twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • ABOUT
  • CATEGORIES
    • DIY
    • TRAVEL
    • THOUGHTS
    • KOREAN WAVE
  • About
  • Contact

a wonderful life

Beberapa hari lalu sebuah artikel yang saya tulis dimuat di situs Hipwee. Ide untuk menulis di portal online yang dekat dengan anak muda tersebut muncul secara tiba-tiba. Awalnya, saya hendak menulis untuk blog pribadi, sebuah tulisan yang bertema sageuk drama alias drama sejarah. Rencana untuk menulis tentang sageuk drama sebenarnya sudah ada sekitar sebulan yang lalu, tapi sengaja saya menundanya untuk bulan April: edisi per-korea-an. Berhubung saya begitu menggandrungi film yang mengambil latar kerajaan di abad pertengahan dan karena akhir-akhir ini saya sedang gemar nonton K-Drama, maka beberapa drama yang saya tonton adalah drama sejarah.  Saya kira bakal menarik kalau membahas sageuk drama yang menurut saya seru. Seriosuly, you can little bit learn about politics from those drama hahaha.


Email pemberitahuan kalau tulisan saya udah diunggah di Hipwee.

Membahas beberapa drama dalam satu artikel, hmm...saya kemudian berpikir sepertinya tulisan itu bakal cocok dengan tipe-tipe tulisan Hipwee. Saya pun browsing informasi tentang cara menulis di situs tersebut. Ternyata, siapa saja diizinkan untuk berpartisipasi 'menyumbang' tulisan di Hipwee dengan bergabung di Hipwee Community. Cukup mendaftar dengan alamat email. Nanti Hipwee bakal mengirim panduan menulis dalam format PDF ke email kita. Ada tiga pilihan tulisan yang dapat kita unggah di Hipwee: listicle (maybe stand from list article), narasi, dan opini.

Nah, member Hipwee Community bakal punya semacam laman dashboard kayak di blogger gitu, di situ kita bisa mengunggah tulisan yang kita inginkan sesuai jenisnya. Saya pilih yang listicle. Selain tulisan, kita juga dapat menyertakan gambar, tentu saja dengan menyertakan tautan sumbernya. Kita juga bisa menambah caption di gambar loh. Selain tulisan utama, kita juga dapat menambahkan tags yang sesuai dengan isi tulisan untuk memudahkan pembaca melacak tema tulisan yang diinginkan mereka. Kalau misal nulisnya belum kelar juga bisa disimpan dulu buat dilanjut kemudian hari. Kalau tulisan udah kelar, baru deh submit ke editor. Tulisan kita nggak bakal langsung terbit tapi nunggu approve editor dulu. Tulisan saya butuh waktu sekitar lima hari sejak diserahkan hingga diterbitkan. Kalau tulisan sudah terbit, kita bakal dapat email pemberitahuan yang juga memuat link artikel kita, kayak gambar yang saya unggah di bagian atas tulisan ini. Yay, finally my fun article is now on Hipwee. Just, in case you wanna read it, this is the link.

Tampilan artikel beberapa saat setelah dapat email pemberitahuan.
Itu adalah tampilan artikelnya beberapa saat setelah dapet email pemberitahuan. Awalnya gambar utamanya adalah foto behind the scene drama Moon Lovers yang bertabur some sooo tall princes. Namun, dua hari kemudian saya mendapat email lain dan ketika saya cek laman profil saya, artikelnya udah mengalami perubahan dari segi judul dan gambar utama. Jadi kayak gini nih:

Email pemberitahuan yang datang dua hari setelah artikel terbit.

Pasca notifikasi kedua, tampilannya berubah jadi kayak gini.

Having a fun article on Hipwee is not a big achievemnet but it makes my day
and I'm a happy about that. I watch something that I like,
I write it down passionately, and it's on public web
...and maybe being read by those who's interested in Korean-things too.
Nan haengbokhae! :)

By the way, ada pertanyaan yang ditanyakan beberapa temen ketika tahu saya nulis di Hipwee, yaitu: dibayar enggak? Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut saya akan capture-kan sesuatu dari laman FAQ-nya Hipwee Community, semoga ini membantu :)



‎‎Sabtu, 28 ‎April ‎2018 | 21:16
Satu hari setelah deklarasi damai Korea Utara & Korea Selatan
April 29, 2018 3 comments
Laskar Pelangi, sebuah novel fenomenal peraih best-seller di Indonesia dan diterbitkan pula dalam berbagai bahasa di berbagai negara adalah karya seorang pemuda Belitung bernama Andrea Hirata. Masih ingat dalam benak saya ketika semangat dalam diri saya yang kala itu masih duduk di bangku SMP begitu membara, termotivasi usai membaca Laskar Pelangi. Setelah novelnya begitu digemari dan diangkat menjadi sebuah film, Belitung yang menjadi latar cerita Laskar Pelangi turut 'naik daun' menjadi salah satu tujuan wisata favorit.  Sang penulis pernah berjanji bahwa ia akan menyisihkan sebagian royalti penjualan bukunya untuk pendidikan. Maka, lima tahun setelah Laskar Pelangi diterbitkan pertama kali, ia mendirikan Museum Kata Andrea Hirata di Gantong, Belitung Timur. Museum yang didaulat menjadi museum sastra pertama di Indonesia ini didirikan dengan tujuan agar para pengunjungnya berani bermimpi dan mewujudkan impian, seperti Laskar Pelangi. Museum Kata Andrea Hirata kemudian menjadi penambah daya tarik pariwisata Belitung, sebuah alternatif wisata selain pantai-pantai dengan batu granit raksasanya.

Museum Kata Andrea Hirata Belitung
Bagian depan Museum Kata Andrea Hirata.
Pintu ini bukan pintu utamanya,
pintu utama berada di samping tempat saya berfoto hehe.

Dua puluh enam Agustus 2015 (lima hari sebelum penarikan Tim KKN, pulang ke kampus), saya berkesempatan mengunjungi museum ini bersama sebagian keluarga KKN-PPM UGM Unit BBL-11. Kami berangkat dari lokasi KKN kami di Pulau Seliu pagi hari, naik kapal angkutan kecil untuk menyeberang menuju Dermaga Teluk Gembira di Desa Padang Kandis. Sebuah bus pariwisata ukuran sedang (kapasitas sekitar 35 kursi) yang menanti di Teluk Gembira akan mengangkut kami mengunjungi sejumlah tempat iconic di Belitung. Seingat saya, guru-guru di sekolah yang ada di Pulau Seliu-lah yang membantu kami mencarikan bus pariwisata ini. Terima kasih :)
Oh iya, ini kalau ada yang tanya "Situ KKN apa maen?", hmmm yha KKN, tapi gimana yak, KKN kami emang se-seru ini sih dari awal sampai akhir. Suka duka kami nikmati bersama. Kalau kata lagunya Mas Ipank sih "kesempatan seperti ini tak akan bisa dibeli" atau kalau Sherina bilang "rasa syukur ini karena bersamamu juga susah dilupakan" (hmm....baper lagi saya haha). Lanjuttt....

Jika Anda ke Belitung, sempatkanlah berkunjung ke museum yang satu ini. Seingat saya, Museum Kata Andrea Hirata terletak tak jauh dari replika SD Muhammadiyah Gantong (atau lebih dikenal dengan replika Sekolah Laskar Pelangi) dan tak jauh dari tempat wisata Kampung Ahok. Saya mencoba memanfaatkan Google Map untuk melihat seberapa jauh museum ini dari Bandara H.A.S. Hanandjoeddin, dan ternyata jarak museum dari bandara adalah kurang lebih satu jam perjalanan darat. Museum ini terletak di pinggir jalan, tanpa pagar pembatas atau semacamnya. Cat warna-warni mencolok yang menghiasi museum pasti akan menarik perhatian Anda. Sebuah artikel di situs berita CNN online menuliskan bahwa atas nama idealisme, Andrea memilih tidak membangun museum ini di kota besar, melainkan di kampung halamannya. Selain terasa lebih berarti,  Andrea juga berniat memberdayakan orang lokal di daerahnya. Misalnya, ia mempekerjakan enam orang lokal untuk operasional museum sehari-hari.

Letak Museum Kata Andrea Hirata Belitung
Ini plang utamanya, akan terlihat mencolok dari jalan hehe.
Mengamati es krim yang kian  mencair, Belitung panas rek!

Quote Museum Kata Andrea hirata
Keterangan tentang Museum Kata Andrea Hirata.

Jujur, ketika berada di museum ini, saya pribadi kurang menikmati feel sastra-nya, karena saya takjub dengan fisik bangunannya. Habis gimana, segala sesuatu di tempat seluas sekitar 100x60 meter persegi ini sungguh eye-catching!! Interiornya yang dipenuhi barang-barang antik seperti radio lawas, televisi jaman dahulu, mesin jahit, kursi-kursi antik, dll juga telah memanjakan mata saya. Ditambah terbatasnya waktu berada di sini (karena kami manut Pak Sopir dan kru bus heheh) membuat saya tidak sempat membaca koleksi yang ada di museum yang dibangun dengan dana satu miliar ini. Hanya membaca sekilas-sekilas saja. Jadi, saya hanya akan berbagi sejumlah foto ketika saya dan teman-teman KKN berada di sana (biar nggak mubazir hehehe)  dan hal-hal yang saya ingat saja. Itupun maaf jika tak banyak yang dapat saya ingat, karena hamper tiga tahun berlalu sejak kunjungan itu. Maafkan. Suatu saat saya ingin mengunjungi Belitung lagi, mengunjungi Museum Kata Andrea Hirata lagi untuk melihat lebih detail tentang museum ini.

Meski didirikan tahun 2010, namun berdasarkan plakat yang saya baca, museum ini baru diresmikan oleh Menteri Pariwisata (Pak Arif Yahya) pada tanggal 1 Maret 2015. Hal yang paling menarik perhatian dari museum adalah warna-warni cat yang menghiasi dinding-dindingnya. Bangunannya sederhana, tapi penuh warna. Ada beberapa ruang dalam museum yang diberi nama berdasarkan karakter di novel Laskar Pelangi (Ruang Lintang, Ruang Ikal, Ruang Mahar). Masing-masing ruang memiliki desain yang unik dan kreatif. Di dalam museum begitu banyak kutipan kata-kata dari sastrawan dunia yang tertulis di dinding bahkan di lantai. Terdapat koleksi 200 literatur berbagai genre dari seluruh dunia dalam museum. Sejumlah lukisan dalam berbagai ukuran juga hadir. Novel sang empunya museum pun tentu saja terpasang di dalamnya. Novel dalam berbagai bahasa berjajar rapi di salah satu dinding ruangan. Begitu pula foto-foto adegan dari film Laskar Pelangi.


Backpacker Belitung
Duo sahabat Geodesi, Sapta dan Ria berpose di hadapan
edisi internasional dari novel Laskar Pelangi.
This is my favorite photo, the way they look at each other is sooo daebak!!

Wisata Belitung yang wajib dikunjungi
Ada kutipan kata-kata yang tertulis di lantai museum.

Wisata Murah Belitung
Sebuah kalimat fenomenal dari Andrea Hirata.

Di museum privat ini disediakan pula ruang-ruang membaca yang cukup luas dengan kursi-kursi kayu yang nyaman. Mau membaca sambil ngopi? Bisa banget, sebab di bagian belakang museum juga terdapat dapur Kopi Kuli yang menyajikan kopi khas Belitung. Kopi yang dimasak dalam ketle dengan tungku kayu tradisional untuk memanaskannya. Maklum, Belitung  terkenal dengan kebiasan ngopi dan warung-warung kopi. Suatu ciri khas yang sering digambarkan Andrea Hirata dalam novel-novelnya, mungkin ia ingin menghadirkan kearifan lokal itu di museum ini. Sayangnya, saya pun tak sempat mencicipi kopi di tempat ini, satu-satunya kopi Belitung yang saya minum selama disana adalah kopi bikinan warga Pulau Seliu (yang menurut saya itu kopi enak banget, apalagi diminum sambal menyaksikan purnama aiiih). Di samping itu saya sesungguhnya adalah orang yang sudah cukup bahagia dengan sekedar kopi sachet.


Wisata Belitung Laskar Pelangi
Salah satu ruang membaca atau lebih tepatnya reading and writing space.

Jam buka Museum Kata Andrea Hirata adalah dari jam 10.00 pagi hingga jam 17.00 sore. Berada di dalamnya kita tidak akan bisa menahan diri untuk tidak berfoto-foto ria hehehe. Begitu banyak spot menarik yang sayang dilewatkan. Harga tiket masuk ke Museum Kata Andrea Hirata berdasarkan informasi yang saya baca adalah Rp50.000,00/orang. Harga itu termasuk CD OST Laskar Pelangi dan buku saku (yang saya gak tau apa isinya). Ada juga beberapa artikel yang bilang kalau masuk sana gratis. Ketika saya kesana, saya bahkan mengira kalau itu gratis (atau waktu itu gratis tapi sekarang udah bayar ya?). Waktu kami kesana tahun 2015, kami juga tidak mendapat CD OST Laskar Pelangi maupun buku saku. Ketika saya bertanya kepada teman KKN yang menjadi bendahara kala itu, ia mengatakan kalau ia sudah lupa perihal harga-harga. Hmmm....jadi soal harga masih misteri hehehe.

Itulah cerita saya tentang Museum Kata Andrea Hirata, sempatkanlah berkunjung kesini suatu hari nanti. Enjoy the tranquility in Belitung too! And...here some photograph about this lovely place! I put caption under the photos, make sure you read it! Semoga foto-foto ini bikin Anda terpanggil buat main ke Belitung heheheheh. 


Wisata Belitung Timur wajib dikunjungi
Hani, di salah satu furniture lawas dalam museum.


Wisata unik di belitung
Mbak Fitra, sang fotografer kebanggaan kami
dan Athia, biduan tersayang haha.
Bisa dilihat, ada sejumlah lukisan-lukisan pula dalam museum ini.


Backpacker Murah ke Belitung
Jendela pun dilukisi dan ditulisi.
Di ruang ini ada sepeda kuno yang keranjangnya dihiasi bunga-bunga, so cute.
Sayangnya, foto dari sepeda itu nggak ada yang bagus
jadi nggak saya unggah huhu.

Tips Wisata Laskar Pelangi
Sejumlah poster dari film Laskar Pelangi dan cerita di balik novelnya.


The others vintage furniture di sekitar Princess Mojokerto, Choiri.


Kak Ria, Geodesi Hitz mantan Paskib Bengkulu
dan Paskib kebanggaan Pulau Seliu.

Ini ruang favorit saya!
Ruang baca yang sangat berwarna. LOVE!!!
I took soo much photos in this room hahaha.

August 26, 2015. Did you know how much I miss you?
I really wish you to be here by my side.
#HALAHCURHAT

I'm coming home, Love.

Maaf ada saya lagi hahaha. 

Kira-kira, ini ruang Lintang, Mahar, apa Ikal??
Jujur, saya juga lupa hahah





My favorite quote!!!



Dan jangan lupa untuk terus semangat mewujudkan impian-impian!!
Semoga impian-impian kecilmu atau juga impian terbesarmu terwujud di tahun ini! :)

Minggu, 04 Februari 2018

Seluruh foto dari Tim KKN-PPM UGM 2015 Unit BBL-11
Sejumlah informasi didapat dari CNN Indonesia
February 06, 2018 No comments
Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan bertemu penghujung tahun lagi. Diberi kesempatan untuk kembali melihat aktivitas saya setahun terakhir. Wah, bisa dibilang tahun ini adalah tahun perjuangan. Ya, satu tahun berjuang sebagai job seeker, bukan waktu yang singkat sungguh. Saya sampai lupa udah melamar ke berapa perusahan, beberapa di antaranya gugur di tahap-tahap akhir. Pedih :') Menghadapi pertanyaan dari adik-adik tingkat, "Mbak, kok masih di kampus aja?" atau menghadapi mendengar pernyataan yang sungguh nyelekit dan menyakitkan (yang mungkin bagi yang mengucapkan biasa saja ahahaha), thanks for that by the way. Tapi alhamdulillah sampai saat ini masih diberi kekuatan untuk tidak menyerah hehehe. Saya juga bersyukur atas rezeki yang Allah SWT berikan untuk saya selama ini, mungkin saat ini jalan saya memang untuk disini. Untuk teman-teman yang masih berjuang, tetap semangat yaa! Jangan pernah patah! Semoga 2018 menjadi tahun kita menemukan jalan rezeki kita, amin.

My favorite photo in my 23, taken by Mas Iwang Cahyadi (ini IG-nya).

Saya tidak akan membahas itu lebih dalam. Disini, saya ingin mengucapkankan terima kasih pada salah satu supporting system di dua puluh tiga ini yang telah membuat saya semakin semangat menulis blog. Terimakasih telah mengingatkan saya dan telah membaca tulisan-tulisan saya. Sempat ragu di awal, apakah saya bisa mengikuti proyek menulis INKspiration ini dengan keseharian saya yang biasa saja jadi mungkin nggak bisa banyak hal menarik buat ditulis hehehe, tapi ternyata saya cukup bisa mengikutinya. Semoga dua puluh empat saya nanti, saya bisa makin semangat nulis, makin banyak ide-ide segar muncul, dan makin produktif hehe. Terima kasih, Dida, Ria, Vempi, dan Voila :)

Di dua puluh tiga ini, ada beberapa keinginan yang belum dapat terwujudkan, salah satunya adalah jalan-jalan. Nggak bisa jalan-jalan sebenarnya karena saya terlalu takut buat jalan sendiri, buat solo travel hehehe. Sementara kalau menunggu teman itu, yaa ampun...susah banget di usia segini. Mana yang udah sibuk kerja, mana yang belum kerja tapi harap-harap cemas harus selalu standby kalau-kalau ada panggilan tes kerja, atau ada yang sebenernya selo dan bisa diajak tapi sayanya nggak sreg sama doi hahaha. Sebenernya saya sudah jauh-jauh hari merencanakan tamasya ke suatu tempat bersama seorang kawan KKN saya yang lucu dan menggemaskan, Princess Mojokertensis. Tapi apa daya, pada hari yang seharusnya kami berangkat tamasya, terjadi bencana alam yang membuat kami menunda perjalanan yang sudah disusun lengkap itinerary-nya itu. Entah, tertunda sampai kapan karena kami juga sudah susah buat menjadwalkan ulang hahaha. Maka dari itu, semoga pada dua puluh empat ini, saya keturutan buat jalan-jalan yaa. Aamin. Soalnya udah lama banget saya nggak jalan-jalan jauh ke suatu tempat, Afrika misalnya hehehe.

Hal menarik bagi saya adalah di dua puluh tiga ini, saya sempat merenungi kejadian demi kejadian di usia sembilan belas, dua puluh, dan dua puluh satu. Di dua puluh tiga ini saya mulai lebih memahami kejadian-kejadian di tahun-tahun itu. Pada momen itulah saya kadang merasa saya sudah agak dewasa (sedikit wkwkwkwk). Momen-momen ketika saya seolah bicara dengan Nurul muda. Kadang ada kejadian-kejadian yang membuat saya berpikir, "how childish I was, how silly I was" atau "how can I make that kind of decision? I can't believe it". Tapi ada juga kejadian-kejadian yang bikin saya memuji diri sendiri, "Oh I've done something good, I was brave enough to do that." Atau adakalanya keputusan-keputusan yang dulu saya jalani dengan berat hati, di dua puluh tiga ini saya menyadari kalau keputusan itu benar, tak ada yang salah dengan itu. Begitupun sebaliknya, yang dulu saya yakini adalah yang terbaik, sekarang saya malah bilang: Oh, seharusnya tidak melakukan itu. Tapi, semuanya sudah berlalu, saya tidak menyesali, saya hanya merasa lebih paham saja. Ya, seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami hal-hal yang dulu masih sulit saya pahami. Life must go on dan itu jadi pelajaran-pelajaran untuk saya.



Learn to Say No, adalah sebuah tulisan yang saya unggah tahun 2016 ini banyak saya praktikkan di tahun 2017. Mengatakan tidak untuk hal-hal yang tidak sreg dengan hati nurani atau sekiranya akan membuat hati saya tidak nyaman ternyata menenangkan. Saya bahkan melakukannya di awal-awal tahun. Meskipun saya akui, kadang saya luluh juga oleh rasa segan atau apalah yang membuat saya menerima sesuatu yang tidak saya sukai, lalu dengan terpaksa menjalankannya. Di dua puluh empat nanti semoga saya makin bisa mengendalikan perasaan saya sendiri. Karena, kalau bukan saya, siapa lagi? The one who can avoid you from broken heart (nggak cuma soal cinta lho ya, apapun yang berpotensi menyakiti hatimu atau bikin mentalmu sakit) is only yourself.

Pertengahan dua puluh tiga juga menjadi awal saya jatuh hati...pada drama Korea. Akibatnya, saya nontonin beberapa judul drama, film, dan jadi kenal sama nama aktor/aktris Korea. Bahkan jadi belajar Hangul dan so far, udah bisa membaca teks Hangul dengan terbata tapi nggak tau artinya blas -__- Bisa nulis juga pelan-pelan ehehehe. Ya, setelah belajar Deutsch dengan tidak teratur, sekarang tambah belajar Hangul yang juga dilakukan jarang-jarang. Gak apa-apa, pelan-pelan kan yaa (menghibur diri). Oh iya saya juga beberapa kali nonton film di bioskop dan yang paling membekas itu sebuah film indie asli dari Indonesia berjudul Ziarah, cerita di film itu sungguh sangat sederhana tapi sangat mengena. Pantas saja film in meraih pengharaan internasional. Sebuah web series (iklan gula Tropicana Slim) berjudul Sore juga menarik perhatian saya, oh...begitu indahnya chemistry antara Dion Wiyoko dan Tika Bravani. Soundtrack-nya web series ini juga bagus. In case kalian belum nonton, sempatkanlah nonton di Youtube hahah.

Satu tahun di dua puluh tiga banyak diisi oleh kabar-kabar pernikahan sahabat dekat seperti Hani-Imad, atau pernikahan para tetangga yaitu Song Joong Ki dan Song Hye Kyo, juga teman bermain saya Raisa yang akhirnya menikah dengan Hamish, hingga foto-foto couple yang bagus punyanya Dion Wiyoko dan Fiona Anthony. Turut berbahagia dengan atas pernikahan kawan-kawan saya. Apakah di dua puluh empat saya akan menyusul? Hmm...tunggu saja catatannya di blog ini HAHAHA.

Terakhir, saya ingin mengucapkan selamat atas pencapaian teman-teman, baik dalam hal karir atau pendidikan selama satu tahun kemarin. Tetap semangat menghidupi hidup yaa! Kalau kalian menargetkan beberapa hal di tahun ini, semoga apa yang kalian targetkan berhasil. Begitu juga semoga di dua puluh empat saya, saya bisa melaksanakan beberapa target-target saya :)

Willkommen vierundzwanzig!! Viel Erfolg!!


Mulai ditulis tanggal 30 Desember 2017
tapi baru diselesaikan 2 Januari 2018
January 02, 2018 2 comments
Libur panjang di penghujung tahun ini, sudah ada rencana kah hendak liburan kemana? Atau ingin merencanakan liburan di beberapa bulan ke depan? Mungkin kota kelahiran saya, Magelang, bisa manjadi pilihan untuk mengisi liburan. Mau menikmati indahnya matahari terbit, merasakan segarnya air terjun, mengagumi peninggalan situs bersejarah, hingga mendaki gunung (yang nggak terlalu tinggi), bisa Anda lakukan di Magelang. Ada tempat wisata apa sajakah yang ada di kota kecil ini yang menarik untuk dikunjungi? Saya akan merekomendasikan 10 tempat wisata berikut ini:

Candi Borobudur

This is a must! Nggak lengkap rasanya kalau mampir ke Magelang tapi nggak mengunjungi candi Buddha terbesar di dunia ini. Cara menuju kesini? Oh tinggal google maps saja, tempat ini sangat mudah ditemukan :) Terakhir saya kesana itu beberapa hari setalah lebaran Idul Fitri tahun ini,harga tiket masuknya Rp40.000,-. Mahal? Menurut saya cukup murah. Dengan biaya masuk sebesar itu, kita tak hanya bisa masuk candinya, tapi juga bisa masuk museum-museum di dalamnya. Ada Museum Samudraraksa yang berisikan replika Kapal Samudraraksa (kayak yang ada di relief candi). Ada juga Museum Karmawibangga, yang memuat relief Karmawibangga, relief tentang hukum karma dan cerita manusia ketika masih dikuasai hawa nafsu (karena pada candi relief ini ditutup, jadi kalau mau lihat harus ke museum). Ada juga Museum Rekor yang isinya berbagai keunikan-keunikan yang pastinya tak lazim kita temui di kehidupan sehar-hari gitu. Saran saya sih, kalau ke candi yaa harus sekalian masuk semua museumnya hehe.

wisata hits magelang


Perjalanan dari pintu masuk menuju candi cukup jauh dan panas, jadi...pakailah alas kaki dan pakaian yang nyaman, juga topi atau payung untuk melindungi diri hehe. Kalau mau nggak panas sih kesini pagi aja, toh Candi Borobudur sudah buka sejak jam 06.00 pagi.
Oh iya, pastikan Anda berfoto di dekat pohon bodhi sisi Selatan candi, karena disitu kamu bakal dapet background candi yang paling mantap (menurut saya) hehehe. Buktikan saja deh! :D

Gereja Ayam

Nah, tempat yang kemudian menjadi booming gara-gara menjadi lokasi syuting Mbak Cinta dan Mas Rangga ini berada tak jauh dari Candi Borobudur. Dari candi, Anda bisa lewat jalan raya depan Hotel Manohara, karena jalan selanjutnya adalah jalan desa kecil dan banyak belokan, Anda mungkin harus sesekali bertanya kepada warga selain mengandalkan google map. Tidak jauh, mungkin 10-15 menit berkendara Anda akan menemukan lokasi parkirnya. Dari tempat parkir menuju Gereja Ayam, Anda harus berjalan kaki. Harap untuk tetap semangat demi memperoleh foto seperti Dian Sastro yaa haha. Saya sudah pernah menulis cerita tentang wisata Gereja Ayam (silakan klik disini).


rute gereja ayam
Gereja Ayam, Borobudur.

wisata gereja ayam AADC
Pemandangan dari atap Gerja Ayam.
Dulu sih waktu saya kesana, masuk ke Gereja Ayam bayar seikhlasnya, tapi sekarang konon harga tiket masuknya Rp10.000,- dan nggak bisa foto-foto sepuasnya di atap jengger ayam yang fenomenal itu, melainkan diberi batas waktu tertentu. Tapi pemandangan dari atap ini nggak mengecewakan kok.


Di sekitaran Candi Borobudur banyak spot-spot 'bukit kecil' atau 'punthuk' yang merupakan spot bagus untuk melihat matahari terbit. Dari punthuk-punthuk ini, kita (seharusnya) bisa melihat sunrise dengan latar Gunung Sumbing, Gunung Andong, Bukit Telomoyo, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, dan di kejauhan sana tampak samar-samar Gunung Lawu. Apa saja Punthuk-punthuk itu? Mari simak:

Punthuk Setumbu

wisata punthuk setumbu magelang
Pemandangan di Punthuk Setumbu.
Jika diperhatikan, sebelah atas tangan kiri saya terlihat Candi Borobudur.
Dari semua punthuk yang pernah saya kunjungi, saya hanya melihat sunrise yang lumayan indah di Setumbu. Selain itu, jalan menuju Setumbu juga tidak sulit. Dari candi, pergilah ke arah Jalan Salaman-Purworejo. Pelan-pelan saja, setelah pertigaan dekat pom bensin Kujon Anda akan menemukan Toko Besi Lancar di kiri jalan (catnya hijau kekuningan), nah tepat setelah toko besi itu ada jalan kecil, masuk saja. Ikuti jalan sampai ketemu Hotel Plataran, Setumbu letaknya tak jauh dari Hotel Plataran, mungkin Anda bisa bertanya kepada warga sekitar untuk arah lebih jelasnya. Tapi seingat saya ada plang-plang penunjuk jalan kecil yang mengarahkan ke Setumbu. So, don't worry! :) Harga tiket masuk Punthuk Setumbu dipatok Rp15.000,-/orang.

Sekarang di Setumbu Anda tak hanya bisa menikmati matahari terbit tapi juga berfoto kekinian di salah satu spot foto berbentuk 'love' atau di ayunan yang keduanya dihiasi daun-dunan dan bunga-bunga indah :)

Punthuk Gupakan

pemandangan punthuk gupakan magelang
Salah satu "panggung" bambu di Punthuk Gupakan.
wisata hits magelang
Gunung Sumbing terlihat dari Punthuk Gupakan.

Ketika mengunjungi Punthuk Gupakan sesungguhnya kami agak kesiangan, jadi matahari udah agak tinggi dan agak berkabut. Tapi perjalanan cukup terbayar dengan pemandangan pagi yang indah. Di tempat ini banyak 'panggung' kecil yang terbuat dari bambu gitu, untuk apa lagi kalau bukan untuk spot foto. Oh iya, di tempat ini sepertinya juga bisa digunakan untuk berkemah sambil menunggu pagi. Saya melihat ada rombongan camping disini. Tapi mungkin tidak bisa memuat banyak tenda. Harga tiket masuk Punthuk Gupakan kala itu (Januari 2017) adalah Rp5.000,-. Cukup murah, bukan?

Punthuk Sukmojoyo

wisata hits puthuk sukmojoyo
Sisi lain Punthuk Sukmojoyo selain spot foto iconic di "panggung" bambu.
Saya ke Sukmojoyo memang tidak diniati untuk menyaksikan matahari terbit, tapi simply karena ingin main bersama teman-teman, refreshing dari kesibukan (yang katanya) mengerjakan skripsi kala itu. Jadi kami berangkat sekitar jam 08.00 pagi dari rumah kawan saya untuk menuju kesini. Sama dengan di Punthuk Gupakan, Sukmojoyo juga memiliki aneka 'panggung' bambu untuk mendukung eksistensi di media sosial. Punthuk ini terbilang paling luas di antara semua punthuk yang saya kunjungi. Selain panggung bambu, Punthuk Sukmojoyo juga memiliki beberapa batu besar yang cukup kukuh untuk berpijak, bisa dijadikan spot berfoto juga. Oh iya,di punthuk ini juga terdapat sebuah makam, jadi bersikap sopanlah :) Ketika saya ke Punthuk Sukmojoyo, saat itu tidak dikenakan tiket masuk dan hanya membayar parkir.

Punthuk Mongkrong

Melihat matahari terbit, sebenarnya adalah untung-untungan. Mengunjungi Mongkrong dengan berangkat subuh, saya dan teman-teman tidak mendapat pemandangan matahari terbit yang didambakan. Kabut tebal menutupi pemandangan hampir selama kami disana. Tapi tak apalah, bertemu kawan lama dan bertukar cerita telah membayar perjuangan kami untuk sampai sini. Anda akan dikenakan harga tiket masuk sekitar Rp10.000,- untuk masuk Mongkrong yang lagi-lagi memiliki panggung-panggung bambu.



Kabut begitu tebal menutupi pemandangan dari Punthuk Mongkrong.

Konon, Punthuk Mongkrong ini letaknya nggak jauh dari Sukmojoyo, tapi menurut saya jalan menuju Mongkrong adalah yang paling ekstrem dari semua punthuk yang pernah saya kunjungi. Pastikan rem kendaraan Anda dalam keadaan baik. Selain itu, rasanya punthuk ini yang terjauh (atau mungkin karena track-nya tidak bersahabat saja?". Jalannya adalah jalan beton dan sesekali jalan tanah atau berkerikil yang cukup menanjak dan berkelok, banyak-banyaklah berdoa selama perjalanan haha.

Ketep Pass

Dari sisi selatan Magelang, mari beranjak ke sisi utara yaitu di daerah Kecamatan Sawangan. Jika dari punthuk-punthuk Anda dapat melihat Gunung Merapi dan Merbabu dari jauh, di Ketep Pass kedua gunung itu akan tampak lebih dekat. Pemandangan sangat menawan akan diperoleh jika cuaca benar-benar cerah. Ada penjual jasa sewa teropong jika Anda ingin mengamati Gunung Merapi atau Merbabu lebih dekat. Ada juga penjual jagung bakar di depan pintu masuk yang lezat disantap kala cuaca dingin hehe.

ketep pass fotografi
Gunung Merapi terlihat dari Ketep Pass.
Jalan menuju kesini juga tak sulit. Anda dapat berpegang teguh pada google map hehe. Kalau dari arah Jogja, di pertigaan Palbapang Magelang, lurus saja (arah Semarang) nanti Anda akan menemukan lampu merah pertama yang di sisi kanannya ada plang Pesantren Gontor , nah disitu masuk saja lurus ikuti jalan hingga Ketep Pass terlihat di sisi kanan Anda. Jalannya agak menanjak tapi sudah diaspal halus, jadi tidak perlu khawatir :) Harga tiket masuk Ketep Pass adalah Rp7.500,-/orang dan tambah biaya parkir.

Selain menikmati pemandangan Anda juga dapat menyaksikan film dokumenter letusan Gunung Merapi dan masuk ke museumnya (semua sudah ter-cover tiket masuk, jadi nggak perlu membayar lagi). 

Air Terjun Kedung Kayang 

jalur air terjun kedung kayang magelang
Air Terjun Kedung Kayang dari sisi atas.
Turun dari Ketep Pass, Anda akan menemukan pertigaan cukup besar. Beloklah ke kiri dan ikuti jalan, niscaya Anda akan menemukan gang masuk menuju Air Terjun Kedung Kayang. Dari parkiran, Anda harus berjalan menuju lokasi air terjun setinggi sekitar 40 meter ini. Ada dua jalan yang seluruhnya berupa tangga yang dapat dipilih. Satu tangga menuju spot untuk melihat air terjun dari atas, dan satu tangga lagi menuju spot air terjun untuk melihat lebih dekat dari bawah (dengan jumlah anak tangga yang lebih banyak tentunya). Saya memutuskan untuk melihat dari atas saja karena terlalu lelah untuk turun hehehe. Pastikan Anda membawa pakaian ganti jika ingin bermain air di area air terjun dan tetap berhati-hati. 

Pinus Top Selfie

Kalau Air Terjun Kedung Kayang dapat ditempuh setelah turun dari Ketep, Pinus Top Selfie bisa ditempuh dari Ketep, naik lagi. Lurus saja, sekitar 5-10 menit Anda akan menemukan plang masuk wisata ini di kiri jalan, silakan berbelok dan Anda telah memasuki kawasan hutan pinus ini. Dulu ketika tahun 201 saya kesana, jalannya masih ada yg berupa tanah dan sangat becek ketika hujan, tapi beberapa minggu lalu seorang kawan baru saja dari sana dan katanya sekarang jalannya sudah bagus. Alhamdulillah.


wisata pinus magelang
Pinus Top Selfie sehabis hujan, kabut-kabut tipis tersisa diantara pepohonan.
Jika Anda ingin menemukan lokasi foto menarik, hutan pinus ini memiliki beberapa panggung, ayunan, dan bangku kayu yang bisa Anda manfaatkan untuk berfoto atau sekedar untuk istirahat sambil menghirup udara segar pegunungan. Jangan lupa tetap menjaga kebersihan yaa! Harga tiket masuk Pinus Top Selfie ini kala itu sekaligus mencakup biaya parkir yaitu sebesar Rp3.000,-. Sangat terjangkau, bukan?


Gunung Andong

Jika ingin mencoba wisata yang cukup menantang, Gunung Andong bisa menjadi salah satu alternatif. Terletak di daerah Kecamatan Ngablak, gunung setinggi 1726 mdpl ini bisa ditempuh dengan tik-tok (naik langsung turun), bisa pula dengan camping terlebih dahulu sambil menyaksikan matahari terbit dari ketinggian. Bersiap dengan suhu udara yang dingin yaa. Waktu yang dibutuhkan untuk naik mungkin sekitar 1,5-2 jam.


pendakian guung andong

Sebelum masuk, Anda akan dikenakan biaya masuk (seingat saya sekitar Rp10.000,-) dan melaporkan identitas. Yah, selayaknya pendakian ke gunung-gunung lain. Pastikan Anda menggunakan alas kaki yang tidak licin, membawa perbekalan yang cukup, juga senantiasa berdoa dan berhati-hati selama perjalanan.


Itulah 10 tempat wisata di Magelang yang dapat Anda kunjungi untuk melepas penat dan mengisi liburan. Bagaimana? Tempat mana yang sekiranya akan Anda pilih?
Selamat berlibur dan selamat berkunjung ke Magelang! Jangan lupa tetap berhat-hati dan tetap menjaga kebersihan tempat wisata ya! :)


Magelang, 24 Desember 2017
Happy Holiday!! :D
Diunggah ulang karena kemarin ada kesalahan hehe
December 26, 2017 4 comments
Berkumpul bersama keluarga KKN Seliu selalu menjadi kebahagiaan tersendiri dan ajang mengisi ulang semangat. Senin lalu, kami memutuskan untuk berkumpul di sebuah kafe hitz di Jogja, jenis kafe yang atas nama penghematan tak akan saya kunjungi jika tanpa mereka haha. Si pemilik kafe ini, tampaknya begitu memahami hasrat anak muda masa kini yang butuh menampakkan eksistensi lewat foto, sehingga bangunan kafe dibuat ala-ala Eropa. Tak ketinggalan, saya dan beberapa teman KKN turut menyempatkan berfoto ala-ala di Cafe Brick ini. Salah satunya adalah foto ini. Tapi lebih lanjut, saya tidak akan membahas tentang kumpul KKN atau kafe, saya ingin bernostalgia.


Captured by Mbak @fitraannisa_

Ketika berada di lokasi dan Mbak Fitra mengambil foto saya, tidak ada perasaan apapun dalam benak saya. Namun, ketika melihat hasil foto ini sesampainya di rumah, foto ini mengingatkan saya pada kenangan belasan tahun lalu, bahkan mungkin hampir dua puluh tahun lalu.

Lima tahun pertama dalam hidup, saya tidak tinggal di rumah yang sekarang saya huni, melainkan tinggal di rumah Mbah Ibu (demikian saya memanggil nenek dari garis Ibu). Letak rumah Mbah Ibu berada di samping masjid kampung kami dan memiliki halaman yang luas. Cukup luas untuk saya berlatih sepeda roda tiga, roda empat, ataupun lari-larian bersama teman-teman kala sore hari. Pun, halaman itu cukup luas hingga Bapak bisa membawa saya naik Vespa setiap pagi.Sebelum berangkat ke kantor, masih memakai sandal japit Bata namun  telah memakai seragam PNS --yang seingat saya, di masa itu berupa atasan krem dan bawahan coklat tua-- Bapak mengajak saya naik Vespa mengelilingi halaman rumah Mbah Ibu barang satu atau dua kali putaran. Mungkin, saat itu saya diajak Vespa untuk menciptakan kebahagiaan pada diri saya sehingga saya nggak nangis waktu Ibu dan Bapak berangkat kerja. You know, children are always obsessed about riding something, right? Include Vespa. 

Jika pada foto yang saya unggah Vespanya berwarna krem dan coklat, Vespa kesayangan Bapak berwarna biru muda...dan tentu saja tanpa ada keranjang dan bunga-bunganya hehehe. Dulu, jika diajak bepergian agak jauh naik Vespa, orang tua saya sangat memperhatikan keselamatan berlalu lintas bagi putri kecilnya. Mungkin, karena Bapak orang Dishub kali ya, sehingga saat berkendara saya selalu dilengkapi dengan helm kecil warna orange, kacamata hitam (saya punya beberapa kacamata dengan warna frame yang berbeda-beda), dan jaket warna pink soft-ungu soft. Hmm...mungkin jaket warna itu adalah trend fashion pada masanya hahaha, yaah mungkin di masa sekarang semacam jaket bomber warna hijau army hehe.

Sebenarnya, saya memiliki beberapa foto masa kecil yang tengah naik Vespa bersama Bapak yang ingin saya unggah bersanding dengan foto mentel di atas. I'm pretty sure, there is no big diffrence about that 'mentel-ness', except I'm a little bit taller now haha. Yaah, dulu saya kalo naik Vespa yaa berdiri di belakang stang itu aman-aman saja, kalau sekarang naik Vespa bareng Bapak lagi dan berdiri di belakang stang yaa gimana yaa hahaha. Sayangnya, foto-foto itu rusak. Foto-foto masa kecil saya memang banyak yang rusak tak terselamatkan. Pun Vespa biru muda Bapak juga sudah tidak ada. Sudah lama Bapak berganti dengan motor Suzuki Shogun. Dua kali Bapak ganti motor dan beliau selalu memilih Shogun. Saya tidak ingat kapan Bapak menjual Vespa itu, mungkin ketika saya kelas dua atau kelas tiga SD. Saya juga tidak ingat, kapan terakhir kali saya naik Vespa.

Tak banyak kenangan masa kecil yang bisa saya ingat. Apalagi dengan rusaknya foto-foto yang mungkin dapat membantu saya mengingat kejadian-kejadian dalam hidup saya. Tapi, seorang teman KKN yang beberapa hari lagi akan berangkat menuntut ilmu ke Jepang mengenalkan saya pada istilah: mengunci memori. Beberapa kenangan indah di masa kecil yang berhasil saya ingat, saatnya dikunci di sudut-sudut memori untuk suatu saat dibuka kembali. Lewat tulisan ini pula, saya menguncinya. Bukankah seringkali kita bisa tersenyum bahagia hanya dengan mengingat kenangan indah bersama orang yang kita sayangi?



Magelang, 17 September 2017
Ditulis kembali setelah sempet nggak ke-save,
semoga feel tulisannya masih sama
September 17, 2017 No comments
Older Posts

About me

About Me

Live in small and lovely town, Magelang. Enjoy making DIY project, especially hand-embroidery. Really love writing here, share some thoughts, experience, and everything that popping in my mind.

Follow Us

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Popular Posts

  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (3): Pendakian Gunung Ijen
    Setelah puas menikmati pesona Taman Nasional Baluran di Situbondo (seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya), saya sholat kemudian ma...
  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (2): Bacpacker ke Baluran di Musim Hujan
    Setelah kemarin menulis tentang rincian teknis jalan-jalan ke Banyuwangi, kali ini saya hendak menuliskan cerita tentang tempat wisatanya. ...
  • Nasi Goreng, Mimpi, dan Playlist
    Ide untuk membuat tulisan ini sudah terlintas sejak beberapa hari lalu, tapi sengaja saya biarkan mengendap dulu di kepala karena banyaknya...
  • Jalan-Jalan ke Banyuwangi (1): Itinerary, Transportasi, dan Biaya
    Banyuwangi adalah sebuah tempat yang ingin saya kunjungi sejak sebelum KKN. Saya bahkan sudah menggali informasi dari teman kuliah yang sud...
  • Tentang Kerajinan Kristik
    Selain menyulam yang telah saya bahas sebelumnya, di tahun 2018 ini saya juga mulai bikin kristik lagi. Sejauh ini, sudah ada dua kristik y...
  • Perkara Memasak
    Seminggu lebih berlalu setelah Hari Raya Idul Adha dan baru hari ini saya sempat memasak daging kurban. Tak lain, adalah karena pada Hari R...
  • Sebuah Kesempatan: MDP V Net Mediatama Television
    Sabtu sore, seminggu lalu, saya mendapat email dari Net Mediatama (perusahaannya Net TV) yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi administr...
  • [K-Drama] Queen Seondeok: Kisah Cinta Deokman, Kim Yu Shin, dan Bidam
    Sebuah drama yang tanpa kisah percintaan sepertinya akan terasa hambar, sehambar hidup tanpa cinta mungkin #halah maka The Great Queen Seon...
  • [K-Drama] Ringkasan Drama The Great Queen Seondeok: Perjuangan Wanita Meraih Tahta
    [ WARNING : Tulisan ini bakal sangat panjang, karena emang banyak yang harus dibahas dan karena saya begitu antusias. Nggak tahu lagi g...
  • Prangko Edisi Khusus Asian Games 2018 Jakarta-Palembang
    Halo, sudah berapa tahun cahaya saya nggak nulis blog? Ketiadaan materi membuat saya jarang nulis huhuhu, so sad . Kalau ada usulan ide bol...

Labels

  • DIY Project
  • Drama Korea
  • Jalan-jalan
  • KKN
  • Korean Wave
  • Life Story
  • Something Wonderful
  • Thoughts

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (3)
    • ▼  December (1)
      • Overwhelmed
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2022 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  September (5)
    • ►  July (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  October (1)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2018 (29)
    • ►  December (5)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (7)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (35)
    • ►  December (7)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  January (11)
  • ►  2016 (28)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (9)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (38)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (5)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  June (4)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (1)
    • ►  January (11)
  • ►  2013 (46)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  October (9)
    • ►  September (8)
    • ►  August (8)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (6)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (7)
    • ►  December (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
  • ►  2011 (19)
    • ►  October (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (8)
  • ►  2010 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose