twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • ABOUT
  • CATEGORIES
    • DIY
    • TRAVEL
    • THOUGHTS
    • KOREAN WAVE
  • About
  • Contact

a wonderful life

Berkumpul bersama keluarga KKN Seliu selalu menjadi kebahagiaan tersendiri dan ajang mengisi ulang semangat. Senin lalu, kami memutuskan untuk berkumpul di sebuah kafe hitz di Jogja, jenis kafe yang atas nama penghematan tak akan saya kunjungi jika tanpa mereka haha. Si pemilik kafe ini, tampaknya begitu memahami hasrat anak muda masa kini yang butuh menampakkan eksistensi lewat foto, sehingga bangunan kafe dibuat ala-ala Eropa. Tak ketinggalan, saya dan beberapa teman KKN turut menyempatkan berfoto ala-ala di Cafe Brick ini. Salah satunya adalah foto ini. Tapi lebih lanjut, saya tidak akan membahas tentang kumpul KKN atau kafe, saya ingin bernostalgia.


Captured by Mbak @fitraannisa_

Ketika berada di lokasi dan Mbak Fitra mengambil foto saya, tidak ada perasaan apapun dalam benak saya. Namun, ketika melihat hasil foto ini sesampainya di rumah, foto ini mengingatkan saya pada kenangan belasan tahun lalu, bahkan mungkin hampir dua puluh tahun lalu.

Lima tahun pertama dalam hidup, saya tidak tinggal di rumah yang sekarang saya huni, melainkan tinggal di rumah Mbah Ibu (demikian saya memanggil nenek dari garis Ibu). Letak rumah Mbah Ibu berada di samping masjid kampung kami dan memiliki halaman yang luas. Cukup luas untuk saya berlatih sepeda roda tiga, roda empat, ataupun lari-larian bersama teman-teman kala sore hari. Pun, halaman itu cukup luas hingga Bapak bisa membawa saya naik Vespa setiap pagi.Sebelum berangkat ke kantor, masih memakai sandal japit Bata namun  telah memakai seragam PNS --yang seingat saya, di masa itu berupa atasan krem dan bawahan coklat tua-- Bapak mengajak saya naik Vespa mengelilingi halaman rumah Mbah Ibu barang satu atau dua kali putaran. Mungkin, saat itu saya diajak Vespa untuk menciptakan kebahagiaan pada diri saya sehingga saya nggak nangis waktu Ibu dan Bapak berangkat kerja. You know, children are always obsessed about riding something, right? Include Vespa. 

Jika pada foto yang saya unggah Vespanya berwarna krem dan coklat, Vespa kesayangan Bapak berwarna biru muda...dan tentu saja tanpa ada keranjang dan bunga-bunganya hehehe. Dulu, jika diajak bepergian agak jauh naik Vespa, orang tua saya sangat memperhatikan keselamatan berlalu lintas bagi putri kecilnya. Mungkin, karena Bapak orang Dishub kali ya, sehingga saat berkendara saya selalu dilengkapi dengan helm kecil warna orange, kacamata hitam (saya punya beberapa kacamata dengan warna frame yang berbeda-beda), dan jaket warna pink soft-ungu soft. Hmm...mungkin jaket warna itu adalah trend fashion pada masanya hahaha, yaah mungkin di masa sekarang semacam jaket bomber warna hijau army hehe.

Sebenarnya, saya memiliki beberapa foto masa kecil yang tengah naik Vespa bersama Bapak yang ingin saya unggah bersanding dengan foto mentel di atas. I'm pretty sure, there is no big diffrence about that 'mentel-ness', except I'm a little bit taller now haha. Yaah, dulu saya kalo naik Vespa yaa berdiri di belakang stang itu aman-aman saja, kalau sekarang naik Vespa bareng Bapak lagi dan berdiri di belakang stang yaa gimana yaa hahaha. Sayangnya, foto-foto itu rusak. Foto-foto masa kecil saya memang banyak yang rusak tak terselamatkan. Pun Vespa biru muda Bapak juga sudah tidak ada. Sudah lama Bapak berganti dengan motor Suzuki Shogun. Dua kali Bapak ganti motor dan beliau selalu memilih Shogun. Saya tidak ingat kapan Bapak menjual Vespa itu, mungkin ketika saya kelas dua atau kelas tiga SD. Saya juga tidak ingat, kapan terakhir kali saya naik Vespa.

Tak banyak kenangan masa kecil yang bisa saya ingat. Apalagi dengan rusaknya foto-foto yang mungkin dapat membantu saya mengingat kejadian-kejadian dalam hidup saya. Tapi, seorang teman KKN yang beberapa hari lagi akan berangkat menuntut ilmu ke Jepang mengenalkan saya pada istilah: mengunci memori. Beberapa kenangan indah di masa kecil yang berhasil saya ingat, saatnya dikunci di sudut-sudut memori untuk suatu saat dibuka kembali. Lewat tulisan ini pula, saya menguncinya. Bukankah seringkali kita bisa tersenyum bahagia hanya dengan mengingat kenangan indah bersama orang yang kita sayangi?



Magelang, 17 September 2017
Ditulis kembali setelah sempet nggak ke-save,
semoga feel tulisannya masih sama
September 17, 2017 No comments
Seminggu lebih berlalu setelah Hari Raya Idul Adha dan baru hari ini saya sempat memasak daging kurban. Tak lain, adalah karena pada Hari Raya kemarin saya dan Ibu sama-sama kurang enak badan hingga beberapa hari selanjutnya. Memasuki weekdays, saya dan Ibu sama-sama sibuk di tempat kerja. Sore ini, barulah saya bisa mengolah daging kurban menjadi...rendang hehe. Di sela-sela menumbuk bumbu-bumbu itulah, ingatan dan pikiran saya terbang kemana-mana, tapi tetap tak jauh dari perkara 'memasak'.

Saya ingat ketika masih siswa baru di SMA, kami ada acara masak-masak di sekolah. Dalam rangka acara Pramuka, mungkin persami, atau MOS Pramuka, entahlah...saya lupa tepatnya. Nah, hari itu regu saya memasak makanan yang sangat sederhana: sop. Mungkin, bagi orang yang terbiasa memasak, atau sedang latihan memasak berbekal resep dari google, memasak sop adalah perkara yang mudah. Tapi, ketika harus memasak sop bersama kawan-kawan satu regu...hahaha beberapa kali sempat terjadi perbedaan pendapat. Perkara pakai minyak atau tidak, bumbunya cukup digeprek atau ditumbuk halus, sayur apa dulu yang dimasukkan, dsb. Saat itu, saya menyadari satu hal: bahwa beda ibu, beda pula cara kami memasak. Sesederhana menu sop sekalipun :)

Terjadi lagi ketika KKN dimana tim kami terbagi dalam enam kelompok memasak. Saat itu, kelompok saya kebagian jatah memasak pertama kali. Mungkin di hari kedua setelah kami tiba di Pulau Seliu. Saat itu, salah seorang teman sekelompok saya sempat bad mood, karena cara memasaknya terus menerus dikomentari oleh kawan-kawan lain yang tidak kebagian memasak. Se-simple cara mengiris, cara menumbuk, dan entah apalagi yang dikomentari hingga membuat dia dongkol. Sekali lagi saya diingatkan, bahwa tiap keluarga pasti memiliki cara masak yang berbeda-beda sekalipun menunya sama. Setiap ibu mungkin punya cara memasak sendiri-sendiri yang berbeda, meskipun tidak signifikan.



Ada juga cerita tentang teman saya yang baru belajar memasak yang kebetulan tinggal bersama kawan yang sudah ahli memasak. Tapi, alih-alih membantu agar teman yang baru latihan itu percaya diri dengan masakannya, si ahli memasak justru mengeluarkan komentar yang agak sinis yang pada akhirnya bikin teman yang sedang berlatih ini jadi sebel sekaligus males masak lagi hahaha. Semoga kita nggak mudah patah semangat dalam belajar memasak dan kalau sudah terbiasa semoga bukan jadi merendahkan pada yang baru belajar yaa, hehe.

Saya pun pernah mengalami ketika cara memasak saya ditegur orang, kenapa menumbuk cabe seperti itu, kenapa tidak seperti ini? Kenapa mengupas bawang pakai pisau kalau pakai tangan saja bisa? Kenapa nggoreng ikan seperti itu, bukannya mestinya seperti ini? Kadang kritikan akan cara memasak bisa diterima jika memang itu adalah cara yang mungkin lebih baik, lebih efektif. Tapi di sisi lain saya jadi belajar, bahwa setiap orang mungkin punya caranya sendiri-sendiri. Makanya saya jarang berkomentar kalau lihat orang masak. Karena kadang, itu bisa jadi masalah sensitif hehe. Menghargai cara orang lain memasak akhirnya saya tanamkan pada diri saya sendiri. 

Lalu, entah bagaimana, pikiran saya melayang ke...gimana rasanya masak bareng ibu mertua yaa? Hehehe. Wahai Ibu mertua, sesungguhnya saya sudah sering belajar memasak bersama Ibu saya. Bersyukur sekali saya punya Ibu yang mendukung saya belajar memasak dan menyampaikan kritikan dengan halus. Tapi Bu, masakan saya seringkali tidak fotogenik. Sepertinya sanya harus lebih giat belajar lagi agar foto masakan saya nggak kalah sama masakan Farah Quinn yaa, Bu. Atau ini karena saya tak punya kamera yang mendukung ya, Bu? Saya juga jarang memasak yang aneh-aneh, Bu, yang sulit dan 'ndakik-ndakik'. Sejauh ini saya memasak menu-menu harian, insyaallah cukup untuk memenuhi gizi anak Ibu sekaligus suami saya dan cucu ibu sekaligus anak saya kelak. Tapi, Bu...bila cara memasak saya mungkin berbeda dengan cara Ibu...mohon bimbingannya, Bu. Oh iya, saya akan sangat senang bila bisa memasak bersama Ibu, semoga saat itu saya tidak gugup yang malah jatuhnya jadi careless ya, Bu. :)

Hehehe...entahlah kenapa endingnya jadi seperti ini.
September 10, 2017 No comments
Suatu sore di Masjid Pogung Dalangan, sambil menunggu waktu sholat Maghrib, saya berbincang-bincang dengan seorang kawan. Kami membahas kesibukan kami masing-masing dan berbagi informasi tentang kesibukan teman-teman dalam circle kami. Tiba-tiba teman saya berkata, “Rul, aku udah ketinggalan jauh yaa dari kalian.” Mendengar kalimat itu, saya memandangnya dan mengatakan, “Ojo ngono, kabeh ki ono mangsane dewe-dewe.” (Jangan gitu, semua sudah ada masanya masing-masing).

Sekali lagi dari yang kesekian kalinya, perbincangan bersama teman saya yang satu ini selalu bikin saya kepikiran. Pernahkah kalian menghadapi pemikiran sperti itu, bahwa kita tertinggal jauh dari kawan-kawan kita. Memang kadang kalau lihat pencapaian teman-teman yang telah lebih dari kita, rasanya minder dan yaah kok kita masih disini-sini aja. Temen kita udah bisa berangkatin orang tua umroh, kita masih nabung sedikit demi sedikit. Temen kita udah nikah, kitanya masih jomblo. Temen kita udah kerja di perusahaan besar dengan salary yang bagus, sementara kita masih tertatih menekuni bisnis. Kadang perasaan inferior itu pasti ada. Tapi, temen saya bilang; life is not a race! Saya rasa itu bener adanya. Kehidupan seseorang mungkin adalah hal yang too complicated kalau mau dibandingin satu sama lain. Nggak bakalan bisa apple to apple. Kita memang diminta berlomba-lomba, tapi dalam melakukan kebaikan, bukan dalam siapa yang duluan mencapai tahap apa. Bukan buat minder sama yang pencapaiannya lebih dari kita dan bukan buat sok-sok’an sama yang belum meraih apa yang kita dapatkan saat ini.



Beberapa waktu lalu, saya melihat sebuah video tentang masalah waktu ini yang kemudian jadi viral. Yang saya tangkap dari video tersebut adalah bahwa we are very much on time in our own time-zone. Kita udah on time di jalan hidup kita masing-masing. Menurut saya, berada dalam titik tertentu kehidupan adalah suatu hal yang semestinya disyukuri. Menetapkan langkah dan target-target selanjutnya itu penting, tapi melihat kembali tahapan yang telah kita lalui dan mensyukuri yang sekarang kita miliki pun tak kalah penting. Mungkin di titik ini, di waktu ini, kita justru menemukan jawaban-jawaban atas beberapa hal yang sebelumnya tak kita mengerti. Di titik ini, mungkin kita justru bisa lebih memahami keadaan orang lain, atau bahkan lebih memahami diri sendiri. Semua orang pasti punya perjuangannya masing-masing, punya kebahagiannya masing-masing, kita tak bisa melihat sisi senengnya saja atau sisi minusnya saja. Pastinya selalu ada hal-hal yang selalu dapat kita pelajari.

Semua bakal ada masanya masing-masing, nggak bisa dipaksain. Kalau kita sudah sampai di titik yang orang lain mungkin belum sampai ke situ, tak usah berlebihan berbangga diri. Kalau kita belum sampai pada titik yang kita inginkan sementara yang lain sudah, tak usah berlebihan mengeluh apalagi iri hati. Yang penting tetep jalan terus, keep moving forward, jangan berhenti. Perjuangan yang telah kita lakukan semoga bisa bikin kita lebih syukur lagi sama yang telah diberikan Allah SWT dan target-target kita semoga bisa jadi penyemangat ikhtiar kita. Semoga kita semakin arif memaknai hidup.

Btw, kok saya jadi sok bijak gini ya? Hmm…nggak apa-apa laah ya.
Tulisan ini buat nasehat kepada diri saya sendiri khususnya :)

Paragraf awalnya mulai dibikin 22 Februari 2017,
tapi baru diselesaikan hari ini.
Jelang pertandingan sepakbola semifinal Sea Games 2017
Indonesia vs Malaysia

Magelang | Sabtu, 26 Agustus 2017
August 26, 2017 2 comments
Kadang, kebahagiaan tidak datang dari hal-hal yang besar atau hal-hal yang mewah, kadang kebahagiaan justru datang dari hal kecil, sederhana, namun penuh makna. Beberapa hari lalu, kebahagiaan yang saya dapat berasal dari kertas ukuran 16 x 11 cm. Sebuah kartu pos dari Jerman! Tentu saja hal itu istimewa mengingat Jerman adalah salah satu negara favorit saya (selain Indonesia tercinta tentunya), Jerman adalah salah satu negara yang sangat ingin saya kunjungi suatu saat nanti. Jerman adalah negara selain Indonesia yang saya hafal lagu kebangsaannya (kali aja besok bisa nonton Julian Draxler main di Allianz Arena dalam ajang Euro 2020, biar bisa ikut nyanyi hahaha).
Ich liebe Deutschland :’)

Postcard from Deutschland :')

Kartu pos dari Jerman ini adalah kartu pos pertama yang saya dapat dari luar negeri. Salah satu kastil iconic di Bavaria menjadi gambar mukanya, Neuswchainstein Schloss. Kastil yang konon menginspirasi Walt Disney membangun Sleeping Beauty Castle di Disneyland dan Disneyland Hongkong. Letaknya yang dikelilingi Pegunungan Alpen membuat kastil putih-biru ini tampak semakin menawan. Kastil cantik ini tergolong muda, dibangun abad ke 19. Jauh lebih muda dari rumahnya Kate Middleton dan Prince William, Kensington Palace, yang dibangun tahun 1600-an. Sebagai penggemar royal family, period drama, dan sejenisnya, mendapat kartu pos bergambar istana adalah…istimewa. Neuswchainstein Schloss menjadi salah satu tempat yang ingin saya kunjungi jika ke Jerman suatu saat nanti. Aamin.


Mungkin, bagi sebagian orang mendapat kartu pos seperti yang saya alami adalah biasa saja, terlebih jika mereka orang yang dengan mudah menginjakkan kaki kemana saja yang mereka inginkan, tapi tidak bagi saya. Something from Deutschland will always wonderful. Saya jatuh cinta pada Jerman karena sempat belajar Bahasa Jerman waktu SMA, yaa meskipun sampe sekarang juga nggak pinter Bahasa Jerman –_- Sempet belajar lagi lewat video Youtube Jerman with Jenny, tapi yaa nggak telaten. Paling mentok kepo video menarik tentang Jerman di channel Youtube Get Germanized (karena mas vlogger-nya pakai Bahasa Inggris), itu menarik dan lucu loh, in case kalian pengen nonton juga hehe.

Selain karena belajar bahasa, yang bikin jatuh cinta sama Jerman adalah Die Mannschaft alias Timnas Sepakbola Jerman. Anak-anak asuhan Joachim Loew ini bikin saya terpikat sejak 2010, Piala Dunia di Afrika Selatan (selain timnya Iker Casillas cs). Dan makin terpikat di Piala Dunia 2014 dimana mereka jadi Weltmeister (Juara Dunia) di Maracana Stadium, Rio de Janeiro kala itu. Sepak bola Jerman emang keren banget nggak cuma pas main di lapangan tapi juga dari segi manajemen. Saya pernah baca, akademi sepak bola di Jerman sangat memperhatikan skill individu pemain sejak mereka di usia muda, lalu dididik pelan-pelan buat main kolektif seiring bertambah usia. Tim yang bisa berlaga di divisi utama juga gak cuma harus punya pemain utama oke, tapi punya keuangan yang sehat, punya sponsor memadai, fasilitas memadai, akademi sepakbola memadai, bahkan kalau nggak salah ada jumlah tertentu pemain berkewarganeraan Jerman yang harus dipenuhi. Correct me if I am wrong. Udah gitu sosial medianya mereka juga digarap bagus, ada template khas di setiap postingan dengan desain simple tapi elegan yang saya suka. Jika teman-teman berteman dengan saya di twitter, mungkin kalian bakal menjumpai saya cukup sering me-retweet postingannya Die Mannschaft heheh.



Bastian Scwheinsteiger di Piala Dunia 2014 Brazil.
Berkali-kali jatuh dan dijatuhkan lawan di pertandingan final,
bahkan sampet luka sampe berdarah, tapi terus bangkit, dan terus lari.
Kontrol emosinya juga well sekali.
Finally, Weltmeister!!!


Oh iya, setahun belakangan, saya baca blog seorang warga negara Indonesia yang kuliah di Freie Universität, Mbak Gita Savitri. Saya senang dengan tulisan di blog Mbak Gita yang berbagi cerita tentang kehidupannya di Jerman, kadang juga nontonin vlognya Mbak Gita. Salah satu yang paling menarik adalah tulisan Mbak Gita yang lagi nonton Timnas Jerman berlaga secara langsung di stadion dan vlog-nya dia yang bercerita nonton Timnas Jerman lewat layar besar di Brandenburger Tor bareng warga Jerman lainnya, so terharu liatnya hahaha.


Yah, jadi panjang cerita tentang Jerman deh. Yaa gini kalau saya udah cerita tentang hal yang saya sukai, sering kebablasan hehehe. Balik ke soal kartu pos. Gimana ceritanya saya bisa dapet kartu pos itu? Hahaha saya memintanya tanpa malu-malu kepada teman SMA saya, Doni Achsan, yang sedang mendapat beasiswa Erasmus+ untuk program belajar ke Jerman selama satu semester, tepatnya di Universität Leipzig (pas browsing saya baru tau, ternyata Kanselir Angela Merkel jebolan Uni Leipzig uga). Saya kadang emang ingin dikirimi kartu pos sama temen yang lagi di luar negeri, tapi sering sungkan mintanya hehe. Kalau untuk Jerman, saya nggak sungkan deh minta ke Doni hahaha. Terimakasih sekali buat Doni, the postcard you've sent to me really made my day :') Btw, Doni ini emang super sekali, dia sudah exchange kemana-mana dimulai dari SMA, ketika dia ikut program pertukaran pelajar AFS ke Amerika. Ya, program yang saat itu saya daftar juga tapi nggak lolos hehehe. Jika kalian ingin baca cerita-cerita exchange-nya Doni, silakan baca blognya Doni :)

The notes written by Doni behind the postcard.
Thanks for the sweet wishes :
')

Setelah mendapat kartu pos dari Jerman ini, dan melihat betapa sebuah kartu pos dengan 'surat' atau pesan yang tertulis padanya bisa bikin saya bahagia. Saya jadi ingin memulai hal yang sudah lama ingin saya lakukan tapi masih tertunda, yaitu gabung di Postcrossing. Semacam komunitas internasional yang memungkinkan kita bertukar kartu pos secara random dengan orang di seluruh dunia. Sounds great, right? Something old-fashioned yet mesmerizing. Jujur setelah bertahun-tahun komunitas ini ada, saya baru kenal Postcrossing tahun 2016 lalu ketika saya bareng Tim Media Fisipol mendapat story telling workshop dari Martha Octavia (Toastmaster International) yang juga sharing tentang postcrossing ini. Thanks, Mbak Martha (yang ternyata orang Magelang juga :P) Saya rasa akan menarik, nggak cuma bakal dapet postcard dari banyak negara, saya juga bisa menceritakan sedikit tentang Indonesia lewat kartu pos dan pesannya. Menyimak kisah orang lain lewat kartu pos saya rasa juga bakal jadi pengalaman tersendiri bukan? Jadilah, mulai Agustus ini saya akan mulai join di Postcrossing. Semoga bisa bertahan yaa hehehe.

Sabtu, 05 Agustus 2017 | 11.19 PM
Sorry, it seems like I'm too obsessed with Germany, right? :B
August 05, 2017 No comments
Since I have two email accounts (one for social media which is I rarely check it and the other for professional need) so several days ago I tried to check my second email. Surprisingly I got an email from my friend, I little bit surprised because friends usually send me a message in the other account. It is from Mbak Fitra, and she attached a photo that she took on Hani’s wedding in the beginning of this month. Here is the photo and…I love it so much! Thanks a lot to Mbak Fitra. Your shot just made my day :D


Location: Museum Haji Widayat, Magelang.

This photo was taken after the wedding party had done, about at 1.00 PM. What I like is because my make up still looks good hahaha. In Hani’s wedding, she asked me to be an ‘among tamu’, a person who greets the guest, that’s why I wore something like this. She asked two girl friend to be her ‘among tamu’, me and her college friend, Niswah. We paired with the groom’s boy friend, Afal and...sorry I forget your name, Mas :(. We have to set our makeup at 05.30 AM, while the wedding party begins at 11.00 AM. You know the struggle right? Hahaha. But I love this Makeup Artist Team very much, I think they are so skillful, even I consider them to dolled me up in my wedding day. They let me decide what kind of hijab I want to wear, the didn’t force me to wear a ‘too much’ hijab that people usually wear on their special day (you know what I mean? That hijab style that looks like a snail shell). So I choose this simple yet comfy hjab style :)

The bride and groom using traditional wedding costum from Minang, South Sumatera, in which Hani wore super heavy but really awesome crown called ‘suntiang’, but the ‘among tamu’ wear….oh how I have to call it? Maybe a mix traditional costum, or...what? I wear a traditional Songket as my skirt, but it paired with kebaya as my top outfit, that maybe not so Minang (because Minangese use ‘baju kurung’). Although I don’t like the kebaya color so much (I usually like a bold color than the soft one, by the way), but I think it still looks good hahaha.

I rarely take selfie or upload a selfie photo, but this time I want to upload my selfie here, cause I really love the simple make up hahaha. Sorry for this face expression haha. If you do not know me in person, maybe you often find my smiley photos on social media or blog, but if you ever meet me in person, maybe this face expression is a ‘default set’ that you’ll find, of course I do not put this much make up in my daily activities (moreover about this on point eyebrow hahaha, i even can not draw perfect eyebrow). Sorry, this is not because I mad or something, this is just my face (plus some make-up that was applied by skillful MUA of course haha) :D


I write this post because I really love
the makeup they put that day, hahaha.
Ladies, I know attitude and inner beauty is everything,
but make-up will never hurt you,
even sometimes it makes you a little bit happier.
It's always okay to put some make-up,
not for everyone else but for your own happiness :)

July 22, 2017 No comments
Setelah sekian lama libur dari menulis di blog, hari ini saya sengaja meluangkan waktu untuk kembali berbagi cerita, dan setelah sekian lama itu pula, yang akan saya bahas masih tentang KKN. Kawan, tim KKN yang sudah berkali-kali saya bahas di blog itu menghasilkan satu pasangan yang awet hingga jenjang pernikahan. Tak lain adalah sahabat dekat saya, Hani, yang sejak November tahun lalu telah resmi menjadi istri teman KKN saya, Imad. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Terkadang, dua bulan bukanlah waktu yang singkat untuk cukup memantapkan hati pada satu nama #tsaaah. Cinlok KKN adalah salah satu 'hasil' KKN yang nyata! Haha.

Saya kebagian tugas jadi among tamunya Hani,
bersama sahabat Hani yang lain, Niswah.

Awal Juli ini, Hani dan Imad melangsungkan resepsi pernikahan mereka yang tentunya sekaligus menjadi ajang reuni bagi Tim KKN BBL-11 Pulau Seliu. Resepsi diselenggarakan di Museum Haji Widayat, Magelang dengan adat Minang, mengingat Hani adalah keturunan Minang-Jawa. Saya tak akan banyak menuliskan kata-kata, hanya ingin berbagi sejumlah foto dalam agenda "Kondangan Seliu" ini. Tulisan versi agak panjang mengenai "Kondangan Seliu" ini, izinkan saya berbagi tulisan team leader KKN Seliu, Vempi Satriya yang diunggahnya dalam Facebook, berikut ini:

Reuni Tim KKN BBl-11 dalam Kondangan Seliu.
Minggu, 2 Juli 2017 
Sehari bersama keluarga KKN BBL-11 Pulau Seliu di acara walimahan Hani-Imad, yang keduanya juga merupakan bagian dari keluarga BBL-11. 
Foto-foto ini merupakan dokumentasi acara berjudul "Kondangan Seliu" yang merupakan salah satu output program kegiatan Sub-Program 5: BaPer, yaitu program "Ci(n)lok satu KKN" dan program "Gagal Move On dari kenangan masa lalu". Dimana didalam acaranya berisi walimahan itu sendiri (baik salah satu saja ataupun keduanya yang dari Tim Seliu), reunian, dan halal bi halal serta ajang telling story nostalgila baper seliu, throwback kisah lucu nan menggemaskan selama KKN tahun 2015 silam. 
Program ini dilatarbelakangi oleh rentetan kisah drama dari tiga puluh mahasiswa yang hidup dua bulan bersama di pulau bernama Pulau Seliu. Berawal dari kisah itulah muncul ikatan kekeluargaan yang erat, hingga tingkatan tertingginya adalah ikatan akad nikah antar sesama punggawa BBL-11. Tingkatan ikatan tertinggi tersebut hanya bisa dicapai oleh beberapa orang saja, salah duanya adalah Imad dan Hani ini, yang juga sekaligus menjadi yang korban program yang pertama (ga tahu nanti bakal ada lagi atau enggak wkwk). 
Batas periode penyelesaian program ini adalah tidak ada, karena tidak akan permah dipertanggungjawabkan ke LPPM, atau hingga kita tlah tua nanti kalau kata Project Pop dalam lagu "Ingatlah Hari Ini" yang juga menjadi salah satu MARS Tim Seliu. 
Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin tali silaturahim antar kita semua sekaligus ajang motivasi buat yang lain, agar segera menemukan serpihan tulang rusuk yang telah lama bersembunyi. Haha. 
Semoga acara "Kondangan Seliu" ini bisa berlanjut sampai penobatan kapal yang terakhir sekaligus mengakhiri pergiliran kepemilikan kapal, dan kemudian terus berlanjut hingga kita tua nanti. 
Hani dan Imad bersama Kapal Seliu yang jadi piala bergilir pernikahan Tim BBL-11.
Selamat dan semoga berkah untuk Hani-Imad, semoga rumah tangga kalian senantiasa tangguh mengarungi bahtera kehidupan setangguh Kapal Seliu dalam menaklukkan ombak selat Seliu-Padang Kandis, kuat sekuat Kapal Seliu yang mampu membawa muatan berat dari muatan orang, motor dan segala macam barang2 kebutuhan seluruh warga desa, serta lincah, selincah nelayan-nelayan Seliu yang hasil tangkapan ikannya selalu banyak, dan pasti enak dimasak jadi sayur gangan dan dimakan bareng-bareng dalam nampan (baca: berage).


Sejumlah kawan yang menyempatkan diri mampir ke rumah saya.

Terimakasih juga buat para sponsor, diantaranya Nurul: yang telah menyiapkan penginapan hotel bintang lima nan barakah + layanan korden sarung yang super prima, Ibunya Nurul: yang telah menyediakan konsumsi yang super enak dan melimpah buat kita semua, hingga membuat saya seharian mules kekenyangan, Okta dan Voila: yang sudah menyediakan transportasi Jogja-Magelang PP untuk ibu-ibu PKK Seliu, lalu Zakariya Ahmad Aji Pamungkas yang sudah menyediakan fasilitas gojek antar jemput + fasilitas nonton gratis tinju Pacman vs Jeff Horn (yang akhirnya dimenangkan oleh Jeff Horn), dan juga teman saya Miftakhul Arifin yang telah membantu dalam pengadaan miniatur Kapal Seliu dan setia menemani saya selama touring Magemlang dua hari ini, serta pihak lain yang tidak bisa disebutkan satu-satu. 
Selamat jumpa lagi kawan-kawanku Tim KKN BBL-11 Pulau Seliu. Jangan lupa buat Hani-Imad dan teman2 seliu semuanya, kapalnya itu digilir ya, jangan dipek dewe lho. Biar nanti yang ngepek yang paling terakhir sendiri nikah, makanya kalo pengen memilikinya secara permanen, mending terakhiran aja nikahnya. Hahaha. 
See you guys.
Sekian penjelasan singkat tentang program "Kondangan Seliu" presented by tim KKN UGM BBL-11 Desa Pulau Seliu tahun 2015.
Maturnuwun.

Itulah tulisan team leader KKN Seliu atau yang lazim disebut Kormanit (Koordinator Mahasiswa Unit). Kalau tertarik baca tulisan-tulisan beliau, boleh lho mampir ke blog-nya Vempi.

Sekedar penjalasan tambahan:

  • Lagu Projet Pop yang berjudul "Ingatlah Hari Ini" merupakan salah satu lagu yang kami nyanyikan bersama-sama pada malam perpisahan KKN. Selain itu, kami juga menyanyikan lagu darah Belitung yang berjudul "Berage", sebuah persembahan kecil untuk warga Seliu. Anak-anak Seliu-lah yang mengajari kami menyanyikan lagu tersebut :')
  • Kami membuat miniatur kapal khas Seliu untuk menjadi 'piala bergilir' pada setiap pernikahan anggota Tim KKN Seliu. Hmm...kapan yaa kra-kira kapalnya sampai rumah saya? Hahah.
Oh iya, ada tulisan lain selain dari Vempi, yaitu dari kawan saya yang lain terkait euforia Kondangan Seliu dan sebuah tangkapan layar status Facebook pribadi. Saya dibuat speechless dengan tulisan Choiri di kolom komentar unggahan foto seorang kawan (Ria) ini :') 


"Sometimes pengen kembali waktu baru kenal kalian, jaman menghadiri rentetan rapat tiap malam. Meskipun hal yg paling jauh di hidup kita adalah masa lalu, tapi setiap mengenang masa lalu kita, aku jadi merasa semakin deket sama kalian :')). Dan dalam perjalanan di kereta pulang ke mojokerto kemaren yg tidak se-excited perjalanan berangkat, aku jadi ingin mengulang hari-hari sebelum aku pergi ke magelang. Rasanya tiap hari excited bgt kek ada yg ditunggu tunggu. Setelah direnungkan ternyata yg bikin bergairah adalah harapan ya, harapan yg bikin semangat bgt buat nunggu hari sabtu brgkt ke klaten ketemu kalian. Wahai kawan kawan kuuuh, sejauh apapun nanti kita berpisah dalam jarak geografis, semoga tidak memberikan harapan palsu untuk saling bertemu wkwkwkwkw 😜. Haha semoga tetap ada harapan menjaga silaturahmi yg intim ya, yg nantinya bisa menumbuhkan kerinduan, mengalirkan dan mempertemukan kita bersama ke sebuah muara bernama : keluarga BBL-11 :')). Duh dowo nan. Alay ga sih? whatever lah yg penting ♥ kalian!"


Yaa, Kondangan Seliu ini pun menjadi suatu hari yang saya tunggu-tunggu, seperti halnya Choiri. Tetap semangat menghidupi kehidupan masing-masing, keluarga BBl-11 :)
I will miss you, till we meet again!!




Ruang tamu rumah, 05 Juli 2017
Ketika netizen sedang heboh dengan 
pengumuman pernikahan Song Joong Ki-Song Hye Kyo
Pengumuman pernikahan kita kapan?
July 05, 2017 No comments

Beberapa bulan sebelumnya, kalau berdiri di tempat saya mengambil foto, view yang didapat adalah Pertamina Tower FEB UGM. Tapi, sekarang Pertamina Tower tertutup oleh calon gedung baru berlantai tujuh ini. Konon ini ada basement-nya juga, buat parkiran (?). Kalo beneran, yaa baguslah, nanti anak FEB gak usah parkir jauh-jauh di parkiran Perpus Pusat atau nebeng di basement fakultas kami, kemudian "surat-suratan" di OA Draft SMS hehehe.

Foto ini saya ambil tadi siang, pas dateng ke sidangnya temen KKN di lantai empat. Sore ini, entah sudah tambah berapa persen pengerjaan gedungnya, yang jelas sore ini indah. Cahaya matahari sore menerpa gedung ini. Yellow and...warm. Tahu kan? Jenis sore yang bikin saya ingin ke pantai, jenis sore yang selalu saya suka :')

Ya udah sih, that's all hehe.
Semangat menyambut Ramadhan yaa, maaf lahir batin :)

Yogyakarta, 23 Mei 2017
16.16 WIB
May 23, 2017 No comments
Bulan April ini banyak long-weekend-nya. Selain minggu lalu, minggu ini juga bakal long-weekend, terus minggu depan juga ada long-weekend sampai awal Mei. So, udah punya rencana apa aja untuk ngisi long weekend-mu? Kalau saya pengen solo-travel ke Banyuwangi, udah dari kapan pengen banget tapi yaa itu, takut diculik, takut tersesat dan tak menemukan arah jalan pulang. Akhirnya cuma jadi wacana :3 Makanya saya memutuskan untuk mencoba suatu hal yang baru yang masih agak berhubungan dengan DIY Project yang pernah saya bikin. Kalau waktu itu saya bikin kristik, kali ini saya mau belajar menyulam. Meskipun saya punya proyek kristik on-going yang nggak kelar-kelar.

Sebenernya saya sudah sejak dua minggu sebelumnya belanja bahan-bahan buat menyulam ini, tapi baru sempet bikin pas libur panjang kemarin. Saya beli bahan-bahan dimana lagi kalau bukan di toko jahit hits Magelang; Hosana. Sayangnya, waktu saya kesana, hanya tersedia benang sulam dengan warna terbatas dan warna-warna yang saya inginkan nggak ada. Sebagai Capricorn sejati yang nggak mudah patah semangat, saya pun mencoba nyari benang ke salah satu toko alat jahit di Pasar Rejowinangun, dan ternyata yang saya cari pun cuma nemu beberapa...dan harganya lebih mahal hampir dua kali lipat, tapi nggak apa-apalah demi kebahagiaan haha. Akhirnya barang yang saya perlukan pun sudah ada di tangan.

Tidak seperti kristik yang saya buat berdasarkan berguru pada kanjeng mami, saya belajar nyulam ini dari liatin video tutorial di Youtube. Jadi memadukan hobi vintage dengan kemajuan teknologi digital haha. Menyulam beda sama kristik, kalo kristik benangnya 'cuma' disilang-silang dan kita bisa mengikuti pola yang kita inginkan, menyulam punya beragam macam cara menusukkan jarum dan benang hingga muncul hasil beda-beda. Yang agak susah di saya adalah, menyulam ini butuh skill menggambar pada kain yang mau disulam, bukan dibikin berdasar ngitungin kotak-kotak pada pola kayak kristik, dan karena skill menggambar saya nggak bagus, yaudah seadanya dulu aja. Kemudian...inilah hasil percobaan pertama saya menyulam. What do you think of it?

My first hand-embroidery attempt.

Dalam sulaman itu, saya pakai lima macam tusuk. Mawarnya saya nggak tau nama tusuknya, saya dapat aja gitu dari Youtube (ada banyak cara bikin mawar di Youtube). Sementara daunnya itu namanya fishbone stitch, batang coklat namanya fern stitch, yang biru-biru (sebenernya itu tosca, tapi setelah difoto jadi gitu warnanya) pake lazy daisy stitch, dan kuning-kuning di tengah saya pakai french knot stitch. Ya, ini saya cuma bilang stitches-nya sesuai pedoman Youtube dan download-in PDF lho, bukan sok english, dan bukan saya karang sendiri. Kalau temen-temen (sok-sokan blog-nya dibaca temen-temen banget sih, Rul haha) pengen nyoba yang serupa, silakan bisa gugling pake keyword nama aneka tusuk itu hehe.

Nggak kayak kristik yang bikinnya butuh waktu berbulan-bulan, karena males nggak dikerjain sih sebenernya. Menyulam gini waktunya relatif cepet. Apalagi saya pakai hoop (lingkaran kayunya itu) kecil, diameter sekitar limabelas centimeter mungkin. Saya hanya butuh waktu semalam (jadi yang nggak bener-bener ngahabisin long-weekend juga sih). Tapi, saya seneng akhirnya bisa nyobain bikin sulaman tangan, satu bucket list berhasil dilakukan :) Tentunya, saya jadi makin penasaran bikin sulaman lagi dong, dengan ukuran yang lebih gede pastinya, juga menyelesaikan proyek kristik yang mangkrak itu.

Saya rasa, cukup itu dulu yang saya bagi soal sulam-menyulam ini. Sementara ini skill saya baru bisa sulam ginian, bukan sulam bibir, atau sulam alis. Kalau ada yang jadi tertarik bikin juga, silakan buka aja tutorial di yutub atau mengunduh panduan menyulam versi PDF, ada banyak kok, tinggal pilih. Gambarnya juga bisa kamu kreasikan sendiri, sesuai keinginanmu.
Selamat mencoba, kawan! :D

Magelang, 22 April 2017
April 22, 2017 3 comments
Pagi ini, saya menemukan hal menarik pada homepage Google. Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional, mereka memasang Google Doodle berupa slide show gambar sejumlah wanita dengan anak perempuan mereka. Google Doodle tersebut menginspirasi saya untuk menulis tentang seorang wanita hebat yang menemani selama dua puluh tiga tahun saya hidup, seorang yang selalu berarti 'rumah' tempat memulangkan segala cerita, ialah Ibu.


Pict-source
Bagi setiap anak, Ibu mungkin adalah panutan mereka atau pahlawan mereka, begitu pula bagi saya. Ibu saya hebat, setidaknya dalam sudut pandang saya. Bukan karena beliau adalah menteri, bupati, penyanyi besar, atau semacamnya, tapi Ibu saya hebat in the way she handle her life. Saya lebih menyadari fakta itu akhir-akhir ini, mungkin seiring bertambah luas wawasan, cara berpikir, dan emosi saya. Ya, dulu ketika saya masih kecil Ibu sering menasehati tentang hal-hal yang mungkin nggak logis bagi saya waktu itu, dan selalu yang dikatakan Ibu setelah memberi penjelasan panjang tapi saya tak kunjung paham adalah "sesuk nek wis gede lak ngerti." Pada saatnya, saya mulai paham...sedikit demi sedikit seiring bertambah dewasa. Sorry Mom, it's little bit late :')

Saya kagum pada Ibu dalam hal cara beliau membesarkan kedua anaknya, saya dan adik. Kami berdua tumbuh dengan merasakan sepenuh kasih sayang beliau, tak pernah kurang. Beliau selalu berusaha memenuhi kebutuhan kami tanpa keluhan. Tokoh favorit saya, Kate Middleton, bersama Prince William dan Prince Harry selama ini sering menyuarakan kesehatan mental salah satunya malalui kampanye "Place2Be" yang mengajak dan membiarkan anak-anak mengungkapkan apa yang dialaminya, apa yang mengganggu pikirannya, permasalahan yang dihadapi, dsb. Biar apa? Biar sebagai anak punya teman bicara, biar ada rasa lega setelah mengungkapkan perasaan kita, biar nggak depresi karena memendam masalah. Itulah yang dibiasakan Ibu saya pada saya dan adik saya, sejak kami kecil. Kami selalu terbuka menceritakan apa saja yang terjadi di sekolah, bagaimana pelajaran kami, siapa saja guru-guru dan teman kami, bahkan hingga orang-orang yang kami sukai hehehe. Tak hanya saya, tapi juga adik saya. Mungkin di luar rumah adik tidak terlalu banyak bicara, tapi di rumah dia bercerita banyak hal dan Ibu selalu menyempatkan mendengar cerita kami, menanggapi, memberikan kritik, dan memberi masukan. Saya rasa itu bagus untuk kami, ada komunikasi yang baik antara orangtua dan anak.

Ibu saya bekerja sebagai PNS. Ketika masih TK, saya memang kadang iri melihat kawan yang bisa langsung bertemu Ibunya sepulang sekolah. Sementara saya akan diurus mbak yang merawat saya waktu itu lalu menunggu bus plat merah Pemda lewat, karena...bus itulah yang akan mengantar Ibu saya pulang. Sebagai wanita yang bekerja Ibu saya tak lantas melupakan keluarganya. Ibu tetap menyempatkan mengupaskan buah untuk saya sepulang dari kantor, sambil ngobrol dengan saya kecil. Ibu saya masih sempat mengajar ngaji dan membaca, mewarnai, atau menyanyi setiap selepas maghrib. Jadi, kalau ada yang bilang "Wanita kok kerja? Nggak sayang sama keluarga?" saya sedih mengetahui masih ada yang mikir demikian. Tidak semua wanita yang bekerja melupakan keluarganya, kadang mereka bekerja justru demi keluarganya.

Ketika anak-anaknya sudah mulai tumbuh besar, sudah bisa mengurus dirinya sendiri, Ibu mulai aktif di kampung. Beliau mengajak ibu-ibu di kampung untuk terlibat dalam berbagai kegiatan, terutama para Ibu muda. Perubahan ini begitu terasa, karena kampung kami sebelumnya cenderung 'anteng' tanpa ada aktivitas. Sekarang, kampung kami punya grup rebana ibu-ibu, punya grup senam ibu-ibu, punya bank sampah yang dikelola ibu-ibu, termasuk acara rutin yasinan ibu-ibu. Mungkin memang suatu hal yang sederhana, tapi saya bisa melihat bahwa ibu-ibu muda ini bersemangat mengikuti aktivitas tersebut. Kalau mau ada pengajian-pengajian di kampung, mau besuk orang sakit, mau takziah, kondangan dan sebagainya...itu bikin saya sering di rumah sendiri karena ibu sibuk mengurus ini-itu. Saya pernah bilang, "Perasaan dulu Ibuk nggak sesibuk ini." Lalu Ibuk saya menanggapi, "Dulu kan anak Ibuk masih kecil-kecil, masih repot. Sekarang kan udah pada bisa ngurus diri sendiri." Hmmm...apa yang dilakukan Ibu saya ini juga jadi contoh bagi saya dan adik untuk menyikapi kehidupan bermasyarakat. Ibuk saya selalu menekankan bahwa "srawung" itu perlu, bergaul dengan tetangga itu perlu. Apalagi, kami tinggal di perkampungan.

Ketika dihadapkan pada masalah pribadi, Ibu adalah sosok yang tegar, mungkin demi anak-anaknya. Ibu jarang terlihat menangis di depan kami, Ibu juga tidak suka mengeluh, setelah banyak kejadian tidak menyenangkan yang dialami beliau. Ketika suatu ketika Ibu diberi cobaan penyakit yang cukup keras, beliau bersabar dan nggak patah semangat, bahkan berani 'mengambil risiko' untuk kesembuhannya. Ibu saya memang bukan orang yang sempurna, tapi perjuangan beliau untuk saya dan adik saya adalah suatu hal yang sangat istimewa. Bagi saya, Ibu saya ini kuat, tak hanya dalam menghadapi masalah pribadinya tapi juga dalam menghadapi anak-anaknya. Bagi saya dan adik saya, Ibu-lah yang senantiasa encouraging dan empowering kami sehingga kami dapat tumbuh seperti sekarang. Terimakasih, Buk.

Itulah sedikit cerita tentang Ibu saya, wanita yang selalu hebat dalam benak saya, perjuangannya untuk anak-anaknya. Every mother has her own struggles. So, if maybe they do the different way with your Mom, don't ever underestimate whoever she is...as a mother. I think, being a mother is not an easy thing.
Mungkin ibu teman-teman punya kisah tersendiri, bukan? Apapun itu, salam untuk ibu kalian, wanita yang melahirkanmu dan mungkin berperan besar dalam hidupmu! Semoga sehat selalu...atau mungkin, semoga tenang di sisi-Nya :)



Ditulis mulai 8 Maret 2017 (International Women's Day), tapi belum selesai.
Baru diselesaikan hari ini,
Yogyakarta, 21 April 2017
Selamat Hari Kartini :)
April 21, 2017 No comments
Sebuah tulisan yang agak panjang, ditulis dari sudut pandang saya pribadi (agak curhat dan menghibur diri juga sih sebenernya haha) boleh setuju, boleh tidak. Boleh kasih kritik juga saran yang membangun :)
Memasuki masa transisi, dari dunia perkuliahan ke dunia kerja. Saya dan kawan-kawan seumuran tentu tak bisa lepas dari pembicaraan perihal pencarian kerja, baik sekadar basa-basi atau sungguh-sungguh terlibat percakapan tersebut. Pencarian kerja pun menjadi topik yang kadang agak sensitif dibahas, seperti halnya skripsi pada masanya dulu. Dari obrolan-obrolan itu, saya menemukan beberapa hal yang...mm unik mungkin, diantaranya seperti yang saya tuliskan ini.
Seorang kawan bercerita kepada saya, bahwa ia tak ingin bekerja di satu bidang tertentu karena suatu alasan khusus. Sebuah alasan yang bisa saya pahami. Namun, yang tak bisa saya pahami adalah ketika dia berulang kali mendaftar pada bidang yang dihindarinya tersebut. Hingga akhirnya diterima di dua perusahaan yang kebetulan sama-sama berhubungan dengan bidang yang konon dihindarinya, jadilah dia galau bukan kepalang. Ingin menolak tapi juga ingin segera bekerja, ingin menerima tapi juga tergiur mendaftar di perusahaan lain. Saya menyarankan agar ia mengambil salah satu pekerjaan tersebut, memilih, sholat istikharah. “Jadi, kamu dukung aku kerja di perusahaan itu?” dia merespons dengan nada tak enak, setengah gusar. “Loh, kalau kamu nggak mau kerja disana ngapain kamu daftar?” saya balik bertanya, mungkin terdengar agak jahat. Tapi, begitulah yang ada dalam benak saya. Setiap pekerjaan itu pasti ada risikonya masing-masing, punya kulturnya masing-masing. Bagi saya, kalau dari awal sekiranya sudah tidak sreg dengan perusahaanya, sudah tidak yakin bisa meng-handle risikonya...yaa mending tak usah mendaftar. Biarkan saja kesempatan itu diambil oleh mereka yang lebih siap lahir batin dengan pekerjaan itu. Karena pemikiran yang ‘pilih-pilih’ inilah, seorang kawan berkata kepada saya: “Kamu idealis. Kayak mahasiswa.” Hehe he hehehe saya hanya membalasnya dengan tersenyum. Sejauh ini, setidaknya sejauh ini...prinsip saya memang seperti itu.
Sebagai mahasiswa jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik a.k.a Administrasi Publik, jurusan kami jarang dicantumkan di lowongan-lowongan pekerjaan. Jadilah, kami mendaftar pada lowongan mencantumkan syarat “bachelor degree of any major” alias “semua jurusan”, atau ikut ke Manajemen, itupun masih pikir-pikir dulu sesuai atau tidak. Saya kadang sedih ketika ada kawan sejurusan yang sangat pesimis mencari kerja, “Jurusan kita tuh susah banget.” apalagi kalau ditambah “Kenapa yaa dulu aku nggak kuliah di jurusan A, B, C, saja?” Hmm, ayolah gaess...rezeki udah ada yang ngatur. Semangat yuuk, jangan pesimis! Kadang saya mikir, ini saya yang terlalu selow atau mereka yang terlalu ngoyo? Entahlah. Di tengah jurusan kami yang jarang disebutkan di lowongan kerja, ada seseorang yang kebetulan kuliah di jurusan yang kayaknya favorit semua perusahaan. Dengan kesempatan yang begitu besarnya itu, seseorang berkata “Iya sih jurusanku ada dimana-mana, tapi kalau syarat nggak memenuhi kayak skor TOEFL-ku yang rendah ya sama aja.” Hiks...sedih lagi. Self-improvement kan tanggung jawab setiap individu, TOEFL masih bisa dikejar kok. Bisa les, atau yook belajar dari internet. Banyaakk..sangat banyak panduan TOEFL, dari PDF hingga video-video di Youtube. Tinggal mau usaha atau enggak. Jangan pesimis, tetap optimis! :’)
Yang makin bikin sedih, ada juga yang ngeremehin kerjaan orang. “Si A kan lulusan S1, kok mau kerja disana. Gajinya dikit.” Jujur saya kaget denger kalimat itu. Mungkin, orang yang dimaksud ini nggak cuma semata-mata cari gaji, mungkin passion-nya disitu, mungkin lingkungan kerjanya mendukung dan bikin dia nyaman, atau mungkin juga panggilan hati untuk mengabdi. Orang yang kerja dengan alasan kayak gitu saya rasa bener-bener ada. Apa yang saya pikirkan terbukti benar, ketika saya berkesempatan mengenal si A lebih dekat, ternyata si A ini load kerjanya banyak dan dia bisa handle itu dengan baik, dengan tetep terlihat hepi. Berkat pekerjaan itu, si A ini berkesempatan ketemu orang-orang hebat yang mana ia bisa belajar begitu banyak dari orang-orang yang ditemuinya, memperkaya pengalaman dan pengetahuannya. So...no, we really can’t underestimate someone’s job.
Kalau ketemu orang-orang yang terlalu galau masalah pekerjaan, pesimis, atau underestimate orang lain semacam itu coba didukung, diajak ngomong pelan-pelan. Menurut saya, itu semacam insecurity gitu, maybe they just need a friend to talk to, to made them emotionally secure. Biar dia semangat dan positive thinking. Meski kadang, ketika denger kalimat-kalimat macam itu juga bisa berpengaruh ke pemikiran kita, jadi ikut pesimis, jangan sampai deh ya. Sebisa mungkin jangan banyak ngeluh, kalau kita denger keluhan orang lain aja capek, mestinya orang yang denger keluhan kita pun capek kan? Hehe.
Bukannya kerja nggak ada yang enak ya? Semua ada risikonya. Seorang kawan yang bekerja di tambang batu bara dengan penghasilan yang terbilang besar, ia harus bekerja dua belas jam sehari. Sistemnya pun bukan lima hari kerja, lalu bisa menikmati weekend pada umumnya, tapi tiga belas hari kerja, satu hari off. Teman lain mengunggah pengalamannya bekerja pada perusahaan asuransi di pedalaman Kalimantan. Lewat sosial media ia bercerita bahwa untuk mencapai rumah klien-nya ia harus melewati jalanan yang tak semulus jalanan di Jawa, menyeberang sungai, dan kadang kemalaman hingga harus menginap di rumah warga (karena tidak ada penerangan jalan di malam hari). Tapi ia menikmati itu, senang bisa membantu orang katanya. Ada yang bilang kalau mau enak ya bisnis, bikin perusahaan sendiri? Itupun tak lepas dari risiko kan? Berjuang mempromosikan usahanya hingga adanya kemungkinan merugi. Nggak ada yang enak. We have to take the risk! Semua ada prosesnya masing-masing, nggak ada yang instan :’)
Terakhir, mari tetap semangat memperjuangkan hal-hal baik yang ingin diperjuangkan! Jangan lupa tetap berdoa pada-Nya dan mensyukuri apa yang sejauh ini telah Allah berikan pada kita. Sesekali introspeksi diri juga perlu, berbenah sedikit demi sedikit. We will be very much on time in our own timeline. Tapi ya itu, jangan lelah ikhtiar, belajar buat self-improvement, baca buku, baca artikel, nonton video, atau lewat obrolan positif bareng temen. Semoga impian kita terwujud. Amin.
Magelang, 15 April 2017 | 00:15 WIB
April 15, 2017 No comments

On my way home. Pict by my kid bro pada suatu pagi ketika jalan masih sepi.

Jika Anda berkendara di Jalan Magelang dari arah Jogja pada Jumat sore, niscaya Anda akan menemukan motor-motor ber-plat AA yang belakangnya B/G/K/T berkeliaran searah dengan Anda. Kemungkinan, mereka ini adalah mahasiswa/pekerja yang hendak mudik ke kampung halaman; Magelang. Coba perhatikan, jika di motornya terdapat cantelan totebag, kresek atau semacamnya, kemungkinan besar itu isinya 'kumbahan reget' a.k.a cucian kotor yang mau dicuci di rumah, untuk kemudian dibawa ke Jogja lagi Minggu sore atau Senin paginya. Tentu saja, dengan tambahan jajan atau bekal dari rumah nantinya. Apakah ini hanya terjadi pd saya dan orang2 dekat dalam circle saya? Atau...memang umumnya permagelangan yg sekolah/kerja di Jogja seperti ini? Entahlaah.... Mahasiswa Magelang yang kuliah di Jogja itu memang pada umumnya hampir setiap weekend bakal pulang kampung. Kalau sudah semester akhir, dimana jadwal kuliah sudah nggak terlalu padat, banyak yang akhirnya memutuskan nglaju Jogja-Magelang. Cuma ke Jogja kalau ada bimbingan atau kangen sama temen. Sekali lagi, setidaknya itu yang terjadi pada mayoritas orang di circle saya. Bahkan kakak-kakak sepupu yang dulu kuliah di Jogja pun mengalami hal serupa. Nggak heran, kalau perkumpulan mahasiswa Magelang ini ada ide jualan kaos buat kalangan sendiri, dengan tulisang 'MAGELANG (Mahasiswa Gemar Pulang)' pada bagian depan kaos tersebut hahah. Something true! :D

Bersyukur yaa, rumahnya Magelang dan bisa kuliah di Jogja, kalau kangen rumah cukup sejam perjalanan pulang. Kalo wisuda juga deket dan murah, gak usah beli tiket pesawat, pesen hotel, dsb. Makanya, saya pribadi sangat salut pada kawan-kawan yang rumahnya jauh dan menuntut ilmu ke Jogja. Kalian hebat sekali! Semoga perjalanan kalian selama di Jogja berkah yaa...dan semoga rasa rindu kalian pada rumah selama kalian di Jogja terbayar lunas dengan kesuksesan yang kalian persembahkan untuk Ibu dan Ayah kalian :')

Selamat menyambut akhir pekan! Mari memulangkan cerita, kemana lagi kalau bukan rumah :)


March 31, 2017 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Live in small and lovely town, Magelang. Enjoy making DIY project, especially hand-embroidery. Really love writing here, share some thoughts, experience, and everything that popping in my mind.

Follow Us

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Popular Posts

  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (3): Pendakian Gunung Ijen
    Setelah puas menikmati pesona Taman Nasional Baluran di Situbondo (seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya), saya sholat kemudian ma...
  • Jalan-Jalan ke Banyuwangi (1): Itinerary, Transportasi, dan Biaya
    Banyuwangi adalah sebuah tempat yang ingin saya kunjungi sejak sebelum KKN. Saya bahkan sudah menggali informasi dari teman kuliah yang sud...
  • Sekilas tentang Departemen MKP Fisipol UGM
    Saya adalah mahasiswa semester delapan yang memiliki seorang adik yang tengah menempuh tahun terakhirnya di SMA, bulan-bulan ini ia tengah ...
  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (2): Bacpacker ke Baluran di Musim Hujan
    Setelah kemarin menulis tentang rincian teknis jalan-jalan ke Banyuwangi, kali ini saya hendak menuliskan cerita tentang tempat wisatanya. ...
  • [K-Drama] Queen Seondeok: Kisah Cinta Deokman, Kim Yu Shin, dan Bidam
    Sebuah drama yang tanpa kisah percintaan sepertinya akan terasa hambar, sehambar hidup tanpa cinta mungkin #halah maka The Great Queen Seon...
  • Serunya "Berbagi" Kartu Pos Lewat Proyek Postcrossing
    Postcrossing adalah sebuah proyek online yang memfasilitasi para anggotanya untuk mengirim dan menerima kartu pos dari dan ke seluruh penj...
  • [K-Drama] Ringkasan Drama The Great Queen Seondeok: Perjuangan Wanita Meraih Tahta
    [ WARNING : Tulisan ini bakal sangat panjang, karena emang banyak yang harus dibahas dan karena saya begitu antusias. Nggak tahu lagi g...
  • Mata Najwa on Stage (Metro TV on Campus UGM)
    Kalian tahu Najwa Shihab kan? Jurnalis pinter lagi cantik yang punya acara talkshow berjudul Mata Najwa? Tahu kan? Tahu dong? Ada apa den...
  • A Drama that So Much Impress Me
    Saya tidak banyak menonton drama Korea, beberapa drama yang pernah saya tonton hanyalah Boys Over Flower , The Moon That Embraces The Sun ...
  • Sebuah Kesempatan: MDP V Net Mediatama Television
    Sabtu sore, seminggu lalu, saya mendapat email dari Net Mediatama (perusahaannya Net TV) yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi administr...

Labels

  • DIY Project
  • Drama Korea
  • Jalan-jalan
  • KKN
  • Korean Wave
  • Life Story
  • Something Wonderful
  • Thoughts

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (3)
    • ▼  December (1)
      • Overwhelmed
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2022 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  September (5)
    • ►  July (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  October (1)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2018 (29)
    • ►  December (5)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (7)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (35)
    • ►  December (7)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  January (11)
  • ►  2016 (28)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (9)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (38)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (5)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  June (4)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (1)
    • ►  January (11)
  • ►  2013 (46)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  October (9)
    • ►  September (8)
    • ►  August (8)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (6)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (7)
    • ►  December (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
  • ►  2011 (19)
    • ►  October (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (8)
  • ►  2010 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose