twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • ABOUT
  • CATEGORIES
    • DIY
    • TRAVEL
    • THOUGHTS
    • KOREAN WAVE
  • About
  • Contact

a wonderful life

Tahun 2019 sudah memasuki penghujung bulan keempat (bahkan udah masuk awal bulan kelima ketika saya memberikan suntingan terakhir untuk tulisan ini) dan saya belum sempat sama sekali mengirimkan kartu pos-kartu pos untuk sesama penggemar Postcrossing. Terakhir kali melakukan kegiatan yang Postcrossing-related adalah tahun lalu, beberapa hari setelah upacara penutupan Asian Games 2018, yaitu kirim kartu pos lewat Direct Swap ke Korea (baca kisahnya di sini), setelah itu saya belum sempat lagi mengirimkan kartu pos. Belakangan saya bahkan memutuskan untuk menonaktifkan akun Postcrossing untuk sementara mengingat saya kayaknya bakal vacuum pula selama beberapa bulan ke depan. By the way, akun Postcrossing itu emang bisa hangus kalau kita nggak login secara rutin. Makanya, untuk menghindari hangusnya akun, kalau sekiranya kita mau sejenak mengambil jeda kehidupan (halah), Postcrossing memberikan opsi untuk menonaktifkan akun...dan itulah yang saya lakukan saat ini. Sebenarnya stok kartu pos di rumah masih sangat cukup untuk kirim kartu pos beberapa periode, prangko juga masih ada tapi sudah sangat minim, namun saat ini saya stay di Magelang, udah nggak sering-sering ke Jogja lagi. Sementara mengirim kartu pos di Magelang nggak segampang di Jogja. Dulu sih, pulang kerja tinggal mampir, sekarang susah. Apalagi saya diharuskan meminimalisir keluar rumah hehehe.


Beberapa koleksi kartu pos saya.

Eh, sebelum saya nulis banyak-banyak, adakah yang belum tau Postcrossing itu apa? Well, itu tuh semacam komunitas online buat seseorang dari berbagai negara di dunia bertukar kartu pos secara offline. Jadi nanti kita bisa punya akun online, tapi ngirim kartu pos fisik ke si pemilik akun-akun itu. Kalo penasaran caranya dan info lainnya, silakan mampir ke tulisan ini, saya bahas lumayan lengkap disitu hehe.

Kalau di Jogja, kantor pos andalan buat kirim kartu pos tuh Kantor Pos Bulaksumur UGM, alasannya adalah karena para petugasnya tampak familiar dengan aktivitas manusia-manusia yang suka kirim kartu pos yang saya duga merupakan anggota komunitas Postcrossing juga hehehe. Selain itu, kantor pos yang bisa dijangkau naik sepeda kampus dari Fisipol ini menyediakan prangko dengan variasi harga dan gambar yang beragam jadi lebih memudahkan buat menyesuaikan prangko dengan kebutuhan. Jika di Jogja, ketika sedang selo, saya bahkan bisa mampir ke Kantor Pos Besar Yogyakarta yang ada di Nol Kilometer, disana ketersediaan prangko tentu saja sangat beragam, bisa milih yang sesuai selera atau sesuai permintaan calon penerima kartu pos, bahkan bisa memilih seri-seri terbaru seperti seri prangko Asian Games 2018 yang pernah saya unggah di blog. Hal itu tentu saja tidak mudah didapatkan di Magelang.

Suatu hari, saya pernah ingin mengirim kartu pos lewat kantor pos dekat rumah saya. Saat itu saya membutuhkan prangko enam ribu rupiah dan tujuh ribu rupiah untuk mengirim kartu pos, sayangnya kantor pos tersebut hanya memiliki stock prangko dengan nominal lima ribu rupiah saja, itupun dengan jumlah terbatas. Ketika saya mencoba ke kantor pos lain yang jaraknya juga lumayan terjangkau dari rumah, saya juga menemui problematika yang sama, mereka cuma punya prangko lima ribuan. Kan sedih yaa huhuhu. Ketika kita cuma butuh prangko tujuh ribu misalnya, tapi untuk memenuhi kebutuhan tersebut kita nggak bisa pakai prangko tiga ribu dan empat ribu, melainkan harus bayar sepuluh ribu karena yang tersedia cuma prangko lima ribuan. Yaa...kalo kartu posnya cuma satu, kalo misal mau kirim lima kan mayan uga....yang harusnya cuma bayar tiga puluh lima ribu, jadi harus bayar lima puluh ribu. Biaya tambahannya lima belas ribu sis, duit segitu bisa dipake kirim dua kartu pos ke Jerman tuh huhuhu.

Selain menyediakan prangko dengan pecahan harga yang nggak banyak, di dekat rumah saya varian prangko juga monoton, nggak bisa milih yang seri-seri tertentu. Padahal biasanya penggemar Postcrossing kan auto gemar mengumpulkan prangko juga tuh. Alangkah seneng kan kalau kita bisa melengkapi koleksi-koleksi mereka juga. Iya sih, sebenernya nggak masalah kalau dikasih prangko monoton, tapi apa iya...kita ngasih orang, bawa nama Indonesia pula, terus ngasihnya asal-asalan? Nggak bisa gitu dong, tetep harus berusaha memberikan yang terbaik ye, kan? Hihihi.

Ya, dua alasan itu sih yang membuat saya memutuskan sejenak vacuum dari dunia Postcrossing. Mungkin itulah tantangan yang harus dihadapi orang-orang di komunitas Postcrossing yang tinggal di kota kecil. Sebenernya ada opsi lain sih, yaitu beli prangkonya online, biar bisi milih aneka harga berikut serinya, tapiii...tentu saja harganya lebih mahal, belum lagi ongkos kirimnya. Nggak bisa, sedang hemat aku tuh...butuh nabung banyak-banyak buat biaya perniqahan kita mz. Hahahaha alesan aja aku tuh, bilang aja kagak punya duit hahaha.

Ngirim kartu pos emang kayaknya gampang dan "gitu doang". Tapi menurut saya Postcrossing ini juga butuh ketelatenan. Dari awal, pas kita klik pengen kirim, dapet alamat dan nama akun, kepoin akun-akun yang bersangkutan buat tau kartu pos kayak apa yang dia suka berdasar keterangan di profil dia, terus milih kartu pos yang sekiranya suitable, mikirin mau nulis apa di kolom yang cuma secuil tapi harus menarik, beli prangkonya, trus sampe ngirim. Butuh effort. Aku sendiri selalu mengusahakan setiap kartu pos itu tulisannya beda-beda satu sama lain, lebih personal, dan berusaha menyesuaikan tema kesukaan yang ditulis si empunya akun di profilnya. Sekali lagi, nggak mau asal-asalan. Yaa, namanya juga hobi. Pasti kamu lakukan wholeheartedly kan? Kadang, memang susah dimengerti buat sebagian orang hahaha, tapi kamu hanya perlu "mau mengerti" untuk belajar sedikit memahami (yaelah...kuwots receh mode on).

Yaudah sih, sekian dulu curhatan saya yang udah lama vacuum blogging ini. Btw, besok insyaallah udah masuk Ramadhan ya, maafkan saya ya kalau dalam menulis dan merangkai kata di blog  ini sering ada banyak salahnya. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga Ramadahan ini kita sama-sama sehat dan senantiasa dilimpahi berkah. Semoga saya segera menemukan kekuatan lahir dan batin untuk kembali menghidupkan hobi Postcrossing dan mendapatkan pencerahan hidup untuk kembali curhat di blog.  Semoga besok pas ndilalah pengen kirim kartu pos kantor pos deket rumah tiba-tiba punya koleksi postcard kece haha.

Oh iya, Minseok hyung mau berangkat wamil besok Selasa, mohon doanya semoga beliau sehat-sehat dan kembali tanpa terluka hehehe.

Magelang, 05 Mei 2019
May 05, 2019 1 comments
Di Sabtu pertama bulan Desember ini saya ingin membahas lagi tentang kartu pos. Well, setelah bergabung dengan Komunitas Postcrossing (klik di sini untuk informasi cara bergabung dengan Postcrossing) selama beberapa lama, saya mencoba sebuah aktivitas yang namanya Direct Swap. Awalnya sih saya nggak terlalu tertarik sama Direct Swap, tapi karena terlalu ngebet pengen dapet postcard dari Negeri Gingseng alias negerinya Kim Jongin, tetangganya Kim Jong Un, maka saya memberanikan diri mencoba proyek Direct Swap.


cara daftar postcrossing

Apa itu direct swap?

Jadi, direct swap adalah suatu kegiatan dimana kita bisa bertukar kartu pos dengan langsung menghubungi orang yang bersangkutan. Ini artinya aktivitas kita nggak terdaftar di proyek Postcrossing dan nggak bakal dapet nomor registrasi postcard dari Postcrossing. Jadi kayak say hi langsung ke orang yang mau kita ajak tukeran, kalo doi setuju maka saling bertukar alamat, dan kirim postcard.


View this post on Instagram



Fascinating sunrise in Borobudur Temple, Magelang and the illustration postcard of people celebrating our Independence Day 🇲🇨 - #borobudurtemple #borobudursunrise #sunrise #worldheritagesite #illustration #directswap #snailmail #postcard #postcardswap #postcrossingswap #Postcrossing #postcardexchange #postcrosser #mail #stamps #stampcollecting #indonesianstamp #forswap #airmail #swap #indonesia #temple #indonesianpostcard
A post shared by A Wonderful Life Blog (@nurullatif_) on Oct 12, 2018 at 6:12pm PDT

Bagaimana cara mendapatkan partner direct swap?

Mendapatkan partner direct swap sepertinya tak sesulit untuk mendapatkan partner untuk mengarungi kehidupan di dunia yang fana ini. Saya sarankan, sebaiknya join Postcrossing dulu biar lebih mudah. Kalau saya, berhubung udah punya akun Postcrossing, maka saya langsung klik tab menu Explore, lalu pilih submenu Countries di web-nya Postcrossing, lalu cari South Korea, abis itu cari member-member Postcrossing teratas, klik profil mereka dan kalau mereka ada keterangan "Interested in direct swap" maka saya kirim pesan pribadi (memanfaatkan fitur DM dari Postcrossing) ke mereka. Kalau nggak ada keterangan interested in direct swap, berarti mereka nggak bersedia...so pastikan ada tanda itu di profil penggunanya. Atau untuk lebih jelasnya, silakan disimak gambar panduan di bawah ini :)

direct swap lewat postcrossing
Perhatikan dua tulisan yang saya beri tanda lingkaran merah. Ada keterangan "Interested in direct swap" dan fitur untuk menghubungi pengguna dengan pesan pribadi pada tab "Send message".

Well, rule yang pertama: use your common sense!! Ketika mau ngontak si calon partner dari negara lain yang tentu saja nggak kita kenal sama sekali, buatlah kalimat sesopan mungkin (in english tentu saja). Pake kalimat sapaan - perkenalkan diri kita - tujuan kita mau direct swap - kenapa pengen direct swap - tuliskan gambaran postcard yang kalian tawarkan - closing - say thanks. Well setidaknya itu yang saya tulis. Maaf, kayak gini harus saya tulis banget...karena bahkan, di urusan profesional sekalipun nggak semua orang paham urusan berkomunikasi secara tertulis hiks.

Oh iya, jangan lupa cantumkan email di pesan kalian. Biasanya, si calon partner akan langsung bales via email daripada DM-an lewat Postcrossing untuk diskusi lebih lanjut.
Kalau sudah deal dan tukeran alamat, selanjutnya kita tinggal siapkan postcard dan mengirimnya ke yang bersangkutan.


Bisakah request kartu pos tertentu?

Bisa iya, bisa tidak. Biasanya kita akan mencantumkan postcard seperti apa yang bakal kita pengen, misal nih kalau saya: saya pengan gambar Gyeongbyokgung Palace, hanok (rumah tradisional Korea), gambar baju tradisional hanbok, atau juga bangunan landmark-nya Korea. Kalau mereka ada stock pasti mereka kirimkan sesuai permintaan kita.

Tapi, jangan lupa. Ketika kita request sesuatu ke orang tesebut, berarti kita juga harus siap dengan yang mereka inginkan. Sebisa mungkin penuhilan keinginan mereka, just be kind and give the best.




Apakah ikut direct swap harus memiliki akun Postcrossing?


Untuk lebih mudahnya sih iya. Karena nyari partner lewat website postcrossing lebih mudah. Cara lain adalah lewat Instagram. Ya, di instagram ada banyak banget akun-akun direct swap. Coba aja dicarai pake #directswap. Tapi, kan bisa kecampur ya sama akun-akun postcrosser lainnya, jadi agak susah juga nemu akun yang bener-bener khusus direct swap. Serunya, pemilik akun IG direct swap biasanya bahkan mengunggah stok kartu pos yang mereka punya, jika tertarik, kita bisa DM langsung dengan menawarkan kartu pos yang kita punya. Jadi masing-masing bisa dapat sesuai keinginan :)

Oke, jadi kemarin saya mencoba direct swap ke empat orang warga negara Korea Selatan. Alhamdulillah keempatnya ramah-ramah banget dan chat saya dibales dalam waktu singkat. Setelah mengutarakan keinginan masing-masing kamipun bertukar alamat dan mengirim kartu pos. Kami sengaja nggak menunjukkan foto kartu posnya, seperti layaknya semboyan Postcrossing: keep it surprise. Tapi, biar mereka percaya kalo saya udah kirim, saya kirimkan foto bagian belakang yang ada nama+alamat mereka yang udah ada cap pos-nya.



View this post on Instagram


Not for the Postcrossing project. Trying to do the "Direct Swap" for the first time, means you can contact someone in @postcrossing community personally and ask for exchanging the postcard. So grateful, the postcrossers who I contact for the direct swap were so kind and friendly. Hope they'll like the postcard I've sent to them ♥ - #directswap #snailmail #postcard #postcardswap #postcrossingswap #Postcrossing #postcardexchange #postcrosser #mail #stamps #stampcollecting #indonesianstamp #forswap #airmail
A post shared by A Wonderful Life Blog (@nurullatif_) on Sep 16, 2018 at 2:12am PDT

Karena waktu itu masih dalam euforia Asian Games 2018, maka saya tempelkan Prangko Edisi Khusus Asian Games 2018 yang sudah saya bahas di tulisan ini untuk masing-masing mereka nggak lupa mengucapkna selamat buat kontingen Korea terutama sepak bolanya hehe. Tanpa kasih tau ke si calon penerima, saya kirimkan dua kartu pos buat masing-masing orang, semoga mereka seneng ya hehehe.


Berapa lama waktu pengiriman kartu pos?

Meskipun sama-sama tujuan South Korea, tapi waktu yang dibutuhkan buat sampai ke masing-masing penerima ternyata beda. Begitu juga ketika mereka ngirim ke kita, tanggal pengiriman dua partner direct swap saya cuma selisih dua hari, tapi sampai ke Indonesia selisihnya seminggu lebih. Ya, memang begitulah dunia berkirim kartu pos ini, seringkali random soal waktu penerimaan. Nggak apa-apa, disyukuri aja masih sampai, karena ada kemungkinan ilang dan gak sampai alamat juga loh. Kartu pos saya ada yang sampai dalam dua minggu tapi ada juga yang sebulan lebih, bahkan ada satu yang belum ada kabarnya hingga kini, so saad.

Dan inilah postcard yang saya dapat dari Korea. Lalala yeyeye. 
Which one is your favorite?

kartu pos dari korea

menulis kartu pos
 
Ini adalah kartu pos yang pertama sampai. Gambar hanbok dan sebuah kantong kecil gitu. Si pengirim sedikit cerita tentang hanbok dan kantongnya. Silakan baca pesan di baliknya (gambar di bawahnya). Btw, tulisan mbak-mbak bernama Yun ini rapi banget ya. Suka :D Dibutuhkan skill trsendiri buat nulis sebanyak itu di postcard, karena kalau tulisan kita gede-gede jatuhnya cuma muat sedikit informasi haha.



Yang ini foto Gyeongbukgung Palace bersama eonni-eonni yang lagi pake hanbok. Nggak dijelaskan juga ini ceritanya lagi ngapain atau emang cuma disitu buat kepentingan foto doang. Ketika pertama kali menerima kartu pos ini saya langsung kepikiran kalau ini adalah tempat yang sama yang dipakai Dian Pelangi dan Barli Asmara foto bareng pas mereka ke Korea beberapa bulan lalu hahaha. Emang cantik banget sih ini spot fotonya, mana ada danaunya juga. Semoga suatu saat bisa kesana yaa hehehe.


kartu pos hanbok korea

Ini ada semacam lukisan raja (era Joseon kayaknya) pakai jubah kebesaran warna biru. Di bawahnya ada tulisan "Iksungwan-po (King's official robe in red)". Si pengirim nggak mencantumkan keterangan apapun tentang gambarnya. Awalnya, saya mikir tulisan di bawah itu berarti: jubah raja tuh kayak gini, tapi yang resmi harusnya warna merah. Well, mungkin aja yang di gambar itu adalah lukisan Putra Mahkota. Kan kalau di drama-drama jubah putra mahkota warnanya biru, sedangkan jubah raja warna merah hahaha (korban drama banget). Tapi teman KKN saya yang pernah riset tentang kebudayaan Korea demi bikin komik (yes, let's adore her effort) menjelaskan bahwa yang membedakan jubah raja dengan jubah putra mahkota adalah jumlah cakar naganya. Kalau empat, berarti putra mahkota. Sedangkan lima kuku cakar berarti jubah raja. Sehingga saya pun berkesimpulan: yang di gambar adalah baju raja (five dragon claws) kalo lagi sante (karena biru), kalo lagi acara resmi nanti pakenya merah. Well, kalo salah mohon dikoreksi yaa :D

Nah, abis itu karena saya dan mereka mencantumkan username sosial media masing-masing, jadilah kita berteman di Instagram hehehe. Ya gitu, bertukar kartu pos memang jadi bikin kita berteman dengan banyak orang dengan hobi yang sama :)


Sabtu, 1 Desember 2018
Hujan deras diiringi alunan suara Jongdae
yang makin kusuka :') 
December 01, 2018 1 comments
Halo, sudah berapa tahun cahaya saya nggak nulis blog? Ketiadaan materi membuat saya jarang nulis huhuhu, so sad. Kalau ada usulan ide boleh lho kasih tau saya haha. Pada malam yang dingin dan langitnya se-gloomy hatiku ini, saya akan memutuskan kebuntuan ide dengan menulis tentang Asian Games 2018 Stamps Series. Agak telat sih yaa, soalnya Asian Games udah selesai (dan kayaknya saya menang di cabang olahraga kangen beregu) tapi gak apa-apa tetep ditulis aja, biar ada jejak tentang Asian Games 2018 Jakarta-Palembang di blog. Sebenernya saya beli prangko ini udah lama, tapi ya karena saya terlalu sibuk mikirin kamu, jadi baru sempet nulis sekarang. Saya pertama tau ada prangko seri Asian Games 2018 dari IG-nya Pos Indonesia yang diunggah tanggal 19 Agustus 2018. Dari situ dijelaskan kalau Pos Indonesia merilis prangko edisi khusus Asian Games XVIII yang cuma dicetak terbatas (2.000 set) dan nggak akan dicetak ulang. Saya langsung bertekad untuk membelinya hahaha.
Artikel Terkait: 
Serunya Berbagi Kartu Pos Lewat Proyek Postcrossing


Dimana beli prangkonya?

Nggak semua kantor pos menyediakan prangko bervariasi, tapi petugas di Kantor Pos Bulaksumur pernah merekomendasikan bahwa kalau pengen milih prangko yang lebih beragam datang saja ke Kantor Pos Besar Yogyakarta. Maka demi membeli prangko spesial ini, saya dateng ke Kantor Pos Besar Yogyakarta yang terletak di Nol Kilometer. Hari itu, pertamanya saya ke Kantor Pos Besar dan dibuat gumun karena disini ada bagian khusus buat filateli yang menyediakan beragam prangko dan kartu pos. Kayaknya tempat ini adalah pusat kebahagiaan bagi postcrosser, filatelis, atau bahkan penggemar snail mail di Jogja. Saya bahkan ketemu mbak-mbak yang juga beli perangko Asian Games buat koleksi dan ngobrol sok asyiklah kami disitu haha.


Saya dikasih tau kalau ada dua macam prangko seri Asian Games 2018. Pertama, prangko yang gambarnya cabang-cabang olahraga yang dilombakan. Kedua, prangko yang saya beli. Saya pilih beli ini karena menurut saya lebih unyu heheh. Satu lembar prangko harganya Rp3.000,- dan yaudah saya beli satu set (berisi 21 prangko) sekalian karena saya bakal perlu agak banyak.


Tentang Prangko Seri Asian Games 2018

Saya bakal saya bahas tentu saja adalah prangko yang saya punya, yang seri satunya lagi belum kumiliki, persis kayak kamu mz. Ada tiga desain dalam satu set. Akan saya jelaskan satu persatu berdasar pengetahuanku yang terbatas dan cocoklogi pribadi. Soalnya Pos Indonesia juga gak jelasin rincian desainnya sih huhu. Semoga lain kali kalau Pos Indonesia rilis prangko, informasi yang disertakan kayak desainernya dan cerita dibaliknya makin detail yaak, bisa jadi masukan lho ini buat tim humasnya Pos Indonesia.

Prangko pertama.

Prangko kedua.

Prangko ketiga.
Oke, yang pertama dengan warna dasar putih, ada bentuk-bentuk manusia yang sedang memperagakan empat cabang olahraga: lari, badminton, sepak takraw, dan renang. Kedua, bergambar landmark Indonesia, khususnya Jakarta dan Palembang sebagai kota tuan rumah Asian Games 2018 yaitu ada Stadion Utama Gelora Bung Karno, Monumen Selamat Datang Bundaran HI, Patung Dirgantara Pancoran, Jembatan Ampera, gunung-gunung, motif batik Mega Mendung, dan gambar atlet renang, sepeda, satunya yang bawah itu atlet apa ya? Lari kah? Ketiga sekaligus terakhir adalah gambar seorang atlet yang udah memenangkan pertandingan dan pakai medali emas. Atletnya kayak lagi lompat bahagia, mungkin sambil nyanyi "Yo yo ayo, yo ayo yo yo ayo!!" hehehe. Tapi aku gak tau itu ceritanya atlet dari cabang olahraga apa, kalau teman saya Afnan sih curiga beliau ini dari cabang mbribik estafet, panjat sosial, lempar kenangan, atau silat lidah (oposih Afnaan~). Kalau menurut kalian, yang ketiga dari cabang apa hayo?

Kartu pos dengan prangko Asian Games 2018.
Coba tebak mau kukirim kemanakah mereka?
Saya beli prangko-prangko itu untuk dikirim ke suatu negara bersama kartu pos. Nanti kalau sudah sampai tujuan, bakal saya tulis lagi ceritanya di blog wis. Sebenernya keberadaan prangko Asian Games 2018 bisa jadi nggak terlalu signifikan, tapi unik aja dan buat old-fashioned people kayak saya yaa pasti bikin sedikit hepi hehe. Apalagi kalau misal postcrosser atau penggemar snail mail dari negara lain, pasti bahagia kalau dapet prangko edisi khusus kayak gini. So, terima kasih Pos Indonesia telah merilis prangko-prangko unyu ini :D


Asian Games 2018

Dibuka dengan Opening Ceremony yang sungguh-sungguh spektakuler! Nggak ngerti lagi kudu gimana mengungkapkannya. DAEBAK!! Adegan presiden masuk arena pembukaan dengan motor, yaa sejak nonton udah pahamlah itu stuntman, yakali presiden suruh latihan motor everyday hambok genahe wae :(( Tata panggung, tari-tarian, penyanyi...super semua dan Indonesia banget. Lagu Indonesia Raya yang dinyanyiin acapela dan GAC nyanyi Ampar-Ampar Pisang, sukaaaa. Saya ingin merekomendasikan semua manusia di dunia ini buat nonton itu, semoga terhibur. Saya yang nonton dari rumah aja ngerasa bahagia banget dan yakin acara itu bakal terkenang, apalagi mereka-mereka yang terlibat langsung, pasti bakal jadi kenangan indah sepanjang hayat :)

Lalu mari bersama ucapkan alhamdulillah wa syukurillah, Indonesia berhasil meraih posisi keempat di perhelatan Asian Games 2018 kali ini. Selamat dan terima kasih untuk semua atlet yang telah bertanding kemarin. Jujur saja ya, saya nggak banyak nontonin pertandingannya, cuma beberapa kali nonton badminton. Saya bahkan lebih banyak nontonin pertandingan di Rio Olympics 2016 kemarin daripada Asian Games 2018 ini hiks. Mungkin karena dulu masih selo banget sambil nunggu sidang, sekarang kalo siang kerja, pulangnya udah mager ngapa-ngapain hmm. Eh tapi saya tetap memantau perkembangan Asian Games 2018 lewat linimasa Instagram dan Twitter kok hehe. Makanya di penghujung Asian Games 2018, saya nemu ucapan yang sungguh bagus ini. Klik disini ya kalau mau baca. Selamat juga untuk atlet-atlet dari negara lain yang berhasil menang, terutama buat beliau-beliau yang nggak jadi wamil ciye ciye, bungah banget mesti njenengan mz hahaha.

Beliau yang tak jadi wamil dan siap menghias layar kaca dengan senyum cerianya. (pic source)

Closing ceremony juga nggak kalah kece, lighting-nya luarrr biyasaaaak. Sempet takjub dengan jas hujan transparan yang dipakai para atlet dan relawan aku tuh. Terima kasih Pak Wishnutama cs, dari closing ceremony ini aku jadi tau bahwa ada lagu easy listening yang judulnya Love Scenario, hari Seninku jadi semangat sambil nyanyi-nyanyi "sarangeul haetta uriga mana" hahaha. Terima kasih juga telah menghadirkan Kuch Kuch Hota Hai, Koi Mil Gaya, dan Jai Ho di tengah semua ini. Untuk Mbak BCL dan Mas JFlow juga Mbak Dira Sugandi, Anda keren! Paling makasih telah mengundang volunteer ke upacara penutupannya. Saya punya teman yang jadi volunteer di Asian Games 2018, she must be so happy and I'm so happy for you too. Btw, buat yang kemarin heboh "rahim anget" pas Jonatan buka baju, FYI aja temen saya itu jadi volunteer di cabor aquatic, so...abs are in daily basis tapi doi ya biyasa wae tuh wkwk. Sampai jumpa di ajang Asian Games 2022, semoga tahun itu Indonesia bisa makin baik prestasinya ya! :D


Magelang | 07 September 2018 23.35 WIB
Mohon maaf tulisan ini agak gak jelas dan banyak omong kosyong :')
September 07, 2018 1 comments
Sudah sekitar sembilan bulan saya bergabung di Proyek Postcrossing. Sebuah proyek yang memungkinkan kita untuk mengirim dan menerima kartu pos dari berbagai negara. Tulisan tentang seluk beluk Postcrossing dan cara bergabungnya sudah pernah saya bahas di tulisan sebelumnya. Sekarang saya telah menerima sejumlah kartu pos dari berbagai negara yang masing-masing tentu saja memiliki kisah berlainan. Kali ini saya ingin menuliskan cerita unik yang dibawa beberapa kartu pos tersebut. Ada tujuh kartu pos favorit yang telah saya pilih untuk dibahas di sini. Semoga kalian juga suka kartu pos ini :)

Tulisan serupa: 
Postcrossing: Cara Bergabung dan Seluk-Beluknya




1. Kartu Pos Istana Himeji (Jepang)

Kartu pos Istana Himeji dari Jepang.

Sebagai penyuka kerajaan-kerajaan, saya senang sekali ketika menerima kartu ini. Istana Himeji ini tuh hampir kayak Neuschwanstein Schloss di Jerman, yaitu sama-sama ada di atas bukit gitu. Meski udah ada sekitar empat abad, istana ini masih sangat mempesona, konon Himeji Castle merupakan istana yang selamat dari gempuran musuh pas zaman perang dulu, makanya masih bagus. Postcrosser bernama Yoko yang mengirim kartu pos ini juga bercerita tentang pekerjaanya sebagai perawat dan hobi doi scrapbooking. Sebagai orang dari negara yang menggunakan huruf kanji, tulisan tangan Yoko dalam aksara latin sangatlah rapi hahaha. Yoko juga menempelkan perangko lucu untuk kirim postcard, yaitu sebuah perangko bergambar Nobita dan satu lagi bergambar ilustrasi makanan Jepang.


2. Kartu Pos Olimpiade Brazil 2016 (China)

Kartu pos edisi Olimpiade Rio Brazil 2016.

Awalnya saya kira ini kartu pos dari Brazil, tapi ternyata seorang pelajar bernama Yangfang dari China yang mengirimkannya, yaa mungkin doi emang beli kartu pos yang edisi olimpiade kali ya. Yangfang tidak mengungkap hal lain selain bahwa dia seorang pelajar, tapi dia menempelkan banyak perangko dalam kartu pos ini. Ada lima perangko yang doi tempelkan, jadi bagian belakang kartu pos ini lebih banyak tertutupi perangko daripada tulisan. Kartu pos dari Yangfang adalah kartu yang dari segi kertas paling kaku dari semua yang pernah saya terima.

Kartu bergambar landmark kota Rio de Janeiro membuat saya mengenang momen di Olimpiade 2016. Apakah kalian ada yang menyaksikan pertandingan-pertandingannya? Kala itu, saya sempat nonton yang cabang olahraga voli putri, ketika tim tuan rumah berlaga. Wah, keren sekali tim voli putri Brazil ini, badannya tinggi dan atletis, skill-nya juga luar biasa, dan...mereka bermain dengan full makeup menghiasi wajah eksotisnya. Well-done, mbak! Saya juga menyaksikan ketika perenang muda asal Singapura, Joseph Schooling, akhirnya berhasil mengalahkan juara dunia Michael Phelps. Usia dua perenang itu terpaut sepuluh tahun, Schooling adalah penggemar berat Phelps sejak kecil. Nggak kebayang betapa terhormatnya ketika ia berhasil berlomba 'melawan' idolanya dan menang, saya yang nonton aja terharu apalagi masnya ya hahaha.


3. Kartu Pos Bubble Tea (Taiwan)

Bubble tea postcard, the cutest ever!

This is the cutest postcard I ever received! Ada gambar bubble tea dan gambar wajah orang dari berbagai negara yang berisi komentar mereka tentang minuman ini, ada dari Indonesia juga loh. Kayaknya bubble tea ini memang sangat famous di Taiwan sana. Kalau dari "komentar" yang tertulis di postcard-nya sih, minuman ini ada semacam 'pearls' yang bisa dikunyah. Hmm...apakah ini semacam jenang mutiara kalau di Indonesia? Atau dawet, maybe? Hahaha. Entahlah, tapi ini kayaknya seger nggak sih hahaha. Oh iya, kartu yang dikirim sama seorang bernama Leah ini beda dari yang lain dari segi kertas, dia nggak glossy ataupun doff, lumayan tebel dan sedikit ber-tekstur. Nggak ngerti saya gimana membahasakannya, tapi ini unik dan saya suka material kertasnya.


4. Kartu Pos Sluck Sashes (Belarus)

Kartu pos kain tradisional Belarus, Sluck Sashes.

Ketika pertama membaca kartu pos dari Anastasia ini, saya nggak bisa membayangkan Belarus itu terletak di sebelah mana. Dalam benak saya kala itu, yang ada Belarus pasti suatu tempat di Eropa tapi ntah sebelah mana. Setelah berselancar di Google, akhirnya ketemu kalau Belarus terletak di deketnya Ukraine dan Rusia.

Kartu pos bermodel ilustrasi seperti kartu pos gambar bubble tea, bedanya tentu saja cerita yang dibawakannya. Kartu pos ini bercerita tentang sashes (kalau di Indonesia semacam selendang kali ya), tepatnya sebuah kain tradisional bernama Sluck Shashes (Sluckija Pajasy). Sluck adalah nama kota tempat selendang ini awal-awal dibikin, atau lebih tepatnya Slutsk. Trus di kartu pos juga dijelasin kalo benda ini dibikin dari sutra alami, serta benang emas dan perak yang ditenun hanya oleh penenun pria. Kalau udah jadi, nanti dipakainya di pinggang kayak sabuk gitu. Info tambahan yang saya dapat dari Google, katanya Sluck Sashes punya motif-motif unik yang melambangkan suatu hal dan dulunya cuma dipakai kaum bangsawan. Sekarang sih, udah banyak dibikin duplikatnya dan dijadikan souvenir, tapi yang asli dari jaman-jaman dahulu masih tersimpan rapi di Museum Belarus. Sana kalau maen-maen hehe.


5. Kartu Pos Reichstag (Jerman)

Reichstag postcard from Deutschland.

Pengirim kartu cantik ini adalah Das Jassi, dia mendeskripsikan bangunan di kartu pos sebagai "the building where our government recides". Pas saya cari di Google, ternyata ini adalah gedung parlemennya Jerman. Yang unik dari Reichstag adalah adanya dome kaca di bagian atap dan dari situ kita bisa melihat pemandangan Berlin. Ketika saya unggah foto kartu pos ini di Twitter, adminnya Postcrossing menimpali dengan menjelaskan bahwa pemandangan dari dome kacanya itu bagus dan masuknya juga gratis hahaha.

Oh iya, karena ini dikirim mendekati tahun baru, si pengirim nulis kalau tahun 2018 dia mulai tinggal di apartemen baru dan punya harapan indah yakni: "...most important I hope my boyfriend will propose to me *emot senyum*" Duh, Mbak...semoga kesampaian yaa resolusinya. Saya juga pengen sih, tahun ini di-propose boyfriend, cuma masalahnya, saya nggak punya boyfriend, Mbak...gimana dong? #LahCurhat


6. Kartu Pos Gereja Galveston (USA)

Sacred Heart Catholic Church postcard from Galveston, Texas.

Ini tuh gambar gereja di Pulau Galveston, Texas, nama lengkapnya Sacred Heart Catholic Church. Kata si pengirim (yang namanya siapa nggak tertulis dengan jelas) Sacred Heart Catholic Church cuma berjarak satu jam perjalanan dari rumah dia. Di Galvestone memang banyak bangunan-bangunan vintage macam ini yang dipakai buat resort gitu. Si penulis juga cerita kalau Galvestone jadi semacam dermaga buat kapal-kapal pesiar yang akan menuju ke Kepulauan Karibia. 


7. Kartu Pos Kiel Week (Jerman)

Kieler Woche Festival, Germany postcard.

Satu lagi kartu pos dari Jerman. FYI, Germany has the most Postcrossing member so, I think I'll get more postcards from Germany. Kali ini, pengirimnya bernama Joachim (sayangnya bukan Joachim Loew) dia tinggal di pesisir Laut Baltik dan doi cerita kalau tiap tahun di bulan Juni bakal ada "Kieler Woche" alias "Kiel Week", sebuah festival berlayar di Kiel. Kalau saya baca lebih lanjut di TripAdvisor, acara ini bahkan diklaim sebagai festival musim panas terbesar di Eropa. Nantinya gak hanya ada kapal-kapal tradisional dari berbagai negara, tapi juga ada beragam acara hiburan musik, acara budaya, kuliner, dan festival anak. Kayaknya seru ya. Btw, Indonesia juga sering gabung ke acara ini loh, terutama buat mempromosikan pariwisata kita. Kalau parade kapalnya, hmmm kira-kira Indoneasia ikut gak ya? Kali aja KRI Dewaruci ikut festival kayaknya seru haha. Entah Indonesia dan KRI Dewaruci ada tidak, tapi yang jelas untuk tahun ini Kieler Woche bakal digelar tanggal 16-24 Juni 2018.


Sementara itu dulu ya, cerita dari Postcrossing kali ini. Salah satu serunya proyek Postcrossing adalah saya jadi bisa dapet pengetahuan-pengetahuan baru dari gambar yang tertera di kartu pos atau cerita yang ditulis pengirimnya. Ruang di kartu pos sangatlah terbatas untuk memberi banyak informasi, tapi saya biasa melanjutkan dengan browsing di Google untuk paham lebih lanjut. Nantikan cerita-cerita seru di balik kartu pos lainnya ya! 

Magelang, 13 Mei 2018
Dua hari pasca erupsi freatik Gunung Merapi
May 13, 2018 2 comments
Postcrossing adalah sebuah proyek online yang memfasilitasi para anggotanya untuk mengirim dan menerima kartu pos dari dan ke seluruh penjuru dunia secara acak. Jadi para anggotanya akan mendapat alamat secara online kemudian harus mengirim kartu pos ke alamat tersebut. Sebaliknya, ia juga akan menerima kartu pos dari pengirim lain. Acak dan...penuh kejutan, karena sebelum kartu pos sampai ke penerima, dia nggak tau bakal menerima kartu pos dari mana. Keep it surprise! Para anggota situs postcrossing.com ini disebut postcrosser, saya adalah seorang postcrosser yang baru bergabung beberapa bulan yang lalu :)

bertukar kartu pos
Kartu pos yang saya beli online dan perangko.
Saya baru tahu kalau ada komunitas online yang seru ini berdasarkan informasi dari Mbak Martha Octavia, salah seorang narasumber dalam workshop yang saya dapat ketika saya magang di Tim Media Fisipol tahun 2016 lalu. Mbak Martha yang telah lebih dahulu bergabung dengan Postcrossing menceritakan serunya menjadi postcrosser. Terima kasih, Mbak Martha. Saat itu saya sudah tertarik untuk bergabung, namun ketika browsing-browsing artikel saya temukan cerita kalau kirim kartu pos ke luar negeri itu mahal, maka urunglah saya bergabung. Namun suatu hari, ketika saya begitu bahagia mendapat kartu pos dari Jerman, maka saya memberanikan diri untuk bergabung ke proyek online yang didirikan oleh seorang warga negara Portugal bernama Pak Paulo Magalhaes ini. Setelah saya bergabung, mengirim kartu pos, dan tanya-tanya ke kantor pos, ternyata menjadi postcrosser itu tidak mahal. Apakah kalian tertarik bergabung dengan Postcrossing juga? Di sini, saya akan menuliskan tentang Postcrossing dalam bentuk sub-judul dan keterangannya, silakan disimak :)

 
Bergabung dengan Postcrossing
Hahaha...mungkin jawaban untuk pertanyaan ini teman-teman pun sudah tahu yaa, yaitu dengan mendaftar lewat website-nya postcrossing.com. Yaa, ikuti saja petunjuknya di situ. Setelah sign up, kita bisa mengisi profil singkat, biasanya diisi dengan nama, hobi, dan cantumkan sekiranya kita ingin kartu pos yang seperti apa, misal ingin kartu pos gambar makanan tradisional, bangunan iconic, pemandangan, dll (semuanya harus dalam Bahasa Inggris yaa). Informasi ini akan memudahkan pengirim nantinya dalam memilih kartu pos untuk kita. Nah, di tahap awal ini kita juga bakal diminta menyetorkan alamat, tapi jangan khawatir, Postcrossing tidak akan menampilkan alamat kita di profil, hanya si pengirim-lah yang dapat melihat alamat kita setelah "diberi" oleh Postcrossing. Kita bisa juga membaca FAQ di website tersebut untuk mengetahui lebih dalam tentang Postcrossing hehe. Pokoknya, di tahap awal ini kepoin aja websitenya hehe.

 
Mendapatkan Alamat Pengiriman
Langkah selanjutnya adalah mengirim kartu pos. Jadi, kita baru akan mendapat kartu pos setelah mengirim kartu pos. Cari dan klik "Send Post Card" yang ada di laman situsnya, setelah itu kalian akan mendapatkan alamat dan profil kepada siapa kartu pos dikirim. Silakan klik profilnya dan cari tau apa kegemaran atau kartu pos kesukaannya. Biasanya sih, para anggota mencantumkan kalau mereka menerima segala jenis kartu pos, tapi akan lebih membahagiakan lagi kalau kita bisa bikin dia seneng dengan memberi kartu pos tertentu yang sekiranya kesukaannya bukan?

Selain mendapat alamat via website, Postcrossing juga akan mengirim alamat via email, bahkan alamat ini bisa dicetak jika dikhawatirkan tulisan tangan kita tidak terbaca. Alamat yang kita dapat ini benar-benar random bisa kita diminta kirim kartu pos ke Jerman, Amerika Serikat, China, dll. Seru kan? Being kind to random person thath have the same hobby with us :)

 
Logo resmi Postcrossing yang bersumber dari situs resminya: postcrossing.com
 
Identitas (ID) Kartu Pos
Selain mendapat alamat ketika klik "Send Post Crad", kita juga akan mendapat nomor identitas yang harus kita cantumkan di kartu pos yang hendak dikirim. Nomor ID nantinya juga akan dikirimkan via email bersamaan dengan alamat penerima. Nomor ID diawali dengan dua huruf kode negara (ID, DE, JP, KR, dsb.) dan dilanjutkan dengan angka serinya. Pastikan tulisannya jelas dan jangan cuma nulis sekali, tulislah dua kali di dua tempat berbeda, sehingga jika salah satu tulisan ID tidak terbaca atau rusak, masih ada tulisan yang lain. ID ini penting banget untuk registrasi kartu pos kita. 

 
Membeli Kartu Pos
Nah, dimana membeli kartu pos? Saya membelinya online dari toko online di Instagram dengan harga bervariasi antara Rp3.500,00-Rp5.000,00, tapi harus nambah ongkos kirim tentunya. Kalau mau beli di toko, Toko Buku Togamas dan Periplus (Malioboro Mall) Jogja juga ada. Di dua tempat tersebut, satu lembar kartu pos dijual seharga Rp5.000,00. Apakah kalian pernah melihat kartu pos di toko lain? Mungkin bisa berbagi di kolom komentar :) Maaf ya saya hanya cerita soal Jogja karena yaa saya hidup di Jogja dan sekitarnya heheh.

kartu pos togamas
Kartu pos yang saya beli di Togamas, tema-nya foto jadul gitu.

Menulis di Kartu Pos
Sebenarnya ini juga sudah ada di FAQ-nya Postcrossing, tapi biar lebih mudah saya tulis di sini saja nggak apa-apa. Dari awal, pastikan pulpen yang kita gunakan tidak mudah luntur tintanya dan tidak smudge kalau bergesekan dengan tangan atau benda lain. Kalau saya sih pakai pulpen Pilot biasa, ini aman kok hehehe. Nah, yang harus kita tulis di kartu pos adalah pesan bagi si penerima. Bisa ceritakan hobi atau aktivitas harian kita, bisa ceritakan hal-hal unik tentang Indonesia, kutipan kata mutiara, dan sejenisnya. Pastikan tidak terlalu privat dan tidak mengandung SARA yaa! Sebisa mungkin, tulislah dengan huruf Roman dan dalam Bahasa Inggris. Menurut saya, pesan ini penting, karena yang dinanti para penerima selain kartu pos-nya pastilah kejutan pesan yang tertulis bersamanya. Maybe, a small message from us can make the recipient's day :) Curhat aja nih, saya pernah dapat kartu pos dari Thailand yang tidak ditulisi apa-apa selain ID kartu pos, alamat, dan sebuah cap bertuliskan huruf Thailand yang tentu saja tidak bisa saya baca. So sad :(

contoh menulis di kartu pos
Bagian belakang kartu pos.

Mengunggah kartu pos ke situs.
Selain pesan tentu saja wajib hukumnya menuliskan ID kartu pos dan menuliskan alamat dengan jelas. Beri ruang juga untuk menempel perangko ya :) Oh iya, kita juga bisa mengunggah bagian depan kartu pos yang kita kirim sehingga fotonya terdokumentasikan di situs Postcrossing. Nantinya, si penerima atau bahkan anggota lainnya dapat melihat gambar ini dan dapat memberi "favorite" pada kartu pos kita jika mereka tertarik, seru kan?

 
Membeli Perangko dan Mengirim Kartu Pos
Setelah kita mengantongi alamat, menuliskan pesan, ID, dan alamat di kartu pos, maka tinggal kirim kartu pos-nya dong. Kirim kartu pos ke luar negeri itu ternyata murah lho, cukup dengan perangko dengan harga bervariasi tergantung negaranya. Kalau mengirim ke Eropa itu Rp7.000,00, ke Amerika Rp8.000,00 sedangkan ke Asia itu terbagi atas tiga zona negara, Zona I Rp.
6.000,00, zona dua Rp7.000,00, dan zona tiga Rp8.000,00. Murah kaaan? Bayangkan dengan perangko segitu, kartu pos kita udah bisa sampai ke Belanda, Taiwan, Rusia, Amerika, dll.

biaya kartu pos
Ini tarif kirim yang dikirim admin Instagram PT. Pos Indonesia pas saya DM mereka. Maaf kalau agak pecah, mungkin karena dikirimnya via Instagram jadi resolusinya nggak bagus.

Beli perangkonya dimana? Datang saja ke kantor pos, nanti akan ditunjukkan perangkonya. Selama ini saya kirim lewat kantor pos di Jogja atau di Magelang yang deket rumah. Kalau di Jogja, misal kalian ingin memilih perangko dengan seri yang variatif katanya bisa datang ke Kantor Pos di Nol Kilometer, kata petugas di Kantor Pos Bulaksumur, koleksi perangko di Kantor Pos Nol Kilometer adalah yang paling lengkap. Tapi, saya sendiri juga belum pernah kesana hehehe.

Saya baru dua periode mengirim kartu pos (sebelas kartu pos), sejauh ini aman-aman saja dikirim hanya mengunakan perangko. Hanya saja, sampai ke lokasinya bervariasi. Dua kali mengirim ke Jerman, ada yang sampai sana dua puluh hari lebih, satunya lagi sampai sana sekitar dua minggu saja. Kartu pos yang dikirim ke negara yang sama saja bisa sampai dalam waktu berbeda, apalagi kartu pos yang dikirim ke negara berbeda dengan sistem pos yang berbeda-beda, bahkan risiko hilang tetap ada. Namun menurut situs Postcrossing, biasanya kartu pos sampai dalam kurun waktu tidak lebih dari enam puluh hari.

Bagian belakang kartu pos yang saya dapat dari luar negeri.
Oh iya, saya pernah baca kalau ada yang mengirim via EMS, salah satu layanan PT. Pos Indonesia yang memungkinkan kita mengirim surat dalam waktu singkat, bisa dilacak keberadaannya, dan jaminan ganti rugi kalau kiriman terlambat/rusak. Ya, jadi kartu pos-nya dikirim dalam bentuk surat, bukan lembaran kartu pos biasa. Tentu saja, dana yang dikeluarkan untuk fasilitas keren tersebut juga mahal sekali hehehe. Eh, tapi kalau teman-teman mungkin bergelimang harta, layanan pos ini bisa dicoba. Kalau saya sih, sayang di ongkos hahaha.

 
Menerima dan Mendaftarkan Kartu Pos
Kalau kartu pos sudah dipercayakan pada Pak Pos, saatnya kita menunggu kartu pos datang. Bersiaplah menerima kejutan kartu pos dan pesan yang dibawanya. Itu menyenangkan sekali rasanya hahahaha. Jika, kartu pos sudah di tangan, jangan terlarut dalam kebahagiaan hingga lupa mendaftarkan kartu pos kita ya! Kita harus mendaftarkan ID kartu pos yang kita dapat ke website Postcrossing. Lewat ID inilah, kartu pos kita dilacak. Setelah mendaftarkan kartu pos pada laman "Register a post card", kita juga bisa menyisipkan pesan ucapan terima kasih kepada pengirim. Nantinya, si pengirim akan mendapatkan pemberitahuan via email kalau kartu pos dengan ID tertentu yang dikirimnya telah sampai ke penerima plus menerima pesan ucapan dari penerimanya juga.  Sebaliknya, penerima kartu pos kita juga harus mendaftarkan ID kartu pos kita agar kita tahu apakah  kartu pos kita sudah sampai atau belum. Inilah mengapa pentingnya ID ditulis jelas, karena ID adalah pelacak Postcrossing.

Atas: kartu pos dari Thailand. Bawah: kartu pos dari Jepang.
Jika saat mengirim kartu pos kita dapat mengunggah foto kartu pos yang kita kirim, hal itu berlaku juga saat kita menerima kartu pos. Kita juga dapat mengunggah foto kartu pos yang kita terima ke situs Postcrossing, tapi sepertinya hal ini hanya berlaku jika si pengirim belum mengunggah kartu pos yang dikirimnya. Saya pernah mendaftarkan ID kartu pos yang sudah menampilkan foto kartu pos-nya sebelum saya mengunggah. Mungkin hal itu dikarenakan si pengirim telah mengunggah foto kartu pos sebelum mengirimkan.

 
Yap, itulah cerita saya tentang Postcrossing, sementara menulis artikel ini, masih ada empat kartu pos saya yang masih dalam perjalanan menuju Kanada, Amerika Serikat, Rusia, dan Belarus. Ini adalah periode kedua saya mengirim kartu pos. Periode pertama, saya mengirim lima kartu pos dan enam kartu pos di periode kedua. Jumlah maksimum pengiriman di setiap periode telah ditentukan oleh Postcrossing. Saat ini, saya sedang menunggu kartu pos dari luar negeri datang, hmm...can't wait yaa. Oh iya, karena 2018 adalah tahunnya pesta sepak bola dunia, harapan saya sih, di tahun ini saya mendapat kartu pos edisi Piala Dunia 2018 di Rusia. Semoga saja yaa, amiin :)
Bagaimana? Apakah kalian tertarik bergabung dengan Postcrossing?



Happy Postcrossing!
Nurul | 08 Januri 2018
January 21, 2018 11 comments
Older Posts

About me

About Me

Live in small and lovely town, Magelang. Enjoy making DIY project, especially hand-embroidery. Really love writing here, share some thoughts, experience, and everything that popping in my mind.

Follow Us

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Popular Posts

  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (3): Pendakian Gunung Ijen
    Setelah puas menikmati pesona Taman Nasional Baluran di Situbondo (seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya), saya sholat kemudian ma...
  • Jalan-Jalan ke Banyuwangi (1): Itinerary, Transportasi, dan Biaya
    Banyuwangi adalah sebuah tempat yang ingin saya kunjungi sejak sebelum KKN. Saya bahkan sudah menggali informasi dari teman kuliah yang sud...
  • Sekilas tentang Departemen MKP Fisipol UGM
    Saya adalah mahasiswa semester delapan yang memiliki seorang adik yang tengah menempuh tahun terakhirnya di SMA, bulan-bulan ini ia tengah ...
  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (2): Bacpacker ke Baluran di Musim Hujan
    Setelah kemarin menulis tentang rincian teknis jalan-jalan ke Banyuwangi, kali ini saya hendak menuliskan cerita tentang tempat wisatanya. ...
  • [K-Drama] Queen Seondeok: Kisah Cinta Deokman, Kim Yu Shin, dan Bidam
    Sebuah drama yang tanpa kisah percintaan sepertinya akan terasa hambar, sehambar hidup tanpa cinta mungkin #halah maka The Great Queen Seon...
  • Serunya "Berbagi" Kartu Pos Lewat Proyek Postcrossing
    Postcrossing adalah sebuah proyek online yang memfasilitasi para anggotanya untuk mengirim dan menerima kartu pos dari dan ke seluruh penj...
  • [K-Drama] Ringkasan Drama The Great Queen Seondeok: Perjuangan Wanita Meraih Tahta
    [ WARNING : Tulisan ini bakal sangat panjang, karena emang banyak yang harus dibahas dan karena saya begitu antusias. Nggak tahu lagi g...
  • Mata Najwa on Stage (Metro TV on Campus UGM)
    Kalian tahu Najwa Shihab kan? Jurnalis pinter lagi cantik yang punya acara talkshow berjudul Mata Najwa? Tahu kan? Tahu dong? Ada apa den...
  • A Drama that So Much Impress Me
    Saya tidak banyak menonton drama Korea, beberapa drama yang pernah saya tonton hanyalah Boys Over Flower , The Moon That Embraces The Sun ...
  • Sebuah Kesempatan: MDP V Net Mediatama Television
    Sabtu sore, seminggu lalu, saya mendapat email dari Net Mediatama (perusahaannya Net TV) yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi administr...

Labels

  • DIY Project
  • Drama Korea
  • Jalan-jalan
  • KKN
  • Korean Wave
  • Life Story
  • Something Wonderful
  • Thoughts

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (3)
    • ▼  December (1)
      • Overwhelmed
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2022 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  September (5)
    • ►  July (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  October (1)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2018 (29)
    • ►  December (5)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (7)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (35)
    • ►  December (7)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  January (11)
  • ►  2016 (28)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (9)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (38)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (5)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  June (4)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (1)
    • ►  January (11)
  • ►  2013 (46)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  October (9)
    • ►  September (8)
    • ►  August (8)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (6)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (7)
    • ►  December (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
  • ►  2011 (19)
    • ►  October (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (8)
  • ►  2010 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose