Favorite Movies

by - September 24, 2020

Hmmm...kayaknya saya nggak punya favorite movie deh. Lebih ke genre favorit kali ya, yang cerita tentang sejarah gitu aku sukanya, film yang based on true story gitu, kayak The King Speech, A Taxi Driver, Black Hawk Down, The Admiral: Roaring Currents, etc. Itupun juga tidak menutup kemungkinan pada genre-genre lain, asal bukan film horor. Saya nggak terlalu suka suka film horor, bisa dibilang gak pernah nonton film horor. Maka, kalau saya diminta nyebutin film favorit ya jawabannya gak ada. Kalau definisi film favorit adalah yang berkali-kali saya tonton, maka itu adalah Love, Rosie...been countless time watching the movie.  Tapi Love, Rosie sebenernya jalan ceritanya biasa aja. Eh tapi mungkin satu-satunya film horor yang saya tonton ya Love, Rosie ini. Kenapa horor? Ya karena ceritanya tentang per-friendzone-an #eh

Berhubung nggak bisa nyebutin film favorit saya akan menyebut judul-judul film secara random aja di sini. Ada film yang saya suka sekali karena kostumnya lucu-lucu bertemakan 1920's fashion, yaitu The Great Gatsby. Ada juga yang menurut saya ceritanya unik dan sinematografinya bagus, The Grand Budapest Hotel. Saya bersyukur cerita Disney jaman sekarang banyak menggambarkan perempuan tangguh, salah satu favorit saya adalah film yang berjudul Brave. Sementara yang bikin mewek adalah film Korea tentang kakak beradik yang berjudul My Annoying Brother.

Mmmm, kalau film yang terakhir saya tonton beberapa waktu lalu adalah Little Women. Film yang mengisahkan bahwa perempuan berhak punya impian, apapun itu...mau jadi penulis dan nggak pengen nikah kayak Jo, mau jadi pelukis kayak Amy, atau mau jadi ibu rumah tangga yang mengurus keluarga kecilnya kayak Meg, semua sah-sah aja. Saya pikir dialog-dialog tokoh Amy dalam Little Women bener-bener steal the show.

Beberapa hari lalu saya juga nonton film dokumenter judulnya High Noon in Jakarta, iya...saya baru kali ini nonton film dokumenter yang menceritakan Presiden Gus Dur, khususnya momen-momen menjelang beliau meminta Pak Wiranto untuk mundur dari jabatan menteri kala itu.  Trus ini bisa dibahas di sini nggak ya, tapi saya juga lagi seneng nontonin video-video di chanelnya Watchdoc, sebenernya isu-isu sosial, ekonomi, lingkungan yang dibahas di film-film mereka sudah sering dibahas pas jaman saya kuliah dulu, maka ketika sekali lagi dihadapkan pad konten-konten semacam itu saya merasa sedih sekali. Iya, nggak cuma film Korea menye-menye yang bisa bikin sedih, nontonin videonya Watchdoc juga.

Karena saya suka nonton film Korea, saya harus film Korea yang menurut saya seru. Pertama adalah A Taxi Driver, saya pernah nulis tentang filmnya di artikel ini. Ceritanya tuh, Korea pernah dipimpin oleh seorang jenderal yang naik kursi kepresidenan lewat aksi kudeta. Nah, diktator militer ini ditentang sama masyarakat. Ketika orang-orang sipil pada demo, pemerintah menerjunkan pasukan militer buat melawan mereka, akibatnya banyak korban meninggal atau luka berat. Bahkan sebuah kota bernama Gwangju diblokir, orang gak boleh keluar/masuk kota, listrik dipadamkan, saluran telepon juga diputus. Nah, ada seorang supir taksi yang membantu wartawan Jerman meliput apa yang terjadi di Gwangju. Liputan wartawan Jerman inilah yang membuat Korea Selatan kemudian diprotes dunia internasional atas human rights violation dan masyarakatnya perlahan mulai bisa mewujudkan pemerintahan yang lebih demokratis. Yang agak relate sama film ini sama-sama mengangkat tema demonstrasi masa era kepemimpinan jenderal militer dengan latar era 80-an adalah 1987: When The Day Comes.

Trus ada juga Little Forest, katanya sih ini adaptasi dari film Jepang dengan judul sama, tapi saya baru nonton versi Korea. Little Forest bercerita tentang gadis yang tinggal di kota, mungkin dia digaji dengan UMR rendah sehingga ngerasa nggak bisa hidup sejahtera dan gak bisa beli makanan enak. Trus dia pulang ke kampung halamannya, bercocok tanam dan memasak. Saya paling suka scene memasaknya, sangat satisfying. Dan tau kan? Adegan makan di film Korea selalu berhasil pengen ikutan makan. Sinematografi film ini tuh seru karena menggambarkan suasana empat musim di pedesaan. Bagi saya nonton Little Forest memberikan semacam happy vibes.

Well, see you tomorrow!

You May Also Like

1 comments