganya. Bagaimanapun juga anak-anak itu adalah individu yang berbeda, apa yang terjadi pada keluarga mereka, belum tentu akan terjadi pula pada mereka. Pun orangtua mereka, tidak bisa begitu saja dipersalahkan.  Mungkin ada beragam faktor yang menyertainya. Yaah...begitulah hidup, kadang tak  berjalan seperti saharusnya, tapi...bukankah 'yang seharusnya' bagi satu orang dan orang lain bisa berbeda-beda? Atau...memang seperti itulah 'seharusnya' itu, tinggal bagaimana masing-masing orang menyikapinya.

05 November 2017
Mari, memanusiakan manusia :)

November 05, 2017 No comments
I write this post because on 27th October will be celebrated as the National Blogger Day, so today I wanna share something about my blogging activity to you. Although, maybe it's a little bit too early to celebrate National Blogger Day.

I began to build this blog in 2010, when I was at senior high school. I usually update my blog, learn to manage Blogspot, and edit it's background in the school's computer laboratory haha. My 'Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK)' teacher allowed the students to use the computers in the laboratory after the school's hours. We can do our 'TIK' tasks there (like making a very simple moving cartoon using SwishMax, making an animation using Inkscape, or practicing html-thing using BlueFish...some software that we learned in school) or just using the internet to access some positive information, for free of course. So, I do not take that chance for granted haha. If there's no extracurricular activity, or not want to go somewhere like Perpustakaan Kota, I go to the lab computer with some friends. Here I begin to build a blog. I prefer to use Blogspot than WordPress, because for me it is easier to manage Blogspot than WordPress. Some fashion bloggers actually inspire me to build this blog, like Diana Rikasari, Dian Pelangi, Kivitz, but I do not make this blog for a specific reason like...to share about fashion maybe, haha of course not. I make this blog simply because I like to write, to share my own story, to share some experiences that amazed me. The content maybe inspired from Mas Bambang Pamungkas's blog. Yeah, I really love to visit and read his blog when I was in high school haha. So, I treat this blog as an online diary. I even do not care is there anybody who read my blog or not.

(pict source)

So, you can see in the very first post of this blog I sahred my experience during high school. Not much post in a year, because I only post when I really in a good mood or maybe some posts I've deleted because it just reposts someone's else quotes or photos (that later I thought it was boring). In 2013, when I finally have my own laptop and I can use the campus's wifi, I begin to write a little bit often here. But what I write is to express my feeling or you can call it 'curhat'. See, I 'curhat' a lot in 2013-2014. I mean, really a lot. That's galau-est years for me maybe. Even I always feel like I lost myself during that crazy years. In 2015, it was though for me in the first months, a lot of problems a lot of pain, but I found some people that have the positive energies and from them, I can find my way back to my real Nurul once again, they're my KKN-mates of course. Thanks God, for sent me those kind friends in my life. Those positive energies they share affect me, my mood, my emotion, and my thought, that's why I wanna share only something positive here. I think blogging is not only a passion but also something good that have to be done carefully. We responsible for what we're writing, about the content of our blog. Thinking about the audience that maybe find this page and read the article here. So, I treat my blog a little bit serious since 2015. Although I do not make many posts like in 2013-2014, I think what I've posted are more responsible than before. Hahaha, do you think so?

Now, I see this blog as a process, my process. I let that post in 2012 be there so I can see my writing style when I still a teenager (am I an old granny now?). I let that 2013-2014 post still be there so I can see how much impulsive I was to express some 'curhat' online. But I not only share 'curhat' during that crazy years, I also write the memories of visiting some wonderful places like my very first hiking in Lawu, etc. I let the 2015 posts be there so I can see (and maybe the audience too, if they really exist haha) I ever had very amazing years that make me treat this blog. You know, 2015 is my turning point, a miracle year that helps me recover from some pain and craziness heheh. I let those posts be there, cause I want this blog to be personal, so you can pretty sure that someone behind this blog is really a human who has her ups and downs. This blog also has a long process until it has a page display like what you find know, in my first months of blogging I ever put a glittery background on it that now I think it was annoying hahaha. But, everybody has their 'alay' moment(s), right? 

In 2016, when I had a chance to join Fisipol's Media Team, I learned how to manage media online there. Sometimes, I think what if I make this blog into 'something', with a specific content, perhaps I should turn this blog into the beauty blog which I post some review of beauty product regularly? Perhaps I should write a fiction story here? Or something like that, but...no. I'm not ready for that kind of blog. So for now what I post in this blog is still about my self-experiences and my self-thoughts, I hope it can give a positive effect for them who deliberately or not, visiting my page :)

Seven years blogging just to express some random thoughts that pop in my mind with maybe few people (especially in my circle) who sometimes read the story, I feel so grateful. For you, guys I wanna say thank you, for visiting :) Thank you for leaving some positive comments. You know, sometimes your positive saying can make someone's day, sometimes can encourage them to be better. So, let's keep saying something positive to others!! I really hope I can always write something positive and meaningful in my blog, whole-heartedly. But, if I make mistakes, in the past or someday in the future, I welcome you to criticize, to be better me. Once again, thank you, friends!

Last, I pick some old posts that I think enough fun, from my blog.
Click the title below if you wanna read them:
Enjoy!! ⌣⌣
  • My (Not So) First Post
  • One of The Best Memory in High School
  • Explore Magelang with 'Geng Sensor Ladies'
  • A Journey To Be Experienced
  • The Amazing KKN 


October 08, 2017 No comments
Saya tidak banyak menonton drama Korea, beberapa drama yang pernah saya tonton hanyalah Boys Over Flower, The Moon That Embraces The Sun (yang udah saya tonton berkali-kali), dan Dae Jang Geum (yang saya bahkan udah lupa ceritanya saking lamanya). Namun, beberapa waktu lalu dari seorang sepupu yang penggemar per-korea-an, saya diberi drama berjudul Hwarang: The Poet of Warrior, tentu saja hal ini dikarenakan kakak saya itu paham kalo saya suka kisah-kisah zaman kerajaan hehehe. Meski rating drama ini kalah jauh dengan rating The Moon That Embraces The Sun (disingkat TMTETS aja ya biar gak capek ngetiknya haha), saya tetap jatuh cinta dengan drama ini. Bukan karena kisah cintanya, tapi drama ini bikin saya jadi penasaran akan sejarah Korea dan mengkepo sejarahnya.

(pict source)

Hwarang berarti 'flower boys', mas-mas cantik begitu istilahnya. Mereka ngapain? Bakal saya bahas di paragraf selanjutnya. Berbeda dengan TMTETS yang mengisahkan era Kerajaan Joseon, Hwarang mengambil latar pada masa Kerajaan Silla, abad ke-6 dan ke-7 Masehi. Kira-kira hampir berbarengan dengan masa Kerajaan Tarumanegara di Indonesia. Hwarang lahir pada masa pemerintahan Raja Jinheung. Meski demikian konon yang membentuk Hwarang adalah raja sebelum Jinheung, karena pada saat naik tahta Jinheung masih cukup muda berusia lima belas tahun. Makanya pemerintahan Jinheung juga dibantu ibunya, Ratu Jisoo. Kalau di drama sih, Jinheung ini disuruh Ibunya hidup sembunyi-sembunyi sebelum cukup umur dan cukup strong buat naik tahta dan dikenal dengan Raja Tak Berwajah. Tapi di kejadian nyata, sepertinya tidak demikian. Raja Jinheung bahkan dikenal sebagai salah satu raja terbaik di Silla. Oh iya, ibu kota Kerajaan Silla waktu it bernama Seorabeol yang diucapkan cepat, konon Seorabeol ini jadi 'Seoul' di masa sekarang.
Karakter Raja Jinheung dalam drama Hwarang. (pict source)

Alasan pembentukan Hwarang di dunia nyata konon nggak terlalu jelas untuk apa, tapi kalau di drama sih pembentukan Hwarang ini bertujuan untuk 'mengikat' anak-anak bangsawan untuk mengabdi pada Raja Jinheung. Kalimat ini juga mungkin masuk akal  untuk menerangkan alasan adanya Hwarang: "The establishment of to Hwarang took place as the royal court tightened control of the people, a complement to golpum (bone rank/social hierarchy-red) system and a symbol of harmony and compromise between the king and the aristocracy." Orang-orang yang terpilih dalam Hwarang baik dalam drama maupun di dunia nyata digambarkan haruslah mereka yang merupakan anak bangsawan dan memiliki penampilan fisik yang bagus. Mereka ini dididik beragam pengetahuan seperti tentang kebudayaan, kepercayaan (Buddha, Taoism, Confusius), dan ilmu beladiri. Sehingga tak hanya memiliki penampilan yang menawan, Hwarang juga pandai, memiliki sisi spiritual yang kuat, dan jago bela diri. Makanya ada sumber yang mengatakan bahwa dalam beberapa hal, karakter Hwarang agak mirip dengan Ksatria Templar jaman Perang Salib. Pada mulanya, Hwarang dibentuk bukan untuk sebuah kekuatan militer, tapi lama kelamaan Hwarang dikenal sebagai angkatan perang yang cukup berpengaruh bagi Kerajaan Silla. Sebagai 'flower boys', konon mereka akan merias wajahnya saat berperang. Dalam drama sih, Hwarang tidak digambarkan merias wajahnya berlebihan, namun tetap diperankan oleh mas-mas cantik berambut panjang tapi berbadan gagah hahaha. Nah, saya jadi ber-cocoklogi, jangan-jangan karena ada sejarah dan 'darah' Hwarang ini, maka nggak heran oppa-oppa Korea itu cantik tapi badannya six pack dan sangat memperhatikan penampilan hehe :B
Ada beberapa nilai-nilai yang menurut saya menarik ditanamkan pada para Hwarang di kehidupan nyata. Sebelum dilantik jadi Hwarang, mereka juga punya sumpah setia yang terdiri atas lima poin: kesetiaan kepada Raja, mencintai dan menghormati orangtua, kepercayaan di antara teman, pantang mundur di setiap pertempuran, dan pantang mengambil nyawa tanpa alasan. Kalau dalam drama digambarkan, bahwa setelah belajar dan meresapi nilai-nilai yang ditanamkan, para Hwarang jadi berbeda kepribadiannya, dari yang semula egois dan serakah, bahkan haus kekuasaan, jadi lebih mementingkan rakyat dan loyal sama temennya. Mungkin inilah alasan kenapa dibentuk Hwarang, agar para pemuda terbaik itu tidak hanya mementingkan kekuasaan tapi juga memikirkan kesejahteraan rakyat lewat aksi bersama kawan-kawannya. Di salah satu riwayat yang saya baca bahkan dijelaskan bahwa setelah melewati masa pendidikan, para Hwarang dikirim ke daerah-daerah, yah mungkin semacam bali ndeso, mbagun deso hehe. Jadi, Hwarang nggak cuma punya kekuatan militer tapi juga mumpuni dalam bidang pemerintahan. Gitu yang saya tangkep.
Dari sekian banyak Hwarang, ada tokoh yang terkenal bernama Kim Yu Shin yang hidup  beberapa puluh tahun setelah pemerintahan Jinheung (raja ke-24 Silla), dia adalah jenderal kepercayaan pada masa pemerintahan Ratu Seondeok (ratu ke-27 Silla. Btw, Silla ini dipercaya sebagai negara yang mengakui kesetaraan gender karena pernah memiliki tiga ratu sebagai pemimpinnya. Balik ke Kim Yu Shin, karena dia ini Hwarang yang terlahir dari keturunan Tulang Suci (atau Seonggol, tingkatan tertinggi dalam hierarki masyarakat Silla). Dia juga pandai dalam hal akademis dan pandai berperang, bahkan menjadi Pongwolju (pemimpin Hwarang) di usia kurang dari 20 tahun. Kim Yu Shin ini berperan besar dalam menaklukkan kerajaan tetanga Silla, Baekje dan Goguryeo. Hingga akhirnya Silla menyatukan tiga kerajaan dan menjadi Unified Silla. Dalam drama sih memang digambarin dari awal impian Raja Jinheung memang menyatukan tiga kerajaan di bawah pemerintahan Silla, meski akhirnya impian itu terwujud beberapa tahun kemudian di masa pemerintahan Raja Munmu (raja Silla ke-30).
'Cantiknya' hwarang bernama So Hoo. (pict source)
Wah, panjang juga ya cerita tentang sejarah Hwarang. Balik ke drama aja deh kalau gitu. Hwarang: The Poet of Warrior diperankan oleh enam aktor tampan. Saya suka aktingnya pemeran Raja Jinheung, menurut saya, meskipun sifatnya second lead, but he can portray King Jinheung of Silla very well. Auranya dapet laah haha. Trus, Hwarang juga banyak mengisahkan konflik antara keluarga kerajaan dan pejabat, bagi banyak orang mungkin membosankan tapi bagi saya justru menarik. Mungkin karena background saya adalah alumni sospol kali ya hahaha. Persahabatan yang ditampilkan antar para Hwarang juga menarik diikuti yang tadinya angkuh dan nggak akur bisa jadi saling peduli gitu.
Sebagai drama Korea, percintaan tentu hadir di sini, tapi menurut saya cinta-cintaannya malah sebagai sampingan. Atau at least, saya melihatnya sebagai sampingan karena saya lebih tertarik pada upaya Jinheung naik tahta.Cinta yang ditampilkan ada cinta segitiga, antara Jinheung, temen seper-hwarang-an (pemeran utamanya), dan mbak-mbak tabib bernama Ah Ro. Ada juga kisah cinta seorang Hwarang (namanya Ban Ryu) yang jatuh cinta sama adik perempuan teman seper-hwarang-an yang terhalang perbedaan afiliasi politik orang tua kedua belah pihak. Dan yang agak geli-geli sedih adalah cintanya seorang Hwarang bernama So Hoo untuk Ratu Jisoo yang tentu saja bertepuk sebelah tangah. Di saat-saat terakhir sebelum kematian Ratu Jisoo, So Hoo meminta tabib terbaik di Silla untuk menemani sang ratu. Tabib itu adalah cintanya Ratu Jisoo yang tak pernah bisa dimilikinya. Disini saya kurang paham, yang dilakukan So Hoo itu adalah level tertinggi dari mecintai sehingga mengikhlaskan Jisoo bersama orang lain, atau...level terbodoh dari mencintai hahaha.
Enam aktor utama dalam drama Hwarang. (pict source)
Saya biasanya kalo nonton film-film atau drama gitu ya nonton aja, gak mau pusing-pusing mikirin di balik layarnya. Tapi, lewat Hwarang ini saya jadi memikirkan perkaran setting lokasi kerajaannya, properti-properti yang digunakan dan usaha para aktornya. Kayak saya mikirin gimana mereka latihan pedang, latihan naik kuda, dsb. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah Hanbok (pakaian adat) yang dipakai para pemerannya yang menurut saya bagus-bagus. Desain atau karakter bajunya beda sama yang ada di TMETS, yaa mungkin karena beda era kerajaan juga makanya budaya bajunya juga beda. Saya bahkan kepo desainer hanbok-nya Hwarang hehe. Klik disini deh kalau mau lihat Hanbok karyanya heheh. Disini saya mikir kalau drama ini bener-bener dibikin sepenuh hati dangan effort yang lumayan mantap.
Sungguhlah, Hwarang ini bikin saya kepo sampe kemana-mana. Yaa gitu, kalau udah tertarik sama sesuatu bawaanya kepo hahaha. Even the rating is not so high in Korea, moreover if it's compared with The Moon That Embraces the Sun that I've watched before (Hwarang highest rating is 11,1% and TMETS highest rating is 42,3%...big difference, right?) but this drama impress me so well. Konon ada lagi drama yang mengangkat tema Hwarang, judulnya The Great Queen Seondeok. Drama jadul tahun 2000an yang kalau nggak salah pernah diputar di televisi nasional Indonesia. Nah, saya jadi tertarik nonton juga. Di The Great Queen Seondeok, hwarang digambarkan benar-benar sebagai pria bersolek, bedanya dengan Hwarang adalah era pemerintahannya. Saya jadi pengen nonton drama ini juga, apalagi disini pemimpinnya seoarng wanita tapi ternyata ini cukup panjang mencapai 60 episode. Hmmm....
Sekian deh, cerita saya tentang Hwarang. Nggak nyangka ya jadi panjang banget. Ya gitu, kalau cerita tentang hal yang kita suka, sering lepas kontrol haha. Apakah di antara kalian ada penggemar drama/film bertema kerajaan-kerajaan juga? Mungkin kita bisa sharing hehe :)


21 September 2017

NB. Btw, ini tulisan saya bikin murni untuk sharing apa yang telah saya kepo. Bukan tulisan akademis yaa. Jadi, mohon maaf kalau sumber-nya nano-nano hehe. CMIIW :)
Source:
  • Hung-gyu, Kim. 2012. Defenders and Conquerors: The Rhetoric of Royal Power in Korean Inscriptions from the Fifth to Seventh Centuries. Cross-Currents: East Asian History and Culture Review Journal No. 2 (March 2012). Korea University
  • McBride, Richard D. 2007. Silla Buddhism and the "Hwarang segi" Manuscripts. Korean Studies, Vol. 31 (2007), pp. 19-38. University of Hawai'i Press.
  • Riotto, Maurizio. 2012. The Place of Hwarang Among the Special Military Corps of Antiquity. The Journal of Northeast Asian History Vol. 9 Number 2 (Winter 2012), 99-155.Universita 
  • Te-Hung, Ha. 1972. Samguk Yusa: Legends and History of the Three Kingdoms of Ancient Korea. Yonsei University Press.
  • Source lainnya tercantum pada link-link yang saya sisipkan di artikel di atas yaa hehe.


September 22, 2017 6 comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Live in small and lovely town, Magelang. Enjoy making DIY project, especially hand-embroidery. Really love writing here, share some thoughts, experience, and everything that popping in my mind.

Follow Us

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Popular Posts

  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (3): Pendakian Gunung Ijen
    Setelah puas menikmati pesona Taman Nasional Baluran di Situbondo (seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya), saya sholat kemudian ma...
  • Jalan-Jalan ke Banyuwangi (1): Itinerary, Transportasi, dan Biaya
    Banyuwangi adalah sebuah tempat yang ingin saya kunjungi sejak sebelum KKN. Saya bahkan sudah menggali informasi dari teman kuliah yang sud...
  • Sekilas tentang Departemen MKP Fisipol UGM
    Saya adalah mahasiswa semester delapan yang memiliki seorang adik yang tengah menempuh tahun terakhirnya di SMA, bulan-bulan ini ia tengah ...
  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (2): Bacpacker ke Baluran di Musim Hujan
    Setelah kemarin menulis tentang rincian teknis jalan-jalan ke Banyuwangi, kali ini saya hendak menuliskan cerita tentang tempat wisatanya. ...
  • [K-Drama] Queen Seondeok: Kisah Cinta Deokman, Kim Yu Shin, dan Bidam
    Sebuah drama yang tanpa kisah percintaan sepertinya akan terasa hambar, sehambar hidup tanpa cinta mungkin #halah maka The Great Queen Seon...
  • Serunya "Berbagi" Kartu Pos Lewat Proyek Postcrossing
    Postcrossing adalah sebuah proyek online yang memfasilitasi para anggotanya untuk mengirim dan menerima kartu pos dari dan ke seluruh penj...
  • [K-Drama] Ringkasan Drama The Great Queen Seondeok: Perjuangan Wanita Meraih Tahta
    [ WARNING : Tulisan ini bakal sangat panjang, karena emang banyak yang harus dibahas dan karena saya begitu antusias. Nggak tahu lagi g...
  • Mata Najwa on Stage (Metro TV on Campus UGM)
    Kalian tahu Najwa Shihab kan? Jurnalis pinter lagi cantik yang punya acara talkshow berjudul Mata Najwa? Tahu kan? Tahu dong? Ada apa den...
  • A Drama that So Much Impress Me
    Saya tidak banyak menonton drama Korea, beberapa drama yang pernah saya tonton hanyalah Boys Over Flower , The Moon That Embraces The Sun ...
  • Sebuah Kesempatan: MDP V Net Mediatama Television
    Sabtu sore, seminggu lalu, saya mendapat email dari Net Mediatama (perusahaannya Net TV) yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi administr...

Labels

  • DIY Project
  • Drama Korea
  • Jalan-jalan
  • KKN
  • Korean Wave
  • Life Story
  • Something Wonderful
  • Thoughts

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (3)
    • ▼  December (1)
      • Overwhelmed
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2022 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  September (5)
    • ►  July (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  October (1)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2018 (29)
    • ►  December (5)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (7)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (35)
    • ►  December (7)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  January (11)
  • ►  2016 (28)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (9)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (38)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (5)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  June (4)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (1)
    • ►  January (11)
  • ►  2013 (46)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  October (9)
    • ►  September (8)
    • ►  August (8)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (6)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (7)
    • ►  December (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
  • ►  2011 (19)
    • ►  October (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (8)
  • ►  2010 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose