Ibuk

by - April 04, 2014

Ibuk. Bagitulah aku biasa memanggil wanita yang dari rahimnya aku dilahirkan, yang dalam hadis Nabi disebutkan bahwa ialah orang pertama yang harus kita muliakan. Sejak kecil, aku memang lebih dekat dengan Ibu daripada Bapak. Ibuk berperan sepenuhnya dalam hidupku. Ibuk dan selalu Ibuk.

Ibuk adalah wanita yang pada usianya yang keduapuluhtujuh melahirkan aku. Beliau bercerita, pertama kali memegangku, memandikan aku adalah hal yang paling menegangkan. Beliau periksa seluruh tubuhku, memastikan semuanya baik-baik saja, memastikan jari kedua tanganku genap sepuluh, begitu juga jari kakiku. Ketika aku mulai tumbuh, dibisikan olehnya kata-kata di kedua telingaku, memastikan aku bisa mendengar. Diberilah aku mainan di atas mataku agar mataku mengikuti kemana arah mainan itu digerakkan, memastikan aku bisa melihat. Iya, Ibuk adalah wanita yang ‘segitunya’ kepadaku. Andaikata saat itu didapatinya aku cacat, aku yakin sepenuhnya Ibuk-lah satu-satunya sosok yang akan menerima keadaanku, then encourage me.


Ibuk adalah yang justru menangis melihat putri sulungnya yang nakal berdarah-darah karena menggenggam silet. Gadis kecil itu tidak menangis, hanya memandangi tangannya. Ibuk-lah yang menangis, menyesali kelalaiannya dan segera mengantarnya ke dokter, lalu merawat lukanya pada hari-hari selanjutnya. Hingga ketika gadis itu dewasa, luka itu tak meninggalkan bekas di tangannya

Ibuk adalah yang memeluk erat putri sulungnya yang berlari sambil menangis dan menjerit ketakutan karena melihat kupu-kupu. Ibuk pula yang memeluknya ketika ia takut mendengar suara gamelan dari pentas kesenian kampung sebelah. Memeluknya, hingga ia lelap tertidur.

Ibuk adalah yang mengenalkan putrinya akan nama hewan, buah, ataupun kendaraan yang belum pernah dilihat, lewat poster-poster di ruang belajar. Mengajarinya bermain lego. Dengan lembut mengajari putrinya mewarnai, membaca, menulis, atau juga bernyayi.

Ibuk juga merupakan sosok yang sangat keras ketika mengajar mengaji, mengajarkan ilmu agama. Ibuk begitu tegas, karena ilmu agama tidak bisa disepelekan. Anak-anaknya harus tahu ilmu agama.

Ibuk adalah yang menanyai putrinya, “Pelajaran apa yang sulit?” | “Bahasa Jawa, Buk.” | Lalu Ibuk datang ke sekolah, bertanya pada Bu Guru, buku apa yang bisa digunakan putrinya untuk membantu memahami pelajaran? Dibelikan-lah untukku buku Pepak Basa Jawa. Iya, Ibuk adalah yang ‘segitunya’.

Ibuk tidak pernah menuntut putra-putrinya untuk selalu menjadi yang terbaik di kelas. Tidak. Ibuk ‘hanya’ membantu kami, anak-anakanya, belajar dan merasa nyaman. Membuat kami belajar sepenuh hati. Tidak pernah menuntut untuk mendapat nilai tertinggi di kelas.

Ibuk tak pernah lelah mendengarkan kisah putrinya sepulang sekolah, semua tentang kejadian sekolah ia ceritakan, tentang temannya, gurunya, kakak kelasnya, perjalanannya. Semua. Dan Ibuk selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan, tidak pernah bosan.

Ibuk pula yang memberikan nasihat bagi putri sulungnya yang keras kepala. Mengajarkan padanya tentang hidup, tentang syukur, tentang kasih saying, tentang menerima, tentang semangat, tentang kemandirian, segalanya. Kadang lembut, kadang juga melalui bentakan, tapi semua kalimat terdengar benar.

Ibuk dan hanya Ibuk yang sepenuhnya memahami putri sulungnya, kemudian menerima apa adanya. Tak perlulah aku banyak berkata-kata menjelaskan apa yang terjadi, aku tidak nafsu makan saja Ibuk tau aku sedang jatuh cinta, aku diam saja Ibuk tahu ada yang tidak beres.

Ibuk yang selalu memanjatkan doa untuk putri sulungnya setiap habis sholat. Lalu meniup ubun-ubun putrinya, “agar merasuk doanya” ujar beliau. Dan segala keajaiban yang terjadi dalam hidupku, aku yakin pasti ada unsur doa ibu di dalamnya.

Ibuk adalah yang melihat putrinya pada keadaan sejatuh-jatuhnya, lalu menemani sepanjang ‘masa penyembuhan’, mengiringinya hingga ia benar-benar bisa bangkit lagi. Kemudian berkata, “Ibuk nggak mau lihat kamu ‘sakit’ lagi. Hati-hati.”

Kalau aku harus menuliskan segalanya tentang Ibuk, maka sungguh aku tak akan bisa. Karena Ibuk terlalu segalanya. Sebagian itu saja yang bisa aku tuliskan tentang Ibuk.  Ibuk adalah sahabat terbaik dan cinta paling tulus. Wanita sederhana dengan kharisma yang mengagumkan. Ibuk adalah yang meski terpisah oleh jarak satu jam perjalanan, tetap bisa memelukku dengan doa-doanya.

Thanks Allah, for giving me this Ibuk. Thanks.
Thanks mom, you rise me up to more than I can be *pelukibuk*
Allahummaghfirli dzunuubi waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaani shoghiiro



Krapyak, Yogyakarta 4 April 2014
lima puluh tiga menit lewat tengah malam
Aku sayang Ibuk :*


You May Also Like

0 comments