twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • ABOUT
  • CATEGORIES
    • DIY
    • TRAVEL
    • THOUGHTS
    • KOREAN WAVE
  • About
  • Contact

a wonderful life

Jika kalian suka jalan-jalan atau traveling ala-ala backpacker, variety show (VS) Traveler mungkin bisa jadi tontonan yang menyenangkan. Tayang di stasiun JTBC, variety show yang dibintangi Ryu Jun Yeol dan Lee Je Hoon ini bisa disaksikan juga di aplikasi Viu. Berdasarkan artikel yang saya baca di Soompi, Traveler adalah VS yang nggak pake script, jadi emang dibikin biar para cast-nya bener-bener bisa menjadi diri mereka sendiri selama jalan-jalan dan merasakan jadi traveler sejati. Lagi-lagi masih berdasar infonya Soompi, PD Traveler (yang juga merupakan PD-nya Knowing Brothers) mengungkapkan bahwa tujuan acara ini tuh bukan buat bikin pemirsanya mikir "I wanna go there" tapi lebih ke "I wanna travel like that". Saya rasa tujuan itu bener-bener tercapai setelah saya menyaksikan sembilan episode Traveler.

Salah satu aktor favorit saya adalah Ryu Jun Yeol. Selain karena baper pasca menyaksikan Reply 1988, sikap doi ketika traveling bareng Geng Ssangmundong di variety show Youth Over Flower edisi Afrika  makin bikin saya jatuh cinta sama karakter doi yang dicitrakan di kamera. Maka, ketika mendengar kabar bahwa Ryu Jun Yeol bakal membintangi acara variety show bertema jalan-jalan saya semangat dong nunggu-nunggu tanggal rilisnya hahaha.

alasan harus nonton variety show traveler

Alhamdulillah, Viu dengan baik hati berkenan menyediakan VS ini di platform mereka, jadi dengan mudahnya saya bisa mengikuti Traveler dari episode awal. Jun Yeol nggak sendirian, aktor lain yang dipasangkan sebagai travelmate-nya adalah Lee Je Hoon, mas-mas yang pertama saya kenal lewat film Architecture 101. Btw, ada kemiripan antara Jun Yeol di Reply 1988 dengan Je Hoon di Architecture 101, yaitu: sama-sama nggak gercep nyatain perasaan sehingga ceweknya diambil orang HAHAAHHA. Di tiga episode awal, Ryu Jun Yeol yang ternyata punya english name: Anthony masih solo travel ke Kuba. Pasalnya, Je Hoon masih ada jadwal nge-MC KBS Drama Awards, jadi doi dateng belakangan.

Seperti biasa, saya selalu bingung merangkai kata saking banyaknya yang ada di kepala kalau mau bahas sesuatu yang saya sukai. Maka saya akan membaginya dalam beberapa sub-judul dengan ketagori: hal-hal yang bikin saya bertahan nonton sembilan episode Traveler edisi Kuba dan siapa tau jadi gambaran juga buat kalian yang masih bingung mau nonton apa enggak HAHAHA. Well, smeoga membantu.

SEKILAS TENTANG KUBA

Negara yang menjadi tujuan pertama Traveler adalah Kuba, sebuah negara di Perairan Karibia. Nggak tanggung-tanggung mereka explore Kuba sekitar empat belas hari lamanya. Sekilas tentang Kuba yang saya lihat dari VS adalah bahwa negara dengan bahasa utama Bahasa Spanyol ini adalah kota yang 'tenang', orang berlalu lalang tapi tidak penuh sesak seperti kota besar di negara kita, ketika malam hari aktivitas luar rumah bahkan cenderung sangat sepi.

ryu jun yeol traveler kuba
Once upon a day, in Cuba. Ryu Jun Yeol took photo of a street musician in Havana.
Sebagai negara yang bahkan udah lebih duluan merdeka daripada Indonesia, Kuba tampak agak ketinggalan teknologi. Seriously, mereka bahkan masih kesulitan nyari sinyal internet, Wi-Fi nggak bisa didapat di sembarang tempat dan akses sinyal 3G internet untuk ponsel bahkan baru masuk negara ini pada penghujung tahun 2018, itupun sangat terbatas dan harganya mahal. Buat dapetin akses Wi-Fi, Jun Yeol dan Je Hoon harus beli semacam voucher dulu yang bisa dipake secara general dimana-mana. Jun Yeol harus ngantri dua jam buat beli voucher Wi-Fi itu. Perjuangan banget kan?

Entah karena yang dilihatin di VS adalah kota-kota wisata atau emang semua kayak gitu. Jalan-jalan di Kuba tuh lengang gitu, nggak banyak mobil berkeliaran yang makin menambah polusi. Warga Kuba juga tampak ramah dengan para pelancong. Kadang, nuansa tradisional masih begitu terasa di Kuba. Di beberapa lokasi pedesaan, bahkan masih umum orang bepergian naik kuda ala koboi gitu.


TRAVEL DOCUMENTARY

Bagi teman-teman yang mungkin gemar menyaksikan cerita beralur cepat, mungkin bakal agak bosen nonton Traveler, soalnya menurut saya Traveler tuh alurnya lambat dan bener-bener menikmati perjalanan gitu. Dia dibikin kayak travel diary atau kalau bahasanya Jun Yeol: Travel Documentary. Jadi si Jun Yeol dan Je Hoon nggak cuma dateng ke suatu kota dengan segala fasilitas yang udah tersedia, dateng ke tempat wisata yang menarik, syuting-syuting bentar lalu pulang...enggak gitu.

ryu jun yeol lee je hoon traveler iznaga tower
TRAVELER: Lee Je Hoon & Ryu Jun Yeol menikmati pemandangan 'pasar' souvenir dari Menara Iznaga.
Traveler memperlihatkan bagaimana dua aktor ini nyari penginapan, nyari transport dan nawar harganya, nyari tempat makan, belajar referensi tempat tujuan dari buku, ngobrol sama sesama pelancong, ngobrol sama warga asli Kuba, bahkan ngantre beli kartu Wi-Fi, dan segala drama-drama jalan bakal jadi bumbu menarik di VS ini. Sesekali, diselingi suara Jun Yeol dan Je Hoon yang seolah sedang membacakan buku catatan perjalanan mereka. Sisi-sisi kayak gitu diperlihatkan dengan cukup detail di Traveler, seolah membawa kamu merasakan suasana perjalanan yang sebenarnya halah.


MENGANGKAT NILAI SEJARAH

Suatu tempat nggak bakalan lepas dari nilai sejarah dan peradaban orang-orang terdahulu. Poin ini tidak dilewatkan begitu saja oleh tim Traveler. Sementara kita disuguhkan video Jun Yeol dan Je Hoon di sebuah tempat, suara salah satu dari mereka akan mengiringi dengan cerita sejarah dibaliknya. Seperti misalnya ketika Jun Yeol singgah di suatu kafe yang ada patung legendaris Ernest Hemmingway-nya, dia bakal cerita tentang Hemmingway dan sekilas tentang kafe tersebut.

Kuba juga nggak akan lepas dari nama Che Guevara dan Fidel Castro. Berhubung hampir semua tempat yang dikunjungi terkait dengan dua tokoh revolusi itu, maka nama keduanya bakal sering disinggung di Traveler.

variety show traveler episode kuba
Ryu Jun Yeol dan Lee Je Hoon di Revolution Square, Havana.
Atau juga ketika mengunjugi Menara Iznaga yang konon dulunya digunakan penjajah Spanyol untuk mengawasi budak Afrika yang dipaksa bekerja di perkebunan tebu di sekitarnya. Bagaimana orang-orang Afrika itu bisa sampai Kuba bisa sampai kesana juga dibahas di VS.

Selain disuguhkan perjalanan, kita juga bisa belajar sejarah. Nggak cuma dari narasi yang dibacakan cast-nya tapi juga dari semacam video dokumenter atau ilustrasi yang membuat kita semakin mudah mereka ulang kejadian dalam benak. Sebagai penyuka sejarah, saya menganggap hal ini menjadikan perjalanan lebih berarti. 


THE (NOT SO) DEEP CONVO

Traveler, selain membawa Jun Yeol dan Je Hoon untuk lebih dekat mengenal satu sama lain juga pasti bakal penggemar bakal lebih tau tentang keduanya. Soalnya percakapan ngalor ngidul keduanya selalu ditampakkan dengan durasi yang lumayan panjang. Mereka ngobrol soal masa kecil, film-film yang mereka tonton, perjalanan karir hingga jadi kayak sekarang, senengnya mereka pas akhirnya kerja bareng atau ketemu aktor senior yang jadi panutan,  pembicaraan keluarga, bahkan pekerjaan-pekerjaan part-time yang mereka jalani sebelum jadi aktor. Not an instan way of course, it's a very long story of struggle, apalagi Jun Yeol yang belum lama debut. Pemirsa bakal dibawa merasakan dua manusia itu secara lebih manusiawi halah halah bahasanya wkwkk.

sinopsis variety show jtbc
Ngobrol sambil menanti sunset di Caleta Buena, Playa Giron.
Ini jadi poin favorit saya sih. Karena bagi saya, perjalanan bareng partner tuh ya serunya disitu. Lebih dari sekadar dateng ke tempat baru atau tempat bagus tapi juga buat lebih mengenal partner kita lewat percakapan-percakapan berarti. Ngomongin kerjaan, sambat kehidupan, impian, insecurities, apaaa ajaa...syahdu banget kaan. Yang tak jarang justru sering pula bikin kita sejenak merenung dan memahami diri sendiri. Halah HAHAHAH. Kayak seru aja gitu liatin Jun Yeol dan Je Hoon gegoleran sambil lihat sunset di pantai dan cerita banyak....ugh, I really wanna travel like that. Apalagi, Jun Yeol ini yaa...meskipun lebih muda dari Je Hoon, dia tuh keliatan banget yang ngemong travelmate-nya gitu lho, nggak cuma itu dia juga always taking care para staff. Seru banget kayaknya tuh kalau jalan bareng pacarnya Mbak Hyeri ini HAHAHA.


PENGINAPAN LUCU

Lagi-lagi saya nggak paham, apakah memang karena lokasi-lokasi yang dikunjungi memang kota wisata atau memang semua daerah di Kuba kayak gitu, tapi nyari penginapan di Kuba bisa dibilang gampang. Perjuangannya mungkin nyari yang nggak penuh dengan harus jalan door to door kalau kita belum reservasi jauh hari sebelumnya. Disini penginapan disebut "kasa" dan setiap rumah/bangunan yang menyediakan fasilitas menginap bakal memasang logo khas kasa untuk memudahkan wisatawan. Gak ada reklame-reklame heboh yg semrawut karena logo-logo kasa menempel langsun di dinding bangunan dengan ukuran wajar.

Jun Yeol dan Je Hoon bisa dibilang selalu dapet penginapan menggemaskan dan bersih. Seperti umunya rumah-rumah di Kuba, kasa juga dicat beraneka warna terang, dengan interior yang semarak. Summer vibes- banget laah hahaha. Saya suka aja gitu lihat desain penginapan-penginapan di Kuba. Bahagia pasti kalo lagi plesiran terus dapet penginapan yang memanjakan mata kayak gitu HAHAHA.


KOTA YANG DIKUNJUNGI

I don't know much about Cuba, almost have no clue about this country. Jadi, justru saya bener-bener dapat insight baru dan nggak expect anything ke tujuan-tujuan wisatanya. Saya jadi kayak yang...yaudah sih, mau lihat sini kayak apa Kuba itu... Nggak ada kota tertentu yang bikin saya excited sebelumya, karena emang nggak pernah kepo Kuba. Saya juga jadi menemukan kejutan-kejutan di sepanjang perjalanan. Sesekali juga bikin saya tambah bersyukur.

backpacker kuba malecon morro castle
Ryu Jun Yeol di Malecon, berlatar Morro Castle.
Kota pertama yang menjadi tujuan tim Traveler adalah Havana, ibukotanya Kuba, tempat yang ada Revolution Square berhiaskan sclupture Che Guevara dan menyediakan transportasi mobil-mobil klasik yang cuma ada di Havana. Sampingan sama Havana ada Malecon, tempat favoritnya Jun Yeol buat lihat sunrise maupun sunset. Di Malecon, ada Morro Castle, benteng dan mercu suar yang dulunya dijadikan pertahanan buat menghalau bajak laut.

Sebelum Je Hoon nyusul ke Kuba, Jun Yeol sempet main ke Vinales, tempat para petani tembakau dan produksi cerutu. Kuba konon adalah penghasil cerutu terbaik di Amerika. Jun Yeol bahkan sempet naik kuda menuju salah satu kebun tembakau di Vinales. Menurut saya, Vinales yang dikelilingi pegunungan ini adalah yang paling sejuk dari semua kota yang dikunjungi Traveler. Di Vinales ini pula, Jun Yeol dihadapkan pada tradisi tahun baru yang unik. Kalau mau lihat lengkapnya, tonton aja episode dua Traveler hihihi. Bakal terpesona sama luwesnya Jun Yeol ketika solo traveling wis hahaha.

variety show traveler episode vinales
Jun Yeol menikmati suasana pagi nek nggak sore ya itu, dari rooftop kasa di Vinales.

Berkuda ke perkebunan tembakau di Vinales.
Kota yang selanjutnya dikunjungi adalah Playa Giron. Disini, mereka berjuang cari penginapan dan baru berhasil di detik-detik terakhir hahaha. Siangnya mereka sepedaan dan mainan air di Pantai Caleta Buena sepanjang hari.

Dari Playa Giron, Jun Yeol dan Je Hoon naik bus ke Trinidad. Di kota ini mereka memutuskan buat jalan sendiri-sendiri. Si Jun Yeol jalan keliling kota sambil motret-motret suasana kota, sedangkan Je Hoon memilih belanja ke semacam pasar tradisional. Nah, abis itu drama terjadi di episode ini, dimana mereka nggak bisa menemukan satu sama lain hihihi.

Sepedaan menuju Caleta Buena.
Main air di Caleta Buena.
Dengan menaiki kereta api super unik yang kayak udah jadul banget gitu, Jun Yeol dan Je Hoon pergi ke Menara Iznaga, yang dulu dipake buat mengawasi budak perkebunan Tebu. Pemandangan dari menara ini beneran bagus banget. Bisa lihat lembah dan pegunungan tanpa terhalang bangunan-bangunan tinggi. Tapi entah kenapa pemandangannya mengingatkan pada Perbukitan Menoreh di Borobudur hahahaah.

Kota terakhir yang jadi tujuan wisata Traveler episode Kuba adalah Varadero. Di kota ini mereka nggak lagi menikmati liburan ala backpaker tapi udah liburan lux di hotel bagus HAHAHA. Ini tuh kayak bonus setelah empat belas hari hidup menggembel di Kuba sebelum melanjutkan ke negara berikutnya, Meksiko. Berhubung saya baru nonton sampai episode sembilan, saya belum tau mereka ngapain aja di varadero selain menikmati sunset di pantai deket hotel. Kayaknya sih, mereka juga bakal sky diving di Varadero jadi yaa...beneran menikmati hari-hari terakhir di Kuba dengan berwisata layaknya orang bergelimang harta. Yaa, gimana yha...Mas Jun Yeol ini kan salah satu sumber duitnya sebagai brand ambassador Cadillac, masa nggak punya harta kekayaan wkwkwk.


MOBIL TUA

Salah satu hal yang mungkin ikonik dari Kuba adalah keberadaan mobil-mobil tua berwarna-warni di Havana. Ya, mereka cuma ada di Havana dan nggak ada di tempat lain. Jun Yeol sempat dua kali menikmati perjalanan jauh pake mobil tua. Pertama adalah dari Havana ke Vinales, dan selanjutnya ketika Je Hoon dateng doi juga pake mobil tua ke Playa Giron. Sementara di hari pertama kedatangan Je Hoon di Kuba, keduanya memutuskan keliling kota naik mobil merah yang bagus dan berakhir menyaksikan matahari tenggelam di tepi pantai.

mobil tua di kuba variety show traveler

Meskipun mobilnya jadul, tapi mesin yang dipasang tentu saja sudah diperbaharui. Seorang pengemudi bahkan dengan bangga menunjukkan kepada penumpangnya yang berkebangsaan Korea bahwa mobil Chevrolet-nya (atau apa itu mereknya lupa) bermesih Hyundai hahaha. Konon keberadaan mobil-mobil tua ini nggak lepas dari pengaruh embargo AS kepada negara komunis Kuba, yang bikin warga yang udah terlanjur beli mobil nggak bisa beli spare part mobil ataupun mobil baru karena harganya mahal dan dipatok pajak mahal pula. Jadi, pilihannya cuma memperbaiki mobil jadul atau utak-atik mesinnya.


BERTEMAN MATAHARI

Di setiap kota yang dikunjungi, hampir selalu duo travelmate ini menyempatkan buat lihat sunrise dan sunset. Mulai dari niat banget bangun pagi-pagi buat mendaki gunung di Trinidad sampai yang sekedar naik ke atap kasa buat menikmati sore. Senja-senja indah di pantai juga selalu menemani perjalanan mereka. Jadi kalau in case kita lagi nggak sempet jalan-jalan dan belom punya cukup duit, tonton ini dulu deh...dibikin mabuk senja kamu hahaha.

sunset di moro castle malecon
Pada suatu senja di Malecon.
Matahari terbit di sebuah gunung di Trinidad.



SABOR A MI

Well, sebenarnya ini nggak terlalu related dengan unsur utama variety show, tapi menjadi salah satu pelengkap yang memorable bagi saya. Selama empat belas hari di Kuba yang dirangkum dalam sepuluh episode, entah sudah berapa kali lagu Sabor a Mi dijadikan backsound Traveler. Hal ini tuh bikin saya teringat perform-nya anak-anak EXO pas acara Music Bank Meksiko, dimana mereka menyanyikan lagu ini diiringi alunan gitar Park Chanyeol, hahaha. Sebagai fangirl anyaran saya jadi terbayang ekspresi Do Kyungsoo pas nyanyi lagu berbahasa spanyol ini di panggung hahahah. Oh, apa? Kalian mau lihat perform-nya para main vocal juga? Click below WKWKWKW


Nah, gimana? Kelihatan kan kalau dari gambar-gambarnya aja, Traveler emang nggak menampilkan tempat-tempat tamasya yang extravagant. Jadi menurutku, acara ini emang fokus membawa pemirsa untuk menikmati feel perjalanannya...gimana ya, susah menggambarkan dengan kata-kata, tapi semoga kalian menangkap maksudku. Kayak diajak untuk merasakan suka duka jalan-jalan gitu wkwkwk. Sepertinya negara selanjutnya yang bakal jadi tujuan Traveler adalah Meksiko. Entah kenapa ini kekoreyaan lagi suka sama negara-negara Amerika Latin yaa. Kemarin Park Bo Gum - Song Hye Kyo syuting drama juga di Kuba, SMTOWN di Chile, Music Bank di Meksiko, dan sekarang Traveler. Ah..itu mungkin cuma cocoklogiku aja kali ya hahaha.

PS: all pictures are from JTBC.


Minggu, 11 Mei 2019
Lega banget rasanya bisa mencurahkan pikiran dan isi hati
lewat tulisan ini. LUV!!
May 11, 2019 4 comments
Variety show (VS) yang saya ikuti dari awal perjalanannya adalah Jibsabu Ilche, alias All The Butlers, alias Master in The House. Bermula dari membaca artikel di Soompi tentang VS baru yang konsepnya menurut saya menyenangkan, saya jadi pensaran sama Jibsabu. Alhamdulillah acara ini ada di Viu jadi sangat memudahkan saya buat nonton hahaha. Sejak itu saya mengikuti Jibsabu dari awal tayang hingga kini, meskipun ada beberapa episode yang gak saya tonton full karena bosan hehe. Nggak terasa, November lalu Jibsabu udah merayakan setahun mereka tayang dan menghibur saya. So, they deserve to be written here hahaha. Btw, Jibsabu ini sangat recommended karena setiap minggunya kita bakalan dapet insight baru dari beragam bintang tamunya.



Tentang apa?

Jadi, Jibsabu ini tuh ceritanya variety show yang dibintangi empat orang anggota tetap: Lee Sang Yoon, Yang Se Hyeong, Lee Seung Gi  dan Yook Sung Jae. Nah, empat orang ini setiap minggunya bakal dipertemukan dengan seorang "majikan" dan nginep dua hari satu malam di rumah sang majikan. Selama nginep, Seung Gi cs diwajibkan mengikuti gaya hidup sang majikan dan belajar sesuatu dari majikan alias sabu-nim. Yang menarik adalah: setiap minggunya sabu-nim mereka selalu breganti-ganti dan identitas sang majikan selalu dirahasiakan. Sesekali bakal ada sesi dimana member Jibsabu diberi kesempatan menebak siapa majikan mereka berdasar petunjuk yang diberikan seseorang via telepon, ini juga bakal jadi sesi paling seru dalam VS. Dalam 42 episode yang sudah tayang, tim Jibsabu menyajikan sabunim yang sangat bervariasi, ada rocker senior, atlet speed skating, biksu, aktris senior, penyanyi muda berbakat, aktor yang lebih sering tampil di panggung musikal, pelatih sepak bola, dll.


Para Member Jibsabu

Pertama adalah Lee Seung Gi (aktor, penyanyi, entertainer laah pokoknya, 32 tahun), doi baru sebulan keluar dari wamil kala memutuskan join Jibsabu, makanya dia nggak bisa berhenti ngomongin militer di awal-awal episode dan sering ditegur sama Se Hyeong hahaha. Btw, Seung Gi ini emang keren sih, wamilnya dia ditempatkan di unit tempur Kopassus-nya Korea, makanya dia sombong banget hahaha. Diantara empat member, Seung Gi ini yang semangat gitu orangnya sekaligus paling kompetitif misal lagi ada game, meskipun endingnya cuma gede omongan tapi kalah. Dia juga sering didapuk sebagai leader-nya tim Jibsabu, bahkan para hyung mengagumi dan mengakui leadershipnya Seung Gi di depan maupun di belakang kamera.

Lee Seung Gi leadernim (pic source)
Meskipun debut sebagai penyanyi, tapi akhir-akhir ini kita bakal lebih sering disuguhkan Seung Gi sebagai aktor di layar kaca. Namun, pada episode-episode Jibsabu pemirsa bakal sering menjumpai Seung Gi nyanyi dengan suara emasnya. Fans lama mungkin bakal jadi kangen lihat dia di panggung.


View this post on Instagram



A post shared by 양세형 (@ysh6834) on Oct 15, 2018 at 4:51am PDT

Kedua, Yang Se Hyeong  (komedian, 34 tahun)...saya beneran baru kenal orang ini disini. Dia adalah komedian yang bener-bener menceriakan tim Jibsabu, siap-siap aja dibikin ngakak dengan ucapan-ucapan doi yang out off the box. Sebagai orang yang agak banyak tingkah, Se Hyeong sering menarik perhatian dan jadi favorit sabunim, tapi ada juga saat ketika sabunimnya nggak suka sama orang banyak tingkah macam Se Hyeong hahaha.

Sung Jae, the Jibsabu maknae (pic source)
Ketiga, Yook Sung Jae (idol, aktor, 24 tahun)...personil boyband BtoB yang juga dikenal lewat drama Goblin sekaligus maknae di Jibsabu. Sung Jae ternyata adalah fans beratnya Seung Gi, bahkan lagu yang dia nyanyikan pas semacam audisi dulu adalah lagunya Seung Gi. Betapa Sung Jae adalah fans yang sukses menyetarakan diri dengan idolanya, bahkan kerja bareng di satu program TV.

Kalo lagi ada sesi game atau dikasih tantangan sama sabunim, Sung Jae ini tipe yang gak banyak komentar dan nyimak dengan baik, nggak jumawa macam Seung Gi atau Se Hyeong, tapi eksekusi doi seringkali boleh juga daripada para hyung. Sebagai maknae yang jarak usia dengan hyung-nya lumayan jauh, menurutku Sung Jae bisa menyesuaikan dengan baik.

Lee Sang Yoon ahjussi (pic source)
Member terakhir adalah Lee Sang Yoon  (aktor, 36 tahun), aktor smart lulusan Teknik Fisika SNU yang baru pertama kali ikut variety show. Awalnya Sang Yoon ini kaku banget asli, awkward gitu keliatannya. Tapi kelempengan doi ini malah jadi hiburan tersendiri. Seringkali kepolosan Sang Yoon sungguh menggemaskan dan bikin ngakak meskipun saya merasa jahat telah menertawakan doi haha. Btw, saya sebelumnya udah kenal Sang Yoon dari drama On The Way to The Airport, he’s soo good in this drama. Kalo kata lagunya taylor Swift sih "he's so tall, handsome as hell~" huhuhu. Apalagi suaranya kalo ngomong, hmm...enak banget didengerin, macam suara Hong Jong Hyun di King in Love. Eh tapi jangan tanya kalau dia lagi disuruh nyanyi sama sabunim, suaranya entah kenapa jadi aneh gitu haha, mungkin karena doi nggak terbiasa nyanyi kali ya.

Jibsabu Edisi Penyanyi

Majikan di episode perdana Jibsabu adalah rocker senior Korea, Joen In Kwon.Beliau ini nggak asing bagi saya. Saat itu saya cuma pernah lihat Pak Joen In Kwon nyanyi lagu Don’t Worry bareng almarhum Jonghyun SHINee. So sweet banget video itu rasanya. Ternyata Pak Jo In Kwon yang bergaya hidup nyentrik inilah pencipta lagu Don’t Worry yang juga jadi soundtrack K-Drama Reply 1988.
 
(pic source)
Pak Joen In Kwon nggak tinggal di pusat kota seperti umumnya artis, tapi beliau memilih tinggal di sebuah rumah sederhana pinggiran kota. Member Jibsabu harus menempuh perjalanan jauh dan mendaki banyak tangga buat sampai rumah beliau. Meski rumah beliau kecil dan sederhana, tapi beliau punya studio musik yang lumayan bagus. Yaa gimana yaa, namanya juga penyanyi. Pak Jo In Kwon bahkan sempet nyanyiin lagu Don't Worry di studionya, suara dan penghayatan beliau sukses bikin member tertua, Sang Yoon, nangis bombai. Selain itu, sabunim pertama ini juga punya kebiasaan makan makanan yang mungkin agak nggak umum yaitu bubuk madu, yaudah itu seharian anak Jibsabu kenyang makan bubuk madu yang konon rasanya aneh hahaha. Di episode ini para member beneran harus mengikuti gaya hidup majikan yang sangat-sangat nggak biasa menurut saya.
 
Jika kamu menggemari korea, khususnya KPop, nama SM Entertainment pasti nggak asing lagi. Suatu hari, Jibsabu pernah syuting di kantor salah satu agensi besar di Korea Selatan ini. Kala itu, yang jadi sabunimnya adalah BoA, penyanyi SM yang udah debut sejak usia 15 tahun. BoA yang usianya sepantaran dengan para member Jibsabu saat itu lagi mau launching single barunya, jadi diliatin ketika BoA latihan dance dan meminta para member buat ikut nyobain dance juga. Siap-siap aja dibikin ketawa ngakak sama dance-nya Lee Sang Yoon. Oh iya, di bagian ini juga ada saat dimana BoA ngenalin boyband NCT ke Seung Gi cs. Di episode ini pula netizen baper karena berharap Lee Seung Gi ketemu mantannya yang anak SM, Im Yoona hahaha.

Member Jibsabu ketemu NCT di studio tarinya SM Entertainment (pic source).
Nggak cuma itu, sebagai sunbaenim yang udah banyak makan asam garam dunia hiburan dan berprestasi lewat banyak awards, BoA ternyata juga menduduki jabatan penting di manajemen SM Entertainment. Saya lupa nama jabatannya apa, tapi yang jelas salah satu tugas BoA adalah ngedengerin curhatan idol-idol hubae (junior) terkait karir. Ketika para member pura-pura jadi idol muda dan curhat ke sabunim, wow...BoA ini berubah jadi ngeri gitu wkwkwk. Yha gimana, berkarir sejak remaja dan masih eksis sampe kini, pastinya berarti BoA sanggup menghadapi segala rintangan dan nggak nyerah, so that's also the thing that SM idols have to learn. Inikah yang dihadapi idol-idol SM saat ketemu BoA?? hihihi.

Jibsabu nge-dance bareng BoA sabunim.

Tapi kengerian itu berubah jadi keramahan pas mereka nginep di rumah BoA. Kayak BoA bahagia gitu diinepin temen-temen seumuran, mereka ngobrol semaleman cerita ngalor ngidul layaknya kalau kita ketemu teman. Lalu ada saat ketika para member mengagumi BoA yang udah kerja kelas sejak muda banget di industri hiburan yang keras, mana solo karir, pasti nggak mudah...dan dengan jadwal super padat, mungkin agak susah buat sosialisasi. Makanya para member bahagia saat mereka bisa jadi "teman" buat BoA sabunim.

Jibsabu Edisi Olahraga

Jibsabu di arena speed skating Taereung Sport Center bareng Lee Seung Hoon sabunim (pic source).
Episode favorit saya sejauh ini ya tetep episode 10-11 ketika majikannya adalah Lee Seung Hoon, peraih medali emasi cabang speed skating di Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang 2018. Mereka syuting episode ini nggak di rumah sang majikan tapi di pusat pelatihan Korea yang kalo nggak salah paling gede di negara itu, Taereung Sport Center. Jadi diliatin tuh gimana supernya fasilitas latihan buat para atlet Korea dan saya sungguh takjub pemirsa. Tempat gym-nya luassss sekali, ada "lapangan" speed skating juga yang  juga gede bingit, terus kantin makanan yang tentunya menjaga banget gizi-gizi para atletnya, dan yang paling bikin takjub adalah cerita sabunim-nya soal 'menu' latihan yang harus dilakukan atlet-atlet Daehan Minguk demi mengharumkan nama negara. Hasil latihan mereka, bisa dilihat dari hasil Asian Games 2018 kemaren yang menempati posisi tiga dengan 177 medali dan di Pyeongchang dapat peringkat tujuh. Si member kayak seneng banget bisa masuk Taereung Sport Center dan ketemu atlet langsung, apalagi si atlet ini umurnya nggak jauh beda dari mereka jadi nyambung banget ngobrol dan guyonnya. 

Member Jibsabu dapet telepon petunjuk dari MC Nasional Korea Yoo Jae Suk tentang sang majikan berikutnya, yaitu pesepakbola Park Ji Sung. (pic source)
Jibsabu bareng Park Ji Sung sabunim.

Sabunim di bidang olahraga nggak cuma Lee Seung Hoon saja. Pesepak bola legendaris Manchester United, Park Ji Sung juga pernah jadi sabunim pas musim-musim piala dunia. Ini episodenya juga semangat banget gitu, para member diliatin museum pribadinya Park Ji Sung dan jadi host siaran piala dunia kemaren. So lovely.

Ada juga atlet baseball. Yha, di Korea kan baseball tuh kayaknya sangat dihargai ya. Episode bareng si atlet baseball ini agak berasa Superman Return karena beliau punya anak masih kecil dan para member dilibatkan merawat balita-balita lucu itu. Nggak nyangka aja, si atlet yang badannya gede ternyata adalah sosok sangat penyayang sama keluarga.

Jibsabu juga pernah syuting di Vietnam ketika sabunimnya adalah pelatih timnas sepakbola Vietnam yang merupakan warga negara Korea. Beliau ini tergolong berhasil mengharumkan sepak bol Vietnam dan sangat dielu-elukan warga Vietnam. Ketika mereka syuting di jalan umum, orang kayang nggak peduli Sang Yoon, Se Hyeong, Seung Gi, atau Sung Jae...yang mereka panggil cuma nama park Hang Seo sabunim hahaha. Dan saya lihat di Twitter, tahun ini tuh Vietnam menang Piala AFF dan mereka selebrasi warga Vietnam atas kemenangan ini sungguh luar biasa. Nama Park Hang Seo tentu makin dipuja di Vietnam.

Park Hang Seo sabunim, pegang piala kemenangan Vietnam di AFF 2018 (pic sourse)


Jibsabu Ter-Emosional

Kalau mengikuti Jibsabu, atau mungkin nonton satu episodenya saja, cukup keliatan kalo Sang Yoon, Se Hyeong, Seung Gi, dan Sung Jae ini punya kepribadian yang berbeda-beda, bahkan bisa dibilang kontras. Sang Yoon, member tertua dan paling nggak pengalaman di VS adalah yang paling sering keliatan "struggling" di acara ini. Nah, suatu hari mereka dapet sabunim Nyonya Shin Ae Ra yang sedang ambil S3 Psikologi di LA dan mereka tentu saja syuting di LA. Episode bersama Nyonya Shin Ae Ra adalah episode paling emosional karena disitu, para member diminta sang calon doktor untuk melakukan tes psikologi dan dianalisis bareng-bareng. Hasil tes itu menunjukkan bahwa keempat orang emang punya kepribadian berbeda dan analisis Nyoya Shin Ae Ra sangat membantu para member untuk lebih memahami diri sendiri ataupun temannya. Para member juga mengungkapkan tentang apa yang dirasakan mereka tentang dirinya, tentang temannya, dan tentang acara Jibsabu. Tentu saja, air mata nggak tertahankan. Tapi sejak saat itu, kayaknya member jadi ngerasa lebih dekat satu sama lain, episode ini tuh kayak apa yaa...refresh-nya Jibsabu gitu. Kayak para member siap menyambut hari baru setelah mereka saling memahami. Thanks a lot to Shin Ae Ra sabunim.


Jibsabu emotional moment with Shin Ae Ra sabunim (pic source).
Perbedaan karakter para member menurut saya adalah salah satu kekuatan Jibsabu. Ada yang citra yang khas dari tiap member yang bikin mereka unik dan saling melengkapi di acara ini. Empat orang itu bener-bener pas buat memberi warna di acara ini. Thank you.

Jibsabu Rasa Law of The Jungle
 

Setiap episode Jibsabu selalu berbeda "warna"-nya, entah itu dari faktor karakter majikan, lokasi syuting, atau challange-challange yang dikasih, tapi ada satu yang menurut saya paling enggak biasa, yaitu ketika sabunimnya adalah Kim Byung Man. Karena sabunimnya merupakan host variety show Law of The Jungle, maka episode kali itu saya sebut: Jibsabu rasa Law of The Jungle hahaha.

Ada bagian yang Law of The Jungle banget  (meski saya baru nonton satu episode Law of The Jungle , itupun nggak kelar) ketika mereka kerja keras buat membangun sesuatu dari alat-alat ala kadarnya dan masak di tempat terbuka di tengah guyuran hujan, meskipun malamnya mereka tetep bobok di semacam homestay dan nggak di tenda ala-ala Law of The Jungle hahaha.


Lewat episode ini pula kita bisa belajar tentang arti kerja keras. "If you want something that you never have before, you've to work harder like you never did before." Kim Byung Man sabunim orangnya pensaran banget sama banyak hal random dan dia belajar dan berlatih keras buat menguasai hal itu. Beliau punya banyak banget lisensi resmi misal buat skydiving, yang untuk mendapatkannya seseorang harus terjun payung 500 kali. Atau sertifikat selam yang juga harus diperoleh dengan syarat tertentu. Lisensi-lisensi semacam itu nggak cuma dia punya satu dua tapi banyaaaakkk banget di berbagai bidang! Takjub aku sama perjuangannya.

Nah, yang diliatin di episode ini sekaligus yang bikin beda adalah karena saat itu Kim Byung Man sedang ngejar sertifikat pilot, iya...pilot! Dan buat dapetinnya, beliau harus belajar teori penerbangan setahun full dan praktik terbang hingga jam terbang tertentu. Terus tim Jibsabu diajak juga buat terbang pake pesawat kecil, bahkan Lee Sang Yoon dapat penghargaan buat jadi co-pilot. Seru banget itu Sang Yoon untuk pertama kalinya terbang, pake baju pilot....aaaa soo cool, as expected from Lee Sang  Yoon hahaha. Langsung keinget drama On The Way to The Airport saya, dimana saat itu doi selingkuh sama istri pilot hahaha. Trus sekarang jadi pilot 'beneran' wkwkwk.
 

Jibsabu Edisi Ulang Tahun
 

Bocah-bocah yang kaget ketemu Son Ye Jin.
Episode Jibsabu yang terakhir saya tonton adalah edisi anniversary-nya mereka, dimana mereka dapet hadiah ulang tahun seorang tamu (karena doi nggak mau disebut sabunim) yaitu aktris senior Son Ye Jin yang kemarin habis maen drama fenomenal Pretty Noona Who Buys Me Food bareng Jung Hae In (tapi saya nggak nonton drama ini sama sekali). Di episode inilah, pertama kalinya saya ngelihat semua member Jibsabu berada dalam suasana sangat awkward yang begitu lama. Kayak mereka udah terpesona duluan sama Son Ye Jin noona hingga tak mampu berkata-kata HAHAHA. Tapi serius deh, lama banget kayaknya sampe mereka bener-bener bisa get along sama Son Ye Jin, katanya sih hal ini dikarenakan mereka terbiasa ketemu sabunim sepuh terus tiba-tiba ketemu yang muda kinyis-kinyis macam Ye Jin noona hahaha.
 

Sabunim Idaman Saya

Sebagai seorang fans, saya tentu memiliki harapan dan angan-angan yang semoga bisa jadi kenyataan. Kalau bisa milih sabunim yang saya pengen lihat buat 'membimbing' bocah-bocah Jibsabu ada beberapa nih HAHAHA.

  • Aktor kawakan Song Kang Hoo, well menurut saya Song Kang Hoo adalah jaminan mutu. Hampir semua film favorit saya ada beliaunya. Penasaran aja saya sama kehidupan beliau dan penasaran sama nasihat-nasihat apa yang bakal dikasih ke Seung Gi cs, atau at least pengalaman-pengalaman menarik beliau. Apalagi beliau kan sangat jarang tampil di variety show yaa.
  • Lee Byung Hun, yaa jelas kalau ini mah. Anak-anak Jibsabu juga pasti pengen banget dapet sabunim beliau. Tapi Pakde Byung Hun pasti kan jadwalnya padet banget yaak syuting film hollywood dan film dalam negeri, belum lagi datengin award-award huhuhu.
  • Son Heung Min, punggawa Tottenham Hotspurs hahaha tentu saja saya pengen anak muda berprestasi yang dapet izin gak join wamil ini jadi sabunim. Seru lagi kalo syutingnya di UK, sekalian meet up sama mantan sabunim Park Ji Sung. Well, Heung Min mungkin masih muda tapi tentu saja banyak pengalaman berharga yang bisa dia bagi kan. Sayangnya jarak memisahkan dan Heung Min pasti sibuk banget dengan jadwal bareng Spurs dan timnas Korea.
Eits...tapi nggak ada yang nggak mungkin kan? Kru-nya Jibsabu kan super banget. Kalo Park Ji Sung, aktor hollywood Lee Ki Hong, biksu Pomyun, dan syuting di LA aja mungkin buat mereka kenapa enggak dengan kemungkinan-kemungkinan di atas. Hahaha. Semoga saja yaa. Saya juga pengen Yoo Jae Suk, Ha Joong woo, jadi sabunim hahaha.

Itu tadi cerita saya tentang satu-satunya variety show yang saya ikuti tiap episodenya. Nggak semua sabunim bisa saya sebutkan di cerita ini, makanya saya cuma menuliskan yang menarik perhatian aja. Sebenernya semua sabunim itu seru dan menyenangkan, selalu beda atmosfernya. Saya merekomendasikan variety show satu ini buat ditonton menemani weekend Anda. Nggak cuma bikin ngakak tapi juga inspiratif.

Well, selamat ulang tahun buat Jibsabu, semoga makin semangat menghibur pemirsa dengan sabunim yang keren-keren. Luv you!
 

22 Desember 2018
Selamat Hari Ibu
Ditulis sambil menanti EXO tampil di Knowing Brothers
December 22, 2018 1 comments
Mumpung masih bulan April dan masih konsisten sama postingan per-korea-an, saya mau menulis tentang A Taxi Driver. Sudah lama banget saya nonton film based on true story ini, yaitu sekitar akhir tahun 2017. Belakangan saya bahkan udah nonton lagi. Sudah lama pula pengen nulis (kalau bahasanya Mbak Teppy sih) review suka-suka. Awalnya yang bikin saya tertarik nonton adalah karena ada aktor Ryu Jun Yeol sebagai salah satu pemerannya dan karena tau film ini ada hubungan sama per-jerman-an. Berbeda dengan film One Way Trip yang juga saya tonton gara-gara Ryu Jun Yeol namun ceritanya menurut saya kurang apik, A Taxi Driver mengejutkan saya dengan jalan cerita yang sangat bagus. Maybe because basically I love the movie that based on true story.

Song Kang Ho, pemeran utama film A Taxi Driver. (pic source)
[SPOILER! ALERT!!]

Kondisi yang digambarkan pada adegan-adegan awal A Taxi Driver adalah kericuhan di Korea Selatan pada tahun 1980. Saat itu terjadi kudeta militer oleh seorang jenderal bernama Chun Doo Hwan dan pembunuhan terhadap presiden yang tengah berkuasa, Park Chung Hee. Jenderal Chun Doo Hwan adalah seorang diktator, ia menerapkan martial law yang sebenarnya ditentang oleh rakyat, banyak perguruan tinggi ditutup, dan ia juga menangkap para pimpinan oposisi. Para mahasiswa dan rakyat pro-demokrasi di kota Gwangju adalah yang paling frontal menentang Chun Doo Hwan. Militer bersenjata pun diturunkan untuk menghadapi perlawanan masyarakat sipil di Gwangju. Bahkan kota itu diblokade, orang tidak dapat dengan mudah keluar masuk Gwangju dan jaringan telepon juga diputus. Wartawan lokal dibatasi sementara wartawan asing dilarang masuk.

Di lain tempat, seorang supir taksi bernama Kim Man Soeb (Song Kang Ho) sedang galau karena harus membayar kontrakan seharga seratus ribu won tapi uangnya belum cukup. Ketika sedang makan siang, ia mendengar percakapan rekan sesama supir taksi, konon ada seorang penumpang WNA yang minta diantar pulang pergi dari Seoul ke Gwangju dan menawarkan upah seratus ribu won. Kim Man Seob langsung tancap gas menuju hotel yang diceritakan menjadi tempat WNA tersebut menanti taksi. Man Seob dan Peter (Thomas Kretschmann) pun berangkat ke Gwangju. Ternyata Jürgen Hinzpeter (alias Peter) adalah wartawan ARD Jerman yang berbasis di Tokyo, ia sengaja datang ke Korea Selatan setelah mendengar kabar tentang kudeta militer dan blokade di Gwangju dari rekan sesama wartawan. Dengan menyamar sebagai misionaris, ia berencana meliput demonstrasi di Gwangju.

Thomas Kretschmann yang memerankan Jürgen Hinzpeter. (pic source)
Benar saja, jalan utama dari Seoul menuju Gwangju ditutup dan dijaga tentara. Semula Kim Man Seob hendak menyerah dan membawa penumpangnya kembali ke Seoul. Didorong kebutuhan akan uang seratus ribu won, ia berusaha mencari jalan tikus menuju Gwangju. Ternyata, jalan tikus pun dijaga tentara, namun Kim Man Seob mengelabui para tentara dan berhasil masuk Gwangju. Taksi hijau Kim Man Seob berjalan menyusuri kota yang begitu sepi, toko-toko tutup, dan poster protes terpasang di seluruh penjuru kota. Tiba-tiba, sebuah truk yang ditumpangi para mahasiswa menyalip mereka dan berhenti. Peter pun turun karena ingin merekam kejadian itu. Para mahasiswa begitu senang mengetahui ada wartawan asing yang meliput, mereka berharap apa yang terjadi di Gwangju akan akan diberitakan dengan benar. Disinilah Peter bertemu seorang mahasiswa yang pandai bicara Bahasa Inggris bernama Jae Sik (Ryu Jun Yeol) yang selanjutnya bergabung dengan Kim Man Seob dan Peter, perannya adalah sebagai penerjemah Peter untuk Man Seob.

Demonstrasi di Gwangju digambarkan begitu mengerikan dalam film. Sebuah adegan di rumah sakit menampilkan banyak demonstran yang meninggal atau luka-luka akibat dihajar atau bahkan ditembak para tentara. Rumah sakit penuh sesak oleh para korban. Industri film Korsel ini bener-bener pada niat kalau bikin luka-luka terlihat mengerikan hmm. Para supir taksi di Gwangju berperan menjadi pengantar korban-korban dari lokasi demo ke rumah sakit, for free. Untuk menutupi kekerasan yang terjadi di Gwangju, pemerintah berkedok bahwa militer diturunkan demi keamanan banyak pihak untuk melawan mahasiswa yang memberontak dan pro-komunis. Berita itu pula yang tersebar di luar kota Gwangju, bahwa militer disana melawan pemberontak pro komunis. Hmm...kok jadi inget Indonesia sekarang ini yang kalau ada orang yang nggak sepaham sedikit-sedikit dikatain komunis yaa, ehehe.

Ryu Jun Yeol ketika memerankan Jae Sik.
Dari rumah sakit, Peter, Man Seob, dan Jae Sik beranjak ke sebuah jalan tempat demonstrasi besar sedang berlangsung. Disini ada tuh adegan ketika ibu-ibu membagikan makanan kepada para demonstran, sebuah bentuk dukungan dari kaum ibu. Peter, dkk kemudian naik ke atap sebuah gedung agar dapat merekam kejadian menyeluruh. Ternyata, disana ada seorang wartawan lokal juga yang sedang merekam. Ketika demonstrasi semakin panas dan tentara mulai menembakkan  gas air mata, bahkan beberapa tampak memukuli demonstran, Peter memutuskan untuk turun agar bisa mengambil gambar lebih dekat. Man Seob dan Jae Sik mau tak mau mengikuti. Tak beberapa lama, seorang tentara melihat Peter mengarahkan kamera dan mengejar Peter. Berhasil kabur dan mendapatkan gambar bagus, tiba saatnya bagi Peter untuk kembali ke Seoul. Sayangnya, taksi Man Seob justru mogok yang membuat mereka harus bermalam di rumah seorang supir taksi Gwangju bernama Tae Soo sembari menunggu taksi dibenahi.

Malam itu pula, terjadi pengeboman di sebuah stasiun televisi MBC di Gwangju. Peter memutuskan datang untuk merekam kejadian, malangnya mereka kembali dikejar pasukan keamanan. Penerjemah Jae Sik tertangkap sementara Man Seob dan Peter berhasil melarikan diri. Pasukan kemanan kini tahu ada wartawan asing di Gwangju yang menumpang taksi Seoul, merek pun memburu taksi ber-plat nomor Seoul. By the way, sound effect untuk suara-suara tembakan dan bom di film ini tuh mantap sekali. Sini nonton pake headset aja tetep kedengeran beningnya. Kerusuhan saat demonstrasi juga digambarkan apik sehingga sanggup bikin penontonnya ikutan tegang.

Keesokan harinya, berbekal peta jalan tikus dan plat nomor taksi Gwangju yang diberikan Tae Soo, Man Seob kembali ke Seoul tanpa sepengetahuan Peter dan tuan rumah. Ceritanya doi udah lelah ngurusin demo-demoan. Dalam perjalanan pulang, ia menyaksikan percakapan orang di luar Gwangju yang menyatakan bahwa demonstran Gwangju adalah komunis yang pantas dihajar tentara, sementara ia tahu kenyataanya orang-orang Gwangju justru pro-demokrasi. Hal itu memunculkan pergolakan batin dalam diri Man Seob, antara segera pulang ke rumah atau menjemput Peter dengan harapan rekaman yang dimiliki wartawan Jerman itu membawa kabar yang benar ke dunia internasional. Setelah mampir ke wartel terdekat dan mengabarkan pada putri semata wayangnya jika ia akan pulang terlambat, Man Seob memutuskan untuk kembali ke Gwangju menjemput Peter.

Sampai Gwangju ia mendapati kenyataan bahwa Jae Sik yang semalam tertangkap aparat, telah meninggal dunia dengan penuh luka. Peter dan Tae Soo sedang berada di rumah sakit menangisi kematian Jae Sik. Mereka sadar bahwa tak boleh larut dalam kesedihan karena harus menyelesaikan misi menyiarkan kabar ke seluruh dunia. Akhirnya, Man Seob mengantar Peter kembali ke Seoul. Kali ini mereka tak hanya berdua, beberapa supir taksi dari Gwangju mengantar kepulangan sekaligus mengawal mereka dari buruan tentara. Para supir taksi dari Gwangju ini rela mengorbankan diri menjadi umpan, terkena tembakan-tembakan dari mobil tentara yang mengejar hingga mengalami kecelakaan lalu lintas yang juga mencederai para tentara pengejar. Sehingga Man Seob dan Peter berhasil bebas menuju Seoul.

(pic source)
Di Bandara Internasional Gimpo, Man Seob membantu Peter menyembunyikan gulungan film dalam kaleng kue dan membungkusnya sedimikan cantik hingga petugas bandara segan membuka bungkusan yang dikira oleh-oleh tersebut. Jürgen Hinzpeter berhasil kembali ke Tokyo dan menyiarkan hasil rekamannya kepada dunia. Pemerintah Korea Selatan pun mendapatkan desakan dari warga dan dunia internasional untuk menghentikan kekerasan. Rekaman tersebut juga selanjutnya berperan dalam kebangkitan demokrasi Korea, karena tak lama setelah itu, pemilihan umum dilaksanakan. Hinzpeter juga selanjutnya diceritakan menerima penghargaan dari pemerintah Korsel atas jasanya. Bagian ending ketika Peter membacakan pidato dalam penghargaan ini benar-benar mengharukan, Thomas Kretschmann yang dari awal memerankan wartawan cuek terlihat berkaca-kaca ketika membacakan pidato. Ending-nya sungguh bikin mewek meskipun bukan love story.

Pak Jürgen Hinzpeter yang sebenarnya, muncul di akhir film.
Di akhir film, muncul rekaman Jürgen Hinzpeter yang asli menceritakan tentang keinginannya untuk bertemu kembali dengan supir taksi yang dulu membantunya meliput demonstrasi di Gwangju, namun hingga akhir hayat (meninggal tahun 2016), ia tak bisa bertemu lagi dengan supir taksi itu. Gwangju tahun 1980 tampaknya menjadi bagian paling membekas sepanjang karir jurnalistik Pak Hinzpeter, terbukti ia berwasiat agar jika ia meninggal untuk dimakamkan di Gwangju. Mungkin ia ingin dimakamkan bersama para pejuang demokrasi Republik Korea Selatan.

A Taxi Driver menyabet banyak penghargaan dan meraih 12 juta penonton selama masa penayangannya. Nggak heran sih, para pemainnya emang aktingnya top banget dan pesan yang dikandung film ini menurut saya bisa banget nyampek ke penonton. Dijamin nggak kecewa deh kalau nonton A Taxi Driver!! Kalau dari rentang nilai 1-10, saya pribadi bakal kasih nilai 8 untuk film berdurasi 137 menit yang disutradarai Pak Jang Hun ini. By the way, Pak Song Kang Ho kayaknya emang aktor kawakan di Korea Selatan, soalnya beberapa film beliau emang jalan ceritanya bagus dan nggak asal-asalan. Daebak!

‎29 ‎April ‎2018 13:32
The Duke & The Duchess of Cambridge's 7th Wedding Anniversary
April 29, 2018 No comments
Older Posts

About me

About Me

Live in small and lovely town, Magelang. Enjoy making DIY project, especially hand-embroidery. Really love writing here, share some thoughts, experience, and everything that popping in my mind.

Follow Us

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Popular Posts

  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (3): Pendakian Gunung Ijen
    Setelah puas menikmati pesona Taman Nasional Baluran di Situbondo (seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya), saya sholat kemudian ma...
  • Jalan-Jalan ke Banyuwangi (1): Itinerary, Transportasi, dan Biaya
    Banyuwangi adalah sebuah tempat yang ingin saya kunjungi sejak sebelum KKN. Saya bahkan sudah menggali informasi dari teman kuliah yang sud...
  • Sekilas tentang Departemen MKP Fisipol UGM
    Saya adalah mahasiswa semester delapan yang memiliki seorang adik yang tengah menempuh tahun terakhirnya di SMA, bulan-bulan ini ia tengah ...
  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (2): Bacpacker ke Baluran di Musim Hujan
    Setelah kemarin menulis tentang rincian teknis jalan-jalan ke Banyuwangi, kali ini saya hendak menuliskan cerita tentang tempat wisatanya. ...
  • [K-Drama] Queen Seondeok: Kisah Cinta Deokman, Kim Yu Shin, dan Bidam
    Sebuah drama yang tanpa kisah percintaan sepertinya akan terasa hambar, sehambar hidup tanpa cinta mungkin #halah maka The Great Queen Seon...
  • Serunya "Berbagi" Kartu Pos Lewat Proyek Postcrossing
    Postcrossing adalah sebuah proyek online yang memfasilitasi para anggotanya untuk mengirim dan menerima kartu pos dari dan ke seluruh penj...
  • [K-Drama] Ringkasan Drama The Great Queen Seondeok: Perjuangan Wanita Meraih Tahta
    [ WARNING : Tulisan ini bakal sangat panjang, karena emang banyak yang harus dibahas dan karena saya begitu antusias. Nggak tahu lagi g...
  • Mata Najwa on Stage (Metro TV on Campus UGM)
    Kalian tahu Najwa Shihab kan? Jurnalis pinter lagi cantik yang punya acara talkshow berjudul Mata Najwa? Tahu kan? Tahu dong? Ada apa den...
  • A Drama that So Much Impress Me
    Saya tidak banyak menonton drama Korea, beberapa drama yang pernah saya tonton hanyalah Boys Over Flower , The Moon That Embraces The Sun ...
  • [K-DRAMA] Mr. Sunshine: Salah Satu Drama Recommended 2018
    The saddest thing about nonton K-Drama adalah ketika kamu nggak ada temen buat membahasnya. Apalagi kalau genre drama yang kamu suka adal...

Labels

  • DIY Project
  • Drama Korea
  • Jalan-jalan
  • KKN
  • Korean Wave
  • Life Story
  • Something Wonderful
  • Thoughts

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (3)
    • ▼  December (1)
      • Overwhelmed
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2022 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  September (5)
    • ►  July (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  October (1)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2018 (29)
    • ►  December (5)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (7)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (35)
    • ►  December (7)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  January (11)
  • ►  2016 (28)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (9)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (38)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (5)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  June (4)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (1)
    • ►  January (11)
  • ►  2013 (46)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  October (9)
    • ►  September (8)
    • ►  August (8)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (6)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (7)
    • ►  December (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
  • ►  2011 (19)
    • ►  October (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (8)
  • ►  2010 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose