twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • ABOUT
  • CATEGORIES
    • DIY
    • TRAVEL
    • THOUGHTS
    • KOREAN WAVE
  • About
  • Contact

a wonderful life

Akhir-akhir ini banyak orang yang mendadak "mencintai alam". Bukan, bukan karena do something yang kemudian berefek pada penyelematan lingkungan, dsb tapi lebih diidentikkan dengan melakukan kegiatan “mendaki gunung”. Yaa, tiba-tiba saja banyak sekali orang yang mendaki gunung. Hipotesis saya, hal itu terjadi mungkin karena efek film 5 cm yang diputar di bioskop-bioskop sekitar tahun 2013 lalu. Padahal dari film itu ditemukan beberapa kejanggalan (Baca: Kritik Film 5 cm) Saya mungkin salah satu diantara yang terjebak euforia 5 cm hehe.
Picture from Google

Saya bukan pendaki gunung. Meskipun saya sangat tertarik dengan hobi itu sejak tahun 2009, tapi saat itu ibu tidak mengizinkan saya ikut Glacial (Gladiool Pecinta Alam, organisasi pecinta alam di SMA saya). Tahun 2010 saya minta izin ke Ibu lagi untuk ikut Glacial, tapi lagi-lagi Ibu tidak mengizinkan. Saya pun bergabung dengan organisasi jurnalistik di sekolah, namanya Sibema. Nah, di Sibema kami sering mendapat surat untuk meliput acara organisasi lain. Saya ditawari tugas meliput acara rutin Glacial yang bernama Pepat (Pendakian Awal Tahun) yang berarti saya harus turut dalam pendakian tersebut. Dua kali penawaran untuk meliput dua kali Pepat, tapi lagi dan lagi Ibu tidak mengizinkan. Ketika kuliah, akhirnya Ibu mengizinkan saya bergabung dengan organisasi pecinta alam jurusan, Kapilawastu. Tapi karena suatu hal saya memtuskan resign. Meski begitu atas seizin Ibu saya akhirnya diperbolehkan mendaki gunung bersama teman-teman saya yang sudah lebih berpengalaman. Yaa intinya saya bukan pendaki gunung. Saya cuma pernah naik gunung dan saya ingin berbagi sesuatu.


Related post: Kunanti Restumu, Ibu! (Sebuah tulisan yang masa SMA)

Pernah nonton film lama yang berjudul Vertical Limit? Bagi saya, ada pesan menarik yang disampaikan melalui adegan pembuka film. Dimana sekelompok pemanjat tebing jatuh bahkan beberapa tewas karena kelalaian salah seorang dari mereka. Ya, digambarkan ada seorang pemanjat amatir yang "sok-sok'an", dia hanya memasang satu penambat pada tebing padahal pendaki profesional memasang dua bahkan tiga penambat demi keamanan. Nah, malang bagi si pendaki amatir ketika satu-satunya penambat yang dipasang lepas, ia pun terjatuh. Akibatnya ia menyeret pendaki lain yang berada paralel dalam satu tali dengannya terjatuh, bahkan beberapa tewas. Dari situ saya belajar bahwa dalam melakukan "penjelajahan alam" kita tidak boleh merasa sok bisa dan kita seharusnya mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.

Baiklah, tulisan ini tidak akan mereview lebih jauh tentang film Vertical Limit. Saya hanya ingin sedikit berbagi semampu saya tentang suatu hal.
Beberapa waktu lalu, guru SMA saya yang tak lain adalah Pembina Glacial menulis status di Facebook, demikian:


Apa yang diucapkan Pak Tatak ada benarnya juga. Saat ini banyak yang mendaki gunung tanpa mementingkan keselamatan dan kurang persiapan. Saya sendiri punya prinsip-prinsip dalam mendaki gunung. Paling tidak prinsip ini adalah pegangan buat saya sendiri, tapi di sini saya ingin berbagi siapa tau kalian juga ingin melakukan hal yang sama hehe. Prinsip-prinsip itu adalah:

Never hike alone

Saya pernah membaca sebuah cerita di bukunya Andi F. Noya yang menceritakan kehidupan penyelam. Ada kata menarik yang ditulis penyelam yang diundang Andy dalam talkshow yang dibawakannya, yaitu bahwa prinsip dasar meyelam adalah Never dive alone! Senada dengan itu, saya memutuskan untuk never hike alone. Selain demi keselamatan biar kalau ada apa-apa bisa saling membantu, bagi saya mendaki juga tentang berbagi bersama kawan-kawan, quality time bersama mereka. Meskipun saya pernah menjumpai orang yang mendaki sendirian, mereka pasti juga punya alasan tersendiri untuk itu kan? Tapi kalo saya, mendaki jangan sendiri.


Persiapan fisik sebelum mendaki

Mendaki gunung membutuhkan kondisi fisik yang prima. Karena kita akan berjalan ber-jam-jam dengan membawa ransel besar di punggung dan menghadapi suhu yang lebih rendah daripada biasanya. Karenanya, menurut saya pendaki harus benar-benar dalam keadaan sehat dan sudah latihan fisik seperti lari, push-up, sit-up, dll beberapa hari sebelum pendakian agar nanti badannya nggak "kaget". Apalagi buat orang yang jarang olahraga kayak saya hehe. Ibu saya selalu bilang "Latihan fisik yang bener biar nggak ngerepotin temen-temenmu di gunung nanti." Well-said. Mom! :* Katakanlah leader saya menyarankan latihan fisik tujuh hari sebelum pendakian, saya akan menambah latihan jadi sepuluh atau bahkan dua minggu sebelum hari-H biar lebih mantap aja heheh. Menurut saya latihan nggak perlu ngoyo asal ajeg, karena kalo ngoyo bisa-bisa malah sakit menjelang pendakian.

Sedikit cerita, saya punya teman pendaki. Suatu kali, ia naik Lawu tanpa persiapan fisik sama sekali. Ketika naik dia baik-baik saja. Namun ketika turun, sejak dari Hargo Dumilah hingga basecamp kakinya terus menerus kram. Ia kesulitan berjalan, bahkan carrier-nya pun dibawakan salah seorang temannya. Itulah salah satu contoh akibat kalau mendaki tanpa persiapan fisik yang matang.

Bawa bekal yang cukup

Bekal disini nggak cuma bekal makanan, tapi juga obat-obatan, dan pakaian. Ingatlah di gunung itu... we only own what we can carry. Yaa cuma yang bisa kita bawa itu lah yang kita punya. Perhitungkanlah dengan baik makanan, obat, dan pakaian yang bakal kita butuhkan selama pendakian. Sebisa mungkin jangan sampai kurang dan jangan terlalu kelebihan karena akan memberatkan. Jangan mengandalkan orang lain, "Ah nanti minta temen pasti ada yang bawa." Menurutku, jangan punya pikiran kayak gitu. Kita harus mandiri dan modal dikitlah haha. Kalo ada hal buruk terjadi, misal tersesat sendirian, kita cuma bisa survive dengan bekal yang kita bawa kan sembari menunggu penyelamat datang. So, usahakan bekal yang kita bawa cukup.

Packing tips.
Pernah suatu kali saya membawa bekal air dua liter, padahal leader menyarankan untuk membawa tiga liter. Saya orangnya emang nggak terlalu banyak minum. Bekal minum saya selalu sisa, jadi saya pikir dua liter cukup untuk pendakian itu. Ketika leader pendakian mengetahui saya hanya membawa air segitu, dia galak memarahi saya dan menyuruh saya membeli air lagi. Saya pun menuruti karena saya takut terjadi apa-apa hehe.

Use the proper equipments

Ini juga sangat penting, alat-alat kelompok maupun individu yang hendak dibawa mendaki harus dicek, pastikan semuanya dalam keadaan baik. Persiapkan semuanya sebaik-baiknya karena di gunung nggak kayak di rumah hehe. Perkirakan alat apa saja yang bakal dibutuhkan. Tenda misalnya, menurut saya ini termasuk peralatan standar yang harus dibawa. Apalagi saya amatir. Entah nanti tenda akan dipakai atau tidak, bagi saya ini tetap penting. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di atas. Tapi paling tidak, kita sudah mempersiapkan.  "Kalau misal ada kawan yang sakit dan harus istirahat sejenak, mau gimana kalo nggak bawa tenda? Tegakah dititipkan ke tenda pendaki lain? Kalau aku kok rasanya kurang nyaman. Nggak enak sama kawan sendiri. Nggak enak sama pendaki lain juga." Demikian seorang pendaki pernah berkata kepada saya. Meskipun ada pendaki yang naik lalu sampai puncak turun lagi, tanpa nge-camp kalau pemikiran saya tenda tetap perlu dibawa demi alasan keselamatan. Alas kaki yang nyaman dan nggak licin juga penting diperhatikan karena mendaki itu aktivitas utama kita jalan kaki, jadi butuh sepatu yang well. Begitu juga alat-alat lainnya.

Peluit dari ibuk di pergelangan tangan saya

Mmm tahukah kalian? Ibu saya selalu membekali saya dengan peluit pada gelang ketika saya hendak mendaki gunung, agar jika saya terpisah dari teman-teman saya bisa memberi kode dengan peluit itu. Ibu saya memang kadang alay dalam melindungi saya, tapi apa yang dilakukan Ibu ada benarnya juga kan? Hal kecil yang bisa bermanfaat besar :')

Jangan lupakan kewajiban kepada Tuhan

Mendaki gunung mestinya adalah sarana kita menyaksikan "karya" Tuhan, mendekat pada-Nya. Makanya jangan sampai justru membuat kita lalai pada kewajiban kita. Saya sebagai umat Islam, tentu saja Sholat yang saya maksudkan disini. Menurut saya, pendaki juga jangan lupa sholat. Kita harus membekali diri dengan pengetahuan yang cukup tentang cara bersuci dan sholat di tempat sepeti itu, menurut saya hal tersebut tidak bisa disepelekan. Selain itu juga jangan lupa berdoa. Ibu saya selalu berpesan agar jangan terlalu asyik kalau tengah berada di gunung, doa-doa harus selalu dipanjatkan. Karena "tidak ada daya dan upaya kecuali atas izin Allah SWT."

Picture from Google.
Lagi-lagi sedikit cerita, suatu hari pernah ada rencana mendaki hari Kamis lalu turun hari Jumat sebelum sholat Jumat. Tapi, saya menolak jadwal tersebut. Memang kalau sesuai rundown kami bakal sampai basecamp lagi sekitar satu jam sebelum Sholat Jumat. Tapi, saya khawatir pada praktiknya kami akan finish satu atau dua jam dari yang diperkirakan yang mengakibatkan kaum lelaki jadi bolos sholat Jumat. Saya menolak jadwal tersebut dan mengsulkan hari lain agar jangan sampai mendaki jadi alasan buat bolos sholat Jumat. Bukannya sok alim atau gimana, saya ggak cuma takut Allah 'marah' dan terjadi sesuatu yang nggak diinginkan. Who knows, kan?

Knowledge

Menurut saya mendaki gunung pasti ada ilmunya. Ada baiknya kita tanya-tanya dulu ke orang yang lebih berengalaman tentang tips mendaki atau browsing dari internet. Pengetahuan tentang gunung yang akan didaki juga penting agar kita ada gambaran disana kayak apa baik kondisi alam maupun rutenya. Selain itu yang nggak kalah penting adalah membekali diri dengan pengetahuan tata cara survival dasar dan P3K dasar buat jaga-jaga. Browsing aja di google banyak atau tanya ke anak kesehatan atau baca buku. Jangan mengandalkan orang lain melakukan P3K buat kita hehe. Kalo posisi kita yang harus nolong temen kita dan kita nggak bisa apa-apa kan nyesel banget.

Sopan Santun

Mendaki gunung juga butuh sikap-sikap yang baik. Sopan santun ke sesama pendaki harus dijaga. Jangan berkata kotor dan jangan ngeluh. Sopan santun ke alam pun harus ada.

These three rules are a must: 
Take nothing but picture, 
left nothing but footprint, and 
kill nothing but time. 
Jangan ngerusak alam, jangan vandal, dan jangan nyampah. Trus juga perlu diingat, kita hidup berdampingan sama makhluk-makhluk ciptaan Allah baik yang seen maupun unseen.(You know what i mean lah yaa). Jadi sopan santun tetep perlu diajaga jangan sampai mengganggu makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Dan jangan sombong sok-sok bisa, dll. Ingat selalu kita begitu kecil di hadapan-Nya :)

Izin

Perkara izin juga nggak kalah penting, izin sama orang tua terutama. Saya sendiri adalah orang yang sangat percaya dengan the power of doa ibu hehe. Bagi saya perjalanan kemanapun harus diiringi restu dan doa orang tua, kalo nggak saya takut kualat. Begitu pula dalam mendaki gunung, kalau Ibu nggak mengizinkan yaa saya nggak berangkat. Selain izin orang tua menurut saya kita juga harus lapor ke basecamp jangan main nyelonong aja apalagi nggak lewat jalur resmi, karena lagi-lagi kalau terjadi sesuatu pada kita bisa-bisa nggak ada orang yang tahu karena kita nggak izin ke basecamp. 


Another tips from survivalistalerts.com


So, restu orang tua, perizinan ke basecamp, dan jangan keluar jalur ini juga jadi hal yang nggak boleh dilewatkan.


Mmm...itu aja sih yang bisa saya bagi tentang mendaki gunung berdasarkan prinsip-prinsip pribadi. Bukannya negative thinking dengan apa yang akan terjadi di gunung, hanya saja kita perlu mempersiapkan segala sesuatu sebaik-baiknya. Karena persiapan adalah setengah keberhasilan. Stay positive, tapi jangan bodoh. Intinya dalam mendaki gunung everything should be well-prepared. Iya semuanya, hatinya, fisiknya, bekalnya, knowledge-nya. Saya memang bukan pendaki profesional, tapi semoga bermanfaat buat pembaca semua. Dari tulisan itu monggo diambil baiknya dan dihindari buruknya. Maaf kalau tulisan ini ada salah-salahnya :))

Mt. Lawu, September 27, 2014
Taken by Danny Saputra, Edited by Nurul Latifah

Selamat menaklukkan atap-atap bumi, kawan. Let's hike safely!! :)

Magelang, 19 April 2015
Terimakasih kepada para pendaki 
yang menginspirasi saya menulis ini
Terimaksih atas nasehat dan kisahnya

April 20, 2015 No comments
Siapa tak kenal Candi Borobudur? Sebuah candi terbesar di muka bumi yang pernah masuk dalam salah satu dari tujuh keajaiban dunia versi lama. Ya, Candi Buddha ini pastinya dikenal hampir seluruh penduduk dunia (halah). Beberapa waktu lalu, aku dan ciwi-ciwi mengunjungi candi tersebut. Sebelum bercerita lebih jauh ada baiknya kenalan dulu sama profil-nya Candi Borobudur. Berikut ini sedikit keterangan mengenai berdasarkan ilmu yang saya dapatkan ketika SMP pada mata pelajaran Muatan Lokal, English for Tourism (EFT). Kalo yang SMP-nya di Kabupaten Magelang dan sekitar seangkatan sama saya pasti tau dan pernah berjuang 'mempelajari' EFT kan gaiss? :')


Source: Google

Candi Borobudur merupakan sebuah candi Buddha yang terletak di MAGELANG, JAWA TENGAH, Indonesia. Sekali lagi saya tekankan, Borobudur terletak di Magelang, Jawa Tengah, BUKAN DI YOGYAKARTA. Candi dibangun pada abad ke-9 Masehi pada masa pemerintahan Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra. Arsitek pembangun candi yang terbuat dari susunan batu andesit ini adalah Gunadharma. 

Tinggi candi yang setiap hari ramai dikunjungi wisatawan asing maupun lokal ini adalah 35 meter. Candi berisi relief dan stupa yang terbagi dalam tiga tingkatan yaitu Kamadhatu (lapisan bawah), Rupadhatu (tengah), dan Arupadhatu (atas). Pada tingkatan Kamadhatu, terdapat relief Karmawibangga yang mengisahkan hukum sebab-akibat atau hukum karma dalam kehidupan manusia. Sementara dinding Rupadhatu berisi relief Lalitavistara yang menceritakan kelahiran Sang Buddha sebagai Pangeran Sidharta dari Kerajaan Kapilawastu, relief Jataka dan Awadana yang menceritakan kehidupan Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Sidharta, dan relief Gandavyuha tentang berkelananya Raja Sudhodhana, ayah Sidharta. Selain relief-relief, tingkatan Arupadhatu juga berisi arca-arca yang diletakkan pad relung batu. Arca-arca tersebut memiliki berbagai sikap tangan (mudra) yang masing-masing memiliki arti tersendiri. Tingkatan teratas, yaitu Arupadhatu merupakan bagian yang berisi stupa-stupa dimana di dalamnya juga terdapat arca Buddha dan satu stupa induk setinggi tujuh meter dengan garis tengah 9,9 meter.

Oh iya, FYI jika mengunjungi Borobudur cara membacanya reliefnya adalah dengan Pradaksina yaitu memutar searah jarum jam.

Situs wisata Candi Borobudur dikelola oleh sebuah BUMN bernama PT Candi Brobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero). Ya, BUMN tersebut memang menangani Candi Prambanan dan Candi ratu Boko di Yogyakarta.  Untuk dapat masuk ke situs pariwasata Candi Borobudur, Jawa Tengah, tarif yang dikenakan bagi wisatawan lokal adalah Rp30.000,- Cukup murah menurutku. Karena selain dapat menikmati Candi Borobudur sebagai situs utama, kita juga dapat masuk ke beberapa museum seperti Museum Kapal Samudraraksa, Museum Karmawibangga, Museum Rekor Indonesia, dll.

Udah, lumayan cukup cerita tentang candi, berikut adalah cerita tentang kami :D Siapa kami? Kami adalah Risa, Tica, Fitri, Esti, Arifah, dan aku temen yang dua tahun sekelas pas SMA. Iyaaak, mereka adalah penghuni kelas Sensasi Sosial Loro (Sensor) tercintaaaah. Bulan Syawal tahun lalu, kami sepakat mengadakan reuni dengan mengujungi landmark-nya Kabupaten Magelang itu.




Full team: Risa, Tica, aku, Arifah, Fitri, Esti.

Ciwi-ciwi di salah satu relief candi.

Bertiga di salah satu dinding Candi.
FYI, yang di tengah itu sekarang sedang exchange di Mesir :')

Bergaya di sisi stupa. Itu saya loh, bukan arca :P

My favorite photo! Love you lads :*


Nah, gimana? Kece kan? :P
Sebelum kalian para hijabers cantik memutuskan buat mengunjungi Candi Borobudur, izinkanlah saya berbagi tips wisata heheh
  1. Gunakan alas kaki yang nyaman karena kalian bakal jalan jauh dan naik tangga banyak. Mau pake sandal, sneakers, flat shoes, atau wedges silakan yang penting dipakai nyaman. Aku pas kesana pake flat shoes sementara si Tica pake wedges dan dia nyaman-nyaman aja. Yeah, beauty is pain sometimes. FYI, jarak dari pintu masuk ke candi itu sekitar satu kilometer dan jalan keluar dari candi ke parkiran juga jauuuuhhh. Balum keliling candinya, naik tangganya, mampir-mampir ke museum juga. So, pastikan alas kakimu nyaman :)
  2. Kenakan pakaian yang nyaman. But you've to look stylish too :P
  3. Gunakan topi atau payung karena jalannya bakal panas kena terik sinar matahari. Kami memilih menggunakan bow hat daripada payung. Karena bow hat juga bisa dipakai buat foto-foto kece :P Yaa, tapi kalo kamu punya payung warna-warni atau floral atau apalah yang lucu bolehlaah dibawa biar pas dijepret tetep badaiii~ Kalo lupa bawa topi atau payung? Santai, ada penjual-penjual topi di sekitar. Cuma kamu harus pinter-pinter nawar yaa girls. Ada juga jasa persewaan payung, tapi tentu aja bukan payung-payung unyu hehe
  4. Bawa bekal minum sama makanan ringan, karena perjalanan yang jauh pasti bikin kamu capek, haus, dan lapar. Tapi tetep fun kok. Gak nyesel pokoknya :D
  5. Pake sun glasses boleh juga selain buat melindungi panas, juga buat gaya-gayaan hahah.
  6. Kunjungi aja semua wahana-wahana yang ada, maksimalkan itu tiga puluh ribu yang kamu bayarkan sebagai tiket masuk.
  7. Browsing-browsing dulu info tentang tempat wisata itu biar kamu tau esensinya. Jangan cuma foto-foto yaah -_- Bagus lagi kalau kamu menggunakan jasa pemandu wisata karena dengan bantuan mereka wisatamu jadi lebih worth it.
  8. Kalau mau beli souvenir, pandai-pandailah menawar  asal jangan keterlaluan biar kamu nggak dihajar penjualnya hehe
  9. Patuhi aturan yang ada dan jangan vandal.
  10. Jangan lupa foto di depan pohon Boddhi deket pintu keluar dengan background candi secara keseluruhan. Kece badaiii~ Kayak foto favoritku di atas ;)
Itu tadi sedikit cerita dan tips wisata ke Candi Borobudur. Kalau kamu datang pada saat-saat tertentu Borobudur bakal menawarkan paket wisata yang menarik lagi. Misalnya ketika perayaan Hari Raya Waisak bagi umat Buddha, disana bakal ada festival lampion dan Sendratari Mahakarya Borobudur. Kalau kamu mau bermalam di hotel sekitar atau rumah saudara, di seputaran candi juga banyak kok destinasi pariwisata lainnya. Ada Candi Pawon, Candi Mendut, Kafe Rumah Kamera, atau juga Museum Haji Widayat. Kalau mau wisata alam ada juga tempat melihat sunrise yang bagus banget namanya Punthuk Setumbu. Usahakan kesana pas musim kemarau biar dapet sunrise bagus. Yang lebih jauh ada Ketep Pass, tempat dimana kamu bisa lihat Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, menikmati teater tentang Gunung Merapi dan Museum Gunung Merapi cukup dengan Rp7.000,- Asyik kan? 
Yuuk, VISIT MAGELANG ^^


Mulai ditulis di Krapyak sekitar sebulan lalu
dan baru sempet finishing dan di-publish di Selasar Barat Fisipol
05 Januari 2015
 (sambil menunggu waktu pengumpulan paper Internship)
January 05, 2015 No comments
Ditakdirkan untuk hidup merupakan suatu hal yang patut kita syukuri. Hidup hanya sekali, beri itu arti. Hidupilah kehidupanmu, salah satunya dengan banyak belajar, banyak mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada.

Aku hidup di suatu tempat dimana disini aku bisa belajar agama, yah walaupun sedikit demi sedikit hal tersebut tetaplah patut untuk aku syukuri. Ada hal menarik yang beberapa saat lalu aku pelajari, tentang hidup. Bahwa ada tiga hal yang tak boleh hilang dalam kita menjalani kehidupan.

Bahwa jangan sampai kita kehilangan HARAPAN. Kehilangan harapan berarti kita berputus asa, padahal bukankah Allah telah berfirman dalam Al Qur'an yang mulia itu "...dan janganklah kamu berputus asa dari rahmat Allah. sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum kafir." QS Yusuf (12:87). Dalam hal apapun jangan sampai kau kehilangan harapan kawan. Karena Allah itu ada, dan dia Maha Segalanya. Renungkanlah, betapa harapan akan rahmat Allah itu sesungguhnya selalu ada, bagi mereka yang mau berusaha, bagi mereka yang mau berdoa. Gusti Allah mboten sare! :)

Bahwa jangan sampai kita kehilangan KEIKHLASAN. Ketika kita sudah berharap namun kenyataan tak sesuai harapan, tolong jangan lupa bahwa yang selanjutnya tak boleh hilang dalam diri kita adalah keikhlasan. Ikhlas itu memang tak semudah melisankannya, butuh hati yang benar-benar lapang, hati yang benar-benar kuat untuk dapat melakukannya. Ikhlas ketika kita kehilangan, ikhlas ketika memaafkan, ikhlas ketika mendapat cobaan. Marilah kita berbaik sangka kepada Allah, bahwa pasti ada hikmah dan sesuatu yang lebih baik.

Bahwa jangan sampai kita kehilangan KEJUJURAN. Seperti yang seringkali dipesankan Ibu pada putra putrinya untuk selalu berlaku jujur. Pepatah Jawa mengatakan "jujur ajur" (jujur hancur). Ah bukankah itu tak selamanya? Jujur itu menenteramkan hati. Tak menimbulkan perasaan was-was. Jujur pada diri sendiri, dengan menerima apa adanya kita, jujur pada orang lain dengan mengatakan yang sebenarnya.

Kawan, aku memang tak sehebat itu. Aku pun hanya gadis biasa yang ingin berbagi padamu tentang tiga hal itu. Aku belum sepenuhnya bisa melaksanakan semua itu, tapi bukankah tak ada salahnya berbagi untuk bersama-sama kita memperbaiki diri.
April 13, 2014 No comments
Teruntuk kisah-kisah yang kandas hahah

Hai,
Ini bukan tentang kisahku, jadi ini mungkin kisahmu
Dan aku tahu rasanya kandas itu. Catet ya di bukumu: AKU TAHU!
Apa kamu bilang? Aku sok tahu? Aku nggak di posisimu?
Woy, tolong highlight tulisan tadi: AKU TAHU!

Wajar kok kalau sakit, yang nggak wajar justru kalo nggak sakit. Yang biasanya ada jadi nggak ada, wajar kok kalo ngerasa kehilangan. Pengen ketemu sama dia, pengen ngomong sesuatu? Itu juga wajar...wajar banget. Masih sayang banget? Masih pengen dia tiba-tiba dateng ke rumahmu trus bilang eleviyu lagi? Hmm, nggak semua kisah yang kandas pengen kayak gitu sih -_- Emang sakit waktu lihat dia mulai membangun kisah barunya. Tapi itu bukan berarti kamu harus mengingatkan dia tentang kisah kalian (yang udah kandas), berusaha bikin dia inget ke kamu. Bilang ke dia ada yang pengen kamu bicarakan, biar bisa ketemu. Atau apapun. Aaah, coba rasakan lagi, pikirkan lagi...kamu kangen dia, atau kangen kenangannya sama dia? Kangen dia apa cuma terjebak nostalgia? Apapun, nggak berarti caranya harus kayak gitu. Meski rasanya pengen banget bilang. Nggak semua yang ada di pikiran itu harus dikatakan! 
Percayakan saja pada Tuhan! Percayakan saja pada waktu! Terdengar klise memang. Tapi..percaya aja. Akan ada saatnya nanti kamu bakal jatuh cinta lagi. Ada saatnya ketika lukamu perlahan sembuh. Iyaaa aku tahu, bekas lukanya emang tetep ada di situ, di hatimu. Itu namanya. . .kenangan. Tapi udah nggak akan sakit lagi kok nantinya :)
Sulit? Iya emang sulit. Aku juga tahu. AKU TAHU! Tapi sulit itu bukan berarti nggak bisa. Tetep harus kamu usahakan.

Karena percayalah, kamu nggak bakal pengen ada orang yang mengusikmu saat kamu membangun kisah barumu nanti :)
Segera! Buat lukamu sembuh. Jangan sampai lukamu menodai kisah barumu.
Jemput kisah barumu!

Selamat malam minggu yaa~
dari aku, iya aku!
yang bisa merasakan apa yang sedang kamu rasakan__
October 20, 2013 No comments
Older Posts

About me

About Me

Live in small and lovely town, Magelang. Enjoy making DIY project, especially hand-embroidery. Really love writing here, share some thoughts, experience, and everything that popping in my mind.

Follow Us

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Popular Posts

  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (3): Pendakian Gunung Ijen
    Setelah puas menikmati pesona Taman Nasional Baluran di Situbondo (seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya), saya sholat kemudian ma...
  • Jalan-Jalan ke Banyuwangi (1): Itinerary, Transportasi, dan Biaya
    Banyuwangi adalah sebuah tempat yang ingin saya kunjungi sejak sebelum KKN. Saya bahkan sudah menggali informasi dari teman kuliah yang sud...
  • Sekilas tentang Departemen MKP Fisipol UGM
    Saya adalah mahasiswa semester delapan yang memiliki seorang adik yang tengah menempuh tahun terakhirnya di SMA, bulan-bulan ini ia tengah ...
  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (2): Bacpacker ke Baluran di Musim Hujan
    Setelah kemarin menulis tentang rincian teknis jalan-jalan ke Banyuwangi, kali ini saya hendak menuliskan cerita tentang tempat wisatanya. ...
  • [K-Drama] Queen Seondeok: Kisah Cinta Deokman, Kim Yu Shin, dan Bidam
    Sebuah drama yang tanpa kisah percintaan sepertinya akan terasa hambar, sehambar hidup tanpa cinta mungkin #halah maka The Great Queen Seon...
  • Serunya "Berbagi" Kartu Pos Lewat Proyek Postcrossing
    Postcrossing adalah sebuah proyek online yang memfasilitasi para anggotanya untuk mengirim dan menerima kartu pos dari dan ke seluruh penj...
  • [K-Drama] Ringkasan Drama The Great Queen Seondeok: Perjuangan Wanita Meraih Tahta
    [ WARNING : Tulisan ini bakal sangat panjang, karena emang banyak yang harus dibahas dan karena saya begitu antusias. Nggak tahu lagi g...
  • Mata Najwa on Stage (Metro TV on Campus UGM)
    Kalian tahu Najwa Shihab kan? Jurnalis pinter lagi cantik yang punya acara talkshow berjudul Mata Najwa? Tahu kan? Tahu dong? Ada apa den...
  • A Drama that So Much Impress Me
    Saya tidak banyak menonton drama Korea, beberapa drama yang pernah saya tonton hanyalah Boys Over Flower , The Moon That Embraces The Sun ...
  • [K-DRAMA] Mr. Sunshine: Salah Satu Drama Recommended 2018
    The saddest thing about nonton K-Drama adalah ketika kamu nggak ada temen buat membahasnya. Apalagi kalau genre drama yang kamu suka adal...

Labels

  • DIY Project
  • Drama Korea
  • Jalan-jalan
  • KKN
  • Korean Wave
  • Life Story
  • Something Wonderful
  • Thoughts

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (3)
    • ▼  December (1)
      • Overwhelmed
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2022 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  September (5)
    • ►  July (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  October (1)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2018 (29)
    • ►  December (5)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (7)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (35)
    • ►  December (7)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  January (11)
  • ►  2016 (28)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (9)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (38)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (5)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  June (4)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (1)
    • ►  January (11)
  • ►  2013 (46)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  October (9)
    • ►  September (8)
    • ►  August (8)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (6)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (7)
    • ►  December (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
  • ►  2011 (19)
    • ►  October (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (8)
  • ►  2010 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose