twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • ABOUT
  • CATEGORIES
    • DIY
    • TRAVEL
    • THOUGHTS
    • KOREAN WAVE
  • About
  • Contact

a wonderful life

Bulan April ini banyak long-weekend-nya. Selain minggu lalu, minggu ini juga bakal long-weekend, terus minggu depan juga ada long-weekend sampai awal Mei. So, udah punya rencana apa aja untuk ngisi long weekend-mu? Kalau saya pengen solo-travel ke Banyuwangi, udah dari kapan pengen banget tapi yaa itu, takut diculik, takut tersesat dan tak menemukan arah jalan pulang. Akhirnya cuma jadi wacana :3 Makanya saya memutuskan untuk mencoba suatu hal yang baru yang masih agak berhubungan dengan DIY Project yang pernah saya bikin. Kalau waktu itu saya bikin kristik, kali ini saya mau belajar menyulam. Meskipun saya punya proyek kristik on-going yang nggak kelar-kelar.

Sebenernya saya sudah sejak dua minggu sebelumnya belanja bahan-bahan buat menyulam ini, tapi baru sempet bikin pas libur panjang kemarin. Saya beli bahan-bahan dimana lagi kalau bukan di toko jahit hits Magelang; Hosana. Sayangnya, waktu saya kesana, hanya tersedia benang sulam dengan warna terbatas dan warna-warna yang saya inginkan nggak ada. Sebagai Capricorn sejati yang nggak mudah patah semangat, saya pun mencoba nyari benang ke salah satu toko alat jahit di Pasar Rejowinangun, dan ternyata yang saya cari pun cuma nemu beberapa...dan harganya lebih mahal hampir dua kali lipat, tapi nggak apa-apalah demi kebahagiaan haha. Akhirnya barang yang saya perlukan pun sudah ada di tangan.

Tidak seperti kristik yang saya buat berdasarkan berguru pada kanjeng mami, saya belajar nyulam ini dari liatin video tutorial di Youtube. Jadi memadukan hobi vintage dengan kemajuan teknologi digital haha. Menyulam beda sama kristik, kalo kristik benangnya 'cuma' disilang-silang dan kita bisa mengikuti pola yang kita inginkan, menyulam punya beragam macam cara menusukkan jarum dan benang hingga muncul hasil beda-beda. Yang agak susah di saya adalah, menyulam ini butuh skill menggambar pada kain yang mau disulam, bukan dibikin berdasar ngitungin kotak-kotak pada pola kayak kristik, dan karena skill menggambar saya nggak bagus, yaudah seadanya dulu aja. Kemudian...inilah hasil percobaan pertama saya menyulam. What do you think of it?

My first hand-embroidery attempt.

Dalam sulaman itu, saya pakai lima macam tusuk. Mawarnya saya nggak tau nama tusuknya, saya dapat aja gitu dari Youtube (ada banyak cara bikin mawar di Youtube). Sementara daunnya itu namanya fishbone stitch, batang coklat namanya fern stitch, yang biru-biru (sebenernya itu tosca, tapi setelah difoto jadi gitu warnanya) pake lazy daisy stitch, dan kuning-kuning di tengah saya pakai french knot stitch. Ya, ini saya cuma bilang stitches-nya sesuai pedoman Youtube dan download-in PDF lho, bukan sok english, dan bukan saya karang sendiri. Kalau temen-temen (sok-sokan blog-nya dibaca temen-temen banget sih, Rul haha) pengen nyoba yang serupa, silakan bisa gugling pake keyword nama aneka tusuk itu hehe.

Nggak kayak kristik yang bikinnya butuh waktu berbulan-bulan, karena males nggak dikerjain sih sebenernya. Menyulam gini waktunya relatif cepet. Apalagi saya pakai hoop (lingkaran kayunya itu) kecil, diameter sekitar limabelas centimeter mungkin. Saya hanya butuh waktu semalam (jadi yang nggak bener-bener ngahabisin long-weekend juga sih). Tapi, saya seneng akhirnya bisa nyobain bikin sulaman tangan, satu bucket list berhasil dilakukan :) Tentunya, saya jadi makin penasaran bikin sulaman lagi dong, dengan ukuran yang lebih gede pastinya, juga menyelesaikan proyek kristik yang mangkrak itu.

Saya rasa, cukup itu dulu yang saya bagi soal sulam-menyulam ini. Sementara ini skill saya baru bisa sulam ginian, bukan sulam bibir, atau sulam alis. Kalau ada yang jadi tertarik bikin juga, silakan buka aja tutorial di yutub atau mengunduh panduan menyulam versi PDF, ada banyak kok, tinggal pilih. Gambarnya juga bisa kamu kreasikan sendiri, sesuai keinginanmu.
Selamat mencoba, kawan! :D

Magelang, 22 April 2017
April 22, 2017 3 comments
Pagi ini, saya menemukan hal menarik pada homepage Google. Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional, mereka memasang Google Doodle berupa slide show gambar sejumlah wanita dengan anak perempuan mereka. Google Doodle tersebut menginspirasi saya untuk menulis tentang seorang wanita hebat yang menemani selama dua puluh tiga tahun saya hidup, seorang yang selalu berarti 'rumah' tempat memulangkan segala cerita, ialah Ibu.


Pict-source
Bagi setiap anak, Ibu mungkin adalah panutan mereka atau pahlawan mereka, begitu pula bagi saya. Ibu saya hebat, setidaknya dalam sudut pandang saya. Bukan karena beliau adalah menteri, bupati, penyanyi besar, atau semacamnya, tapi Ibu saya hebat in the way she handle her life. Saya lebih menyadari fakta itu akhir-akhir ini, mungkin seiring bertambah luas wawasan, cara berpikir, dan emosi saya. Ya, dulu ketika saya masih kecil Ibu sering menasehati tentang hal-hal yang mungkin nggak logis bagi saya waktu itu, dan selalu yang dikatakan Ibu setelah memberi penjelasan panjang tapi saya tak kunjung paham adalah "sesuk nek wis gede lak ngerti." Pada saatnya, saya mulai paham...sedikit demi sedikit seiring bertambah dewasa. Sorry Mom, it's little bit late :')

Saya kagum pada Ibu dalam hal cara beliau membesarkan kedua anaknya, saya dan adik. Kami berdua tumbuh dengan merasakan sepenuh kasih sayang beliau, tak pernah kurang. Beliau selalu berusaha memenuhi kebutuhan kami tanpa keluhan. Tokoh favorit saya, Kate Middleton, bersama Prince William dan Prince Harry selama ini sering menyuarakan kesehatan mental salah satunya malalui kampanye "Place2Be" yang mengajak dan membiarkan anak-anak mengungkapkan apa yang dialaminya, apa yang mengganggu pikirannya, permasalahan yang dihadapi, dsb. Biar apa? Biar sebagai anak punya teman bicara, biar ada rasa lega setelah mengungkapkan perasaan kita, biar nggak depresi karena memendam masalah. Itulah yang dibiasakan Ibu saya pada saya dan adik saya, sejak kami kecil. Kami selalu terbuka menceritakan apa saja yang terjadi di sekolah, bagaimana pelajaran kami, siapa saja guru-guru dan teman kami, bahkan hingga orang-orang yang kami sukai hehehe. Tak hanya saya, tapi juga adik saya. Mungkin di luar rumah adik tidak terlalu banyak bicara, tapi di rumah dia bercerita banyak hal dan Ibu selalu menyempatkan mendengar cerita kami, menanggapi, memberikan kritik, dan memberi masukan. Saya rasa itu bagus untuk kami, ada komunikasi yang baik antara orangtua dan anak.

Ibu saya bekerja sebagai PNS. Ketika masih TK, saya memang kadang iri melihat kawan yang bisa langsung bertemu Ibunya sepulang sekolah. Sementara saya akan diurus mbak yang merawat saya waktu itu lalu menunggu bus plat merah Pemda lewat, karena...bus itulah yang akan mengantar Ibu saya pulang. Sebagai wanita yang bekerja Ibu saya tak lantas melupakan keluarganya. Ibu tetap menyempatkan mengupaskan buah untuk saya sepulang dari kantor, sambil ngobrol dengan saya kecil. Ibu saya masih sempat mengajar ngaji dan membaca, mewarnai, atau menyanyi setiap selepas maghrib. Jadi, kalau ada yang bilang "Wanita kok kerja? Nggak sayang sama keluarga?" saya sedih mengetahui masih ada yang mikir demikian. Tidak semua wanita yang bekerja melupakan keluarganya, kadang mereka bekerja justru demi keluarganya.

Ketika anak-anaknya sudah mulai tumbuh besar, sudah bisa mengurus dirinya sendiri, Ibu mulai aktif di kampung. Beliau mengajak ibu-ibu di kampung untuk terlibat dalam berbagai kegiatan, terutama para Ibu muda. Perubahan ini begitu terasa, karena kampung kami sebelumnya cenderung 'anteng' tanpa ada aktivitas. Sekarang, kampung kami punya grup rebana ibu-ibu, punya grup senam ibu-ibu, punya bank sampah yang dikelola ibu-ibu, termasuk acara rutin yasinan ibu-ibu. Mungkin memang suatu hal yang sederhana, tapi saya bisa melihat bahwa ibu-ibu muda ini bersemangat mengikuti aktivitas tersebut. Kalau mau ada pengajian-pengajian di kampung, mau besuk orang sakit, mau takziah, kondangan dan sebagainya...itu bikin saya sering di rumah sendiri karena ibu sibuk mengurus ini-itu. Saya pernah bilang, "Perasaan dulu Ibuk nggak sesibuk ini." Lalu Ibuk saya menanggapi, "Dulu kan anak Ibuk masih kecil-kecil, masih repot. Sekarang kan udah pada bisa ngurus diri sendiri." Hmmm...apa yang dilakukan Ibu saya ini juga jadi contoh bagi saya dan adik untuk menyikapi kehidupan bermasyarakat. Ibuk saya selalu menekankan bahwa "srawung" itu perlu, bergaul dengan tetangga itu perlu. Apalagi, kami tinggal di perkampungan.

Ketika dihadapkan pada masalah pribadi, Ibu adalah sosok yang tegar, mungkin demi anak-anaknya. Ibu jarang terlihat menangis di depan kami, Ibu juga tidak suka mengeluh, setelah banyak kejadian tidak menyenangkan yang dialami beliau. Ketika suatu ketika Ibu diberi cobaan penyakit yang cukup keras, beliau bersabar dan nggak patah semangat, bahkan berani 'mengambil risiko' untuk kesembuhannya. Ibu saya memang bukan orang yang sempurna, tapi perjuangan beliau untuk saya dan adik saya adalah suatu hal yang sangat istimewa. Bagi saya, Ibu saya ini kuat, tak hanya dalam menghadapi masalah pribadinya tapi juga dalam menghadapi anak-anaknya. Bagi saya dan adik saya, Ibu-lah yang senantiasa encouraging dan empowering kami sehingga kami dapat tumbuh seperti sekarang. Terimakasih, Buk.

Itulah sedikit cerita tentang Ibu saya, wanita yang selalu hebat dalam benak saya, perjuangannya untuk anak-anaknya. Every mother has her own struggles. So, if maybe they do the different way with your Mom, don't ever underestimate whoever she is...as a mother. I think, being a mother is not an easy thing.
Mungkin ibu teman-teman punya kisah tersendiri, bukan? Apapun itu, salam untuk ibu kalian, wanita yang melahirkanmu dan mungkin berperan besar dalam hidupmu! Semoga sehat selalu...atau mungkin, semoga tenang di sisi-Nya :)



Ditulis mulai 8 Maret 2017 (International Women's Day), tapi belum selesai.
Baru diselesaikan hari ini,
Yogyakarta, 21 April 2017
Selamat Hari Kartini :)
April 21, 2017 No comments
Sebuah tulisan yang agak panjang, ditulis dari sudut pandang saya pribadi (agak curhat dan menghibur diri juga sih sebenernya haha) boleh setuju, boleh tidak. Boleh kasih kritik juga saran yang membangun :)
Memasuki masa transisi, dari dunia perkuliahan ke dunia kerja. Saya dan kawan-kawan seumuran tentu tak bisa lepas dari pembicaraan perihal pencarian kerja, baik sekadar basa-basi atau sungguh-sungguh terlibat percakapan tersebut. Pencarian kerja pun menjadi topik yang kadang agak sensitif dibahas, seperti halnya skripsi pada masanya dulu. Dari obrolan-obrolan itu, saya menemukan beberapa hal yang...mm unik mungkin, diantaranya seperti yang saya tuliskan ini.
Seorang kawan bercerita kepada saya, bahwa ia tak ingin bekerja di satu bidang tertentu karena suatu alasan khusus. Sebuah alasan yang bisa saya pahami. Namun, yang tak bisa saya pahami adalah ketika dia berulang kali mendaftar pada bidang yang dihindarinya tersebut. Hingga akhirnya diterima di dua perusahaan yang kebetulan sama-sama berhubungan dengan bidang yang konon dihindarinya, jadilah dia galau bukan kepalang. Ingin menolak tapi juga ingin segera bekerja, ingin menerima tapi juga tergiur mendaftar di perusahaan lain. Saya menyarankan agar ia mengambil salah satu pekerjaan tersebut, memilih, sholat istikharah. “Jadi, kamu dukung aku kerja di perusahaan itu?” dia merespons dengan nada tak enak, setengah gusar. “Loh, kalau kamu nggak mau kerja disana ngapain kamu daftar?” saya balik bertanya, mungkin terdengar agak jahat. Tapi, begitulah yang ada dalam benak saya. Setiap pekerjaan itu pasti ada risikonya masing-masing, punya kulturnya masing-masing. Bagi saya, kalau dari awal sekiranya sudah tidak sreg dengan perusahaanya, sudah tidak yakin bisa meng-handle risikonya...yaa mending tak usah mendaftar. Biarkan saja kesempatan itu diambil oleh mereka yang lebih siap lahir batin dengan pekerjaan itu. Karena pemikiran yang ‘pilih-pilih’ inilah, seorang kawan berkata kepada saya: “Kamu idealis. Kayak mahasiswa.” Hehe he hehehe saya hanya membalasnya dengan tersenyum. Sejauh ini, setidaknya sejauh ini...prinsip saya memang seperti itu.
Sebagai mahasiswa jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik a.k.a Administrasi Publik, jurusan kami jarang dicantumkan di lowongan-lowongan pekerjaan. Jadilah, kami mendaftar pada lowongan mencantumkan syarat “bachelor degree of any major” alias “semua jurusan”, atau ikut ke Manajemen, itupun masih pikir-pikir dulu sesuai atau tidak. Saya kadang sedih ketika ada kawan sejurusan yang sangat pesimis mencari kerja, “Jurusan kita tuh susah banget.” apalagi kalau ditambah “Kenapa yaa dulu aku nggak kuliah di jurusan A, B, C, saja?” Hmm, ayolah gaess...rezeki udah ada yang ngatur. Semangat yuuk, jangan pesimis! Kadang saya mikir, ini saya yang terlalu selow atau mereka yang terlalu ngoyo? Entahlah. Di tengah jurusan kami yang jarang disebutkan di lowongan kerja, ada seseorang yang kebetulan kuliah di jurusan yang kayaknya favorit semua perusahaan. Dengan kesempatan yang begitu besarnya itu, seseorang berkata “Iya sih jurusanku ada dimana-mana, tapi kalau syarat nggak memenuhi kayak skor TOEFL-ku yang rendah ya sama aja.” Hiks...sedih lagi. Self-improvement kan tanggung jawab setiap individu, TOEFL masih bisa dikejar kok. Bisa les, atau yook belajar dari internet. Banyaakk..sangat banyak panduan TOEFL, dari PDF hingga video-video di Youtube. Tinggal mau usaha atau enggak. Jangan pesimis, tetap optimis! :’)
Yang makin bikin sedih, ada juga yang ngeremehin kerjaan orang. “Si A kan lulusan S1, kok mau kerja disana. Gajinya dikit.” Jujur saya kaget denger kalimat itu. Mungkin, orang yang dimaksud ini nggak cuma semata-mata cari gaji, mungkin passion-nya disitu, mungkin lingkungan kerjanya mendukung dan bikin dia nyaman, atau mungkin juga panggilan hati untuk mengabdi. Orang yang kerja dengan alasan kayak gitu saya rasa bener-bener ada. Apa yang saya pikirkan terbukti benar, ketika saya berkesempatan mengenal si A lebih dekat, ternyata si A ini load kerjanya banyak dan dia bisa handle itu dengan baik, dengan tetep terlihat hepi. Berkat pekerjaan itu, si A ini berkesempatan ketemu orang-orang hebat yang mana ia bisa belajar begitu banyak dari orang-orang yang ditemuinya, memperkaya pengalaman dan pengetahuannya. So...no, we really can’t underestimate someone’s job.
Kalau ketemu orang-orang yang terlalu galau masalah pekerjaan, pesimis, atau underestimate orang lain semacam itu coba didukung, diajak ngomong pelan-pelan. Menurut saya, itu semacam insecurity gitu, maybe they just need a friend to talk to, to made them emotionally secure. Biar dia semangat dan positive thinking. Meski kadang, ketika denger kalimat-kalimat macam itu juga bisa berpengaruh ke pemikiran kita, jadi ikut pesimis, jangan sampai deh ya. Sebisa mungkin jangan banyak ngeluh, kalau kita denger keluhan orang lain aja capek, mestinya orang yang denger keluhan kita pun capek kan? Hehe.
Bukannya kerja nggak ada yang enak ya? Semua ada risikonya. Seorang kawan yang bekerja di tambang batu bara dengan penghasilan yang terbilang besar, ia harus bekerja dua belas jam sehari. Sistemnya pun bukan lima hari kerja, lalu bisa menikmati weekend pada umumnya, tapi tiga belas hari kerja, satu hari off. Teman lain mengunggah pengalamannya bekerja pada perusahaan asuransi di pedalaman Kalimantan. Lewat sosial media ia bercerita bahwa untuk mencapai rumah klien-nya ia harus melewati jalanan yang tak semulus jalanan di Jawa, menyeberang sungai, dan kadang kemalaman hingga harus menginap di rumah warga (karena tidak ada penerangan jalan di malam hari). Tapi ia menikmati itu, senang bisa membantu orang katanya. Ada yang bilang kalau mau enak ya bisnis, bikin perusahaan sendiri? Itupun tak lepas dari risiko kan? Berjuang mempromosikan usahanya hingga adanya kemungkinan merugi. Nggak ada yang enak. We have to take the risk! Semua ada prosesnya masing-masing, nggak ada yang instan :’)
Terakhir, mari tetap semangat memperjuangkan hal-hal baik yang ingin diperjuangkan! Jangan lupa tetap berdoa pada-Nya dan mensyukuri apa yang sejauh ini telah Allah berikan pada kita. Sesekali introspeksi diri juga perlu, berbenah sedikit demi sedikit. We will be very much on time in our own timeline. Tapi ya itu, jangan lelah ikhtiar, belajar buat self-improvement, baca buku, baca artikel, nonton video, atau lewat obrolan positif bareng temen. Semoga impian kita terwujud. Amin.
Magelang, 15 April 2017 | 00:15 WIB
April 15, 2017 No comments

On my way home. Pict by my kid bro pada suatu pagi ketika jalan masih sepi.

Jika Anda berkendara di Jalan Magelang dari arah Jogja pada Jumat sore, niscaya Anda akan menemukan motor-motor ber-plat AA yang belakangnya B/G/K/T berkeliaran searah dengan Anda. Kemungkinan, mereka ini adalah mahasiswa/pekerja yang hendak mudik ke kampung halaman; Magelang. Coba perhatikan, jika di motornya terdapat cantelan totebag, kresek atau semacamnya, kemungkinan besar itu isinya 'kumbahan reget' a.k.a cucian kotor yang mau dicuci di rumah, untuk kemudian dibawa ke Jogja lagi Minggu sore atau Senin paginya. Tentu saja, dengan tambahan jajan atau bekal dari rumah nantinya. Apakah ini hanya terjadi pd saya dan orang2 dekat dalam circle saya? Atau...memang umumnya permagelangan yg sekolah/kerja di Jogja seperti ini? Entahlaah.... Mahasiswa Magelang yang kuliah di Jogja itu memang pada umumnya hampir setiap weekend bakal pulang kampung. Kalau sudah semester akhir, dimana jadwal kuliah sudah nggak terlalu padat, banyak yang akhirnya memutuskan nglaju Jogja-Magelang. Cuma ke Jogja kalau ada bimbingan atau kangen sama temen. Sekali lagi, setidaknya itu yang terjadi pada mayoritas orang di circle saya. Bahkan kakak-kakak sepupu yang dulu kuliah di Jogja pun mengalami hal serupa. Nggak heran, kalau perkumpulan mahasiswa Magelang ini ada ide jualan kaos buat kalangan sendiri, dengan tulisang 'MAGELANG (Mahasiswa Gemar Pulang)' pada bagian depan kaos tersebut hahah. Something true! :D

Bersyukur yaa, rumahnya Magelang dan bisa kuliah di Jogja, kalau kangen rumah cukup sejam perjalanan pulang. Kalo wisuda juga deket dan murah, gak usah beli tiket pesawat, pesen hotel, dsb. Makanya, saya pribadi sangat salut pada kawan-kawan yang rumahnya jauh dan menuntut ilmu ke Jogja. Kalian hebat sekali! Semoga perjalanan kalian selama di Jogja berkah yaa...dan semoga rasa rindu kalian pada rumah selama kalian di Jogja terbayar lunas dengan kesuksesan yang kalian persembahkan untuk Ibu dan Ayah kalian :')

Selamat menyambut akhir pekan! Mari memulangkan cerita, kemana lagi kalau bukan rumah :)


March 31, 2017 No comments
Sabtu sore, seminggu lalu, saya mendapat email dari Net Mediatama (perusahaannya Net TV) yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi administrasi Media Development Program V (MDP V) dan mendapat undangan tes tertulis untuk tanggal 22 Maret 2017. Bekerja di industri media memang menjadi sebuah impian bagi saya sejak kecil. Mungkin banyak yang tanya, lah jurusanmu apa kok daftar Net? Nah, tentang ini Net sendiri sebenernya membuka kesempatan tak hanya buat lulusan komunikasi, broadcasting, dan sejenisnya. Di syarat yang terpampang di web pun tertulis “bachelor degree of any major”. Mungkin, mengelola media selain butuh ilmunya juga butuh passion, komitmen, dan ide-ide segar kali yaa, yang mungkin aja bisa datang dari lintas jurusan ini hehe. Balik lagi ke topik utama, begitu melihat pengumuman lowongan MDP V ini, saya langsung kepo web rekrutmen-nya Net, lalu mendaftar beberapa hari kemudian. Maka, ketika membaca pengumuman undangan psikotes sore itu, saya begitu antusias :)

ID Card untuk tes psikotes di SICC.

If you get a chance, take it! No one said that it would be easy, but it would be worth it! Sebuah quotes yang cukup membekas dalam benak saya yang membuat saya mengambil kesempatan tes MDP V ini, bismillah. Psikotes MDP V hanya diadakan di satu lokasi yaitu Sentul International Convention Center (SICC) Bogor, yang mana saya belum pernah kesana sama sekali. Saya sadar sejak awal, bahwa mendaftar kerja yang lokasi tesnya hanya di Jakarta (kemudian geser ke Bogor) bakal butuh biaya, tapi ini sebuah kesempatan untuk mewujudkan impian. Give it try! Pikir saya waktu itu. Saya pun menghubungi seorang kawan yang dulu juga mendaftar MDP V, syukurlah dia juga lolos. Kami membuat grup yang isinya teman-teman sejurusan yang lolos MDP V. Untuk apa lagi kalau bukan untuk membicarakan masalah transportasi ke lokasi tes. Alhamdulillah, Ibu pun mengizinkan saya berangkat ke Bogor. Malam itu juga, kami memesan tiket kereta. Rencananya kami berangkat berempat dari Jogja (saya, sepupu saya, dan dua orang kawan sejurusan).

Transportasi Jogja – Bogor – Jogja

Setelah tanya-tanya transportasi ke seorang kawan yang cukup expert, kami memesan tiket kereta api Progo jurusan Lempuyangan – Jatinegara seharga Rp125.000. Kereta berangkat Selasa sore pukul 14.30 dan sampai Jatinegara jam 23.30. Teman kami menyarankan agar kami kemudian naik KRL ke Bojong Gede, kemudian naik Grab ke SICC. KRL baru beroperasi pukul enam pagi, berarti kami harus menunggu beberapa jam di Jatinegara. Setelah browsing-browsing info dan memastikan Jatinegara aman untuk bermalam (maklum, kami berempat jarang jalan-jalan jauh) kami pun optimis bakal bobok di stasiun. Tapi kami punya pertimbangan lain beberapa jam sebelum berangkat, yakni bakal naik Grab ke hotel begitu sampai di Jatinegara, dan benar saja kami akhirnya naik Grab dari Jatinegara ke Lorin Hotel. Alhamdulillah masih ada driver Grab yang bersedia mengantar semalam itu. Sekitar satu jam perjalanan Jatinegara – Bogor. Tarifnya? Cukup Rp120.000 (masih dibagi berempat). Kami pun hanya cukup menunggu enam menit setelah turun dari kereta. Plus satu untuk taksi online.

Paginya, dari Lorin Hotel ke lokasi tes di SICC, kami naik Grab lagi. Tarifnya? Cukup Rp15.000 saja. Itupun ga jadi bayar karena kami dapat voucher Rp20.000 hehehe.

Kami sudah memesan tiket pulang juga pada malam yang sama kami pesan tiket berangkat. Biar nggak bingung pulangnya dan biar nggak kehabisan tiket murah heheh. Kami memesan tiket kereta api Progo jurusan Pasar Senen – Lempuyangan dengan harga sama seperti tiket berangat. Usai tes di SICC, sekitar pukul 18.30 WIB, kami mencoba memesan taksi online dari dua aplikasi berbeda. Tapi ternyata susah sekali. Sepertinya ribuan orang yang baru saja mengikuti tes MDP V ini pesen taksi online semua (halah), makanya susah banget dapatnya. Apalagi sinyal di lokasi yang cukup lemah. Syukurlah saya punya kenalan selama tes yang ternyata kakak tingkat se-fakultas, Mbak Ika namanya. Kami kemudian chat via Instagram. Ternyata Mbak Ika sudah dalam perjalanan ke Pasar Senen, dia kemudian membantu kami mencari taksi online lewat bantuan supir taksi online yang dia tumpangi. Terimakasih Mbak Ika dan driver Grab-nya :) Kami pun harus menunggu sekitar tiga puluh menitan karena lokasi driver kami jauh. Tak apalah, semoga masih kesampaian. Taksi online yang kami pesan baru datang ketika waktu mendekati pukul setengah sembilan malam. Pasalnya, kami dan si bapak driver sama-sama bingung mengarahkan tempat ketemu, panjang ceritanya, mana sempat dipalak juga itu bapak drivernya. Tapi syukurlah, berkat si bapak yang memacu mobilnya dengan cukup kencang (tapi sungguh, bapaknya ini nyetirnya enak, jadi nggak ngeri) kami sampai di stasiun Pasar Senen jam sepuluh malam, sekitar setengah jam sebelum jadwal keberangkatan. Leganya, sepanjang hampir delapan jam perjalanan kami habiskan waktu dengan tidur heheh.

Hotel + Makan

Kami menginap di Lorin Hotel di area Sirkuit Sentul, deket banget sama sirkuitnya hingga di pagi hari kami bisa melihat pembalap latihan di Sentul. Sebenernya yang sewa hotel itu teman saya, Lili. Saya dan tiga orang lain yang berangkat bareng, cuma numpang. Tolong nggak usah tanya posisi tidurnya gimana, yang penting ada tempat buat rebahan aja udah alhamdulillah. Perjuangan job seeker lho yaa :’) Lokasi hotel pun cukup dekat dengan SICC, hanya sekitar lima kilometer. Rencananya kami mau patungan bayar hotelnya, tapi ternyata Lili ini nggak mau dikasih uang iuran.Thanks a lot, Lili. Semoga kebaikanmu dibalas Allah SWT :* Nah, karena Lili harus check out jam 12 dari hotel, jadilah kami membawa tas berisi baju, makanan, dll ke lokasi tes which is berat banget apalagi pas antri berdiri, tapi nggak apa-apa. Kami tetap semangat kok!

Sementara makannya, kami sudah bawa bekal roti dan snack dari Jogja. Tapi tentu saja kami butuh sarapan nasi sebelum tes. Nggak lucu kalau tes malah masuk angin karena telat makan kan? Berhubung makanan di hotel harganya bikin ngilu, kami memesan makanan dari luar via GoFood, sarapan (sesungguhnya brunch sih bukan sarapan lagi) makanan cepat saji dengan harga yang lumayan ‘wajar’. Kami hanya makan sekali itu, selebihnya memanfaatkan perbekalan kami (itupun masih sisa sesampainya di Jogja).

Psikotes MDP V

Dari tadi cerita masalah teknis, saatnya cerita apa yang ada di MDP V. Berdasarkan riset yang disampaikan Pak Wishnutama, Net Mediatama Indonesia ini memang termasuk perusahaan yang cukup diminati job seeker, beberapa level di bawah Pertamina dan Telkom. Maka nggak heran ketika pendaftarnya mencapai lima puluhan ribuan. tak hanya datang dari Jawa tapi juga dari Aceh, Banjarmasin, Lampung, dsb. Psikotes hanya dilaksanakan pada Rabu, 22 Maret 2017 dan dibagi dalam dua batch, pukul 09.00 dan pukul 13.00. Saya dan ketiga teman saya mendapat jadwal di batch kedua, sedangan Lili di batch pertama. Kami diharuskan hadir dua jam sebelum waktu tes. Sejak jam 11 kami sudah stand by di SICC dan melihat buanyaaknya pendaftar. Sayangnya, tes batch kedua dilaksanakan cukup ngaret. Pukul tiga kurang saya baru berhasil masuk SICC. Tes sendiri dimulai setelah setengah jam kemudian.

Gate masuk peserta tes, disesuaikan dengan nomor peserta.

The crowd inside SICC. Yes, itu job seeker semua, guys :')

Pesan saya, kalau mau tes kerja apapun, usahakan sarapan dulu dan bawa bekal makanan dan minuman, buat jaga-jaga dari ancaman kelaparan hehe. Kalau sekiranya lokasi tes bakal panas, nggak ada salahnya lho bawa kipas haha.

Piskotes MDP V terdiri atas dua macam: tes pauli  untuk melihat ketahanan kita terhadap tekanan kerja dan tes kepribadian DISC untuk melihat kecocokan kepribadian kita dengan kebutuhan perusahaan.  Bagi saya, ini adalah kali pertama melaksanakan tes pauli, dan saya hanya bisa mengerjakan satu halaman depan ditambah seperempat halaman belakang, sementara Mbak Ika di sebelah saya bisa mengerjakan satu setengah halaman lebih. Mantap sekali ini mbaknya.

Hasil tes psikotes diumumkan sehari kemudian, jika lolos maka kalian akan menghadapi tes psikotes tahap selanjutnya. Berdasarkan ngobrol sama Mbak Ika yang lolos ini sih, tes tahap kedua itu ada tes CIFT, tes fokus, tes ketelitian sama tes kreativitas. Hasil tes tahap kedua ini juga diumumkan sehari setelah pelaksanaan tes yang kemudian diakhiri dengan tes wawancara. So, if you wanna join Net Mediatama, prepare yourself for that kind of test :) Dan inget, pengumumannya berurutan harinya, jadi kalau kamu dari luar kota lokasi tes, prepare yourself to stay longer in Bogor or maybe Jakarta, etc.

Something Wonderful…

Psikotes MDP V ini nggak cuma bikin kita dateng, ikut tes lalu pulang. Pihak panitia juga menghadirkan cast The East dan Ok-Jek ke lokasi acara. Meski dari kejauhan, saya cukup seneng bisa lihat Mbak Gista Putri dan Mas Ibnu Jamil hehe.

Menjelang tes, juga ada stand-up comedy dari para peserta tes. Asli, ini lucu banget. Masnya yang stand-up bener-bener sante pembawaannya, humornya alami, asyik, dan bener-bener mencairkan suasana. Kamu TOP banget, Mas haha.

Yang paling berkesan tentu saja ketika Pak Wishnutama presentasi usai tes dilaksanakan. God, Pak Wishnutama ini sungguh charming! Beliau menyampaikan beberapa hal tentang Net dan cita-cita yang ingin dicapai untuk bikin konten-konten televisi yang berkualitas. Duh, jadi makin ingin terlibat di Net TV. Semacam acara CEO Talk yang diadakan CfDS UGM tapi dengan ruangan yang very much bigger, audiens yang begitu banyak, dan pembicaranya Pak Wishnutama.


"Jika kalian hanya ingin sekedar mencari pekerjaan dan nafkah, Net Mediatama bukan tempat kalian. Tetapi jika kalian mempunyai mimpi besar untuk membuat perubahan yang jauh lebih baik,
ini adalah tempat kalian."

(Pak Wishnutama, CEO Net Mediatama)

Satu hal yang sangat emosional bagi saya adalah ketika Pak Wishnutama memutarkan video behind the scene acara ulang tahun Net TV yang ketiga, SICC menjadi gelap dan video itu dibuka dengan suara rekaman HT Pak Wishnutama yang mengatakan bahwa beliau memimpin langsung acara Net 3.0 tersebut. Masyaallah, saya merinding dan berkaca-kaca, haru, haru, bahagia, entahlah apa namanya. Terserah mau dibilang lebay, but that’s how i feel. Saya merasakan sensasi yang sama ketika dulu pertama masuk Grha Sabha Permana UGM dan disambut sebagai mahasiswa SNMPTN Undangan :”) So…emotional!

Sehari berikutnya, pengumuman tes psikotes untuk ke tahap selanjutnya pun diumumkan. Menjelang maghrib, sepulang dari kantor, kenalan saya selama tes mengabarkan kalau pengumuman sudah keluar dan memberikan file PDF berisi nomor-nomor yang lolos. Sayangnya, saya dan teman-teman saya yang satu hotel belum ada yang lolos psikotes MDP V ini. Tak apa, mungkin belum rejekinya, toh rejeki juga nggak bakal ketukar kan? Saya pribadi cukup bahagia. Tidak, saya tidak kapok sudah sampai Bogor dan belum lolos. Ini justru menjadi pengalaman berharga bagi saya, kesempatan berharga bagi saya. Mungkin saya harus berjuang lebih keras lagi, berdoa lebih giat lagi. Allah punya rencana lain untuk saya, juga untuk teman-teman lain yang mungkin belum lolos MDP V ini. Setelah MDP V, saya justru makin semangat mengikuti tes kerja lainnya. Bismillah! Doakan yang terbaik ya!

Demikian tulisan yang cukup panjang ini saya tulis. Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan atau adik-adik yang ingin mendaftar MDP Net TV tahun depan (mungkin), semoga bermanfaat juga buat ajang silaturahim kawan seperjuangan MDP V yang kali aja nemu tulisan ini hehe. Tetap semangat yaa, good people! :D

Selamat kepada teman-teman yang lolos psikotes MDP V, especially Mbak Ika dan Nabilla (mbak-mbak dari Kediri yang mau bareng ke SICC dari Lorin tapi nggak jadi). Selamat juga kepada kawan-kawan yang lolos hingga akhir, semangat berjuang dan berkarya menyajikan tontonan berkualitas bagi bangsa!
Salam hangat dari saya, Nurul, peserta MDP V :)


Magelang, 27 Maret 2017 | 01.31 WIB
Pasca kemenangan 4 –1 Jerman atas Azerbaijan
(kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Eropa)
March 27, 2017 4 comments

"Beach holiday always sounds good, but sometimes the great adventure is simply a conversation."

March 03, 2017 No comments
Kadang, kehidupan membawa kita pada keadaan yang oleh beberapa orang dikatakan sebagai ‘kurang beruntung’ atau pada keadaan yang terlanjur dilabeli negatif oleh orang kebanyakan. Yaa meskipun yang terjadi sebenarnya juga belum tentu sedemikian buruk. Tapi, benarkah pada keadaan-keadaan yang seperti itu kita benar-benar sedang ‘kurang beruntung’? Mungkin, itu adalah ujian dari-Nya untuk melihat seberapa jauh kesabaran kita, keimanan kita, dan penerimaan kita atas ketentuan-Nya. Memberi kita kesempatan untuk introspeksi dan meningkatkannya. Namun, selalu ada yang patut disyukuri dari keadaan itu, bahwa kita jadi nggak gampang menghakimi orang, karena kita pernah merasakan berada di kondisi tersebut. Kita juga jadi lebih menghargai orang, tidak merendahkan berdasarkan keadaan yang mungkin hanya kita tau sabatas permukaannya saja.

Selamat menyambut bulan baru, stay ‘nguwongke uwong!” :)

Karanggayam, 1 Maret 2017
March 01, 2017 No comments
Ruangan berukuran sekitar lima kali lima meter persegi di lantai dua gedung BA itu menjadi 'kawah candradimuka' (halah) bagi saya. Empat bulan lamanya menimba ilmu lewat kegiatan magang di ruang itu; Kantor Tim Media Fisipol UGM :)

Berawal dari scrolling timeline Line dan melihat pengumuman kesempatan magang di Tim Media pada di akun Line resmi Fisipol, saya yang waktu itu tengah disibukkan dengan persiapan sidang skripsi memutuskan untuk mendaftar. Melengkapi berkas persyaratan yang ditentukan oleh pengumuman yang tertera di OA Line tersebut. Tak ada salahnya mencoba, pikir saya. Apalagi berkecimpung di bidang media informasi selalu menarik bagi saya. Keinginan untuk magang di suatu tempat sebelum menamatkan pendidikan strata satu sebenarnya sudah ada sejak lama. Sempat ingin magang di lembaga tinggi negara atau di televisi swasta seperti beberapa tema, namun saya tak sanggup meminta uang saku kepada orang tua untuk sejenak magang di ibu kota. Oleh karena itu, magang di kampus menjadi pilihan bagi saya. Setelah melewati tes psikotes dan wawancara, akhirnya saya menerima email yang menerangkan bahwa saya diterima magang di Tim Media Fisipol. Alhamdulillah :)

Pertemuan saya dengan Manajer Tim Media, Mbak Ian Agisti adalah pada suatu sore, tepat setelah saya sidang skripsi. Masih dengan dresscode putih hitam, saya menemui beliau di ruang BA 210. Saat itu, saya langsung diberi tugas pertama: melakukan liputan pada acara Smart City Symposium 2016 di Gedung Lengkung Pascasarjana UGM. Dua hari setelah penugasan, saya datang ke acara yang dimaksud (saat itu saya bahkan belum bertemu teman magang saya yang lain). Ternyata, acara ini dihadiri oleh begitu banyak media lokal maupun nasional, bahkan saya melihat mbak-mbak yang tampak begitu keren mengenakan seragam Net TV dan Metro TV. Jujur, saat itu saya agak tegang dan merasa sungguh cupu diantara para jurnalis yang hadir hahaha. Apalagi ketika ada sesi press conference bersama Menteri Dalam Negeri, Dirut Microsoft Indonesia, perwakilan UGM, dan Dekan Fisipol, itu adalah pertama kali saya menghadiri press conference secara langsung sebagai peliput acara. But, i need to learn so fast from them, from the journalist around me. Malamnya liputan acara saya kirimkan ke manajer kami, Mbak Ian. Itulah pertama kalinya, tulisan saya dimuat di website kampus :')

Beberapa hari kemudian, digelar first gathering seluruh peserta magang di kantor kecil kami. Seluruh teman magang adalah orang yang sama sekali baru bagi saya, mungkin ada satu dua orang yang pernah saya lihat beberapa kali di kampus. Tapi saya belum pernah sekalipun berbicara secara langsung dengan mereka. Make new friends in this age sounds great, so...why not? :D Pada pertemuan itu, kami berkenalan, membicarakan gambaran pekerjaan kami nantinya, dan menyusun jadwal workshop. Ya, Mbak Ian memang menggelar beberapa workshop untuk kami dengan pembicara adalah orang-orang yang sudah lama menggeluti bidang media sosial, seperti Mas Andin Rahmana (ACE Hardware), Mas Brama Danuwinata (VML Indonesia), dll. Meski bukan lewat acara workshop khusus, kami juga pernah berbincang-bincang sembari menimba ilmu dari Mbak Amalia Prabowo (CEO Havas Worldwide Jakarta). Minggu-minggu pertama kami pun disibukkan dengan workshop dan perencanaan konten, 'menentukan arah' media sosial yang kami kelola nantinya.




Bersama teman-teman penggemar wafer Rich**se Nab*ti ini, saya belajar begitu banyak hal baru. Dengan background pendidikan Manajemen dan Kebijakan Publik, magang di Tim Media menjadi pengalaman yang sama sekali lain bagi saya. Saya menikmati setiap proses belajar, tak hanya dari workshop, tapi juga dari pekerjaan harian kami di kantor. Dari setiap liputan acara dan wawancara dengan narasumber pun selalu ada hal menarik yang dapat dipelajari. Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan belajar di Tim Media Fisipol, bisa dibilang hampir setiap hari baru berarti mendapat ilmu baru.

Empat bulan terasa begitu singkat ketika hari perpisahan tiba dan ruang BA 210 menjadi saksi kebersamaan kami. Saksi atas pertukaran ide-ide untuk penyusunan sejumlah konten yang kami unggah di berbagai akun media sosial resminya Fisipol, termasuk evaluasinya. Saksi atas canda tawa kami yang semakin hari semakin lepas setelah pada awalnya malu-malu. Saksi rapat suatu campaign, rapat pembuatan video company profile, hingga rapat-rapat rutin lainnya. Bahkan saksi atas keriuhan kami ketika beberapa kali pesanan P*D datang yang kemudian menjadi hening seketika saat potongan-potongan pizza memuhi mulut kami hahaha (yup, ini kawan-kawan sepermagangan doyan pesen P*D). Hingga...saksi atas kegiatan nonton bareng videonya Dek Karin dan Younglex nyanyi "kalian semua suciiiih aku penuh dosaaah..." (termasuk parodi-parodinya) :P

Saya mungkin tak bisa bikin kalimat-kalimat manis atau kalimat yang katanya 'getir' kayak si Oji...but, i just wanna say...terimakasih atas kerjasama dan kebersamaan selama empat bulan yang begitu berharga. Terimakasih pula atas kesempatan yang diberikan kepada saya, bahagia rasanya dapat sedikit berkontribusi untuk fakultas tercinta lewat magang ini. Bersyukur sekali mengenal kalian, sungguh saya telah belajar banyak dari kalian; Mbak Ian, Mbak Arupi, Koko, Diah, Masle, Oji, Indra, dan Taufiq, juga Mas Dana dan Wulan. Semoga pertemanan kita tak berhenti di empat bulan saja, tapi hingga seterusnya. Keep struggling to make your big dreams come true!! Good luck!




Yogyakarta, 24 Januari 2017
Sambil dengerin Boyce Avenue feat. Alex Goot - A Thousand Miles :')
January 26, 2017 No comments
Sedang menikmati makan siang bersama teman-teman, tiba-tiba dipantik oleh kabar bahagia dari seorang kawan, lalu sekali lagi pembicaraan beralih ke tema pernikahan. Pada satu titik, terungkap bahwa si wanita yang baru saja melangsungkan pernikahan tersebut memilih untuk tidak bekerja, beberapa kawan yang ndilalah kebanyakan pria menyayangkan keputusan tersebut. Reaksi yang saya dapat di meja makan siang itu, berbeda dengan reaksi pernah saya dapat ketika mengatakan pada sekelompok kawan lainnya, tentang wanita yang tetap bekerja setelah menikah. Kala itu, saya mendapat reaksi sebaliknya, dimana sekelompok kawan lainnya itu mengatakan kalau wanita sebaiknya di rumah, mengurus suami dan anak-anak, juga orang tua kedua pasangan suami istri.

Menurut saya, hidup adalah pilihan. Dan mau bekerja atau tidak setelah menikah, setiap wanita memiliki pilihannya masing-masing, termasuk bagi saya. Meskipun, pilihan itu nantinya bukan lagi soal keputusan individu tapi keputusan bersama, karena mungkin ada deal-deal tertentu yang harus disepakati kedua belah pihak atas apapun pilihannya. Saya menghargai setiap pilihan dan keputusan yang ditetapkan oleh para pasangan yang telah menikah. Situasi yang dihadapi satu orang dengan orang lainnya pastinya berbeda, dan apa yang mereka hadapi itulah yang akan menjadi alasan bagi setiap wanita untuk bekerja atau tidak bekerja setelah menikah. Bukankah pada akhirnya, bekerja atau tidak, wanita tetap akan pada kodratnya untuk mengurus rumah tangga? Selamat menentukan pilihan :)

Tulisan ini sebenarnya cukup panjang, tapi saya pun memilih...mengunggah dua paragraf itu saya rasa cukup :)

Nation Building Corner
18 Januari 2017
January 18, 2017 No comments

Another Capricorn woman
who is also an ISFJ lady
is celebrating her birthday today.
Happy Birthday, The Duchess of Cambridge!! :*

Stay awesome and good luck with your Kid's Mental Health project :)


January 09, 2017 No comments


Dengan kamera handphone yang nggak terlalu canggih saya mencoba mengabadikan pemandangan itu, Gunung Merapi dan Merbabu dan lautan awan dari Punthuk Gupakan, Borobudur. Foto itu adalah hasil jepretan ketika beberapa hari lalu tiba-tiba diajak seorang kawan buat jalan-jalan di sekitaran Magelang dan saya pun mengiyakan.

Ya, jadi di sekitar Magelang, tepatnya Borobudur sih, banyak terdapat punthuk atau bukit untuk menikmati matahari terbit. Kalau cuaca sedang bersahabat kita akan disuguhkan pemandangan matahari terbit dengan berlatar Gunung Merapi, Merbabu, Telomoyo, Andong, Sumbing, dan jauuuh di lurusnya Andong dan Telomoyo juga tampak puncak gunung, I'm not so sure..but i think that's Gunung Ungaran. Atau, jika malas bangun pagi-pagi...datang saja ke tempat ini untuk sekedar melihat Magelang dari ketinggian. It's so beautiful.

Selain, lokasi ini...masih ada beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi jika suatu saat teman-teman dari luar kota sedang berada di Magelang, atau untuk para warga Magelang yang sekedar ingin melepas kejenuhan. Yuk, ke Magelang :)





January 08, 2017 No comments
Ini dia segerombolan kecil mahasiswa Magelang, mahasiswa gemar pulang (meski beberapa udah nggak mahasiswa lagi sih hehe). Setelah beberapa bulan terakhir sibuk dengan kehidupan masing-masing, ada yang KKN, ada yang sibuk skrispian, sibuk kerja, dan sibuk cari kerja...alhamdulillah hari ini dipertemukan kembali.

Pertemuan kali ini diselenggarakan mumpung salah seorang kawan kami sedang cuti setelah tiga bulan berada di pertambangan batu bara di Muara Teweh, Kalimantan Tengah. Yaa, kapan lagi dia bisa ketemu teman-temannya kalo nggak sekarang. Mengingat dia sudah sibuk di pit, dan cuti-cuti berikutnya siapa tahu bakal sudah sibuk dengan mencari calon istrinya heheh.



Banyak hal-hal seru yang dibahas tadi siang bersama para pejuang jarak ini. Ya, pejuang jarak karena  kebanyakan dari kami memutuskan menglaju Jogja-Magelang ketika memasuki semester akhir. Saya senang, hari ini mendengar cerita tentang KKN di pedalaman Kalimantan yang belum terjamah listrik sama sekali, cerita tentang mesin-mesin tambang batubara (yang kadang bikin saya roaming haha), cerita skripsi yang belum kelar, cerita kuliah praktik, cerita koas, cerita pencarian kerja, hingga guyon-guyon receh lainnya :D

Nggak kerasa yaa, waktu cepet berlalu. Dulu, waktu sama-sama masih di Jogja kalau kami kangen yaa tinggal ngumpul sambil makan atau sesekali jalan-jalan ke pantai-pantai di Gunungkidul. Sekarang, sebagian besar udah sibuk dengan aktivitas masing-masing, beberapa bahkan sudah nggak stay di Jogja. Nggak lama lagi, mungkin bakal misah-misah di seantero Nusantara, atau bahkan sibuk dengan keluarga kecil masing-masing. Momen-momen berkumpul bersama seperti ini pasti bakal kami rindukan. Terimakasih telah meluangkan waktu untuk sejenak melepas rindu, teman-teman. Terimakasih pula buat Ikis atas traktirannya, semoga dibalas dengan kebaikan yang lebih oleh Allah SWT dan semoga rejekinya berkah. Amin :)

See you next time,

Nurul
January 07, 2017 No comments
Ternyata, konsisten menulis sepuluh hari berturut-turut itu susah. Apalagi di tengah banyaknya gawean yang harus dikerjakan. Kemarin-kemarin mungkin sedikit lebih enak karena saya sudah menentukan gambaran mau nulis apa, tapi sayangnya itu cuma berhenti di postingan kelima, karena postingan kemarin sungguhlah seadanya dan itupun di-post pagi-pagi. Sedih :"

Ya, itu sih salahnya saya. Saya baru merancang konten untuk tujuh postingan di self-challange sepuluh hari menulis, jadinya yang tiga keteteran. Dari tujuh ide konten, sudah di-post lima dan yang dua lagi masih melayang-layang di kepala. Pasti akan di-post tapi tidak sekarang. Hari ini, karena bingung mau cerita apa. Saya cerita aktivitas sehari kemarin saja. Kenapa bukan cerita hari ini? Karena hari ini saya cuma di depan komputer, jadi kurang seru diceritain.

Jadi, kemarin saya memulai pagi dengan chat group yang ramai oleh ucapan selamat ulang tahun...di tanggal 5 Januari. Yowislah, rapopo -_-. Hari itu ke Jogja untuk suatu keperluan. Saya sampai di kampus jam setengah sepuluh dan langsung menuju perpustakaan pusat, ada hal yang harus saya kerjakan disana. Lebih tepatnya saya memanfaatkan komputer perpustakaan buat kerja, karena sungguh laptop saya minta diganti biar bisa kerja dengan maksimal, sekaligus saya butuh kerja buat beli laptop. Pelik sekali kan permasalahan ini? Hahaha. Ketika sedang konsentrasi agar angka di dua worksheet MsExcel bisa sinkron, tiba-tiba saya teringat kalau buku saya terbawa oleh seorang teman yang kemarin main dengan saya. Padahal, bakal pulang kampung hari itu juga. Segera saya chat dia, minta bukunya dibalikin. Finally, bukunya dia titipkan ke pacarnya yang siang itu mau mampir kampus. Okelah, saya pun akhirnya ketemuan dengan pacar...pacar orang maksudnya. Urusan buku kelar.

Jam makan siang, saya ada janji dengan seorang teman untuk makan siang di Kantin Teknik. Kenapa saya harus makan siang disana? Tak lain adalah amanat dari dosen untuk 'survei' Kantin Teknik yang Juara I Lomba Kantin Sehat seantero kampus itu. Metyaw bytheway! Meskipun terbiasa maen-maen sendiri, saya nggak mau makan survei sekaligus makan sendirian di Kantin Teknik. Saya takut diculik, takut kena runtuhan bangunan anak civil, takut kepalanya kena crack hammer anak geologi, atau kesetrum anak elektro, hahahaha. Awalnya saya tentu saja minta ditemeni sama sahabat gondrong, tapi dia tengah sangat suntuk karena suatu hal, makanya memutuskan pulang ke rumah malam sebelumnya. Jadilah, saya ditemani oleh salah satu dari sekian banyak orang generous di Tim KKN Seliu. 

Begitu sampai di Kantin Teknik, saya melihat sosok Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) saat KKN dulu, Pak Fatchan. Wah, senang sekali rasanya dapat bertemu kembali dengan beliau. Saya pun 'salim' dengan Pak Fatchan dan ngobrol sebentar, karena nampaknya beliau tengah terburu-buru.

Di Kantin Teknik, saya memesan gado-gado sementara teman saya memesan lotek. Saya nggak tahu, apa gado-gado emang rasanya kayak gitu atau gimana, tapi pas makan saya mikir kalo gado-gado teknik itu rasa dan isinya sama dengan gado-gado Kantin FTP. Apa satu pemilik yaa? Entahlah, cuma rasanya sama. Kalian yang pernah makan gado-gado di teknik sama FTP ngerasa gitu juga nggak? Hehe nggak penting banget yaak pertanyaan saya. Setelah makan, saya sempetin mengambil foto kantin dari berbagai sisi dan ngobrol sama teman saya tentang kantin mereka. Saya akui, Kantin Teknik memang bersih :) Tapi kalau menunya, Kantin Fisipol yang menyabet Juara II Lomba Kantin Sehat lebih variatif heheheh.

Oh iya, teman saya ini membawa teman satu orang lagi yang kemudian makan satu meja dengan kami. Setelah berkenalan, kami bertiga ngobrol biasa. Cerita mulai dari persiapan sidang mereka (iya, mereka lagi mau sidang ceritanya) hingga masalah cari kerja, cerita kecelakaan, dll. Teman baru saya ini friendly person ternyata. Siang itu, sekali jalan saya dapet survei kantin, ketemu Pak Fatchan, ketemu temen KKN, dan punya teman baru. Yaa gitu, menjalankan amanat itu yaa pasti ada hikmahnya juga :) Eh ada lagi, temen saya tiba-tiba ngasih agenda gitu, buat nulis catatan perjalanan saya katanya. Makasih banget yaa, you tau aja saya hobi nulis-nulisin agenda haha.

Usai urusan di Kantin Teknik, saya balik lagi ke perpustakaan pusat. Lanjut lagi ngerjain gawean sampe malem dan lanjut pulang ke Magelang. Menembus Jalan Magelang di tengah hujan (halah!), akhirnya saya sampai rumah sekitar jam delapan lebih seperempat, kemudian...terdampar di kasur. Zzzzz.

Oke, itu saja yang bisa saya tuliskan untuk self-challange #10HariMenulis. Maaf kalau bahasanya nggak kayak biasanya, ini malah kayak curhat hehe. Pesen aja sih, kalau mau bikin proyek nulis marathon gini, mending tentukan dulu ide pokok apa saja yang mau dituliskan selama proyek berlangsung. Demi kesehatan otak dan kesehatan tulisan tetap terjaga, dan biar nggak random gini hahah. #LessonLearned
Dah ya...ini tadi juga maghrib baru sampai Magelang. Sekarang mau bobok dulu, besok mau jogging di Lapangan Supardi. Ikut yuk! Biar badannya kayak Anna Lewandowska :P

Good Night,

Nurul

January 06, 2017 No comments

Karena menyampaikan satu kalimat pujian yang tulus dari hati itu tak mengurangi apapun darimu, and...see that bright smile in their face after you say that simple thing :)
January 05, 2017 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Live in small and lovely town, Magelang. Enjoy making DIY project, especially hand-embroidery. Really love writing here, share some thoughts, experience, and everything that popping in my mind.

Follow Us

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Popular Posts

  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (3): Pendakian Gunung Ijen
    Setelah puas menikmati pesona Taman Nasional Baluran di Situbondo (seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya), saya sholat kemudian ma...
  • Jalan-Jalan ke Banyuwangi (1): Itinerary, Transportasi, dan Biaya
    Banyuwangi adalah sebuah tempat yang ingin saya kunjungi sejak sebelum KKN. Saya bahkan sudah menggali informasi dari teman kuliah yang sud...
  • Sekilas tentang Departemen MKP Fisipol UGM
    Saya adalah mahasiswa semester delapan yang memiliki seorang adik yang tengah menempuh tahun terakhirnya di SMA, bulan-bulan ini ia tengah ...
  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (2): Bacpacker ke Baluran di Musim Hujan
    Setelah kemarin menulis tentang rincian teknis jalan-jalan ke Banyuwangi, kali ini saya hendak menuliskan cerita tentang tempat wisatanya. ...
  • [K-Drama] Queen Seondeok: Kisah Cinta Deokman, Kim Yu Shin, dan Bidam
    Sebuah drama yang tanpa kisah percintaan sepertinya akan terasa hambar, sehambar hidup tanpa cinta mungkin #halah maka The Great Queen Seon...
  • Serunya "Berbagi" Kartu Pos Lewat Proyek Postcrossing
    Postcrossing adalah sebuah proyek online yang memfasilitasi para anggotanya untuk mengirim dan menerima kartu pos dari dan ke seluruh penj...
  • [K-Drama] Ringkasan Drama The Great Queen Seondeok: Perjuangan Wanita Meraih Tahta
    [ WARNING : Tulisan ini bakal sangat panjang, karena emang banyak yang harus dibahas dan karena saya begitu antusias. Nggak tahu lagi g...
  • Mata Najwa on Stage (Metro TV on Campus UGM)
    Kalian tahu Najwa Shihab kan? Jurnalis pinter lagi cantik yang punya acara talkshow berjudul Mata Najwa? Tahu kan? Tahu dong? Ada apa den...
  • A Drama that So Much Impress Me
    Saya tidak banyak menonton drama Korea, beberapa drama yang pernah saya tonton hanyalah Boys Over Flower , The Moon That Embraces The Sun ...
  • [K-DRAMA] Mr. Sunshine: Salah Satu Drama Recommended 2018
    The saddest thing about nonton K-Drama adalah ketika kamu nggak ada temen buat membahasnya. Apalagi kalau genre drama yang kamu suka adal...

Labels

  • DIY Project
  • Drama Korea
  • Jalan-jalan
  • KKN
  • Korean Wave
  • Life Story
  • Something Wonderful
  • Thoughts

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (3)
    • ▼  December (1)
      • Overwhelmed
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2022 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  September (5)
    • ►  July (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  October (1)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2018 (29)
    • ►  December (5)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (7)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (35)
    • ►  December (7)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  January (11)
  • ►  2016 (28)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (9)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (38)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (5)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  June (4)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (1)
    • ►  January (11)
  • ►  2013 (46)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  October (9)
    • ►  September (8)
    • ►  August (8)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (6)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (7)
    • ►  December (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
  • ►  2011 (19)
    • ►  October (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (8)
  • ►  2010 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose