twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • ABOUT
  • CATEGORIES
    • DIY
    • TRAVEL
    • THOUGHTS
    • KOREAN WAVE
  • About
  • Contact

a wonderful life

Dua puluh sembilan hari di bulan kedua yang terlewat begitu saja, tanpa meninggalkan satu catatan pun dalam blog saya. Hal itu tidak lantas berarti saya berhenti menulis selama sebulan, saya tetap sempat menulis catatan pendek di Tumblr kok, silakan dibaca di sini. Sesekali juga 'berkicau' di jejaring sosial Twitter yang sudah saya buka gemboknya tanggal 09 Februari lalu (jangan lupa follow yaa haha). Bulan lalu banyak kejadian dan kesibukan yang membuat saya harus vacuum sementara dari blog dan di awal Maret ini izinkanlah saya me-review sejenak tentang dua puluh sembilan hari lalu :)

Saya memulai bulan kedua di tahun 2016 dengan touring bareng Hani. Kami mengunjungi Gereja Ayam (sebenernya itu bentuk Merpati) di Borobudur lalu ke Hutan Pinus di Kragilan, Pakis. Tidak jauh memang, tapi cukuplah untuk memenuhi hasrat jalan-jalan setelah sekian lama tidak main bareng. Lokasi yang kami tuju pun merupakan lokasi yang cenderung pasaran dan dapat dengan mudah ditemukan di akun media sosial remaja hitz masa kini hehe. Tapi tentu saja, kami sempatkan browsing informasi mengenai lokasi wisata tujuan kami, agar sampai sana tidak bego-bego amat dan nggak sekedar foto-foto. Aaah, boro-boro foto-foto hitz, kami mah apa, maen berdua aja kesusahan foto bareng karena gak punya tongsis, lupa bawa tripod, dan ga ada kamera ciamik hahaha. Meski begitu, touring cantik lintas kecamatan ini tetap seru, apalagi didukung dengan ban bocor dan pulangnya kehujanan deras haha.

Di 'mahkota' Gereja Ayam | 01 Februari 2016.

Pinus Top Selfie Kragilan, Pakis | 01 Februari 2016
Black, for Dauntless Faction :P

Tak ada tongsis, tangan pun jadi.

Tak ada tripod, minta tolong mbak-mbak yang lagi pacaran pun bisyaa.

Tak hanya jalan-jalan, bulan Februari ini juga menunjukkan progres yang bagus bagi kelangsungan riset saya sebagai mahasiswa tingkat akhir. Alhamdulillah. Apalagi Kantor Departemen MKP yang baru saja pindah di Bulaksumur sangat nyaman, enak buat bimbingan, dan fotogenik (halah). Semoga bulan-bulan selanjutnya tetap diberi kekuatan dan kemudahan untuk mengerjakan riset ini. Oiya, sedikit berbagi cerita, bagi mahasiswa tingkat akhir yang skripsinya dihadapkan dengan dosen yang terkenal galak, entah sebagai pembimbing atau penguji...tenang saja gaess. Tetep doa, tetep positive thinking, tetep semangat. Seringkali Allah justru memberikan kejutan berupa kebaikan yang tak terduga lewat dosen 'galak' tersebut. Percayalah, dosen pasti menginginkan yang terbaik untuk mahasiswanya kok :)

Tidak full-team, satunya sibuk, satunya absen (jahaaatt~)
Berasa foto studio.
Kantor Departemen MKP, Gedung BC lt.4, Fisipol UGM.

Februari juga bulannya orang-orang wisuda. Dari Departemen (iya, sekarang kosakata Jurusan diganti dengan kata Departemen) Manajemen dan Kebijakan Publik (MKP) angkatan 2012 sendiri ada tiga teman yang wisuda, yaitu Salsa, Cita, dan Anin. Manis sekali ketika teman-teman seangkatan membuatkan spanduk bertuliskan "Chi Trova un Amico, Trova un Tesoro" untuk menyambut para wisudawati ini, saya jadi baper pengen wisuda hihi. Temen maen seper-Magelang-an juga ada yang wisuda, Ananda Mutiara, sang calon dokter gigi yang sekarang sedang sibuk koas. Nah, bagi teman-teman yang ada masalah mulut dan ingin konsultasi/periksa mungkin bisa komen disini atau mention/DM di Twitter saya, nanti biar saya sampaikan Nanda. Dia lagi nyari pasien soalnya hehe. Eh, ini serius lho. Salah satu anggota keluarga BBL-11 juga baru saja meraih sarjana hukum, dialah Bang Ipe a.k.a Risyad Isman, putra Betawi asli yang tiba-tiba ngasih jersey Real Madrid warna pink ke saya hahaha. Tak terlupakan laah moment itu. Makasih yaa, Bang :D Terakhir, teman saya yang meraih sarjana adalah Febri Nugroho, S.E. anak Banjarnegara yang pernah naik Lawu bareng saya, yang menghabiskan waktu tiga setengah tahun menuntut ilmu Akuntansi di UMY. 

Salsa, S. IP., Cita, S. IP., dan Anin, S. IP.
Bang Ipe, S. H.
Nanda, S. Kg.

Febri Nugroho, S.E.

Wuhuuuu...selamat untuk teman-temanku yang baru saja meraih gelar sarjananya, saya ikut berbahagia. Semoga ilmunya berkah dan bermanfaat, sukses selalu untuk kalian. Hmm...satu pertanyaan level: "kapan lulus?" sudah terjawab, semoga teman-teman senantiasa diberi kekuatan untuk menjawab pertanyaan level selanjutnya: "kapan nikah?" hihihi.

Di penghujung bulan Februari, sempat ada kejadian kurang menyenangkan yang menimpa. Cobaan dari Allah, semoga semakin menguatkan iman kita amin. Alhamdulillah, permasalahan tersebut selesai tepat tanggal 29 Februari 2016 :)

Itulah sekelumit dari sekian banyak cerita tentang bulan kedua di tahun kabisat ini. Semoga senantiasa dapat mengambil hikmah dari begitu banyak kejadian satu bulan lalu. Terimakasih untuk sahabat, kawan, dan orang-orang yang telah membantu saya melewati perjuangan, cerita indah, bahkan saat-saat sulit yang saya lewati di penghujung bulan kedua pada usia dua puluh dua ini. Jazakumullahu ahsanal jaza' :)

Kamar Mamah | 01 Maret 2016
Alhamdulillah sampai rumah
March 01, 2016 No comments
Allah selalu ada bersama kita, dalam setiap langkah kita
Termasuk langkah dalam menggapai cita....
Ini adalah sebuah kisah untuk jangan pernah berhenti mengukir impian dan cita...

Beberapa waktu lalu saya meluangkan satu hari untuk menata ulang blog, mulai dari tema blog, menggolongkan tulisan dalam label-label tertentu, dan mengedit beberapa tulisan lama. Dari situlah saya membaca kembali beberapa tulisan yang telah saya posting. Tidak terasa sudah enam tahun saya menulis di blog, meskipun tidak secara rutin. Saya menulis blog sejak tahun 2010, ketika saya masih duduk di bangku kelas X SMA. Postingan pertama di blog ini adalah perkenalan, dilanjutkan tulisan berjudul Meraih Mimpi yang menceritakan saya yang tengah mengejar impian. Postingan itulah yang menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini.

Mimpi apakah yang sedang berusaha saya raih pada Mei 2010 sehingga saya mengunggah tulisan Meraih Mimpi di blog? Kalau teman-teman klik link tersebut lalu membaca tulisan itu, pasti menemukan kalimat "belajar ke luar negeri". Ya, saya sedang berjuang untuk belajar keluar negeri. Terinspirasi dari kakak kelas saya waktu SMA, Mbak Bunga Carnadia yang baru saja pulang dari mengikuti pertukaran pelajar di Amerika Serikat. Mbak Bunga ini memicu semangat adek-adek kelas untuk mengikuti pertukaran pelajar yang diselenggarakan Bina Antarbudaya. Saya tidak ingat kapan tepatnya bertemu Mbak Bunga, atau mungkin berawal dari mendengar namanya dari teman-teman di Sibema, karena Mbak Bunga juga alumni Sibema. Entahlah~

Museum Kata Andrea Hirata.

Apa yang memotivasi saya untuk belajar keluar negeri? Jawabannya adalah: beberapa novel Teenlit terjemahan dari luar negeri yang saya baca dan novel tetralogi Laskar Pelangi. Novel-novel yang saya baca sejak SMP. Bukankah novel Laskar Pelangi begitu fenomenal kala itu? Novel yang berlatar di Belitung, tempat asal penulis Andrea Hirata, membuat saya yang jarang mendengar pulau itu menjadi tau sedikit tentang Belitung. Tapi yang paling membuat saya termotivasi adalah Edensor yang bercerita tentang perjalanan Andrea Hirata belajar di Sorbonne, Perancis. Entah berapa kali saya membaca novel-novel tetralogi itu. Terlepas dari apakah cerita-cerita itu hoax atau tidak, Edensor benar-benar membuat Nurul kecil bermimpi untuk merasakan pendidikan di luar negeri, hidup jauh dari keluarga dan kerabat.

Kembali ke seleksi pertukaran pelajar, saya mendaftarkan diri sebagai calon peserta pertukaran pelajar Bina Antarbudaya. Calon peserta yang diseleksi pad tahun 2010 ini nantinya akan diberangkatkan tahun 2011, mengingat proses seleksi yang bertahap dan lama. Ada beberapa program yang ditawarkan Bina Antarbudaya, ada JENESYS untuk summer camp di Jepang dan YES untuk pertukaran pelajar selama satu tahun di Amerika Serikat. Saya memilih program YES dalam berkas pendaftaran. Alasan saya memilih program YES adalah karena program ini mengutamakan siswa yang berasal dari negara berpenduduk mayoritas muslim, dengan mengikuti program ini saya berharap bisa memberikan gambaran akan indahnya Islam kepada pelajar asing di Amerika, bahwa mindset yang menyatakan Islam identik dengan teroris tidaklah benar, bahwa Islam adalah agama yang damai. Tidak muluk-muluk, mulai dari memberikan pemahaman itu kepada orang di sekitar saya nantinya. FYI, selain membaca novel yang saya sebutkan sebelumnya saya juga gemar membaca novel Islami, bahkan sejak SD ibu sering membelikan buku cerita Islami untuk saya :)


Kartu Peserta Seleksi Pertukaran Pelajar Bina Antarbudaya

Kalau tidak salah ada 12 orang dari Smansa. Jujur, sebenarnya saya sempat berkecil hati karena ada salah seorang kawan yang meremehkan. Ya, saya tau dia dengan segudang prestasi dan apalah saya siswa baru yang berasal dari SMP pelosok hehe. Tapi hal itu tidak lama, kalimat-kalimat meremehkan dari kawan saya justru menjadi pemicu semangat. Nyatanya, teman saya itu bahkan mendaftar seleksi saja tidak hehe. Saya dan sebelas teman lain mengikuti seleksi Bina Antarbudaya wilayah Jawa Tengah yaitu Chapter Semarang, atau tepatnya di SMP N 3 Semarang.

Saya mengikuti seleksi tahap pertama berupa tes tertulis, seingat saya ada tes pengetahuan umum, tes mata pelajaran, tes Bahas Inggris, psikotes, dan menulis essai. Sambil terus berdoa saya mengerjakan satu demi satu soal tes. Alhamdulillah saya termasuk dalam 155 siswa yang lolos tahap kedua dari total 677 pendaftar, dari Smansa (lagi-lagi seingat saya, maklum sudah lama sekali) ada tujuh orang yang lolos.

Brosur Bina Antarbudaya dan Pengumuman Lolos Seleksi yang masih saya simpan.
Pengumuman Lolos Seleksi Tahap Pertama

Seleksi tahap kedua adalah wawancara, ada wawancara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pada tahap ini, kami juga diperbolehkan menampilkan bakat atau keterampilan di depan pewawancara. Saat itu, ada dua orang dari Indonesia dan seorang bule wanita berkebangsaan Jerman yang mewawancara. Saya menceritakan diri saya, keseharian, dan motivasi mengikuti pertukaran pelajar. Dalam kesempatan tersebut saya menarikan Tari Merak di hadapan pewawancara, alhamdulillah di Smansa ada mata pelajaran Seni Tari sehingga saya bisa menari meskipun masih kaku. Tari Merak cukup membuat Schalke, nama si bule pewawancara bahagia hehe. Berhubung bule ini berkebangsaan Jerman, dan saya juga belajar Bahasa Jerman di sekolah, tak lupa saya sedikit mengajak bicara si bule cantik dengan Bahasa Jerman :) Sekali lagi, Allah Maha Baik, saya lolos seleksi tahap kedua dan melanjutkan seleksi tahap ketiga.

Seleksi tahap ketiga ini sekitar tiga puluhan siswa yang tersisa, tahap ini adalah tahap terakhir sebelum seleksi tahap nasional dimulai. Kami dibagi dalam beberapa kelompok kecil, di depan kami ada beberapa macam peralatan dan bahan, kami diminta membuat sesuatu dari alat dan bahan tersebut secara bersama-sama. Ya, tahap ini adalah FGD untuk menilai kekompakan kami. Sayangnya, jalan saya meraih beasiswa YES harus terhenti di tahap ketiga, satu langkah sebelum seleksi nasional. Saya tidak lolos tahap ini. Tidak apa-apa, Allah SWT mungkin tengah menyiapkan rencana lain yang lebih baik untuk saya. Hingga tahap terakhir seleksi pertukaran pelajar Bina Antarbudaya ini, hanya satu orang dari Smansa yang lolos program YES dan setahun tinggal di Amerika, yaitu Rizqika Edni Doni Achsan, yang sekarang tengah menempuh studi S1 di Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik UGM.

Itu sedikit cerita tentang seleksi pertukaran pelajar yang saya ikuti bertahun-tahun lalu. Ya, saya memang belum ditakdirkan untuk belajar di luar negeri. Belakangan saya ketahui dari pengakuan Ibu sendiri, bahwa saat itu Ibu agak keberatan namun tak tega mengatakan kepada saya. Beliau belum sanggup melepas anaknya untuk belajar jauh di Amerika. Dari sini saya menyadari, the power of restu Ibu. Restu dan doa ibu adalah segalanya. Meski begitu, Allah telah benar-benar baik kepada saya dengan memberi kesempatan mengikuti seleksi hingga lolos tahap ketiga. Gusti Allah Mboten Sare (Allah Tidak Tidur) karena kuasa-Nya laah, saya mendapat begitu banyak pengalaman dari tiga tahap seleksi itu.

Masih 'satu garis' dengan pertukaran pelajar. Dulu, sambil menunggu giliran wawancara, kakak-kakak alumni Bina Antarbudaya bercerita tentang penyair Taufik Ismail dan Najwa Shihab, jurnalis senior yang juga merupakan alumni pertukaran pelajar pada masanya. Saya mengenal Taufik Ismail dari buku kumpulan puisi berjudul Tirani dan Benteng yang pernah saya baca di perpustakaan SMA, sedangkan Najwa Shihab tentu semua orang mengenal jurnalis cantik nan cerdas yang sering muncul di layar kaca ini. Dari sekian banyak alumni yang menjadi tokoh, hanya dua tokoh itu yang banyak diceritakan kepada kami. Lagi-lagi Allah SWT memberi kejutan untuk saya. Dua tahun setelah mendengar cerita itu, saya diterima di Universitas Gadjah Mada. Pada penutupan Ospek UGM 2012 itulah, saya melihat Pak Taufik Ismail menyampaikan orasi budaya di depan sekitar 10.000 maba UGM 2012. Dua tahun setelah Ospek, saya bertemu langsung dengan jurnalis senior yang diceritakan kakak-kakak alumni Bina Antarbudaya, yaitu Mbak Najwa Shihab, in person~ dalam acara Mata Najwa on Stage di Kampus UGM. Menurut saya, hal itu bukanlah suatu kebetulan, selalu ada kuasa Allah SWT. Bahkan di perpustakaan Ponpes Al Munawwir Komplek Q, Krapyak saya juga menemukan sebuah buku yang berisi kisah para alumni Bina Antarbudaya, termasuk kisah Pak Taufiq dan Mbak Najwa :')

Tak berhenti sampai disitu, saya yang dulu benar-benar terinspirasi dengan tetralogi Laskar Pelangi, diberi kesempatan oleh-Nya untuk mengunjungi Negeri Laskar Pelangi, Belitung dalam rangka KKN. Kesempatan ini datang ketika saya sudah benar-benar pasrah kepada-Nya perihal lokasi KKN, saya yakin Allah memberikan yang terbaik. Awalnya saya sangat ingin KKN di luar Jawa, lebih tepatnya Sabang atau Sulawesi, tapi selalu gagal mengikuti open recruitment. Tak menyangka justru diterima melalui close recruitment di KKN Belitung. Rencana Allah sungguh indah, tak ada penyesalan sama sekali gagal mengkuti KKN Sabang, karena Allah menggantinya dengan yang lebih pas untuk saya. Benar-benar menginjakkan kaki di Belitung, dengan tradisi ngopi yang dulu hanya sering baca di tetralogi Laskar Pelangi. Menempuh perjalanan jauh ke Tanjung Pandan yang juga diceritakan di novel best seller itu, hingga menyaksiakan sisa kejayaan PN Timah. Sekaligus berkesempatan mengunjungi replika sekolah Laskar Pelangi yang dulu hanya bisa saya lihat lewat filmnya, bahkan lebih, ya, bahkan lebih. Saya dan teman-teman diberi kesempatan oleh-Nya bertemu anak-anak Seliu, Belitung, dan mendorong mereka meraih impiannya, bahwa mereka juga generasi Laskar Pelangi yang bisa mencapai impian indah mereka.

Generasi Laskar Pelangi menceritakan "pohon impian" mereka.
Menakjubkan sekali isi pohon impian ini :')

Lewat peristiwa-peristiwa itu, Allah SWT menunjukkan kekuasaan-Nya kepada saya. Lewat peristiwa-peristiwa itu Allah menujukkan kasih sayangnya kepada saya. Setitik, dari sekian banyak kenikmatan yang diberikan-Nya. Lewat peristiwa-peristiwa itu pula, Allah seolah menegur saya, saya yang kurang maksimal dalam berjuang dan saya yang kurang berdoa sehingga impian-impian saya ada yang belum benar-benar terwujud. Namun saya sadar, saya tidak boleh berputus asa :')

Sumber foto: hand lettering by exsan_'s Intagram

Kawan, ceritaku itu mungkin tak ada apa-apanya jika dibanding kisah-kisah lain dari orang-orang yang mungkin telah benar-benar meraih impiannya, hingga mereka terus menyusun mimpi-mimpi baru selepas satu mimpi diwujudkan. Tapi, kisahku ini merupakan suatu tanda bahwa Allah selalu bersama kita, bahwa Dia ada di setiap langkah kecil kita menggapai cita. Dia selalu ada, mungkin kita yang justru masih sering lalai. Jangan berhenti bermimpi yaa! Terus semangat mewujudkan impian kita, sinergikan doa dan perjuangan tentu saja. Tentu saja, sambil terus melakukan kebaikan kecil kepada sesama setiap harinya :) Kejutan-kejutan indah dari Allah menunggumu di masa yang akan datang!

P.S. Gusti Allah Mboten Sare! ;)

Malam minggu terakhir di bulan pertama tahun 2016
Magelang | 30 Januari 2016
January 31, 2016 4 comments
this lovely handlettering is created by my besties, Icha.
Makasih chaak *hug*

Bismillahirrahmanirrahiim :)
So, here is my very first post on my twenty two, very first post in 2016 too.
Grateful and glad for reaching this age. Alhamdulillah.

Sebelumnya, izinkanlah saya flashback pada setahun lalu, pada dua-puluh-satu-nya saya. Dua puluh satu adalah angka kesukaan saya, dan di angka favorit itu begitu banyak anugerah dari Allah SWT yang dilimpahkan kepada saya. Begitu banyak hal baru dan tempat-tempat baru yang saya kunjungi, dan orang-orang hebat yang saya temui, membuat saya selalu sadar bahwa di atas langit masih ada langit, sekaligus membuat saya termotivasi untuk selalu mengembangkan diri untuk meraih mimpi-mimpi. Suka dan duka juga banyak saya temui di usia dua puluh satu, peristiwa-peristiwa jatuh bangun yang mengajarkan saya untuk lebih bijaksana menyikapi hidup. Terima kasih kepada orang-orang yang saya temui di usia dua puluh satu, yang memberikan begitu banyak pelajaran pada saya. Kini, saya harus meninggalkan angka favorit saya menuju angka baru: 22.

Dua puluh dua, umur baru di tahun baru, kalau ditanya tentang resolusi, tentu saja ada beberapa resolus... (ah, saya lebih suka menyebutnya dengan kata 'impian') impian besar dan juga impian-impian sederhana yang telah saya susun dalam benak saya. Niat kuat, kerja keras, dan doa adalah tiga hal mutlak yang harus saya sinergikan untuk mencapai impian-impian itu. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, wisuda, tentu saja menjadi salah satu hal yang ingin saya tempuh di tahun ini. Menyelesaikan satu babak kehidupan untuk segera mengukir kisah baru, bersaing di dunia yang sesungguhnya, dunia di luar nama besar Gadjah Mada.

Tentang kisah baru setelah wisuda S1, umumnya teman memilih untuk menempuh pendidikan pascasarjana baik di dalam maupun luar negeri, ada juga yang ingin cepat-cepat mencari pahala lewat bahtera pernikahan, namun banyak pula yang memilih untuk bekerja. Yaa, beberapa teman menuliskan impian mereka lewat kalimat-kalimat seperti: your future doctor, your future accountant, your future engineer, your future dentist, dan berbagai your future ... sesuai program studi yang tengah mereka tempuh. Tapi tidak dengan saya, jika harus menulis kalimat serupa itu sesuai dengan bidang pendidikan yang saya tempuh, maka your future policy maker sejujurnya terdengar berat bagi saya. Ya, menentukan kebijakan bagi orang banyak adalah amanah yang cukup berat. Meski demikian, saya tidak lantas merasa salah jurusan kuliah. Saya sangat bersyukur memiliki kesempatan untuk belajar di Jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol UGM. Begitu banyak ilmu yang saya pelajari di sini. Saya juga memiliki cita-cita yang tak jauh-jauh bidangnya dari jurusan saya. Kalau toh nanti saya dan teman-teman dari JMKP benar-benar mendapat amanah untuk menjadi pembuat kebijakan entah di birokrasi pemerintahan ataupun perusahaan-perusahaan swasta, semoga kami senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk menentukan kebijakan-kebijakan terbaik bagi umat. Amin.

Dua puluh dua. Semakin bertambahnya usia yang berarti berkurangnya jatah umur kita, akan semakin banyak hal yang berubah. Perubahan adalah keniscayaan bukan? Dan manusia diciptakan memang untuk beradaptasi dengan perubahan, karenanya jangan statis. Semoga saya ah kita tetap semangat berproses sedikit demi sedikit, menyesuaikan keadaan untuk berubah ke arah yang lebih baik. Sambil terus melakukan kebaikan-kebaikan kecil setiap harinya :)

Dua puluh dua. Apa yang telah lalu, biarlah berlalu dan jadikan pelajaran berharga. Apa yang menyakitkan atau mungkin menyebalkan insyaallah dimaafkan, demi hati dan pikiran yang damai. Apa yang menyenangkan dan juga mengesankan disyukuri dan biar jadi kenangan. Saya jadikan itu alasan untuk merasa bahagia dan mengukir senyum setiap kali mengingatnya :) Everything happen for a reason.

Semoga hal-hal hebat juga terjadi di usia dua puluh dua dan semoga Allah SWT senantiasa memberi kekuatan untuk mewujudkan setiap impian. Amin.
Last...no matter how you feel,
dress up, get up, and never give up! 
January 26, 2016 No comments
Sekali lagi saya merasa bersyukur telah menjadi bagian dari Keluarga KKN-PPM UGM Unit BBL-11 di pertengahan tahun 2015 ini. Jika harus menulis gratitude list pastilah KKN adalah kado terindah di usia saya yang keduapuluh satu.

Program pengabdian dan pemberdayaan masyarakat telah kami lakukan di Desa Pulau Seliu, Belitung selama dua bulan. Selain program-program itu, kami juga meluncurkan website resmi untuk pulau tersebut. Tujuannya adalah agar Seliu lebih dikenal masyarakat sebagai suatu destinasi wisata di kawasan Belitung bagian selatan, ya mengingat selama ini pariwisata Belitung yang lebih banyak diekspos adalah yang berada di bagian utara seperti Pantai Tanjung Tinggi dan Pulau Lengkuas. Website tersebut telah dirintis selama kami KKN di pulau kecil itu, dengan alamat www.seliuindonesia.com. Silakan dikunjungi untuk informasi lebih lengkap :) Kami juga melakukan pelatihan pengelolaan website tersebut kepada pemuda Seliu, agar isi website senantiasa update setelah kami pulang. Meskipun pelatihan tersebut kini belum membuahkan hasil maksimal.

Sebagai Tim KKN yang mengusung program utama Sistem Penyedian Air Minum (SPAM), kami memang lebih banyak menjalin kerjasama dengan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Belitung. Bahkan perwakilan dari Kementerian Pekerjaan Umum sempat meninjau lokasi KKN kami. Ya, kami jarang (dan mungkin juga awalnya agak sulit) berinteraksi dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung meskipun kami juga memiliki subprogram yang bergerak di bidang pariwisata. Kami hanya berusaha sebaik mungkin menyiapkan Seliu sebagai destinasi wisata. Melalui promosi via website, perancangan masterplan untuk desa, pembuatan plang penunjuk jalan, dan persiapan kuliner khas. Pengetahuan tentang pariwisata yang kami berikan masih sangat terbatas, apalagi rentang waktu dua bulan terlalu singkat untuk mengadakan pemberdayaan masyarakat secara utuh. Kami sadar bahwa jika ingin mengeskpos pariwisata Seliu, keindahan alam dan infrastruktur fisik saja tidaklah cukup, sangat diperlukan peran masyarakat untuk mengembangkan pariwisata sebagai penggerak ekonomi dan sebagai pengontrol agar alam Seliu sebagai 'daya jual' wisatanya tidak rusak oleh tangan-tangan jahil. Oleh karena itu, kami mengusulkan pada pihak kampus agar tahun depan dan beberapa tahun ke depannya KKN di Seliu diselenggarakan lagi untuk meneruskan program-program kami.

Usaha kami untuk mengembangkan Seliu sebagai destinasi wisata agar berdampak positif pada perekonomian masyarakatnya perlahan membuahkan hasil. Website yang kami susun mendapatkan sambutan yang cukup baik dari pembaca. Selama kami KKN saja ada beberapa orang yang tertarik berwisata di Seliu karena membaca website dan menghubungi contact person (CP) yang kami cantumkan. Salah seorang dari pembaca tesebut langsung mengunjungi Seliu tak lama setelah saling kontak dengan CP. Namun, yang paling membahagiakan khususnya bagi saya adalah komentar dari Saudari Angela Angestiana di website beberapa bulan setelah kami pulang KKN. Komentar tersebut membawa angin segar dan harapan akan pengembangan pariwisata Seliu. Terima kasih, Mbak Angela.



Tak lama setelah itu, kami mendapat kabar dari warga setempat bahwa Stasiun TVRI baru saja mengambil rekaman di desa mereka untuk suatu acara pengenalan wilayah-wilayah NKRI (saya lupa nama acaranya). Ketika hari penayangan, kami dari Jogja pun turut berbahagia menyaksikan tempat yang selamanya menjadi bagian dari hidup kami melalui televisi. Saya juga mendengar kabar dari warga bernama Pak Bachtiar dan Pak Fadla bahwa ada semacam sosialisasi mengenai pariwisata yang diadakan dari Seliu. Saya sendiri kurang tau dari lembaga apa yang mengadakan. Namun, dari media sosial Facebook, saya mengetahui bahwa ada seorang bernama Budi Setiawan yang rupanya adalah alumni UNPAD dan juga aktivis lingkungan yang memberikan sosialisasi kepariwisataan di Seliu. Terima kasih, Mas Budi. Alhamdulillah, Pulau Seliu perlahan mulai mendapat perhatian dari masyarakat luas.

Saya juga sempat menulis artikel tentang perjalanan saya di Seliu pada sebuah majalah travel online yaitu Travelnatic. Saya harap, artikel yang menjadi headline majalan online tersebut dapat turut membantu promosi wisata Seliu. 

Cover Majalah Travelnatic Edisi Oktober 2015.
Silakan Download versi lengkapnya disini.
Selain website dan juga Instagram Pulau Seliu, kami juga menerbitkan buku dan video. Buku itu berisi catatan perjalanan kami selama dua bulan di Seliu dan juga foto-foto lokasinya. Buku yang kami beri judul Surga di Negeri Liu-Liu ini beberapa waktu lalu kami ikutkan lomba di LPPM UGM bersama buku-buku lain yang juga merupakan hasil kerja KKN tahun 2015. Alhamdulillah, kami memenangkan hibah buku dan video dari LPPM. Bersyukur sekali rasanya. Buku Surga di Negeri Liu-Liu belum secara resmi terbit, kami masih terus melakukan revisi untuk memberikan yang terbaik kepada pembaca sekaligus persembahan terindah untuk warga Seliu. Doakan saja, bulan depan buku tersebut dapat terbit sehingga teman-teman yang tertarik juga bisa memesan :) Mmmm...ngomong-ngomong saya akan berikan sedikit cuplikan dari buku Surga di Negeri Liu-Liu tersebut. Sebuah paragraf yang sangat menyentuh bagi saya:

Thanks for writing about this great team.
Cover buku Surga di Negeri Liu-Liu karya Tim KKN-PPM UGM Unit BBL-11
Link: Pengumuman Pemenang Hibah LPPM

Sementara tentang video, kami baru merilis video singkat berdurasi lima menit. Ya, lima menit untuk selamanya. Video yang full-version untuk sementara belum jadi. Apabila teman-teman berminat melihat silakan putar saja di YouTube berikut ini. Sebuah video singkat dan tanpa dialog yang selalu sukses mengukir rindu pada Negeri Liu-Liu.



Itulah sedikit cerita mengenai perjuangan Tim BBL-11 untuk mengangkat Pulau Seliu sebagai suatu destinasi pariwisata. Sebagai seorang yang pernah mempelajari Manajemen dan Kebijakan Pariwisata saya tentu sangat memahami bahwa apa yang lakukan itu sangat minim, sangat penuh dengan kekurangan. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan bantuan dari pihak-pihak seperti pemerintah maupun aktivis yang berkenan membantu pengembangan pariwisata Seliu tentunya dengan konsep suistainable tourism yang tetap mengedepankan kelestarian lingkungan dan menjadikan masyarakat lokalnya sebagai pemeran utama dalam kepariwisataan tersebut :)

Maaf yaa, bahkan setelah empat bulan sepulang KKN saya masih saja menulis tentang KKN. KKN dua bulan memang bikin susah move on dari pengalaman-pengalaman indahnya. Apalagi kalau menjalaninya bersama Tim BBL-11 hahahah.


Ruang Tamu Rumah, Magelang | 28 Desember 2015
Rindu semilir angin di Dermaga Seliu berikut es cincau Mak El :')
December 28, 2015 4 comments
Hari kemerdekaan Republik Indonesia sudah berlalu sekian hari. Mungkin agak terlambat menuliskan cerita ini, namun anggap saja ini semacam recount yang menceritakan pengalaman di hari lalu. Anggap saja sebagai sebuah cerita nostalgia tentang indahnya bulan istimewa di tanah istimewa. Selamat membaca :)

Tujuh belas Agustus adalah tanggal yang selalu istimewa di benak kami, Warga Negara Indonesia. Pada hari itu, tujuh puluh tahun yang lalu, bangsa ini memproklamirkan dirinya sebagai bangsa yang merdeka, bebas dari belenggu penjajah. Ya, merdeka setelah tiga setengah abad dijajah bangsa asing. Sudah tujuh dekade dan pertanyaan masih sering singgah dalam benak kita adalah apakah kita sudah benar-benar merdeka? Bagaimana Anda atau..kita menjawab pertanyaan itu? Ah, tapi di sini saya tidak ingin berdebat soal apakah kita sudah merdeka atau belum, atau tentang apa itu merdeka. Terlepas dari semua itu, bangsa ini memiliki tradisi unik dalam merayakan kemerdakaan (yang dipertanyakan)-nya. Itulah yang akan saya bahas dalam tulisan ini.


Sang Merah Putih di langit Seliu
Fotografer: Gregorius Oktaviano

Entah bagaimana asal-usulnya, kemerdekaan negeri ini sering diperingati dengan adanya berbagai perlombaan. Ya, perlombaan di berbagai level, mulai dari tingkat kampung hingga tingkat nasional, dan berbagai instansi, mulai dari sekolah TK, perguruan tinggi, instansi pemerintahan, hingga swasta. Lomba yang diadakan pun beraneka ragam, tentu yang paling familiar di benak kita misalnya lomba makan kerupuk, lomba balap karung, lomba tarik tambang, dsb. Hingga kompetisi yang ‘kekinian’ seperti lomba fotografi, fashion show, dll. Selain itu, upacara bendera juga menjadi suatu hal yang pasti dilakukan di seluruh penjuru negeri. Adapula yang merayakannya dengan tirakatan atau semacam doa bersama demi kebaikan bangsa ini.

Agustusan di Seliu

Agustus tahun ini sungguh berbeda bagi saya. Kenapa demikian? Karena saya tidak merayakannya di Magelang atau di Jogja seperti tahun tahun sebelumnya, melainkan saya merayakannya di Pulau Seliu. Pulau kecil yang bahkan baru saya dengar namanya enam bulan terakhir. Dua bulan saya disini bersama bersama dua puluh sembilan orang lainnya dalam misi KKN, pengabdian masyarakat katanya.

Pulau Seliu merupakan pulau kecil, terdiri satu desa dengan dua dusun yang total memiliki sekitar 1.200 jiwa. Letaknya pun jauh dari pusat kota Belitung. Listrik belum dua puluh empat jam mengaliri pulau ini, begitu pula fasilitas jalan yang masih sangat biasa, tapi segala keterbatasan dan kurangnya perhatian dari pemerintah itu tak membuat masyarakatnya kehilangan rasa nasionalisme, rasa bangganya sebagai warga negara Indonesia. Hal itu terbukti dari meriahnya perayaan peringatan kemerdekaan Indonesia di pulau ini. Jujur saja, bahkan di kampung saya yang jauh ‘lebih kota” daripada Seliu, beberapa tahun terakhir kemerdekaan tidak dirayakan sehebat ini. Namun, di sini tak tanggung-tanggung kemerdekaan dirayakan sebulan penuh. Begitu banyak macam perlombaan dan berbagai acara lainnya yang tak hanya diperuntukkan bagi anak-anak, namun mencakup segala umur. Ada lomba joget, ada lomba karaoke, ada lomba panjat pinang, ada lomba tarik tambang, ada lomba balap karung, bahkan lomba tebak orang. Memang, aneka lomba itu merupakan kegiatan standar di tiap daerah, namun tentu saja bagi kami, tim KKN BBL-11 hal itu istimewa.

Tim BBL-11 sudah berada di Pulau Seliu sejak bulan Juli 2015, pertengahan bulan tersebut pihak pemerintah desa telah membentuk kepanitiaan perayaan kemerdekaan Indonesia. Kami pun dilibatkan dalam kepanitiaan. Aneka lomba yang saya sebutkan tadi sudah dimulai sejak awal bulan Agustus. Setiap akhir pekan, diadakan lomba joget untuk anak-anak hingga dewasa, juga lomba karaoke. Sepetak tanah kosong di samping kantor Badan Permusyawaratan Desa Pulau Seliu dijadikan panggung gembira. Seliu yang cenderung sepi saat malam menjadi ramai karena kegiatan ini. Penduduk terkonsentrasi menyaksikan peserta beraksi di panggung gembira. Lomba karaoke dan joget ini merupakan bentuk kerjasama yang baik antara warga dengan tim BBL-11.

Tim Voli BBL-11

Yang tak kalah seru adalah pertandingan voli, baik untuk putra maupun putri yang digelar setiap sore di Lapangan Voli Pulau Seliu. Tentu saja Tim KKN BBL-11 turut berpartisipasi dalam pertandingan ini. Dua tim putra dan satu tim putri kami kirimkan sebagai perwakilan. Namun, karena pada dasarnya kami bukan atlet voli, maka hampir bisa dipastikan kami akan kalah pada setiap pertandingan, dan itu justru menjadi hiburan tersendiri bagi kami hahah. Ya, warga Seliu memang jago bermain voli sehingga bisa dengan mudahnya mengalahkan kami. Apalagi tim voli putri yang seringkali harus menanggung kekalahan dengan skor yang sangat signifikan hahaha. Tapi, bagi Tim BBL-11, voli di Seliu bukan persoalan kalah dan menang, toh keduanya juga membuat kami merasa senang. Voli di Seliu merupakan salah satu cara kami menjalin kekeluargaan dengan warga. Sambil menunggu waktu bertanding atau sambil menyaksikan kawan berlaga, kami sering bercengkrama dengan anak-anak Seliu, atau juga jajan pempek sambil ngobrol dengan warga. Ketika senja datang, kami pun pulang. Berjalan kaki dari lapangan voli menuju pondokan sambil tertawa membahas pertandingan yang telah dilalui dan berbagi es dengan kawan. Atau kalau ada warga yang jok belakang motornya kosong, mereka akan dengan ramah menawarkan untuk membonceng beberapa dari kami. Sungguh menyenangkan.
Tim voli putra BBL-11 vs Tim Voli Putra SMP N 4 Membalong.
Fotografer: Yurika Gunawan


Tim voli putri BBL-11
Fotografer: Yurika Gunawan




Upacara di Padang Bol dan Paskibraka Istana Negara

Seperti daerah-daerah lain di Indonesia, Seliu juga melaksanakan upacara bendera dalam rangka memperingati HUT ke-70 RI. Hari itu adalah hari besar kedua yang dialami Tim BBL-11 setelah perayaan Idul fitri di tanah rantau. Kami bangun pagi buta agar bisa antri mandi dan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Pondokan putri sudah ramai sejak sebelum subuh, maklumlah namanya juga wanita kami sibuk mempersiapkan penampilan terbaik untuk menyambut hari istimewa itu. Seluruh anggota tim menjadi petugas upacara, ada yang menjadi komandan upacara, komandan peleton, pengibar bendera, petugas paduan suara bersama tim paduan suara SMP N 4 Membalong, dan petugas P3K.


Upacara peringatan HUT ke-70 Republik Indonesia di Padang Bol, Pulau Seliu
Fotografer: Gregorius Oktaviano
Anggota tim BBL-11 bersama warga dan anak-anak Pulau Seliu.
Anggota Tim BBL-11 bersama anak-anak Pulau Seliu.
Fotografer: Yurika Gunawan

Upacara pagi itu berlangsung khidmat. Seluruh elemen masyarakat hadir dalam upacara yang diselenggarakan di Lapangan Padang Bol, Pulau Seliu. Siswa SD hingga SMP, guru-guru, karang taruna, perangkat desa, perwakilan warga dan kami Tim KKN BBL-11 turut serta mengikuti upacara yang dipimpin Kepala Desa Seliu, Bapak Edyar. Hari spesial tak kami sia-siakan begitu saja, tentu saja berfoto bersama selepas KKN merupakan hal wajib bagi kami. Baik berfoto dengan sesame kawan KKN, dengan pemuda, dengan anak-anak, bahkan dengan Pak Kades. Hari itu yang ada hanya bahagia, dan kebahagiaan itu saya lihat dari tawa yang terukir di wajah-wajah orang yang hadir. Spirit kemerdekaan begitu terasa di pulau kecil ini.

Lalu, ingatan saya menuju pada rumah. Dahulu, selepas upacara di sekolah, saya sering menyaksikan upacara peringatan hari kemerdekaan RI yang digelar di Istana Negara. Acara yang ditayangkan seruh stasiun televise nasional. Saya merasa prihatin, ketika menyadari bahwa karena terbatasnya akses listrik, anak-anak disini jadi tidak dapat menyaksikan upacara yang dipimpin Presiden itu. Ya, Neiza, Yansa, Neila, Ridho, Sulton, Bagus, dll tidak bisa menyaksikan putra-putri terbaik bangsa ini berbaris rapi sebagai Petugas Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Mereka pun sama sekali tak tau tentang acara itu ketika saya Tanya. Padahal dulu saya senang sekali menyaksikan upacar di Istana Negara ada rasa bahagia dan semangat tersendiri kala itu yang saya rasa anak-anak disini pasti juga bahagia bila dapat menontonnya. Hhh, 70 tahun merdeka dan listrik belum 24jam di Seliu… Ah, tapi saya mencoba mengambil sisi positifnya. ra Anak-anak Seliu justru bisa bertemu dan bermain bersama selepas upacara di Padang Bol, sambil menyaksikan orang dewasa mempersiapkan aneka property untuk perlombaan nanti sore. Mereka jadi memiliki lebih banyak waktu untuk bercengkarama seraya bertatap muka daripada sekedar menyaksikan televisi di rumah masing-masing.

Tujuh belas Agustus tahun 2015, selepas dzuhur, Padang Bol Pulau Seliu kembali ramai didatangi warga. Ya, hari ini aneka perlombaan digelar. Ada panjat pinang, Tarik tambang, balap karung, dsb. Kami, Tim BBL-11 turut menyaksikan dan berpartisipasi dalam lomba sore itu. Seru sekali tak habis rasanya kebahagiaan menyaksikan orang dewasa mempersiapkan aneka property untuk perlombaan nanti sore. Mereka jadi memiliki lebih banyak waktu untuk bercengkarama seraya bertatap muka daripada sekedar menyaksikan televisi di rumah masing-masing.
Anggotta tim BBL-11 dalam lomba balap karung.
Fotografer: Gregorius Oktaviano
Anggota tim BBL-11 bersama warga dalam lomba tarik tambang.
Fotografer: Gregorius Oktaviano

Lomba panjat pinang di Dermaga Pulau Seliu.
Fotografer: Gregorius Oktaviano

Tujuh belas Agustus tahun 2015, selepas dzuhur, Padang Bol Pulau Seliu kembali ramai didatangi warga. Ya, hari ini aneka perlombaan digelar. Ada panjat pinang, Tarik tambang, balap karung, dsb. Kami, Tim BBL-11 turut menyaksikan dan berpartisipasi dalam lomba sore itu. Seru sekali tak habis rasanya kebahagiaan yang dianugerahkan Allah SWT sedari pagi. Begitu antusias warga datang ke arena perlombaan, untuk sekedar menyaksikan putra-putri mereka atau turut bermain.



Bagi warga Seliu, bulan Agustus adalah ladangnya hiburan, bulan dimana banyak kegiatan dilaksanakan. Tentu saja suatu hal yang tak bisa dengan mudah mereka dapatkan di bulan-bulan lainnya. Bahkan, seorang pemuda asli bernama Mula menuturkan, kalau bukan Agustus, Seliu cenderung sepi. Di Seliu, Agustus selalu istimewa. Di Seliu, kemerdekaan Republik Indonesia selalu disambut dan dinanti kedatangannya, meskipun di tengah keterbatasan fasilitas yang dialami warganya. Dan Agustus tahun ini pun istimewa bagi kami, Tim BBL-11, tentu saja tak lain adalah karena kami merayakannya bersama orang-orang istimewa, di tanah istimewa, Pulau Seliu. 

Dirgahayu Kemerdekaan ke-70 Republik Indonesia semoga pembangunan lekas merata dan jangan berhenti berkarya mengisi kemerdekaan kita.
November 16, 2015 No comments
Dua bulan. Rentang waktu itu dikatakan lambat atau cepat adalah tergantung bagaimana kita menjalaninya, tergantung bagaimana kita memaknainya. Dua bulan di tanah rantau dalam rangka KKN adalah waktu yang cukup lama. Saya rasa semua sama, enam ribu mahasiswa yang berangkat KKN antar-semester tahun 2015 ini pasti memiliki begitu banyak cerita yang ingin diungkapkan. Karena itulah, tulisan kali ini cukup panjang, namun tetap hanya secuil dari sekian banyak kisah yang ingin dituliskan selama enam puluh hari mengabdi.



Universitas Gadjah Mada adalah perguruan tinggi yang merintis adanya KKN yang kemudian diikuti oleh perguruan tinggi lain baik negeri maupun swasta. Awalnya KKN UGM dilselenggarakan di sekitar kampus, seperti di Jogja, Klaten, Magelang, Kebumen, dan sekitarnya. Puluhan tahun berlalu, kini KKN UGM mulai menjangkau seluruh Nusantara, mulai dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Mahasiswa diperkenankan memilih sendiri lokasi KKN atau dapat pula mengikuti plotting lokasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Asal usul sebuah lokasi KKN-PPM UGM dapat karena ditentukan oleh LPPM, atau bisa juga lokasi tersebut mengajukan proposal ke LPPM agar dijadikan lokasi KKN. Program utama KKN pun beragam, ada pertanian, pariwisata, pengelolaan air, dan sebagainya. Tahun 2015 ini, LPPM memberangkatkan sekitar 6.000 mahasiswa ke kurang lebih 200 unit lokasi KKN di seluruh Indonesia...dan saya adalah salah satu pesertanya.

Satu Juli 2015 akan menjadi hari bersejarah bagi kami. Hari itu, secara resmi seluruh tim KKN diterjunkan ke lokasi masing-masing. Berangkat ke lokasi baru, tinggal bersama orang-orang baru, dan harus menyesuaikan diri di lingkungan baru. Tidak mudah tentu saja, saya rasa konflik demi konflik pasti ada di setiap tim. Maklumlah, setiap tim terdiri atas beberapa orang dengan latar belakang berbeda, dengan cara pikir yang berbeda-beda pula. Semua itu sekuat hati kami redam, demi program berjalan lancar, demi tim, demi nama baik almamater.

Meski kuliah kerja nyata mengharuskan menjalankan program-program yang tidak sedikit, namun KKN lebih dari itu. KKN bukan sekedar membuat plang penunjuk jalan lalu pulang, bukan sekedar sosialisasi-sosialisasi lalu pergi, bukan sekedar pelatihan-pelatihan lalu lepas tangan. KKN lebih dari itu. Setiap tim memang terdiri atas mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, agar ilmu yang dibagikan pada masyarakat dapat lebih beragam. Tapi, alih-alih memberi ilmu, justru dari KKN kami mendapatkan begitu banyak ilmu.  Ya, kami memang memberikan apa yang kami tau, apa yang kami pelajari, tapi itu hanya sedikit sekali dibandingkan apa yang kami dapat. Dari KKN kami belajar tentang bermasyarakat, tentang berkomunikasi dengan anak kecil, tentang berbagai macam karakter orang, tentang toleransi, tentang memasak, bahkan mungkin lewat dua bulan yang tak akan terlupa itu kami jadi lebih mengenal diri sendiri.

Potret kebersamaan Tim KKN-PPM UGM Unit BBL-11 dengan para siswi SMP N 4 Membalong.

Selain semua itu, selain yang saya pelajari di tim dan lingkungan tempat KKN, saya merasa sangat bersyukur berada dalam salah satu dari ribuan mahasiswa KKN-PPM UGM yang tersebar di seluruh Nusantara. KKN membuat kami lebih mengenal Indonesia.  Saya KKN di Pulau Seliu, sebuah pulau kecil di Selatan Pulau Belitung, tapi saya memiliki teman-teman yang ber-KKN di tempat-tempat lain dan kami berada dalam satu chat group, entah WhatsApp atau Line. Teknologi benar-benar telah memudahkan komunikasi kami. Lewat chat group ini saya menyimak kisah dari kawan-kawan tentang kebiasaan dan kebudayaan di berbagai pelosok negeri. Tentang bagaimana sholat tarawih di Keciput, Belitung. Tentang bagaimana tadarusan di Mlandi, Wonosobo. Tentang bagaimana suasana Ramadhan di Tasikmalaya, Jawa Barat. Tentang seperti apa kain khas dari Alor, Nusa Tenggara Timur. Tentang seperti apa tarian khas dari Selaru, Maluku. Tentang perayaan Galungan di Gianyar, Bali. Tentang pesta rakyat di Kebonsari, Pacitan. Tentang Upacara Tujuh Belas Agustus di Hulu Sungai Selatan, Kalimantan. Tentang Lebaran di Entikong, Kalimantan. Banyaaak. Begitu banyak.

Sebuah artikel yang dimuat di harian Kedaulatan Rakyat edisi 02 Juli 2015.

KKN-PPM UGM tak hanya membuat mahasiswa mengenal wilayah KKN masing-masing, tapi juga mengenal Indonesia sedikit lebih dekat. Dari cerita-cerita sesama kawan baik selama maupun sepulang KKN. Bagi saya, saya jadi lebih mengetahui lokasi-lokasi yang bahkan belum pernah saya dengar namanya, lengkap dengan gambaran kondisi sosial. Gambaran bentang alam Indonesia pun kami ketahui lewat foto KKN dari kawan-kawan. Indahnya Kepulauan Raja Ampat di Papua Barat. Pegunungan Latimojong di Bantaeng, Sulawesi Selatan. Sejuknya pagi lereng Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur. Senja di Kaimana, Papua Barat. Begitu indahnya Indonesia.

Namun, KKN juga membuat kami lebih membuka mata, bahwa di balik menawannya Indonesia ada banyak masalah yang masih harus diselesaikan. Bahwa masih ada daerah yang sulit dijangkau karena terbatasnya infrastruktur jalan. Bahwa masih ada daerah yang belum dua puluh empat jam dapat mengakses listrik. Bahwa masih ada masyarakat yang harus menempuh perjalanan begitu jauhnya untuk mendapat pertolongan medis, itupun dengan alat kesehatan yang terbatas. Bahwa masih ada anak-anak yang putus sekolah. Suatu kenyataan pahit yang nantinya harus diatasi oleh generasi penerus bangsa seperti kami.

KKN benar-benar telah mengajarkan banyak hal. Ia tak hanya suatu hal yang harus ditempuh sebagai syarat akademik. Ia adalah perjalanan, tak hanya raga tapi juga memperjalankan jiwa. Ia membawa kita pada pengalaman-pengalaman yang berharga. Ia memberi kita kisah-kisah yang akan kita kenang sepanjang masa. Ia menunjukkan potret negeri ini selangkah lebih dekat. Ia membuat kami lebih mencintai Indonesia. Semoga apa yang didapatkan selama dua bulan KKN menjadi pemicu semangat untuk terus berkarya, berkontribusi untuk Ibu Pertiwi. Seperti jargon yang dulu kami teriakkan di Lapangan Graha Sabha Pramana ketika Ospek mahasiswa baru:
Pancasila Jiwa Kami, Bakti untuk Negeri, UGM Bersatu, Bangkitlah Nusantaraku!!!


Perpustakaan Fisipol UGM, Yogyakarta
12 Oktober 2015


October 12, 2015 2 comments
"Sebuah kisah perjalanan 30 mahasiswa dalam pencariannya tentang arti sebuah pengabdian di negeri Liu-liu."
Sungguh, sebuah pengalaman yang sangat berharga telah kami lalui.
Biarkan tawa kegembiraan dan kesedihan yang tergambar di buku ini menjadi saksi bahwa kami pernah berproses di Pulau seribu cinta, Seliu.
Terimakasih untuk semuanya.
Terimakasih telah menjadi bagian dari cerita indah ini."
Vempi Satriya, JTSL FT UGM 2012 (Kormanit BBL-11)


Dua bulan di mengabdi di tanah rantau sungguh memberi kami, mahasiswa KKN-PPM UGM 2015 Unit BBL-11, begitu banyak pengalaman berharga yang sayang sekali jika kami nikmati sendiri. Maka dari itu, kami  menulis agar bisa berbagi kepada kawan semua tentang indahnya Pulau Seliu, Belitung. 
Setelah tulisan tentang hangatnya kebersamaan antara Tim BBL-11 dengan siswa-siswi SMP N 4 Membalong dimuat pada harian Pos Belitung edisi 26 Agustus 2015. Setelah segores cerita tentang indahnya wisata di Pulau Seliu dimuat di e-magazine Travelnatic edisi 12 tahun 2015. Setelah berbagai cerita kami diunggah dalam website resmi Seliu, www.seliuindonesia.com. Kini, terbitlah sebuah buku berjudul “Surga di Negeri Liu-Liu” yang berisi tulisan Tim BBL-11 tentang pengalaman kami selama dua bulan di Pulau Seliu.
Jika teman-teman berminat untuk memiliki buku ini,
mention saja ke official twitter kami @PulauSeliu :)

Terimakasih. Semoga bermanfaat :)
Salam hangat,

Tim KKN-PPM UGM 2015 Unit BBL-11
October 12, 2015 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Live in small and lovely town, Magelang. Enjoy making DIY project, especially hand-embroidery. Really love writing here, share some thoughts, experience, and everything that popping in my mind.

Follow Us

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Popular Posts

  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (3): Pendakian Gunung Ijen
    Setelah puas menikmati pesona Taman Nasional Baluran di Situbondo (seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya), saya sholat kemudian ma...
  • Jalan-Jalan ke Banyuwangi (1): Itinerary, Transportasi, dan Biaya
    Banyuwangi adalah sebuah tempat yang ingin saya kunjungi sejak sebelum KKN. Saya bahkan sudah menggali informasi dari teman kuliah yang sud...
  • Sekilas tentang Departemen MKP Fisipol UGM
    Saya adalah mahasiswa semester delapan yang memiliki seorang adik yang tengah menempuh tahun terakhirnya di SMA, bulan-bulan ini ia tengah ...
  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (2): Bacpacker ke Baluran di Musim Hujan
    Setelah kemarin menulis tentang rincian teknis jalan-jalan ke Banyuwangi, kali ini saya hendak menuliskan cerita tentang tempat wisatanya. ...
  • [K-Drama] Queen Seondeok: Kisah Cinta Deokman, Kim Yu Shin, dan Bidam
    Sebuah drama yang tanpa kisah percintaan sepertinya akan terasa hambar, sehambar hidup tanpa cinta mungkin #halah maka The Great Queen Seon...
  • Serunya "Berbagi" Kartu Pos Lewat Proyek Postcrossing
    Postcrossing adalah sebuah proyek online yang memfasilitasi para anggotanya untuk mengirim dan menerima kartu pos dari dan ke seluruh penj...
  • [K-Drama] Ringkasan Drama The Great Queen Seondeok: Perjuangan Wanita Meraih Tahta
    [ WARNING : Tulisan ini bakal sangat panjang, karena emang banyak yang harus dibahas dan karena saya begitu antusias. Nggak tahu lagi g...
  • Mata Najwa on Stage (Metro TV on Campus UGM)
    Kalian tahu Najwa Shihab kan? Jurnalis pinter lagi cantik yang punya acara talkshow berjudul Mata Najwa? Tahu kan? Tahu dong? Ada apa den...
  • A Drama that So Much Impress Me
    Saya tidak banyak menonton drama Korea, beberapa drama yang pernah saya tonton hanyalah Boys Over Flower , The Moon That Embraces The Sun ...
  • [K-DRAMA] Mr. Sunshine: Salah Satu Drama Recommended 2018
    The saddest thing about nonton K-Drama adalah ketika kamu nggak ada temen buat membahasnya. Apalagi kalau genre drama yang kamu suka adal...

Labels

  • DIY Project
  • Drama Korea
  • Jalan-jalan
  • KKN
  • Korean Wave
  • Life Story
  • Something Wonderful
  • Thoughts

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (3)
    • ▼  December (1)
      • Overwhelmed
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2022 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  September (5)
    • ►  July (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  October (1)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2018 (29)
    • ►  December (5)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (7)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (35)
    • ►  December (7)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  January (11)
  • ►  2016 (28)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (9)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (38)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (5)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  June (4)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (1)
    • ►  January (11)
  • ►  2013 (46)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  October (9)
    • ►  September (8)
    • ►  August (8)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (6)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (7)
    • ►  December (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
  • ►  2011 (19)
    • ►  October (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (8)
  • ►  2010 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose