twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • ABOUT
  • CATEGORIES
    • DIY
    • TRAVEL
    • THOUGHTS
    • KOREAN WAVE
  • About
  • Contact

a wonderful life

Mojokerto mungkin bukan tujuan wisata favorit Jawa Timur layaknya Malang atau Banyuwangi, namun Mojokerto memiliki sisi menarik dari segi sejarahnya. Sekitar enam ratus tahun silam, tanah itu merupakan pusat salah satu kerajaan terbesar di Nusantara, yakni Majapahit. Beberapa hari lalu, saya ke Mojokerto dan merasa beruntung dapat mengunjungi sejumlah situs bersejarah di kota itu. Sebenarnya, tujuan utama saya bukan untuk explore Mojokerto. Lima jam saya menempuh perjalanan dengan kereta dari Jogja dalam rangka "ngeterke nganten" sepupu saya yang menikah dengan pria keturunan Gadjah Mada hehehe. Nah kebetulan, saya memiliki teman KKN yang tinggal di Mojokerto, jadi sekalian silaturahim ke rumah dia dan jalan-jalan keliling Mojokerto, atau lebih tepatnya Trowulan.


Pengalaman Wisata Hits Mojokerto
Setelah melewati Gapura Wringin Lawang ini, saya akan berubah jadi Tribhuwana Tunggadewi.

Sebagai penggemar drama kolosal Korea dan suka ha-hal bertema kerajaan, saya antusias mengunjungi Mojokerto. Setelah beberapa hari sebelumnya mencari informasi di internet, saya mengutarakan kepada Choiri tempat mana saja yang ingin saya kunjungi. Pada dasarnya, daftar tempat wisata yang kami kunjungi adalah candi-candi di kompleks Cagar Budaya Trowulan plus Museum Trowulan. Pada hari yang dijanjikan, saya dan Choiri bertemu di Polsek Bangsal (saya berangkat dari kediaman keluarga suami kakak saya di Mojosari naik Go-Jek, Mojokerto ada Gojek kok jadi don't worry). Pagi-pagi sekitar pukul delapan, petualangan kami dimulai saya disupiri Cho naik Supra kesayangan. Saya sengaja milih start pagi biar nggak terlalu panas. Mojokerto nggak seadem Magelang tentu saja haha.

Awalnya, Museum Trowulan ada dalam list tempat yang ingin saya kunjungi, namun Choiri mengatakan bahwa museum tersebut tutup di hari Minggu. Wah, sayang sekali padahal saya berharap mendapat pengetahuan sejarah dari museum. Jadinya saya hanya mengunjungi tempat-tempat yang saya ceritakan di bawah ini. Nah jika ingin tau how to get those tourism destination, sesungguhnya saya hanya mengandalkan Choiri dan Google Map, kalau ada dari kalian yang ingin ke Mojokerto atau ndilalah lagi ke Mojokerto dan ingin main, turun saja di stasiun Mojokerto, trus nanti naik Gojek menuju lokasi. Memanfaatkan Gojek buat wisata hehe.



Candi Tikus

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Candi Tikus. Ketika sampai di lokasi, mas-mas penjaga masih bersiap-siap, sepertinya kami adalah pengunjung pertama di hari itu. Candi Tikus terletak di tengah kolam persegi. Di sisi luar candi, tertulis bahwa tempat ini merupakan "petirtaan", namun saat saya ke candi, tirtanya lagi gak ada. Mungkin lagi kemarau kan ya, jadi gak diisi. Ada sih airnya, tapi cuma dikit banget. Hanya ada lumpur hijau cukup tebal di dasar candi, bekas endapan ketika ada airnya. 


Backpacker Mojokerto
Candi Tikus, difoti dari tangga untuk menuruni kolam.
Harusnya candi dikelilingi air, tapi pas ga ada huhu.

Candi Tikus tampak dari samping.
Awalnya, saya mengira diberi nama Candi Tikus karena ukurannya kecil cuma muat buat tikus hehe, tapi Choiri menjelaskan bahwa nama itu disematkan dengan alasan ketika pertama ditemukan, banyak tikus berada di lokasi. Beberapa bangunan candi kecil terdapat di tengah menara, dikelilingi kolam besar berbentuk persegi panjang. Tepat di hadapan candi, ada tangga untuk turun menuju kolam, nah di sisi kanan kiri tangga ini ada kotak kecil, semacam ada kolam dalam kolam gitu. Dua kolam kecil di kanan kiri tangga inilah yang masih terisi air dan ada ikannya kecil-kecil pada mabok (kayak lagunya Joshua, hehe maap receh). Ada juga semacam pancuran-pancuran berukir di beberapa sisi candi, kira-kira dulu air di pancuran itu dialirkan dari mana ya? 

Candi Tikus  diperkirakan dulunya difungsikan sebagai tempat pemandian para raja dan ratu Majapahit. Hmm, jadi kebayang, pasti butuh persiapan yang nggak sebentar tuh kalau raja atau ratu mau mandi di situ, belum lagi kalo misal mandinya pake kembang-kembang gitu haha. Yang bikin saya penasaran adalah, kalau tempat mandinya disitu kira-kira istananya dimana ya. Hmm. Oh iya, selain sebagai pemandian, ada juga yang menyebutkan bahwa candi ini digunakan sebagai tempat upacara.

Puas melihat bangunan candi, kami keluar dan...jajan pentol. Btw, salah satu makanan khas di Mojokerto adalah pentol. Saya beli pentol lima ribu di penjual yang mangkal di depan Candi Tikus, saya nggak nyangka rasanya enak sekali huhu ingin coba lagi. Kalau ke Mojokerto, kayaknya wajib deh nyobain pentol yang asli dari sini, rasanya lezatnya membahagiakan.



Candi Bajang Ratu

Candi Bajang Ratu Mojokerto
Candi Bajang Ratu dari sisi Timur.

Saya dan Choiri tidak menentukan itinerary perjalanan, hanya menentukan tujuannya dan waktunya fleksible. Setelah dari Candi Tikus, Choiri membawa saya ke Candi Bajang Ratu yang jaraknya hanya beberapa menit dari lokasi pertama. Menurutku candi ini anggun sekali, bentuknya menawan. Nggak heran, tempat ini tuh sering dipakai buat foto pre-wedding. Sayangnya, ketika sampai di Candi Bajang Ratu, cahaya matahari sedang tidak dalam posisi mendukung pengambilan foto ciamik. Jadi, setelah saya pikir lagi, kayaknya lebih seru ke candi-candi di Trowulan kalau pas sore deh. Lighting-nya bagus haha. Yha terkecuali Anda bermodal kamera canggih yang bisa take a great photo kapan aja hehe. Ini saya cuma modal kamera handphone soalnya, ya biar kayak Nicholas Saputra yang bio-nya tertulis "all photo taken by smart phone". Hanya saja, selisih harga smartphone saya sama punya Mas Nicholas tuh jauh hahaha.


Relief kala di sisi atas Candi Bajang Ratu.

Tempat Foto Hits Mojokerto

Ngomong-ngomong tentang Candi (ada juga yang menyebutnya Gapura) Bajang Ratu konon dulunya merupakan pintu masuk menuju tempat suci buat memperingati kematian Raja Jayanegara, raja kedua Kerajaan Majapahit yang meninggal karena dibunuh. Sebagai raja, Jayanegara dikenal sebagai raja yang kurang arif dalam memimpin. Selain itu, beliau juga mendapat beragam pertentangan terkait kelayakannya menjadi raja karena ia adalah putra dari selir Raden Wijaya. Nama Bajang Ratu sendiri sering dihubungkan dengan usia Jayanegara ketika naik tahta yang masih sangat muda (bajang/bujang). Cerita itu terdapat dalam Kitab Pararaton. Di Candi Bajang Ratu dijumpai sejumlah relief, salah satunya adalah relief kala yang erat dikaitkan dengan pengusir roh-roh jahat sebelum masuk ke tempat suci.



Kolam Segaran

Dari Candi Bajang Ratu, kami geser lagi ke Candi Brahu. Sebelum sampai ke lokasi, Choiri menunjukkan kepada saya sebuah kolam sangat besar yang kami lewati dalam perjalanan. Kata Cho, kolam yang saat saya lewat banyak orang-orang lagi mancing itu dulunya merupakan tempat cuci piring keluarga Majapahit. "Tapi nek kolamnya segede itu apa dulu piringnya juga gede-gede banget ya?" Cho mengutarakan pertanyaan. Hmm, kalau saya lihat ukuran kolamnya sih, muat itu buat cuci piring orang sekampung saya plus kampung tetangga. Mungkin dulu kan keluarga kerajaan banyak banget, abdi dalemnya juga banyak, jadi kitchen utensil yang harus diasahi juga banyak makanya dibikin kolam segede itu. Ukuran kolam segede itu mungkin juga biar nggak najis, kalau kata kitab Takrib sih kan udah lebih dari dua kaulah wkwkwk. Itu sih cocoklogi ala saya. Btw, Kolam Segaran ini kayaknya nggak terlalu dalam, soalnya saat itu di tengah kolam ada sejumlah pria yang tengah berdiri (mungkin sedang nyeser ikan) dan ketinggian air hanya seukuran dada mereka. Oh iya, mohon maaf nggak ada fotonya karena cuma lewat doang kemaren heheh.




 Candi Brahu

Pesona Candi di Mojokerto

Diantara candi-candi yang saya kunjungi sebelumnya, Candi Brahu ini yang paling ramai oleh penjual di sekitarnya sekaligus yang paling besar. Ahli sejarah memperkirakan, Candi Brahu juga merupakan candi tertua yakni dibangun pada masanya Mpu Sindok. Seinget saya, berdasar materi yang diberikan guru Sejarah jaman SMA (Pak Joko) Mpu Sindok ini yang dulunya memindahkan pusat kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah ke Jawa Timur untuk menghindari bencana letusan Gunung Merapi dan menghindari ekspansi Sriwijaya. Berarti Candi Brahu dibangun jauh banget sebelum masa Majapahit, karena sejak era Mpu Sindok, masih ada era Medang, Kediri, Singasari, dan baru Majapahit. Nggak heran banyak batu-batu candi yang udah rusak.

Pada masa Majapahit, ada yang memperikirakan bahwa tempat ini dulunya digunakan untuk menyimpan abu raja-raja Majapahit, namun hal ini lemah karena nggak ada sisa-sisa abu manusia yang ditemukan di dalam candi. Maka, muncul spekulasi lain bahwa Brahu dulunya diapaki buat upacara. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya benda-benda untuk upacara di di sekitar candi.





Candi Brahu memiliki lubang yang cukup besar, semacam pintu tapi nggak bisa dimasuki karena terlalu tinggi. Mungkin dulu ada tangga yang menghubungkan ke pintu itu, kalau sekarang sih udah nggak ada jadi kalau mau masuk harus penekan dulu. Tapi tetep nggak boleh dimasuki sih haha, udah terlalu ringkih mungkin. Di dalam candi konon ada ruangan yang cukup luas dan muat buat sekitar tiga puluh orang. Sungguh ya, kalau liat candi-candi gitu jadi inget adegan upacara-upacara adat di drama kolosal Korea, trus bayangin ada upacara serupa tapi versi jaman Majapahit. Make me wanna travel the time haha.

Matahari pas ganas-ganasnya pas kami sampai di Candi Brahu. Saya bilang ke Choiri, bahwa masih ada Gapura Wringin lawang dan Patung Buddha tidur yang ingin saya kunjungi. Di sisi lain, saya juga ingin mampir ke Jombang buat ziarah ke Makam Pondok Pesantren Tebuireng. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke Jombang dulu, karena kompleks makam Tebuireng tutup jam empat sore dan kami nggak mau kesorean haha. Setelah re-apply sunblock, kami melanjutkan perjalanan ke Jombang, sungguh ngantuk aku sepanjang jalan hahaha.

Sedikit cerita tentang Jombang: tempat yang pertama kami datangi adalah Makam Pesantren Tebuireng. Usai ziarah kami jalan kaki ke Museum Islam Nusantara KH. Hasyim Asy'ari (MINHA) yang terletak tak jauh dari makam (tapi tetep panas banget sih jalannya huhu). Sayangnya, museum tersebut belum buka dan belum boleh masuk karena belum diresmikan.Yah, padahal pensaran isinya. Yaudah nggak apa-apa, semoga lain kali bisa kesini lagi pas udah buka. Berdasarkan artikel yang saya baca sih, bangunan lima lantai itu nantinya bakal dipakai untuk menyimpan peninggalan Hadratussyekh dan dokumen sejarah Islam masuk ke Nusantara. MINHA juga rencananya akan menjadi tempat kegiatan seni dan budaya. Menarik ya. Oh iya, di depan museum terdapat Monumen At Tauhid dengan panel-panel bertuliskan Asmaul Husna.


Pengalaman ke Museum Islam Nusantara

Selain mengunjungi Kompleks Makam Gus Dur di Tebuireng, saya juga sempet mencicipi kuliner sekitaran Jombang. Menu makan siang saya dan Choiri adalah tahu campur yang kami beli di warung pinggir jalan. Makanan ini tuh semacam kupat tahu kalau di Magelang, bedanya tahu campur pake kuah petis. Trus yang bikin beda karena ada kikil atau apalah namanya, something dari sapi. Lumayan sih rasanya, hanya saja saya nggak bisa makan kikilnya karena aromanya terlalu menyengat heheh.



Patung Buddha Tidur

Harga Tiket Patung Buddha Tidur Mojokerto
Sorry I can't take a proper pic cause it's too crowded.
Setelah makan, sholat, dan istirahat sejenak di sebuah masjid kami kembali ke Mojokerto dan mengunjungi patung Buddha Tidur, tempat wisata yang katanya ikonik di Mojokerto. Bentuk patung Buddha Tidur nggak kalah estetik daripada patung serupa di Thailand, bahkan patung yang dibangun oleh seniman patung lokal YM Viryanadi Mahateria, pada tahun 1993 ini dinobatkan sebagai Patung Buddha Tidur terbesar ketiga di Asia Tenggara. Nggak heran, peminat wisatanya sangat banyak. Literally, tempat ini ramaiiiii sekaliii...atau mungkin karena bertepatan dengan hari minggu kali ya.

Patung setinggi empat setengah meter dengan panjang dua puluh dua meter ini berada di kompleks Maha-Vihara Majapahit, Trowulan. Semula, tempat ini hanya dipergunakan sebagai tempat ibadah umat Buddha, namun sejak tahun 2012, patung Buddha tidur dinobatkan sebagai obyek wisata. Posisi patung yang menggambarkan Buddha tertidur ini tentu ada artinya, jadi konon ketika Sang Buddha meninggalkan dunia menuju Nirwana, posisinya tidur miring ke sisi kanan kayak gitu. Trus patung yang menghadap Selatan menggambarkan kiblat umat Buddha yaitu menghadap ke Selatan.

Salah satu patung Buddha dengan mudra  yang berbeda-beda di pintu masuk vihara.

Sebagian relief yang ada di salah satu dinding bangunan vihara.

Di dekat pintu masuk vihara, terdapat beberapa patung Buddha yang berdiri berjajar dengan sikap tangan (mudra) yang berbeda-beda. Dahulu, pas SMP saya pernah tuh dikasih materi tentang mudra-nya Sidharta Gautama, tapi sekarang udah lupa hehehe. Jika berjalan mengitari vihara, kita akan menemukan dinding yang dihiasi panel relief berukuran besar dari semacam logam kalo nggak salah. Kalau saya nggak salah mengenali, di relief ini ada posisi Buddha yang lagi tidur kayak di patung (Reclining Buddha), posisi Buddha yang lagi meditasi, dan posisi Buddha kayak gambar di atas. Apa ya itu? Apakah itu menggambarkan ketika Buddha memberikan pencerahan? Hmm...saya juga tidak sepenuhnya paham. Boleh share kalau ada yang paham hehe.


Candi Wringin Lawang

\Trowulan mendung ketika kami sampai di Candi Wringin Lawang. Menurut informasi bapak-bapak penjaga parkir di Maha Vihara Majapahit, Candi Wringin Lawang buka hanya sampai jam emapt sore, namun ketika kami sampai disana jam empat lewat, kami masih bisa masuk. Bahkan free, tidak ada gerbang yang menghalangi kami masuk dan tidak ada petugas. Banyak arek cilik yang lagi bersepeda ria di area candi.


Harga Tiket Wisata Candi Mojokerto


Candi Wringin Lawang dikenal pula sebagai Gapura Wringin Lawang konon merupakan pintu gerbang menuju Kerajaan Majapahit, tapi saya dan Choiri berpikir, kalau misal ini pintu gerbangnya tuh kayak kurang sesuai. Soalnya kan di tengah gapura itu ada tangganya, nah masa kalau ada arak-arakan pangeran naik kuda, kayaknya kurang pas kalau lewat tangga hahaha. Apalagi saya lagi-lagi keinget kalau di K-Drama tuh, gerbang kerajaan mesti besar dan muat untuk lewat kereta kuda, dan bentuknya kayak semacam benteng gitu hehe. Untungnya, saya nemu referensi lain yang menyebutkan bahwa Gapura Wringin Lawang adalah tapal batas negoro, jadi ini pintu penghubung Negoro dan Monco Negoro, nah kalau itu make sense kan ya. Jadi nanti kalau ada raja mau ke luar negeri atau ada utusan luar negeri mau masuk Majapahit, nanti disambutnya di gapura ini gitu. Well. 


Gapura Wringin Lawang dari samping.
Bentuk Gapura Wringin Lawang kayaknya dipake buat inspirasi pembangunan gapura di area Mojokerto. Hampir semua bangunan di Mojokerto, mulai dari gapura kampung, pintu masuk sekolah, kantor pemerintahan, rumah sakit, dll. tuh menerapkan bentuk gapura ala candi bentar ini. Saya sampai mikir bahwasanya basic skill yang harus dimiliki para tukang di Mojokerto adalah untuk membuat gapura bentuk candi bentar hahaha. Gapura-gapura itu kemudian menjadi ciri khasnya Mojokerto. Menarik ya!

Selain gapura-gapura ala candi bentar, saya juga menjumpai hal unik lainnya di Mojokerto, khususnya di daerah Trowulan. Di tempat ini bangunan rumah tuh dibikin hampir serupa satu sama lain, kayak gambar di bawah ini. Mungkin ini ceritanya menyerupai rumah-rumah zaman Majapahit. Bangunan ini nggak melingkupi keseluruhan rumah, hanya menutup bagian terasnya saja. Kalau dilihat dari samping, bagian "inti rumah" ya tetep dicat warna-warni kayak rumah-rumah di Jawa pada umumnya, jadi keliatan kayak tempelan aja gitu hehe. Mungkin bangunan coklat yang terlihat adem ini adalah anjuran dari pemerintah yang dibangun belakangan setelah rumah inti jadi. Tapi, menurut saya itu bagus sih, jadi sesuatu yang khas dari Trowulan.


Ciri khas rumah di daerah Trowulan.

Rumah Majapahit kuno ala Trowulan.


Yes, itulah tadi cerita perjalanan saya selama di Mojokerto dan Jombang. Seneng banget bisa mengunjungi sisa-sisa kejayaan Majapahit di Trowulan. Harga tiket masuk obyek wisata pun cukup murah, masing-masing obyek dipatok Rp3.000,- plus parkirnya jugga Rp3.000,-, kecuali Gapura Wringin Lawang yang entah kenapa free haha. Sayangnya, situs-situs sejarah itu tidak dilengkapi dengan informasi tertulis apapun yang menceritakan kisah di baliknya atau fungsi bangunan pada zaman dahulu. Jadi wisatawan cuma bisa sebatas datang dan foto. Saya aja, dapet semua informasi itu dari hasil browsing di internet. Semoga hal ini bisa jadi perhatian pemerintah dan pengelola Badan Pelestarian Cagar Budaya Trowulan agar candi-candi di Trowulan nggak cuma bisa dinikmati indahnya tapi juga bisa jadi wisata sejarah yang mengedukasi pengunjung akan nenek moyangnya. 

Terima kasih kepada rekan seper-KKN-an, Choiri yang udah jadi supir saya eh travelmate saya dan menemani #ExploreMojokerto sekaligus jadi tukang fotonya Duchess of Mungkid hahaha. Terima kasih juga untuk keluarga Choiri yang mengizinkan saya menginap, mandi, dan makan heheheh. Terima kasih juga untuk keluarga paklik-nya Mas Ulum yang menyediakan tempat istirahat untuk rombongan keluarga mempelai wanita. Semoga kebaikannya dibalas Allah SWT. Terkhusus untuk ibuknya Choiri, semoga perjalanan hajinya lancar dan senantiasa sehat. Semoga menjadi haji yang mabrur ya, Bu :)


Wisata Murah Mojokerto
Bidadari Seliu 2/18: Nurul dan Choiri.
Btw, kakak sepupu saya baru saja melangsungkan pernikahan. Rasa bahagia dan haru turut melingkupi saya dengan momen bersejarah itu. Kakak saya adalah sosok yang saya yakin bisa menjadi panutan bagi orang-orang di sekitarnya, sendiri saja dia sudah begitu hebat. Kini, ia telah bersama orang hebat lainnya yang akan menemani perjuangan, tak lain suaminya. Pria yang melabuhkan cinta pada kakak saya adalah orang Mojokerto, maka sesuai adat pernikahan di Jawa, setelah mengadakan pesta di mempelai wanita, biasanya akan ada boyongan keluarga besar ke kediaman mempelai pria. (Itulah kenapa saya ada datang ke Mojokerto.) Sekali lagi selamat menempuh hidup baru untuk Mbak Nisa dan Mas Ulum, semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah warohmah.

Sabtu, 04 Agustus 2018
Ditulis dengan latar suaranya
Jung Joon Young - Sympathy (playing in repeat)
He has a very powerful voice!! I wanna cry...
August 04, 2018 3 comments

Setelah puas menikmati pesona Taman Nasional Baluran di Situbondo (seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya), saya sholat kemudian mandi (numpang di masjid soalnya air di penginapan kecil banget hiks), makan, lalu mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa ke destinasi selanjutnya: Kawah Ijen. Ketika saya berangkat, Banyuwangi diguyur gerimis kecil. Seperti sebelumnya, perjalanan menuju Kawah Ijen ini hanya berpegang pada Google Maps dan rute yang kami pilih adalah lewat daerah Licin. Saya sengaja berangkat sore sekitar jam 15.30 karena saya banyak membaca dan mendangar cerita bahwa jalan menuju Ijen sangat berkelok-kelok dan menanjak, lewat hutan pula, jadi saya nggak mau ambil risiko jalan di kegelapan. Sebisa mungkin, sebelum maghrib harus sampai pos pendakiannya. Bapak-bapak pegawai Pengadilan Agama Banyuwangi yang kami temui di kereta dalam perjalanan menuju Banyuwangi juga berpesan agar sebaiknya jalan ke Ijen pas terang aja. Noted, Pak!


Baca Tulisan Sebelumnya:
Jalan-jalan ke Banyuwangi (1): Itinerary, Transportasi, dan Biaya 
Jalan-jalan ke Banyuwangi (2): Taman Nasional Baluran

Pendakian Gunung Ijen


Perjalanan


Sepanjang jalan dari penginapan di sekitar Stasiun Karangasem hingga Pos Paltuding di kaki Gunung Ijen, jalannya sudah aspal. Sesekali kami menemui jalan-jalan berlubang, tapi semakin ke atas, jalan aspal semakin bagus. Pada awal-awal perjalanan, rumah penduduk dan bahkan kantor-kantor pemerintah masih bisa ditemui di kanan kiri jalan. Ketika sudah semakin tinggi dari atas permukaan laut, sepanjang jalan yang ditemui hanyalah hutan dengan semacam pteridophyta (ini saya keinget pelajaran biologi jama SMA haha) raksasa dan aneka macam pohon tinggi. Ketika memasuki hutan-hutan itulah jalan yang dilalui sungguh-sungguh menanjak dan berkelok, seingat saya bahkan tidak ada penerangan jalan jadi kalau gelap hanya bisa mengandalkan lampu kendaraan. Sesekali, kabut tipis turun menutupi jalan dan tumbuhan-tumbuhan hutan, memberi kesan indah tapi juga ngeri, seperti hutan di film Twilight (#mendramatisir). Tanjakan dan kelokan ini sungguh tidak main-main, saya jadi teringat cerita teman saya, Vempi, tentang yang mobilnya mundur karena tidak kuat melewati tanjakan-tanjakan ini, syukurlah dia selamat kala itu. Maka dari itu, sungguh sepanjang jalan menuju Pos Paltuding ini saya hanya bisa banyak-banyakin sholawat.


Jalur Pendakian Kawah ijen
Jalan raya menuju Pos Paltuding.

Sewa Tenda

Sekitar satu jam perjalanan, akhirnya kami melihat bangunan-bangunan di tepi jalan, dengan gapura Selamat Datang di Taman Wisata Kawah Ijen. Alhamdulillah sampai di Pos Paltuding :) Nah, saudara-saudara, begitu sampai di Pos Paltuding kita tidak bisa langsung melakukan pendakian tentu saja, karena jalur pendakian menuju Kawah Ijen baru dibuka pukul 01.00 dini hari dan ditutup pukul 12.00 siang. Maka jauh hari sebelum datang kesini, saya mencari informasi tentang tempat yang bisa saya jadikan 'penginapan' sambil menunggu jalur pendakian dibuka. Saya pernah membaca di blog orang, kalau dia menginap di Warung Bu Im ketika berwisata ke Ijen. Pernah juga membaca informasi bahwa tersedia persewaan tenda di Pos Paltuding, dan saya memilih opsi sewa tenda. Alasan saya memilih sewa tenda adalah karena tertutup, jadi saya bisa bobok cantik sambil mengistirahatkan rambut (for hijabers like me, wearing hijab in 24 hours without taking off my 'kucir rambut' is the real struggle haha, I often end-up with 'mumet' hahah).


Warung Bu Im.

Usai parkir, saya mencari warung Bu Im dan mengunjunginya, sekadar ingin ngobrol siapa tau dapat info lebih lanjut tentang sewa tenda. Hari mulai gelap, ditambah mendung, dan di Warung Bu Im belum ada penerangan. Ternyata listrik di bangunan-bangunan Pos Paltuding ini baru dinyalakan sekitar pukul 17.30 secara bersamaan. Sepertinya listrik di sini terpusat di satu titik (gimana ya jelasinnya) sehingga baru menyala ketika orang kantor (mungkin maksudnya adalah petugas Taman Wisata Kawah Ijen-red) menyalakannya. Saya masuk ke Warung Bu Im dan memesan teh panas untuk menghangatkan tubuh setelah perjalanan. Ternyata penjaga warungnya bukan ibu-ibu seperti yang saya bayangkan, melainkan bapak-bapak hehe, Pak Rudi namanya.


Sambil menunggu Pak Rudi membuat teh, seorang bapak lain datang menghampiri kami dan mengobrol. Bapak yang kemudian minta dipanggil sebagai Pak Kipli ini bercerita tentang aneka tips pendakian dan tentu saja kami membahas sewa tenda. Dari Pak Kipli, saya dihubungkan dengan seorang bernama Pak Iwan yang mengurusi persewaan tenda. Ketika saya baca di internet, sewa tenda di Ijen dibanderol Rp200.000,- per malam (sleeping bag, matras, tenda). Tapi saat itu kami mendapat harga Rp150.000,-/malam. Saya pun mengatakan, bahwa saya membawa sleeping bag sendiri jadi Pak Iwan memberi harga sewa tenda+dua lapis matras (biar gak dingin katanya) Rp100.000,-/malam. Saya deal saja tanpa nawar lagi. Btw, tendanya bersih wangi, dipasangin sama Pak Iwan dan beliau juga yang bongkar hehe. Menurut saya harga segitu sebanding laah, daripada harus bawa peralatan camping dari Jogja yang nambah berat tas atau sewa di Banyuwangi kota yang mengharuskan cari-cari lokasinya lagi hehe.


PS. Kalau teman-teman ada yang ingin sewa tenda di Pak Iwan juga, bisa saya kasih kontaknya loh. Tinggalkan saja alamat email teman-teman di Kololm komentar :)

Fasilitas Pos Paltuding

Di pos ini ada tempat parkir luas, toilet, camping ground, warung-warung (kalau tidak salah ada 3 warung), dan kekuatan sinyal 4G untuk Anda pengguna Telkomsel dan Axis (provider lain kulrang tau ya, karena saya cuma pakai dua itu hehe). Ada juga bangunan mushola di samping Warung Bu Im, namun menurut keterangan Pak Rudi mushola tersebut kurang terawat, maka beliau mempersilakan kami untuk sholat di ruangan khusus di warungnya. Terima kasih, Pak. Kalau sudah malam, beberapa pedagang senter, syal, dan kaos tangan akan membuka lapak mereka. Jadi, kalau kita ada yang kelupaan membawa equipment untuk melawan hawa dingin, bisa laah beli ke mereka.


Kondisi Pos Paltuding dari Warung Bu Im.


Suhu

Ketika kami datang, cuaca di Paltuding agak mendung, tapi makin malam alhamdulillah makin cerah. Suhu di tempat ini begitu dingin. Saya bahkan memakai baju empat lapis (hahaha) yang terdiri atas kaos, sweater tipis, jaket gunung, dan jaket biasa. Jangan lupa bawa kaos tangan, kaos kaki, obat-obatan, masker etc. Oh iya, untuk masker khusus yang biasa digunakan untuk menghidari aroma Belerang yang menyengat, kami menyewa dari Pak Rudi di Warung Bu Im seharga Rp20.000,-/masker. Sembari menunggu dini hari, waktu yang ada saya gunakan untuk istirahat. Jangan harap bisa tidur nyenyak...karena dingin banget hahaha. Di tengah dingin itu lah, saya menyeduh mie instan cup rasa kari, sungguh mantap sekali wkwkwk. Oh iya, saya sarankan bawa termos kecil biar bisa bawa sangu minum anget. Saya beli air panas di Warung Bu Im, untuk membuat mie instan dan membuat grean tea latte untuk bekal mendaki Ijen hehe.


Tiket

Pukul 01.00 dini hari, Pak Iwan sang penyewa tenda membangunkan para pelanggannya dengan cara menyorotkan senter ke tenda. Saya bangun, cuci muka, dandan, dan beresin barang-barang. Oh iya, sore sebelum beristirahat tadi, Pak Rudi berpesan agar ketika mendaki, barang-barang  yang nggak dibawa jangan ditinggal di tenda, melainkan dititipkan saja ke warung beliau, for free. Jadi, saya menuruti saran beliau dan mempercayakan barang-barang kepada Pak Rudi. Saat itu, di depan warung beliau sudah banyak mobil-mobil parkir dan para pendaki yang bersiap.

Langkah selanjutnya yang harus saya tempuh adalah membeli tiket. Ada dua loket  tiket (yang letaknya saling berjauhan, jadi saya sempat salah masuk hehe), untuk wisatawan domestik dan mancanegara. Tiket wisatawan domestik dipatok seharga Rp5.000.-/orang, betapa murahnya. Tiketnya bagus loh, terbuat dari art-paper agak tebal, sayangnya saya nggak sempet ngefoto tiket ini karena sepertinya jatuh dari jaket pas saya pulang. Selain itu, di loket ini pula kita akan ditarik retribusi parkir, karena saya membawa motor maka dikenakan retribusi Rp5.000,-.


Pendakian

Kami memulai pendakian sekitar pukul 01.45 WIB. Alhamdulillah, cuaca begitu cerah, bahkan bulan agak purnama dan terang benderang menerangi langkah-langkah kecil kami (halah). Mayoritas orang yang mendaki bersama kami adalah wisatawan asing (and most of them speak Deutsch), sangat sedikit wisatawan domestik yang naik hari itu.


Jalur pendakian berupa jalan yang lumayan lebar.

Rute Pendakian Kawah Ijen
Jalur pendakian pas udah mau sampai puncak, salah satu sisinya jurang.

Jalur pendakian di Ijen menurut saya cukup jelas karena berupa jalan yang cukup lebar
, tidak seperti jalan setapak yang pernah saya lalui ketika mendaki Lawu atau Sindoro beberapa tahun silam. Jalan yang dilalui kadang sangat menanjak dan kadang landai. Saya sungguh ngos-ngos-an dengan track ini. Suhu yang semakin dingin juga mungkin berkontribusi membuat saya menjadi lemah haha. Dalam suhu yang sedemikian itu, bule di depan saya lepas jaket dan tinggal pake singlet saja. Seperti inilah perbedaan orang yang hidup di negara empat musim dan terbiasa berhadapan dengan suhu dingin vs saya yang di suhu sepuluh derajat celcius sudah menggigil. Selain dingin, saya yang sudah tidak rutin olahraga adalah penyebab utama ngos-ngos-an ini. Jadi saya jalan pelan-pelan saja sambil sesekali berhenti (setiap lima menit sekali) hehehe.


Ada pos-pos dan toilet yang bisa dipakai istirahat.
Di beberapa titik jalur, mudah ditemukan bangunan permanen yang bisa digunakan untuk istirahat yang bahkan dilengkapi dengan toilet. Di ketinggian 2.214 mdpl Anda akan menemukan Pondok Bunder, semacam bangunan untuk beristirahat dan ada warungnya juga. Ini adalah markasnya para penambang belerang di Kawah Ijen. Dari tempat ini, pemandangan lampu-lampu kota Banyuwangi dan perairan Selat Bali yang diterpa cahaya bulan sungguh terlihat memukau, mengingatkan saya pada Pos IV Gunung Lawu. Pemandangan itulah yang akan menemani Anda sampai ke puncak nanti.

Beberapa lama berjelan setelah Pondok Bunder, bau belerang semakin menyengat. Di sinilah kami mulai menggunakan masker sewaan. Sebenernya pakai masker macam begitu sungguh sumpek, tapi yaa mau gimana lagi. Bau belerang di sini sungguh lebih dahsyat daripada Kawah Sikidang di Dieng sana. Ketika kelak menemukan jalan yang cukup landai, berbahagialah, beberapa saat lagi Anda mencapai Kawah Ijen.



Pondok Bunder.

Blue Fire

Setelah sekitar dua jam pendakian, kami sampai di puncak Ijen. Cuaca di sini sungguh tidak menentu, kabut datang dan pergi begitu cepat. Setelah perjalanan yang penuh perjuangan, menuruni lereng lewat batu-batu terjal, kami sampai di titik tempat melihat blue fire. Sekitar pukul empat kurang sedikit, blue fire menyala (atau dinyalakan), tapi hanya kecil. Saya tak mau lama-lama di tepi kawah karena kabut yang tak menentu. Saya khawatir jika kabut turun lama, jalan berbatu yang harus saya lewati untuk sampai di titik ini akan tertutup juga. Selain itu, Pak Kipli bercerita kepada kami, bahwa tepat sehari sebelum saya datang, Kawah Ijen baru saja menyemburkan gas beracunnya. Alam memang tak bisa diduga dan saya memilih tak ambil risiko.

Dalam perjalanan naik dari bibir kawah ke puncak, blue fire menyala semakin besar. Saya berhenti sejenak untuk menyaksikan fenomana alam yang memukai ini. Seorang turis asing di samping saya bertanya pada saya, "Do you want to take a photo of the blue thing?" Saya menjawab "No, I don't. I just wanna see it from here." Tak lupa saya menawarkan kalau-kalau dia pengin difotoin pake background blue fire (yaa kali doi ngode kan yaak? saya mencoba peka dong). Tapi dia tidak mau, dia hanya ingin merekam dengan matanya. Ya, kadang ada satu titik dimana kita nggak ingin memotret sesuatu karena kita ingin merekamnya lewat mata. Jadi maaf, tak ada gambar blue fire di tulisan ini. Datanglah, saksikanlah sendiri lukisan Tuhan ini! :) 


Di sepanjang jalur pendakian hingga puncak Ijen, banyak orang yang menawarkan jasa kereta dorong.
Nantinya pendaki tinggal duduk di kereta-kereta dalam foto itu, dan ditarik hingga ke puncak.
Tapi, biayanya tentu saja mencapai ratusan ribu rupiah.

Di antara batu-batu terjal yang saya lalui itu, banyak penambang belerang berlalu-lalang. Cerita tentang mereka akan saya tuliskan lain waktu, tapi yang pasti mereka adalah pejuang bagi keluarganya. Ketika berbincang dengan seorang penambang, Bapak tersebut membawa benda padat kuning yang dibentuk-bentuk lucu. Ternyata itu adalah sabun belerang yang beliau jual. Saya memutuskan membelinya, sepuluh ribu rupiah untuk setiap sabun dan saya membeli dua. Saya ingat ada yang pernah berpesan dalam blog-nya: kalau main ke Ijen, belilah kerajinan yang dibuat dan djual penduduk lokal. Mungkin, maksud penulisnya itu agar wisata di Ijen ini bener-bener memberi trickle-down effect bagi penduduk lokal dan saya setuju itu. Pada akhirnya sabun itu tidak saya gunakan sabunan, dan cuma dipasang di meja karena terlalu lucu haha.


Kawah Ijen, tapi agak ada kabut-kabutnya gitu huhu.





Perjalanan Turun

Sampai di atas, matahari terbit. But it's soo cloudy so I can't take the sunrise pic. Di atas inilah saya baru foto-foto. Oh iya, di puncak Ijen ini ada bangunan mushola dan toilet, jadi tak perlu khawatir. Tak lama di atas, saya segera turun, kembali ke Pos Paltuding. Pemandangan sepanjang jalan saya turun sungguh sungguh elok! Tampak Gunung Raung berdiri megah di seberang sana dan hijaunya Kawah Wurung. Pemandangan kota Banyuwangi dan lautan yang terlihat kelabu di bawah sana juga sungguh memukau. Saya sampai di pos pukul 08.00 pagi dan mengambil barang-barang yang saya titipkan di Warung Bu Im, sekalian mengisi perut dengan teh panas dan pisang goreng. Mungkin hanya sekitar 20 menit beristirahat dan saya melanjutkan perjalanan kembali ke penginapan.


Perjalanan turun.
Pemandangan di perjalanan turun.




Saya turun ke penginapan bersama Pak Kipli, beliau bahkan berbaik hati mengantarkan kami untuk mampir ke Air Terjun Jagir (yang sebenarnya tidak ada dalam rencana saya sebelumnya). Turun dari Pos Paltuding adalah lagi-lagi perjuangan karena jalannya menurun dengan ekstrem. Pastikan rem kendaraan berfungsi dengan sangat baik dan pastikan untuk terus merapalkan doa pada-Nya. Ini penting sekali. Dua malam sebelum kami menginap di Pos Paltuding, seorang pengendara motor kecelakaan di jalan ini karena rem blong. Bahkan saya masih bisa melihat bekas kecelakaan yang masih dipasangi garis kuning. Ngeri. Pesan saya: doa, jangan lupa doa.


Well, akhirnya selesai juga nulis cerita pendakian ke Ijen.Saya bertemu begitu banyak orang baik di Ijen yang ingin saya tuliskan di blog. Tapi, kalau saya tulis sekarang, tulisan yang sudah panjang ini akan semakin panjang hiks. Jadi saya tulis lain kali saja yaa. Yang jelas, terima kasih kepada Pak Rudi, Pak Kipli, Pak Iwan, bapak-bapak bule Chinese yang ngintilin saya sepanjang pendakian, dan mas-mas yang katanya adalah Tim SAR Sleman yang kami temui di ketika turun, kalian mewarnai pendakian kami :) 

Masih ada Jawatan Benculuk, Air Terjun Jagir, dan Watu Dodol yang ingin saya tulis disini. Saya harap minggu ini bisa khatam karena target saya, setelah Maret ini tulisan di blog temanya jalan-jalan ke Banyuwangi, April nanti bakal beda lagi temanya hehe. Apa yaa kira-kira? Kita tunggu saja yaa hahaha.


29 Maret 2018 23:13 WIB
Pada kenyataannya baru diunggah hari ini 1 April 2018,
karena abis sakit hiks :((
April 01, 2018 37 comments
Setelah kemarin menulis tentang rincian teknis jalan-jalan ke Banyuwangi, kali ini saya hendak menuliskan cerita tentang tempat wisatanya. Seperti yang sudah saya bahas di artikel sebelumnya, jalan-jalan kali ini bisa dibilang punya tujuan mainstream yaitu Taman Nasional Baluran dan Kawah Ijen. Nah, artikel ini bakal membahas that iconic Africa van Java a.k.a Baluran National Park. Here we go! Btw, sesungguhnya TN Baluran ini tidak di Banyuwangi sih, melainkan di wilayah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.
Baca Tulisan Lainnya:
Jalan-jalan ke Banyuwangi (1): Itinerary, Transportasi, dan Biaya
Jalan-jalan ke Banyuwangi (3): Pendakian Gunung Ijen 


backpacker baluran


Perjalanan

Sebenernya, mengunjungi Taman Nasional Baluran lebih disarankan ketika siang setelah dhuhur, karena pada saat itulah hewan-hewannya muncul hahaha. Berhubung jalan-jalan saya kali ini bertepatan dengan musim hujan, maka saya memutuskan untuk mengunjungi Baluran pagi hari, biar nggak kehujanan hahaha. Mohon maaf ini traveler-nya emang males kehujanan LOL. Saya, berangkat dari penginapan di depan Stasiun Karangasem itu pagi jam 08.00 dengan mengandalkan sepenuhnya pada Google Map. 

Dari Stasiun Karangasem, kami ikuti petunjuk Google Map ke arah Pelabuhan Ketapang, abis itu lurus aja ikuti jalan gede ke arah utara. Sekitar satu jam perjalanan, Anda akan menemukan batu besar yang berdiri di tengah jalan, itulah yang disebut dengan Watu Dodol. Kalau udah nemu batu ini, insyaallah TN Baluran sudah dekat. Nanti, di kanan jalan Anda akan menemukan gapura TN Baluran and...welcome to Baluran.


Inilah yang saya maksud dengan batu besar di tengah jalan.

Tiket

Sebelum menjamah Baluran lebih dalam, tentu saja saya harus membeli tiket. Kantor tempat membeli tiket berbentuk rumah panggung, resepsionis akan melayani Anda dan memberi brosur wisata Baluran. Tak lupa, dengan ramah ia akan menjelaskan ada apa aja di Baluran, titik mana aja yang bagus buat foto, dan yang paling penting: bagaimana mengatasi monyet-monyet yang berpotensi 'mengganggu'. Jadi tips dari Mbak resepsionis untuk mengatasi masalah permonyetan ini adalah: Jangan ninggalin barang di motor, jangan ngeluarin makanan, dan sok-sok-an mau ngelempar sesuatu aja kalo doi mau nyerang, (asal jangan dianiaya ya-red).


fasilitas taman nasional baluran
Baluran National Park's starter pack.

Selesai urusan tiket, saya memilih untuk melihat Baluran dari gardu pandang di samping kantor tempat saya beli tiket. Dari situ, kita bisa melihat hutan dan savana dari ketinggian (entah berapa meter). Nggak lama di gardu pandang, saya melanjutkan perjalanan.


Savana Bekol

Tempat iconic di Baluran adalah Savana Bekol. Jarak padang rumput ini dari tempat pembelian tiket adalah 12 kilometer (kata Mbak-nya). Tapi, tolong jangan remehkan 12 kilometer itu, karena jalan yang harus dilalui penuh rintangan dan cobaan. Jalannya berupa aspal sih, tapi udah berlubang dimana-mana dan tersisa butiran-butiran kerikil. Nggak kebayang kalau hujan deras, jalan ini mungkin bisa kayak sungai berbatu hiks. Sebagai pengguna motor (matic pula) maka kami sangat berhati-hati menempuh jalan ini (ditambah sesekali berhenti buat foto) maka sampailah kami di savana sekitar 45 menit kemudian. Sepanjang jalan menuju savana, kanan kiri adalah hutan dan saya banyak menjumpai kera, kupu-kupu, ayam hutan, aneka burung, musang, dan bahkan merak.


Kondisi jalan di dalam area TN Baluran.

Lubang dan genangan ini gak cuma ada satu, gaes!
Mohon untuk tetap semangat HAHAHA

Finally, yaay!!

Sampai di Savana Bekol, tentu saja kami sejenak memarkir kendaraan dan take a lot of photos. Pemandangan di sini sunggah membahagiakan. Musim hujan membuat savana ini tidak gersang kekuningan melainkan hijau sejauh mata memandang berlatar Gunung Baluran yang tampak biru gagah di kejauhan sana. So beautiful! Di dekat spot foto favorit Savana Bekol, ada warung makan dan semacam pondok kayu yang saya pikir bisa digunakan untuk menginap. Sepertinya lain kali harus merasakan menginap di tengah padang sabana dan bangun pagi untuk menikmati sunrise dari pondok kayu. So tranquil, right? (Meskipun saya nggak yakin, ini pondoknya hadap timur apa enggak sebenernya haha).





Ini yang saya maksud dengan pondok kayu,
namanya "pesanggrahan" sih sebenernya.

Ini tempat parkirnya, tapi orang-orang jarang parkir di sini
dan hanya parkir di pinggiran-pinggiran savana.

Ini ada peta habitat hewan-hewan.

Sejauh mata memandang. Nggak kebayang,
kalau hujan jalan ini pasti becek yaa huhu
NB. Itu bukan mobil saya, tapi mobil rombongan pengunjung lain.

Pantai Bama

Puas di Savana Bekol, saatnya kami melanjutnya perjalanan ke Pantai Bama yang jaraknya 3 km dari savana. Nggak usah takut kesasar, karena jalan di taman nasional ini ya cuma ada satu, jadi ikuti jalan saja. TN Baluran ini emang lengkap, abis liat hutan, liat sabana, saatnya disuguhi pemandangan pantai. Ombak di pantainya tenang, bikin kangen ombak di Seliu #halah. Ada beberapa ayunan yang bisa digunakan untuk melamunkan rindu, ada juga fasilitas mushola dan toilet, sama ada bangunan-bangunan tak berdinding yang entah fungsinya apa. Oh iya, perhatian saudara: monyet disini lebih banyak dan lebih usil daripada di Savana Bekol. Jadi, waspadalah! Di Pantai Bama, nggak cuma ada pantai aja, tapi juga ada zona buat liat burung, mangrove trail, dan sebuah tempat yang didefinisikan Mbak Resepsionis tadi sebagai "batu hitam yang bagus buat selfie" (aku langsung kabayang Batu Satam di Tanjung Pandang dong pas denger itu). Dari tiga tempat itu, saya cuma ke mangrove trail-nya. Nggak jauh kok, jalan kaki bentar doang (nggak nyampe lima menit) udah sampai. Ini pertama kalinya sih saya menyaksikan mangrove-mangrove raksasa dari dekat. Ngeri tapi menawan.


Pantai Bama.

Rasanya ingin lebih lama di tempat ini :(((

Ada musholanya, seberang mushola nanti juga ada toiletnya.

Oh iya, sepanjang perjalanan menuju savana, kami hampir tidak berpapasan ataupun disalip sama pengunjung lain, selain petugas TN Baluran yang kebanyakan naik semacam KLX. Kami baru bertemu pengunjung lain ketika berada di savana, ada dua rombongan keluarga dan satu rombongan wisatawan asing yang kami temui. Di Pantai Bama, kami juga bertemu rombongan keluarga yang ternyata adalah orang Magelang. Seriously, I meet Magelangers everywhere! Tapi beliau sudah lama tinggal di Jakarta jadi cuma sesekali mengunjungi Magelang. 


Jalan menuju mangrove-nya.

Mangrove Trail Pantai Bama, TN Baluran.

Mangrove Trail Pantai Bama, TN Baluran.
Sooo beautiful!!
Dari mangrove trail, saya memutuskan untuk pulang karena mulai mendung. Saya ngeri aja kalau harus lewat jalan balik ke pos pembelian tiket pas hujan, hmm... ngeri banget pasti itu aspal rusak, kerikil, campur air. NO! Di sepanjang perjalanan kembali ke pos saya banyak berpapasan dengan rombongan-rombongan yang mau berangkat. Mungkin mereka mengikuti yang disarankan orang-orang: mengunjungi TN Baluran selepas dhuhur. Namun, benar saja ketika saya tinggal beberapa meter menuju pos pembelian tiket, tiba-tiba hujan datang begitu derasnya yang membuat kami memutuskan berteduh dahulu di pos pembelian tiket sebelum melanjutkan perjalanan.

Curhat
[Mohon maaf, saudara-saudara...tiba-tiba ada sub-judul kayak gini HEHEHE]

Kemarin ada teman saya yang melihat foto Savana Bekol ini bilang: "Wah, sejuk sekali!" Let me tell you, gaes (sok-sok'an) meskipun musim hujan, jangan harap di sini sejuk, apalagi di Savana Bekol. Emang sih, pas lewat hutan lumayan sejuk, tapi di sabana sudah panas dong. Saya yang jarang minum aja selama pulang-pergi Baluran hampir ngabisin air mineral kemasan 1,5 liter. Nggak kebayang, kalau pas kemarau kayak apa panasnya. So, jangan lupa bawa minum dan oleskan sunblock untuk melindungi kulit :)

Trus, sepanjang lewat 12 kilometer hutan-hutan di TN Baluran, saya tuh pikirannya random kemana-mana. Mikirin jaman kerajaan dulu, transportasinya gimana ya? Randomly teringat Dyah Pitaloka yang dateng jauh-jauh dari Kerajaan Sunda ke Kerajaan Majapahit. Waktu itu Princess Dyah Pitaloka naik apa ya? Iya sih, awalnya bisa aja lewat laut, tapi pas jalur daratnya? Kan belum ada aspal tuh, pasti lewat hutan-hutan juga kan ya? Apakah Dyah Pitaloka naik kereta kencana seperti GKR Hayu pas royal wedding kemarin? Atau naik kuda sendiri didampingi orang-orangnya? Atau ditandu kayang gungju-gungju di Korea? Ah entahlah, kenapa tiba-tiba saya penasaran sekali wkwkwk. Mungkin ini efek kebanyakan nonton sageuk drama Korea ya HAHAHA. Ya sudah, mari diakhiri saja agar tak melebar kemana-mana :D


Ya, itulah perjalanan saya ke TN Baluran. Saya tidak bertemu hewan besar semacam rusa, banteng, gajah, apalagi panthera pardus. Konon, kalau musim hujan, hewannya memang tidak banyak menampakkan diri. Ya sudah tidak apa-apa, terbayar kok sama pemandangan tak biasa yang saya lihat sejak dari pintu masuk TN Baluran. Besok ke bonbin aja sekalian kalau mau lihat hewan-hewan ehehe. Semoga tulisan ini bermanfaat dan sampai jumpa di tulisan selanjutnya yang akan membahas Kawah Ijen :)

If you wanna share about your trip or have any question,
please kindly left the comments below! :D
HAPPY WEEKEND!!!
March 23, 2018 9 comments
Older Posts

About me

About Me

Live in small and lovely town, Magelang. Enjoy making DIY project, especially hand-embroidery. Really love writing here, share some thoughts, experience, and everything that popping in my mind.

Follow Us

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Popular Posts

  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (3): Pendakian Gunung Ijen
    Setelah puas menikmati pesona Taman Nasional Baluran di Situbondo (seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya), saya sholat kemudian ma...
  • Jalan-Jalan ke Banyuwangi (1): Itinerary, Transportasi, dan Biaya
    Banyuwangi adalah sebuah tempat yang ingin saya kunjungi sejak sebelum KKN. Saya bahkan sudah menggali informasi dari teman kuliah yang sud...
  • Sekilas tentang Departemen MKP Fisipol UGM
    Saya adalah mahasiswa semester delapan yang memiliki seorang adik yang tengah menempuh tahun terakhirnya di SMA, bulan-bulan ini ia tengah ...
  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (2): Bacpacker ke Baluran di Musim Hujan
    Setelah kemarin menulis tentang rincian teknis jalan-jalan ke Banyuwangi, kali ini saya hendak menuliskan cerita tentang tempat wisatanya. ...
  • [K-Drama] Queen Seondeok: Kisah Cinta Deokman, Kim Yu Shin, dan Bidam
    Sebuah drama yang tanpa kisah percintaan sepertinya akan terasa hambar, sehambar hidup tanpa cinta mungkin #halah maka The Great Queen Seon...
  • Serunya "Berbagi" Kartu Pos Lewat Proyek Postcrossing
    Postcrossing adalah sebuah proyek online yang memfasilitasi para anggotanya untuk mengirim dan menerima kartu pos dari dan ke seluruh penj...
  • [K-Drama] Ringkasan Drama The Great Queen Seondeok: Perjuangan Wanita Meraih Tahta
    [ WARNING : Tulisan ini bakal sangat panjang, karena emang banyak yang harus dibahas dan karena saya begitu antusias. Nggak tahu lagi g...
  • Mata Najwa on Stage (Metro TV on Campus UGM)
    Kalian tahu Najwa Shihab kan? Jurnalis pinter lagi cantik yang punya acara talkshow berjudul Mata Najwa? Tahu kan? Tahu dong? Ada apa den...
  • A Drama that So Much Impress Me
    Saya tidak banyak menonton drama Korea, beberapa drama yang pernah saya tonton hanyalah Boys Over Flower , The Moon That Embraces The Sun ...
  • Sebuah Kesempatan: MDP V Net Mediatama Television
    Sabtu sore, seminggu lalu, saya mendapat email dari Net Mediatama (perusahaannya Net TV) yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi administr...

Labels

  • DIY Project
  • Drama Korea
  • Jalan-jalan
  • KKN
  • Korean Wave
  • Life Story
  • Something Wonderful
  • Thoughts

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (3)
    • ▼  December (1)
      • Overwhelmed
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2022 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  September (5)
    • ►  July (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  October (1)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2018 (29)
    • ►  December (5)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (7)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (35)
    • ►  December (7)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  January (11)
  • ►  2016 (28)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (9)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (38)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (5)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  June (4)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (1)
    • ►  January (11)
  • ►  2013 (46)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  October (9)
    • ►  September (8)
    • ►  August (8)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (6)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (7)
    • ►  December (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
  • ►  2011 (19)
    • ►  October (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (8)
  • ►  2010 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose