Prangko Edisi Khusus Asian Games 2018 Jakarta-Palembang

Friday, September 7, 2018

Halo, sudah berapa tahun cahaya saya nggak nulis blog? Ketiadaan materi membuat saya jarang nulis huhuhu, so sad. Kalau ada usulan ide boleh lho kasih tau saya haha. Pada malam yang dingin dan langitnya se-gloomy hatiku ini, saya akan memutuskan kebuntuan ide dengan menulis tentang Asian Games 2018 Stamps Series. Agak telat sih yaa, soalnya Asian Games udah selesai (dan kayaknya saya menang di cabang olahraga kangen beregu) tapi gak apa-apa tetep ditulis aja, biar ada jejak tentang Asian Games 2018 Jakarta-Palembang di blog. Sebenernya saya beli prangko ini udah lama, tapi ya karena saya terlalu sibuk mikirin kamu, jadi baru sempet nulis sekarang. Saya pertama tau ada prangko seri Asian Games 2018 dari IG-nya Pos Indonesia yang diunggah tanggal 19 Agustus 2018. Dari situ dijelaskan kalau Pos Indonesia merilis prangko edisi khusus Asian Games XVIII yang cuma dicetak terbatas (2.000 set) dan nggak akan dicetak ulang. Saya langsung bertekad untuk membelinya hahaha.
Artikel Terkait: 
Serunya Berbagi Kartu Pos Lewat Proyek Postcrossing


Dimana beli prangkonya?

Nggak semua kantor pos menyediakan prangko bervariasi, tapi petugas di Kantor Pos Bulaksumur pernah merekomendasikan bahwa kalau pengen milih prangko yang lebih beragam datang saja ke Kantor Pos Besar Yogyakarta. Maka demi membeli prangko spesial ini, saya dateng ke Kantor Pos Besar Yogyakarta yang terletak di Nol Kilometer. Hari itu, pertamanya saya ke Kantor Pos Besar dan dibuat gumun karena disini ada bagian khusus buat filateli yang menyediakan beragam prangko dan kartu pos. Kayaknya tempat ini adalah pusat kebahagiaan bagi postcrosser, filatelis, atau bahkan penggemar snail mail di Jogja. Saya bahkan ketemu mbak-mbak yang juga beli perangko Asian Games buat koleksi dan ngobrol sok asyiklah kami disitu haha.


Saya dikasih tau kalau ada dua macam prangko seri Asian Games 2018. Pertama, prangko yang gambarnya cabang-cabang olahraga yang dilombakan. Kedua, prangko yang saya beli. Saya pilih beli ini karena menurut saya lebih unyu heheh. Satu lembar prangko harganya Rp3.000,- dan yaudah saya beli satu set (berisi 21 prangko) sekalian karena saya bakal perlu agak banyak.


Tentang Prangko Seri Asian Games 2018

Saya bakal saya bahas tentu saja adalah prangko yang saya punya, yang seri satunya lagi belum kumiliki, persis kayak kamu mz. Ada tiga desain dalam satu set. Akan saya jelaskan satu persatu berdasar pengetahuanku yang terbatas dan cocoklogi pribadi. Soalnya Pos Indonesia juga gak jelasin rincian desainnya sih huhu. Semoga lain kali kalau Pos Indonesia rilis prangko, informasi yang disertakan kayak desainernya dan cerita dibaliknya makin detail yaak, bisa jadi masukan lho ini buat tim humasnya Pos Indonesia.

Prangko pertama.

Prangko kedua.

Prangko ketiga.
Oke, yang pertama dengan warna dasar putih, ada bentuk-bentuk manusia yang sedang memperagakan empat cabang olahraga: lari, badminton, sepak takraw, dan renang. Kedua, bergambar landmark Indonesia, khususnya Jakarta dan Palembang sebagai kota tuan rumah Asian Games 2018 yaitu ada Stadion Utama Gelora Bung Karno, Monumen Selamat Datang Bundaran HI, Patung Dirgantara Pancoran, Jembatan Ampera, gunung-gunung, motif batik Mega Mendung, dan gambar atlet renang, sepeda, satunya yang bawah itu atlet apa ya? Lari kah? Ketiga sekaligus terakhir adalah gambar seorang atlet yang udah memenangkan pertandingan dan pakai medali emas. Atletnya kayak lagi lompat bahagia, mungkin sambil nyanyi "Yo yo ayo, yo ayo yo yo ayo!!" hehehe. Tapi aku gak tau itu ceritanya atlet dari cabang olahraga apa, kalau teman saya Afnan sih curiga beliau ini dari cabang mbribik estafet, panjat sosial, lempar kenangan, atau silat lidah (oposih Afnaan~). Kalau menurut kalian, yang ketiga dari cabang apa hayo?

Kartu pos dengan prangko Asian Games 2018.
Coba tebak mau kukirim kemanakah mereka?
Saya beli prangko-prangko itu untuk dikirim ke suatu negara bersama kartu pos. Nanti kalau sudah sampai tujuan, bakal saya tulis lagi ceritanya di blog wis. Sebenernya keberadaan prangko Asian Games 2018 bisa jadi nggak terlalu signifikan, tapi unik aja dan buat old-fashioned people kayak saya yaa pasti bikin sedikit hepi hehe. Apalagi kalau misal postcrosser atau penggemar snail mail dari negara lain, pasti bahagia kalau dapet prangko edisi khusus kayak gini. So, terima kasih Pos Indonesia telah merilis prangko-prangko unyu ini :D


Asian Games 2018

Dibuka dengan Opening Ceremony yang sungguh-sungguh spektakuler! Nggak ngerti lagi kudu gimana mengungkapkannya. DAEBAK!! Adegan presiden masuk arena pembukaan dengan motor, yaa sejak nonton udah pahamlah itu stuntman, yakali presiden suruh latihan motor everyday hambok genahe wae :(( Tata panggung, tari-tarian, penyanyi...super semua dan Indonesia banget. Lagu Indonesia Raya yang dinyanyiin acapela dan GAC nyanyi Ampar-Ampar Pisang, sukaaaa. Saya ingin merekomendasikan semua manusia di dunia ini buat nonton itu, semoga terhibur. Saya yang nonton dari rumah aja ngerasa bahagia banget dan yakin acara itu bakal terkenang, apalagi mereka-mereka yang terlibat langsung, pasti bakal jadi kenangan indah sepanjang hayat :)

Lalu mari bersama ucapkan alhamdulillah wa syukurillah, Indonesia berhasil meraih posisi keempat di perhelatan Asian Games 2018 kali ini. Selamat dan terima kasih untuk semua atlet yang telah bertanding kemarin. Jujur saja ya, saya nggak banyak nontonin pertandingannya, cuma beberapa kali nonton badminton. Saya bahkan lebih banyak nontonin pertandingan di Rio Olympics 2016 kemarin daripada Asian Games 2018 ini hiks. Mungkin karena dulu masih selo banget sambil nunggu sidang, sekarang kalo siang kerja, pulangnya udah mager ngapa-ngapain hmm. Eh tapi saya tetap memantau perkembangan Asian Games 2018 lewat linimasa Instagram dan Twitter kok hehe. Makanya di penghujung Asian Games 2018, saya nemu ucapan yang sungguh bagus ini. Klik disini ya kalau mau baca. Selamat juga untuk atlet-atlet dari negara lain yang berhasil menang, terutama buat beliau-beliau yang nggak jadi wamil ciye ciye, bungah banget mesti njenengan mz hahaha.

Beliau yang tak jadi wamil dan siap menghias layar kaca dengan senyum cerianya. (pic source)

Closing ceremony juga nggak kalah kece, lighting-nya luarrr biyasaaaak. Sempet takjub dengan jas hujan transparan yang dipakai para atlet dan relawan aku tuh. Terima kasih Pak Wishnutama cs, dari closing ceremony ini aku jadi tau bahwa ada lagu easy listening yang judulnya Love Scenario, hari Seninku jadi semangat sambil nyanyi-nyanyi "sarangeul haetta uriga mana" hahaha. Terima kasih juga telah menghadirkan Kuch Kuch Hota Hai, Koi Mil Gaya, dan Jai Ho di tengah semua ini. Untuk Mbak BCL dan Mas JFlow juga Mbak Dira Sugandi, Anda keren! Paling makasih telah mengundang volunteer ke upacara penutupannya. Saya punya teman yang jadi volunteer di Asian Games 2018, she must be so happy and I'm so happy for you too. Btw, buat yang kemarin heboh "rahim anget" pas Jonatan buka baju, FYI aja temen saya itu jadi volunteer di cabor aquatic, so...abs are in daily basis tapi doi ya biyasa wae tuh wkwk. Sampai jumpa di ajang Asian Games 2022, semoga tahun itu Indonesia bisa makin baik prestasinya ya! :D


Magelang | 07 September 2018 23.35 WIB
Mohon maaf tulisan ini agak gak jelas dan banyak omong kosyong :')

[K-DRAMA] Mr. Sunshine: Salah Satu Drama Recommended 2018

Saturday, August 11, 2018

The saddest thing about nonton K-Drama adalah ketika kamu nggak ada temen buat membahasnya. Apalagi kalau genre drama yang kamu suka adalah sageuk, yang nggak umum disukai orang. Maka, pelampiasan terbaik adalah menuliskannya. Hope someone out there who has the same interest would understand how much you love it hahaha.

(sumber gambar)


Mr. Sunshine bukanlah drama yang saya tunggu-tunggu kedatangannya, seperti Asadal Chronicles yang bakal dibintangi Song Jong Ki dan Kim Ji Won. Meski saya nge-follow akun-akun K-Drama dan beberapa kali melihat unggahan tentang Mr.Sunshine dari jaman sebelum tayang, saya tidak terlalu antusias kala itu. Baru ketika akun-akun itu menceritakan betapa mempesonanya episode awal Mr. Sunshine, saya jadi penasaran. Saya berhasil mendapatkan episode 1-4 setelah drama tayang dua minggu...dan ya, saya terkesan dan memutuskan mengikuti drama on-going satu ini. Well, sebagai newbie di dunia Hallyu, saya buka tipe yang mengikuti drama on-going, saya lebih sering nonton drama yang udah tayang dari jaman kapan. Mr. Sunshine datang ketika saya mencoba nonton Why Secretary Kim, namun episode awal sudah bikin saya jengah dan silauuuu dengan pesona Mbak Park Min Young. Saya juga mencoba nonton Lawless Lawyer gara-gara suka sama suaranya Seo Ye Ji, tapi juga bosan di tengah jalan. Maka Mr. Sunshine hadir memberikan warna berbeda.



Dua episode pertama sudah luarrr biasaaa. Saya suka dengan dialog-dialognya yang sungguh dramatis hahaha. Apalagi didukung dengan musik latar yang pas, atau kadang hening sama sekali, menekankan tatapan mata para pemain dan kekuatan dialognya. Latar lokasinya juga keren, sageuk drama yang nggak jadul-jadul amat karena udah nggak murni jaman kerajaan, tapi udah memasuki masa Ekspedisi Amerika ke Joseon. Jadi, udah ada sentuhan peradaban Western bahkan percampuran budaya Jepang juga di Joseon. Perpaduan kostum yang sering ditemui di drama kolosal Korea dan period movie dari Barat. Suka! Setelah lihat dua episode awal, barulah saya cari tahu lebih banyak tentang drama ini, mulai dari liat trailernya, penulisnya, aktornya sampai ke soundtrack-nya.


Ekspresi excited sama Mr. Sunshine (sumber gambar).



Alur dan Latar Cerita



Latar cerita Mr.Sunshine adalah pada era Joseon akhir di masa kemimpinan Raja Gojong (sekitar tahun 1870-an), ketika Amerika datang ke Joseon (dikenal dengan Ekspedisi Amerika/Shingmiyangyo). Saat itu udah ada juga tentara-tentara Jepang yang menetap di Joseon (kurang tahu yaa dalam rangka apa, mungkin perang Jepang atau apa). Nah, ceritanya ada seorang budak yang karena peliknya hidup, ia harus meninggalkan Joseon ketika berusia sembilan tahun. Budak ini ikut seorang warga Amerika ke Negeri Paman Sam dan ketika dewasa bergabung dengan US Marine Army, dialah Choi Yu Jin a.k.a Eugene Choi, sang pemeran utama. Tiga puluh tahun kemudian, Eugene ditugaskan ke Joseon dalam rangka Ekspedisi Amerika. Takdir mempertemukan budak yang menyimpan dendam pada Joseon dengan seorang gadis pejuang bernama Go Ae Shin, dan...yha tentu saja doi jatuh cinta sama cucu bangsawan yang rupawan dan mahir nembak itu.

Kim Tae Ri sebagai Go Ae Shin (sumber gambar).

Ternyata mewujudkan love gak gampang, yorobun. Gak cuma Eugene yang memendam rasa ke Ae Shin. Ada seorang jagal yang tumbuh besar di Jepang dan jadi ksatria pedang bernama Go Dong Mae yang juga kepincut sama Ae Shin karena dulu pernah ditolong waktu kecil. Ada juga anak bangsawan bernama Hee Sung yang ternyata udah ditunangkan sama Ae Shin. Nah, loh...saingannya sama tunangan orang. Tapi, selama janur kuning belum melengkung, masih bisa laah ya diperjuangkan hahaha. Yha, ketebak laah nanti drama bakal muter-muter di love story empat orang itu, tapi so far nggak ngebosenin. Karena masing-masing oppa ini punya karakter unik yang minta disayang banget. Jadi, netizen udah rame tuh nge-ship DongMae-AeShin, YuJin-AeShin, dan HeeSung-AeShin. Kalian nge-ship siapa dong?

Tapi, Mr.Sunshine nggak cuma fokus ke love story. Ada juga dibahas balas dendamnya Eugene ke keluarga bangsawan yang dulu membunuh orang tuanya, Dong Mae yang abu-abu...antara kerja buat Jepang atau buat Joseon, dan perjuangan Ae Shin dan organisasi pergerakannya demi kemerdekaan Joseon. Tapi, kisah ini terlalu kompleks buat dibahas satu-satu di tulisan ini hehehe.


Screenwriter

Screenwriter Mr.Sunshine bernama Kim Eun Suk. Ibu Kim tak lain adalah penulis drama hitz Goblin dan Desecendants of The Sun (DoTS). Di dua drama sebelumnya, Ibu Kim berkolaborasi sama sutradara Lee Eung Bok dan lewat Mr.Sunshine, mereka kerja bareng lagi. Saya udah nonton Goblin dan Desecendants of The Sun. Namun, saya kurang suka sama Goblin karena genre-nya fantasi, sementara DoTS...saya lebih tertarik kisah cinta second lead couple Sersan Seo dan Letnan Yoon daripada dua tokoh utamanya, meski tak dipungkiri saya menyukai chemistry SongSongCouple di kehidupan nyata. DoTS juga bikin lelah karena pindah dari adegan happy ke sedih atau menegangkan tuh cepet banget dan endingnya hiks...kenapa hidup lagi yaak? Kan wagu hahaha.

Ibu screenwriter: Kim Eun Suk.

Oke, balik ke Ibu Kim Eun Suk dan Mr.Sunshine, saya hendak mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada engkau wahai Ibu Kim. Terima kasih telah menulis dialog-dialog dramatis di drama ini.  Kalau ada drama macam Reply 1988 menyajikan dialog yang kita temui di daily activities, Mr.Sunshine ini dialognya nggak biasa banget.....but I’m perfectly okay with that! Kalau mau lihat contoh dialognya coba klik di sini abis itu, masih ada ini geli nggak tuh hahah. Ini bakal jadi lines yang nggak terlupa dari Mr.Sunshine.


Pemeran

Mr.Sunshine nggak cuma tayang di TV Korea tvN tapi juga internationally broadcasted by Netflix, maka nggak heran dong kalo pemeran utama pria-nya adalah aktor kawakan yang udah wira-wiri di film-film Hollywood macam G.I. Joe: Retaliation, Terminator Genisys, The Magnificent Seven, dll. yaitu pakde Lee Byung Hun. Nggak ragu lagi, Lee Byung Hun ini aktingnya luar biasa lewat ekspresi mata aja emosinya udah bicara dan of course, he speaks English well. Sempet ada gosip yang beredar kalau buat maen drama ini, pakde dibayar dua miliar rupiah per episode dan total ada 24 episode. Tinggal kalikan aja jumlah bayarannya, wahai sobat misqin~ Drama kelar, bisa tuh Pakde nyalon Bupati Magelang. But...wait apakah kalian memahami kalau dua tahun lagi, Pakde Byung Hun berusia 50 tahun? Benar-benar sosok sugar daddy laah yaa hahahaha.

Lee Byung Hun sebagai Eugene Choi (sumber gambar).
Sementara pemeran utama wanita yang jadi lawan main Pakde adalah Kim Tae Ri. Kalo saya baca sih, Mbak Tae Ri emang belum banyak main drama atau film, tapi doi sempet menang penghargaan Best New Actress di Blue Dragon Film Awards 2016 dan Busan Film Critics Awards 2016, juga meraih Best Newcomer di Asian Film Awards 2017 berkat perannya di film The Handmaiden. Dalam sebuah wawancara, Lee Byung Hun menyebutkan kalau ia terpesona sama aktingnya Kim Tae Ri. Menurutku sih, beda usia 20 tahun nggak jadi halangan buat Kim Tae Ri, si Mbak ini tetep berhasil mengimbangi Pakde dengan apik. Btw, banyak netizen yg gak setuju dg selisih usia 20 tahun antara Byung Hun dan Tae Ri, tapi saya adalah golongan netizen yang...yaudahlah, namanya juga drama. Dilihat aja sebagai karakter Eugene dan Ae Shin.

Dua cowok lain di drama ini adalah Yoo Yeon Seok sebagai Go Dong Mae dan Byun Yoo Han sebagai Hee Sung. Saya belum pernah lihat dramanya Om Yeon Seok sih, tapi saya suka dengan tampilan karakter Dong Mae yang dimainkannya, hairstyle dan kumisnya, naneun jhoa! Dong Mae banyak kebagian peran dengan dialog Japanese di drama. Sementara Mas Yo Han adalah yang bikin saya jatuh cinta lewat perang Lee Bang Ji di Six Flying Dragons, yang kalo kata seorang blogger sih: "duduk-duduk di pojokan aja doi keren" hahaha. Kalau pada era awal Joseon dalam Six Flying Dragons si Mas Yo Han jadi pendekar pedang, maka pada era akhir Joseon dalam drama ini dia bereinkarnasi jadi playboy yang bapak dan kakeknya suka kejam sama orang. Meski hubungan Eugene, Dong Mae, dan Hee Sung ini ngeri-ngeri sedap, tapi bromance diantara ketiganya pasti bakal dinanti kok.

Byun Yo Han sebagai Kim Hee Sung, OMG he's so damn hot!! (sumber gambar)

Kim Min Jung sebagai Kudo Hina dan Yoo Yeon Seok sebagai Go Dong Mae (sumber gambar).
Ada satu lagi mbak-mbak bernama Kudo Hina yang diperankan oleh Kim Min Jung. Disini, dia menjadi pemilik Glory Hotel, warisan mendiang suami yang berkewarganegaraan Jepang. Kudo Hina adalah sahabatnya Dong Mae, tapi yaa gitu...sahabat yg peluk-peluk. Hmmm... persahabatan emang kadang membingungkan. Di sisi lain dia juga ngefans sama Eugene. Dia banyak berperan menghubungkan keempat aktor yang saya sebutkan sebelumnya.

Selain empat orang karakter-karakter itu, ibu Kim Eun Suk dan sutradara juga menghadirkan wajah-wajah yang sudah pernah bekerjasama dengan mereka di drama-drama sebelumnya yang bakal tampil mengerikan atau juga menghibur. Jangan lupa, Sersan Seo (Jin Goo) dan Letnan Yoon (Kim Ji Won) dari Descendants of The Sun bakal juga jadi cameo sebagai orangtuanya Go Ae Shin di Mr.Sunhine. Dua manusia itu sudah muncul di episode pertama.

Kim Ji Won dan Jin Goo, jadi cameo di episode perdana Mr.Sunshine (sumber gambar).


Sinematografi

Satu kata buat tim sinematografi Mr.Sunshine: DAEBAK!! Kayak sinematografi berperan penting untuk menciptakan suasana jadul dari Joseon, dan they did it well. Kuliatin deh foto before-after-nya drama ini, dari proses pembuatannya dan yang tertampang di drama. Bener-bener deh, bikin nonton drama serasa nonton film hahaha. Yha gimana nggak gitu kalo budget produksinya aja hampir empat ratus miliar, hampir setara kekayaannya Pak Sandiaga Uno dan dipake cuma buat bikin satu drama doang. Wajib dong hukumnya drama ini memukau. Semoga di acara penghargaan-penghargaan insan kreatif nanti, mereka bisa menang buat kategori ini. Atau mungkin dramanya sekalian dapat daesang hahaha.

Before-After CGI (sumber gambar)

Before-After CGI (sumber gambar).

Gimana? Cantik kaan?? Hiks :" (sumber gambar).

(sumber gambar)


Soundtrack

Saya baru nonton delapan episode Mr.Sunshine, dan sudah ada enamsoundtrack yang dihadirkan, namun yang paling memukai saya adalah suara Park Hyo Shin Oppa membawakan lagu The Day dan Elaine dengan lagu Sad March-nya. Coba temukan lagi, soundtrack apa lagi yang menarik dari drama ini :D


Akhir pekan ini, Mr.Sunshine bakal memasuki episode 11-12 yang artinya udah setengah jalan. Saya nggak mau menebak-nebak jalan ceritanya sih, just let it be. Tapi semoga gak ada yang mati terus hidup lagi kayak DoTS, itu terlalu maksa haha. Rating drama ini juga menjanjikan sih, udah ngalahin Why Secretary Kim yang rating tertingginya 8,665% sementara Mr.Sunshine sejauh ini rating tertingginya 13,534%, selisih hampir 5%.
So, if you love watching K-Drama or simply want something good to entertain you, watch this drama! I promise you’ll never regret :D
Atau minimal nonton trailernya dulu deh, trailer yang berhasil meraih satu juta penonton di minggu pertama rilisnya.
Klik sini kalau mau liat trailernya!

Wisata Mojokerto: Patung Buddha Tidur Hingga Candi-Candi Bersejarah di Trowulan

Saturday, August 4, 2018

Mojokerto mungkin bukan tujuan wisata favorit Jawa Timur layaknya Malang atau Banyuwangi, namun Mojokerto memiliki sisi menarik dari segi sejarahnya. Sekitar enam ratus tahun silam, tanah itu merupakan pusat salah satu kerajaan terbesar di Nusantara, yakni Majapahit. Beberapa hari lalu, saya ke Mojokerto dan merasa beruntung dapat mengunjungi sejumlah situs bersejarah di kota itu. Sebenarnya, tujuan utama saya bukan untuk explore Mojokerto. Lima jam saya menempuh perjalanan dengan kereta dari Jogja dalam rangka "ngeterke nganten" sepupu saya yang menikah dengan pria keturunan Gadjah Mada hehehe. Nah kebetulan, saya memiliki teman KKN yang tinggal di Mojokerto, jadi sekalian silaturahim ke rumah dia dan jalan-jalan keliling Mojokerto, atau lebih tepatnya Trowulan.


Setelah melewati Gapura Wringin Lawang ini, saya akan berubah jadi Tribhuwana Tunggadewi.

Sebagai penggemar drama kolosal Korea dan suka ha-hal bertema kerajaan, saya antusias mengunjungi Mojokerto. Setelah beberapa hari sebelumnya mencari informasi di internet, saya mengutarakan kepada Choiri tempat mana saja yang ingin saya kunjungi. Pada dasarnya, daftar tempat wisata yang kami kunjungi adalah candi-candi di kompleks Cagar Budaya Trowulan plus Museum Trowulan. Pada hari yang dijanjikan, saya dan Choiri bertemu di Polsek Bangsal (saya berangkat dari kediaman keluarga suami kakak saya di Mojosari naik Go-Jek, Mojokerto ada Gojek kok jadi don't worry). Pagi-pagi sekitar pukul delapan, petualangan kami dimulai saya disupiri Cho naik Supra kesayangan. Saya sengaja milih start pagi biar nggak terlalu panas. Mojokerto nggak seadem Magelang tentu saja haha.

Awalnya, Museum Trowulan ada dalam list tempat yang ingin saya kunjungi, namun Choiri mengatakan bahwa museum tersebut tutup di hari Minggu. Wah, sayang sekali padahal saya berharap mendapat pengetahuan sejarah dari museum. Jadinya saya hanya mengunjungi tempat-tempat yang saya ceritakan di bawah ini. Nah jika ingin tau how to get those tourism destination, sesungguhnya saya hanya mengandalkan Choiri dan Google Map, kalau ada dari kalian yang ingin ke Mojokerto atau ndilalah lagi ke Mojokerto dan ingin main, turun saja di stasiun Mojokerto, trus nanti naik Gojek menuju lokasi. Memanfaatkan Gojek buat wisata hehe.



Candi Tikus

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Candi Tikus. Ketika sampai di lokasi, mas-mas penjaga masih bersiap-siap, sepertinya kami adalah pengunjung pertama di hari itu. Candi Tikus terletak di tengah kolam persegi. Di sisi luar candi, tertulis bahwa tempat ini merupakan "petirtaan", namun saat saya ke candi, tirtanya lagi gak ada. Mungkin lagi kemarau kan ya, jadi gak diisi. Ada sih airnya, tapi cuma dikit banget. Hanya ada lumpur hijau cukup tebal di dasar candi, bekas endapan ketika ada airnya. 


Candi Tikus, difoti dari tangga untuk menuruni kolam.
Harusnya candi dikelilingi air, tapi pas ga ada huhu.

Candi Tikus tampak dari samping.
Awalnya, saya mengira diberi nama Candi Tikus karena ukurannya kecil cuma muat buat tikus hehe, tapi Choiri menjelaskan bahwa nama itu disematkan dengan alasan ketika pertama ditemukan, banyak tikus berada di lokasi. Beberapa bangunan candi kecil terdapat di tengah menara, dikelilingi kolam besar berbentuk persegi panjang. Tepat di hadapan candi, ada tangga untuk turun menuju kolam, nah di sisi kanan kiri tangga ini ada kotak kecil, semacam ada kolam dalam kolam gitu. Dua kolam kecil di kanan kiri tangga inilah yang masih terisi air dan ada ikannya kecil-kecil pada mabok (kayak lagunya Joshua, hehe maap receh). Ada juga semacam pancuran-pancuran berukir di beberapa sisi candi, kira-kira dulu air di pancuran itu dialirkan dari mana ya? 

Candi Tikus  diperkirakan dulunya difungsikan sebagai tempat pemandian para raja dan ratu Majapahit. Hmm, jadi kebayang, pasti butuh persiapan yang nggak sebentar tuh kalau raja atau ratu mau mandi di situ, belum lagi kalo misal mandinya pake kembang-kembang gitu haha. Yang bikin saya penasaran adalah, kalau tempat mandinya disitu kira-kira istananya dimana ya. Hmm. Oh iya, selain sebagai pemandian, ada juga yang menyebutkan bahwa candi ini digunakan sebagai tempat upacara.

Puas melihat bangunan candi, kami keluar dan...jajan pentol. Btw, salah satu makanan khas di Mojokerto adalah pentol. Saya beli pentol lima ribu di penjual yang mangkal di depan Candi Tikus, saya nggak nyangka rasanya enak sekali huhu ingin coba lagi. Kalau ke Mojokerto, kayaknya wajib deh nyobain pentol yang asli dari sini, rasanya lezatnya membahagiakan.



Candi Bajang Ratu

Candi Bajang Ratu dari sisi Timur.

Saya dan Choiri tidak menentukan itinerary perjalanan, hanya menentukan tujuannya dan waktunya fleksible. Setelah dari Candi Tikus, Choiri membawa saya ke Candi Bajang Ratu yang jaraknya hanya beberapa menit dari lokasi pertama. Menurutku candi ini anggun sekali, bentuknya menawan. Nggak heran, tempat ini tuh sering dipakai buat foto pre-wedding. Sayangnya, ketika sampai di Candi Bajang Ratu, cahaya matahari sedang tidak dalam posisi mendukung pengambilan foto ciamik. Jadi, setelah saya pikir lagi, kayaknya lebih seru ke candi-candi di Trowulan kalau pas sore deh. Lighting-nya bagus haha. Yha terkecuali Anda bermodal kamera canggih yang bisa take a great photo kapan aja hehe. Ini saya cuma modal kamera handphone soalnya, ya biar kayak Nicholas Saputra yang bio-nya tertulis "all photo taken by smart phone". Hanya saja, selisih harga smartphone saya sama punya Mas Nicholas tuh jauh hahaha.


Relief kala di sisi atas Candi Bajang Ratu.


Ngomong-ngomong tentang Candi (ada juga yang menyebutnya Gapura) Bajang Ratu konon dulunya merupakan pintu masuk menuju tempat suci buat memperingati kematian Raja Jayanegara, raja kedua Kerajaan Majapahit yang meninggal karena dibunuh. Sebagai raja, Jayanegara dikenal sebagai raja yang kurang arif dalam memimpin. Selain itu, beliau juga mendapat beragam pertentangan terkait kelayakannya menjadi raja karena ia adalah putra dari selir Raden Wijaya. Nama Bajang Ratu sendiri sering dihubungkan dengan usia Jayanegara ketika naik tahta yang masih sangat muda (bajang/bujang). Cerita itu terdapat dalam Kitab Pararaton. Di Candi Bajang Ratu dijumpai sejumlah relief, salah satunya adalah relief kala yang erat dikaitkan dengan pengusir roh-roh jahat sebelum masuk ke tempat suci.



Kolam Segaran

Dari Candi Bajang Ratu, kami geser lagi ke Candi Brahu. Sebelum sampai ke lokasi, Choiri menunjukkan kepada saya sebuah kolam sangat besar yang kami lewati dalam perjalanan. Kata Cho, kolam yang saat saya lewat banyak orang-orang lagi mancing itu dulunya merupakan tempat cuci piring keluarga Majapahit. "Tapi nek kolamnya segede itu apa dulu piringnya juga gede-gede banget ya?" Cho mengutarakan pertanyaan. Hmm, kalau saya lihat ukuran kolamnya sih, muat itu buat cuci piring orang sekampung saya plus kampung tetangga. Mungkin dulu kan keluarga kerajaan banyak banget, abdi dalemnya juga banyak, jadi kitchen utensil yang harus diasahi juga banyak makanya dibikin kolam segede itu. Ukuran kolam segede itu mungkin juga biar nggak najis, kalau kata kitab Takrib sih kan udah lebih dari dua kaulah wkwkwk. Itu sih cocoklogi ala saya. Btw, Kolam Segaran ini kayaknya nggak terlalu dalam, soalnya saat itu di tengah kolam ada sejumlah pria yang tengah berdiri (mungkin sedang nyeser ikan) dan ketinggian air hanya seukuran dada mereka. Oh iya, mohon maaf nggak ada fotonya karena cuma lewat doang kemaren heheh.




 Candi Brahu


Diantara candi-candi yang saya kunjungi sebelumnya, Candi Brahu ini yang paling ramai oleh penjual di sekitarnya sekaligus yang paling besar. Ahli sejarah memperkirakan, Candi Brahu juga merupakan candi tertua yakni dibangun pada masanya Mpu Sindok. Seinget saya, berdasar materi yang diberikan guru Sejarah jaman SMA (Pak Joko) Mpu Sindok ini yang dulunya memindahkan pusat kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah ke Jawa Timur untuk menghindari bencana letusan Gunung Merapi dan menghindari ekspansi Sriwijaya. Berarti Candi Brahu dibangun jauh banget sebelum masa Majapahit, karena sejak era Mpu Sindok, masih ada era Medang, Kediri, Singasari, dan baru Majapahit. Nggak heran banyak batu-batu candi yang udah rusak.

Pada masa Majapahit, ada yang memperikirakan bahwa tempat ini dulunya digunakan untuk menyimpan abu raja-raja Majapahit, namun hal ini lemah karena nggak ada sisa-sisa abu manusia yang ditemukan di dalam candi. Maka, muncul spekulasi lain bahwa Brahu dulunya diapaki buat upacara. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya benda-benda untuk upacara di di sekitar candi.





Candi Brahu memiliki lubang yang cukup besar, semacam pintu tapi nggak bisa dimasuki karena terlalu tinggi. Mungkin dulu ada tangga yang menghubungkan ke pintu itu, kalau sekarang sih udah nggak ada jadi kalau mau masuk harus penekan dulu. Tapi tetep nggak boleh dimasuki sih haha, udah terlalu ringkih mungkin. Di dalam candi konon ada ruangan yang cukup luas dan muat buat sekitar tiga puluh orang. Sungguh ya, kalau liat candi-candi gitu jadi inget adegan upacara-upacara adat di drama kolosal Korea, trus bayangin ada upacara serupa tapi versi jaman Majapahit. Make me wanna travel the time haha.

Matahari pas ganas-ganasnya pas kami sampai di Candi Brahu. Saya bilang ke Choiri, bahwa masih ada Gapura Wringin lawang dan Patung Buddha tidur yang ingin saya kunjungi. Di sisi lain, saya juga ingin mampir ke Jombang buat ziarah ke Makam Pondok Pesantren Tebuireng. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke Jombang dulu, karena kompleks makam Tebuireng tutup jam empat sore dan kami nggak mau kesorean haha. Setelah re-apply sunblock, kami melanjutkan perjalanan ke Jombang, sungguh ngantuk aku sepanjang jalan hahaha.

Sedikit cerita tentang Jombang: tempat yang pertama kami datangi adalah Makam Pesantren Tebuireng. Usai ziarah kami jalan kaki ke Museum Islam Nusantara KH. Hasyim Asy'ari (MINHA) yang terletak tak jauh dari makam (tapi tetep panas banget sih jalannya huhu). Sayangnya, museum tersebut belum buka dan belum boleh masuk karena belum diresmikan.Yah, padahal pensaran isinya. Yaudah nggak apa-apa, semoga lain kali bisa kesini lagi pas udah buka. Berdasarkan artikel yang saya baca sih, bangunan lima lantai itu nantinya bakal dipakai untuk menyimpan peninggalan Hadratussyekh dan dokumen sejarah Islam masuk ke Nusantara. MINHA juga rencananya akan menjadi tempat kegiatan seni dan budaya. Menarik ya. Oh iya, di depan museum terdapat Monumen At Tauhid dengan panel-panel bertuliskan Asmaul Husna.



Selain mengunjungi Kompleks Makam Gus Dur di Tebuireng, saya juga sempet mencicipi kuliner sekitaran Jombang. Menu makan siang saya dan Choiri adalah tahu campur yang kami beli di warung pinggir jalan. Makanan ini tuh semacam kupat tahu kalau di Magelang, bedanya tahu campur pake kuah petis. Trus yang bikin beda karena ada kikil atau apalah namanya, something dari sapi. Lumayan sih rasanya, hanya saja saya nggak bisa makan kikilnya karena aromanya terlalu menyengat heheh.



Patung Buddha Tidur



Sorry I can't take a proper pic cause it's too crowded.
Setelah makan, sholat, dan istirahat sejenak di sebuah masjid kami kembali ke Mojokerto dan mengunjungi patung Buddha Tidur, tempat wisata yang katanya ikonik di Mojokerto. Bentuk patung Buddha Tidur nggak kalah estetik daripada patung serupa di Thailand, bahkan patung yang dibangun oleh seniman patung lokal YM Viryanadi Mahateria, pada tahun 1993 ini dinobatkan sebagai Patung Buddha Tidur terbesar ketiga di Asia Tenggara. Nggak heran, peminat wisatanya sangat banyak. Literally, tempat ini ramaiiiii sekaliii...atau mungkin karena bertepatan dengan hari minggu kali ya.

Patung setinggi empat setengah meter dengan panjang dua puluh dua meter ini berada di kompleks Maha-Vihara Majapahit, Trowulan. Semula, tempat ini hanya dipergunakan sebagai tempat ibadah umat Buddha, namun sejak tahun 2012, patung Buddha tidur dinobatkan sebagai obyek wisata. Posisi patung yang menggambarkan Buddha tertidur ini tentu ada artinya, jadi konon ketika Sang Buddha meninggalkan dunia menuju Nirwana, posisinya tidur miring ke sisi kanan kayak gitu. Trus patung yang menghadap Selatan menggambarkan kiblat umat Buddha yaitu menghadap ke Selatan.

Salah satu patung Buddha dengan mudra  yang berbeda-beda di pintu masuk vihara.

Sebagian relief yang ada di salah satu dinding bangunan vihara.

Di dekat pintu masuk vihara, terdapat beberapa patung Buddha yang berdiri berjajar dengan sikap tangan (mudra) yang berbeda-beda. Dahulu, pas SMP saya pernah tuh dikasih materi tentang mudra-nya Sidharta Gautama, tapi sekarang udah lupa hehehe. Jika berjalan mengitari vihara, kita akan menemukan dinding yang dihiasi panel relief berukuran besar dari semacam logam kalo nggak salah. Kalau saya nggak salah mengenali, di relief ini ada posisi Buddha yang lagi tidur kayak di patung (Reclining Buddha), posisi Buddha yang lagi meditasi, dan posisi Buddha kayak gambar di atas. Apa ya itu? Apakah itu menggambarkan ketika Buddha memberikan pencerahan? Hmm...saya juga tidak sepenuhnya paham. Boleh share kalau ada yang paham hehe.



Candi Wringin Lawang


\Trowulan mendung ketika kami sampai di Candi Wringin Lawang. Menurut informasi bapak-bapak penjaga parkir di Maha Vihara Majapahit, Candi Wringin Lawang buka hanya sampai jam emapt sore, namun ketika kami sampai disana jam empat lewat, kami masih bisa masuk. Bahkan free, tidak ada gerbang yang menghalangi kami masuk dan tidak ada petugas. Banyak arek cilik yang lagi bersepeda ria di area candi.




Candi Wringin Lawang dikenal pula sebagai Gapura Wringin Lawang konon merupakan pintu gerbang menuju Kerajaan Majapahit, tapi saya dan Choiri berpikir, kalau misal ini pintu gerbangnya tuh kayak kurang sesuai. Soalnya kan di tengah gapura itu ada tangganya, nah masa kalau ada arak-arakan pangeran naik kuda, kayaknya kurang pas kalau lewat tangga hahaha. Apalagi saya lagi-lagi keinget kalau di K-Drama tuh, gerbang kerajaan mesti besar dan muat untuk lewat kereta kuda, dan bentuknya kayak semacam benteng gitu hehe. Untungnya, saya nemu referensi lain yang menyebutkan bahwa Gapura Wringin Lawang adalah tapal batas negoro, jadi ini pintu penghubung Negoro dan Monco Negoro, nah kalau itu make sense kan ya. Jadi nanti kalau ada raja mau ke luar negeri atau ada utusan luar negeri mau masuk Majapahit, nanti disambutnya di gapura ini gitu. Well. 


Gapura Wringin Lawang dari samping.
Bentuk Gapura Wringin Lawang kayaknya dipake buat inspirasi pembangunan gapura di area Mojokerto. Hampir semua bangunan di Mojokerto, mulai dari gapura kampung, pintu masuk sekolah, kantor pemerintahan, rumah sakit, dll. tuh menerapkan bentuk gapura ala candi bentar ini. Saya sampai mikir bahwasanya basic skill yang harus dimiliki para tukang di Mojokerto adalah untuk membuat gapura bentuk candi bentar hahaha. Gapura-gapura itu kemudian menjadi ciri khasnya Mojokerto. Menarik ya!

Selain gapura-gapura ala candi bentar, saya juga menjumpai hal unik lainnya di Mojokerto, khususnya di daerah Trowulan. Di tempat ini bangunan rumah tuh dibikin hampir serupa satu sama lain, kayak gambar di bawah ini. Mungkin ini ceritanya menyerupai rumah-rumah zaman Majapahit. Bangunan ini nggak melingkupi keseluruhan rumah, hanya menutup bagian terasnya saja. Kalau dilihat dari samping, bagian "inti rumah" ya tetep dicat warna-warni kayak rumah-rumah di Jawa pada umumnya, jadi keliatan kayak tempelan aja gitu hehe. Mungkin bangunan coklat yang terlihat adem ini adalah anjuran dari pemerintah yang dibangun belakangan setelah rumah inti jadi. Tapi, menurut saya itu bagus sih, jadi sesuatu yang khas dari Trowulan.


Ciri khas rumah di daerah Trowulan.

Rumah Majapahit kuno ala Trowulan.


Yes, itulah tadi cerita perjalanan saya selama di Mojokerto dan Jombang. Seneng banget bisa mengunjungi sisa-sisa kejayaan Majapahit di Trowulan. Harga tiket masuk obyek wisata pun cukup murah, masing-masing obyek dipatok Rp3.000,- plus parkirnya jugga Rp3.000,-, kecuali Gapura Wringin Lawang yang entah kenapa free haha. Sayangnya, situs-situs sejarah itu tidak dilengkapi dengan informasi tertulis apapun yang menceritakan kisah di baliknya atau fungsi bangunan pada zaman dahulu. Jadi wisatawan cuma bisa sebatas datang dan foto. Saya aja, dapet semua informasi itu dari hasil browsing di internet. Semoga hal ini bisa jadi perhatian pemerintah dan pengelola Badan Pelestarian Cagar Budaya Trowulan agar candi-candi di Trowulan nggak cuma bisa dinikmati indahnya tapi juga bisa jadi wisata sejarah yang mengedukasi pengunjung akan nenek moyangnya. 

Terima kasih kepada rekan seper-KKN-an, Choiri yang udah jadi supir saya eh travelmate saya dan menemani #ExploreMojokerto sekaligus jadi tukang fotonya Duchess of Mungkid hahaha. Terima kasih juga untuk keluarga Choiri yang mengizinkan saya menginap, mandi, dan makan heheheh. Terima kasih juga untuk keluarga paklik-nya Mas Ulum yang menyediakan tempat istirahat untuk rombongan keluarga mempelai wanita. Semoga kebaikannya dibalas Allah SWT. Terkhusus untuk ibuknya Choiri, semoga perjalanan hajinya lancar dan senantiasa sehat. Semoga menjadi haji yang mabrur ya, Bu :)


Bidadari Seliu 2/18: Nurul dan Choiri.
Btw, kakak sepupu saya baru saja melangsungkan pernikahan. Rasa bahagia dan haru turut melingkupi saya dengan momen bersejarah itu. Kakak saya adalah sosok yang saya yakin bisa menjadi panutan bagi orang-orang di sekitarnya, sendiri saja dia sudah begitu hebat. Kini, ia telah bersama orang hebat lainnya yang akan menemani perjuangan, tak lain suaminya. Pria yang melabuhkan cinta pada kakak saya adalah orang Mojokerto, maka sesuai adat pernikahan di Jawa, setelah mengadakan pesta di mempelai wanita, biasanya akan ada boyongan keluarga besar ke kediaman mempelai pria. (Itulah kenapa saya ada datang ke Mojokerto.) Sekali lagi selamat menempuh hidup baru untuk Mbak Nisa dan Mas Ulum, semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah warohmah.

Sabtu, 04 Agustus 2018
Ditulis dengan latar suaranya
Jung Joon Young - Sympathy (playing in repeat)
He has a very powerful voice!! I wanna cry...

Friendship in Twenty-Something

Friday, July 6, 2018

When I was a teenager, I often thought that friendship is something beautiful and will last forever. I love my friends so much, the way we joke, the way we share stories, the hangout time, etc. Until one day in my late teens maybe, I read a quote on an article written by @shitlicious (if I am not mistaken) on his blog: "Persahabatan cuma kerasa indahnya sampai umur 20." Another day I got the viral story about friendship, you can read the story HERE, I'm pretty sure everyone knows this viral story. When I received all those stuff, my thought about friendship a little bit changed, what's on my mind was: of course, it will come someday. And..here it comes. The moment when friendship is just something beautiful in your mind, without an intense contact anymore. 

(pic source)

few days ago, my friend texted me, she felt that her close friend seemed to avoid her. She thought that she has to fix their four years friendship but when she tried to approach her friend by text message, she just ended up being ignored and it's hard for her to meet up because they live in the different city now. She's a little bit shocked with her current friendship life when some close friends seem to disappear. That kind of thing also come to me but, of course in a different way, but I do not feel surprised anymore. I know it will come someday, and..it just it is. I think maybe this is how twenty-something friendship looks like, we will not contact or meet our friend regularly like before. Not because we hate them, but everything just changed.

To be honest, in this past few months, I have so much galau-ness about life, more galau than before. The thing that people called quarter-life crisis and I really wanna share this galauness to someone, but it feels like sooo hard for me to tell them. Because I know, everyone was busy dealing with their own life and maybe they feel the same quarter life crisis too. Once upon a time, I decided to tell someone that I trusted about this galauness because it just so damn nyesek so I needed a partner to share with and I thought this person was the right one, but the response I got was so ruthless, it lead me into disappointment, and it took me down. After a moment, I realized, it must be so uncomfortable hearing me whining while maybe they had some problem with me or even worse, so they gave that kind of response. Or maybe, I just expect too high (eventhough I also didn't know what kind of response I expected to get). I ended up holding all this galauness inside. Because it always hard for me to tell something personal to someone who I didn't intently know.


In our twenties,  everyone is busy with their own life. Our childhood friend, oh even our college friend maybe doesn't at the same life stage now. You know, some friends maybe too busy with their job, or have a lot of things to do in their graduate school, or preparing all the stuff for wedding, the other maybe is so happy with newlywed life, other friends maybe juggling between job and the baby, or even maybe some of them still busy finishing their undergraduate thesis. So different life phases, different mental condition, different problems, and maybe distance separate us. When it comes into communication, that different life situation can lead to misunderstanding and uncomfortableness. 

I also had a time when I deeply disappointed by my friend that's why I deliberately made a distance from them. I've tried to explain that I do not like to be treated like that cause it's make me sad and he/she ignoring me, sometimes I think that the one who can avoid us from hurt is only ourselves, so I decide to minimalize interaction with them. Not because I hate them, I just can't. I just think that minimal interaction was enough. "Not all friendships are going to last forever. People are going to hurt us and we are going to hurt people who we did not mean to hurt." (I read the bold line in an article.)

So, that's about friendship in my twenty-something. As we grow up, our priorities and responsibilities changed and it affected our friendships. The distance due to working or living in the different city or the schedule that doesn't match each other makes it's hard to meet our friends frequently.  We only connect with them on social media. So I think, sometimes it is okay to keep in touch with our friends in social media like congratulate them on their happy moments, give a sincere compliment when they did something great, or showing empathy when something bad happens. Now, even I'm not too close to one friend but I try to leave nice comments in someone interesting post. For me, that's the way to use social media well to connect people. But, when we make time to catch up with our friends or when we meet them in person, it is important for us to wholeheartedly presence. It's also extremely okay to text or call your besties when you suddenly miss them, asking how're you, how's your life. Some people maybe not so good at keeping up the conversation, especially when you both didn't meet each other for a while, but a sincere 'how are you' will never hurt, I think.

Last, I still glad and so grateful that in my twenties I still have some friends who when we meet, we can share our life stories comfortably. They listen to each other, give feedback without judging, and become really supportive. Even we do not meet often, but I always feel "lega" after our long conversation. That's why I always miss them. I also feel blessed cause God sent me a very best friend that I can always rely on :)



Ditulis 15 Mei 2018 | 19.53 WIB
Sengaja pake English biar nggak terlalu 'vulgar' curhatnya.
Mohon maaf kalo bahasanya kacau HEHE.
Silakan dikoreksi yang salah-salah :D

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS