Proyek Postcrossing: Cerita di Balik Sehelai Kartu Pos (1)

Sunday, May 13, 2018

Sudah sekitar sembilan bulan saya bergabung di Proyek Postcrossing. Sebuah proyek yang memungkinkan kita untuk mengirim dan menerima kartu pos dari berbagai negara. Tulisan tentang seluk beluk Postcrossing dan cara bergabungnya sudah pernah saya bahas di tulisan sebelumnya. Sekarang saya telah menerima sejumlah kartu pos dari berbagai negara yang masing-masing tentu saja memiliki kisah berlainan. Kali ini saya ingin menuliskan cerita unik yang dibawa beberapa kartu pos tersebut. Ada tujuh kartu pos favorit yang telah saya pilih untuk dibahas di sini. Semoga kalian juga suka kartu pos ini :)

Tulisan serupa: 
Postcrossing: Cara Bergabung dan Seluk-Beluknya




1. Kartu Pos Istana Himeji (Jepang)

Kartu pos Istana Himeji dari Jepang.

Sebagai penyuka kerajaan-kerajaan, saya senang sekali ketika menerima kartu ini. Istana Himeji ini tuh hampir kayak Neuschwanstein Schloss di Jerman, yaitu sama-sama ada di atas bukit gitu. Meski udah ada sekitar empat abad, istana ini masih sangat mempesona, konon Himeji Castle merupakan istana yang selamat dari gempuran musuh pas zaman perang dulu, makanya masih bagus. Postcrosser bernama Yoko yang mengirim kartu pos ini juga bercerita tentang pekerjaanya sebagai perawat dan hobi doi scrapbooking. Sebagai orang dari negara yang menggunakan huruf kanji, tulisan tangan Yoko dalam aksara latin sangatlah rapi hahaha. Yoko juga menempelkan perangko lucu untuk kirim postcard, yaitu sebuah perangko bergambar Nobita dan satu lagi bergambar ilustrasi makanan Jepang.


2. Kartu Pos Olimpiade Brazil 2016 (China)

Kartu pos edisi Olimpiade Rio Brazil 2016.

Awalnya saya kira ini kartu pos dari Brazil, tapi ternyata seorang pelajar bernama Yangfang dari China yang mengirimkannya, yaa mungkin doi emang beli kartu pos yang edisi olimpiade kali ya. Yangfang tidak mengungkap hal lain selain bahwa dia seorang pelajar, tapi dia menempelkan banyak perangko dalam kartu pos ini. Ada lima perangko yang doi tempelkan, jadi bagian belakang kartu pos ini lebih banyak tertutupi perangko daripada tulisan. Kartu pos dari Yangfang adalah kartu yang dari segi kertas paling kaku dari semua yang pernah saya terima.

Kartu bergambar landmark kota Rio de Janeiro membuat saya mengenang momen di Olimpiade 2016. Apakah kalian ada yang menyaksikan pertandingan-pertandingannya? Kala itu, saya sempat nonton yang cabang olahraga voli putri, ketika tim tuan rumah berlaga. Wah, keren sekali tim voli putri Brazil ini, badannya tinggi dan atletis, skill-nya juga luar biasa, dan...mereka bermain dengan full makeup menghiasi wajah eksotisnya. Well-done, mbak! Saya juga menyaksikan ketika perenang muda asal Singapura, Joseph Schooling, akhirnya berhasil mengalahkan juara dunia Michael Phelps. Usia dua perenang itu terpaut sepuluh tahun, Schooling adalah penggemar berat Phelps sejak kecil. Nggak kebayang betapa terhormatnya ketika ia berhasil berlomba 'melawan' idolanya dan menang, saya yang nonton aja terharu apalagi masnya ya hahaha.


3. Kartu Pos Bubble Tea (Taiwan)

Bubble tea postcard, the cutest ever!

This is the cutest postcard I ever received! Ada gambar bubble tea dan gambar wajah orang dari berbagai negara yang berisi komentar mereka tentang minuman ini, ada dari Indonesia juga loh. Kayaknya bubble tea ini memang sangat famous di Taiwan sana. Kalau dari "komentar" yang tertulis di postcard-nya sih, minuman ini ada semacam 'pearls' yang bisa dikunyah. Hmm...apakah ini semacam jenang mutiara kalau di Indonesia? Atau dawet, maybe? Hahaha. Entahlah, tapi ini kayaknya seger nggak sih hahaha. Oh iya, kartu yang dikirim sama seorang bernama Leah ini beda dari yang lain dari segi kertas, dia nggak glossy ataupun doff, lumayan tebel dan sedikit ber-tekstur. Nggak ngerti saya gimana membahasakannya, tapi ini unik dan saya suka material kertasnya.


4. Kartu Pos Sluck Sashes (Belarus)

Kartu pos kain tradisional Belarus, Sluck Sashes.

Ketika pertama membaca kartu pos dari Anastasia ini, saya nggak bisa membayangkan Belarus itu terletak di sebelah mana. Dalam benak saya kala itu, yang ada Belarus pasti suatu tempat di Eropa tapi ntah sebelah mana. Setelah berselancar di Google, akhirnya ketemu kalau Belarus terletak di deketnya Ukraine dan Rusia.

Kartu pos bermodel ilustrasi seperti kartu pos gambar bubble tea, bedanya tentu saja cerita yang dibawakannya. Kartu pos ini bercerita tentang sashes (kalau di Indonesia semacam selendang kali ya), tepatnya sebuah kain tradisional bernama Sluck Shashes (Sluckija Pajasy). Sluck adalah nama kota tempat selendang ini awal-awal dibikin, atau lebih tepatnya Slutsk. Trus di kartu pos juga dijelasin kalo benda ini dibikin dari sutra alami, serta benang emas dan perak yang ditenun hanya oleh penenun pria. Kalau udah jadi, nanti dipakainya di pinggang kayak sabuk gitu. Info tambahan yang saya dapat dari Google, katanya Sluck Sashes punya motif-motif unik yang melambangkan suatu hal dan dulunya cuma dipakai kaum bangsawan. Sekarang sih, udah banyak dibikin duplikatnya dan dijadikan souvenir, tapi yang asli dari jaman-jaman dahulu masih tersimpan rapi di Museum Belarus. Sana kalau maen-maen hehe.


5. Kartu Pos Reichstag (Jerman)

Reichstag postcard from Deutschland.

Pengirim kartu cantik ini adalah Das Jassi, dia mendeskripsikan bangunan di kartu pos sebagai "the building where our government recides". Pas saya cari di Google, ternyata ini adalah gedung parlemennya Jerman. Yang unik dari Reichstag adalah adanya dome kaca di bagian atap dan dari situ kita bisa melihat pemandangan Berlin. Ketika saya unggah foto kartu pos ini di Twitter, adminnya Postcrossing menimpali dengan menjelaskan bahwa pemandangan dari dome kacanya itu bagus dan masuknya juga gratis hahaha.

Oh iya, karena ini dikirim mendekati tahun baru, si pengirim nulis kalau tahun 2018 dia mulai tinggal di apartemen baru dan punya harapan indah yakni: "...most important I hope my boyfriend will propose to me *emot senyum*" Duh, Mbak...semoga kesampaian yaa resolusinya. Saya juga pengen sih, tahun ini di-propose boyfriend, cuma masalahnya, saya nggak punya boyfriend, Mbak...gimana dong? #LahCurhat


6. Kartu Pos Gereja Galveston (USA)

Sacred Heart Catholic Church postcard from Galveston, Texas.

Ini tuh gambar gereja di Pulau Galveston, Texas, nama lengkapnya Sacred Heart Catholic Church. Kata si pengirim (yang namanya siapa nggak tertulis dengan jelas) Sacred Heart Catholic Church cuma berjarak satu jam perjalanan dari rumah dia. Di Galvestone memang banyak bangunan-bangunan vintage macam ini yang dipakai buat resort gitu. Si penulis juga cerita kalau Galvestone jadi semacam dermaga buat kapal-kapal pesiar yang akan menuju ke Kepulauan Karibia. 


7. Kartu Pos Kiel Week (Jerman)

Kieler Woche Festival, Germany postcard.

Satu lagi kartu pos dari Jerman. FYI, Germany has the most Postcrossing member so, I think I'll get more postcards from Germany. Kali ini, pengirimnya bernama Joachim (sayangnya bukan Joachim Loew) dia tinggal di pesisir Laut Baltik dan doi cerita kalau tiap tahun di bulan Juni bakal ada "Kieler Woche" alias "Kiel Week", sebuah festival berlayar di Kiel. Kalau saya baca lebih lanjut di TripAdvisor, acara ini bahkan diklaim sebagai festival musim panas terbesar di Eropa. Nantinya gak hanya ada kapal-kapal tradisional dari berbagai negara, tapi juga ada beragam acara hiburan musik, acara budaya, kuliner, dan festival anak. Kayaknya seru ya. Btw, Indonesia juga sering gabung ke acara ini loh, terutama buat mempromosikan pariwisata kita. Kalau parade kapalnya, hmmm kira-kira Indoneasia ikut gak ya? Kali aja KRI Dewaruci ikut festival kayaknya seru haha. Entah Indonesia dan KRI Dewaruci ada tidak, tapi yang jelas untuk tahun ini Kieler Woche bakal digelar tanggal 16-24 Juni 2018.


Sementara itu dulu ya, cerita dari Postcrossing kali ini. Salah satu serunya proyek Postcrossing adalah saya jadi bisa dapet pengetahuan-pengetahuan baru dari gambar yang tertera di kartu pos atau cerita yang ditulis pengirimnya. Ruang di kartu pos sangatlah terbatas untuk memberi banyak informasi, tapi saya biasa melanjutkan dengan browsing di Google untuk paham lebih lanjut. Nantikan cerita-cerita seru di balik kartu pos lainnya ya! 

Magelang, 13 Mei 2018
Dua hari pasca erupsi freatik Gunung Merapi

Pengalaman Menulis di Hipwee

Sunday, April 29, 2018

Beberapa hari lalu sebuah artikel yang saya tulis dimuat di situs Hipwee. Ide untuk menulis di portal online yang dekat dengan anak muda tersebut muncul secara tiba-tiba. Awalnya, saya hendak menulis untuk blog pribadi, sebuah tulisan yang bertema sageuk drama alias drama sejarah. Rencana untuk menulis tentang sageuk drama sebenarnya sudah ada sekitar sebulan yang lalu, tapi sengaja saya menundanya untuk bulan April: edisi per-korea-an. Berhubung saya begitu menggandrungi film yang mengambil latar kerajaan di abad pertengahan dan karena akhir-akhir ini saya sedang gemar nonton K-Drama, maka beberapa drama yang saya tonton adalah drama sejarah.  Saya kira bakal menarik kalau membahas sageuk drama yang menurut saya seru. Seriosuly, you can little bit learn about politics from those drama hahaha.


Email pemberitahuan kalau tulisan saya udah diunggah di Hipwee.

Membahas beberapa drama dalam satu artikel, hmm...saya kemudian berpikir sepertinya tulisan itu bakal cocok dengan tipe-tipe tulisan Hipwee. Saya pun browsing informasi tentang cara menulis di situs tersebut. Ternyata, siapa saja diizinkan untuk berpartisipasi 'menyumbang' tulisan di Hipwee dengan bergabung di Hipwee Community. Cukup mendaftar dengan alamat email. Nanti Hipwee bakal mengirim panduan menulis dalam format PDF ke email kita. Ada tiga pilihan tulisan yang dapat kita unggah di Hipwee: listicle (maybe stand from list article), narasi, dan opini.

Nah, member Hipwee Community bakal punya semacam laman dashboard kayak di blogger gitu, di situ kita bisa mengunggah tulisan yang kita inginkan sesuai jenisnya. Saya pilih yang listicle. Selain tulisan, kita juga dapat menyertakan gambar, tentu saja dengan menyertakan tautan sumbernya. Kita juga bisa menambah caption di gambar loh. Selain tulisan utama, kita juga dapat menambahkan tags yang sesuai dengan isi tulisan untuk memudahkan pembaca melacak tema tulisan yang diinginkan mereka. Kalau misal nulisnya belum kelar juga bisa disimpan dulu buat dilanjut kemudian hari. Kalau tulisan udah kelar, baru deh submit ke editor. Tulisan kita nggak bakal langsung terbit tapi nunggu approve editor dulu. Tulisan saya butuh waktu sekitar lima hari sejak diserahkan hingga diterbitkan. Kalau tulisan sudah terbit, kita bakal dapat email pemberitahuan yang juga memuat link artikel kita, kayak gambar yang saya unggah di bagian atas tulisan ini. Yay, finally my fun article is now on Hipwee. Just, in case you wanna read it, this is the link.

Tampilan artikel beberapa saat setelah dapat email pemberitahuan.
Itu adalah tampilan artikelnya beberapa saat setelah dapet email pemberitahuan. Awalnya gambar utamanya adalah foto behind the scene drama Moon Lovers yang bertabur some sooo tall princes. Namun, dua hari kemudian saya mendapat email lain dan ketika saya cek laman profil saya, artikelnya udah mengalami perubahan dari segi judul dan gambar utama. Jadi kayak gini nih:

Email pemberitahuan yang datang dua hari setelah artikel terbit.

Pasca notifikasi kedua, tampilannya berubah jadi kayak gini.

Having a fun article on Hipwee is not a big achievemnet but it makes my day
and I'm a happy about that. I watch something that I like,
I write it down passionately, and it's on public web
...and maybe being read by those who's interested in Korean-things too.
Nan haengbokhae! :)

By the way, ada pertanyaan yang ditanyakan beberapa temen ketika tahu saya nulis di Hipwee, yaitu: dibayar enggak? Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut saya akan capture-kan sesuatu dari laman FAQ-nya Hipwee Community, semoga ini membantu :)



‎‎Sabtu, 28 ‎April ‎2018 | 21:16
Satu hari setelah deklarasi damai Korea Utara & Korea Selatan

Review Film 'A Taxi Driver': Peran Supir Taksi dalam Membangkitkan Demokrasi di Korea Selatan

Mumpung masih bulan April dan masih konsisten sama postingan per-korea-an, saya mau menulis tentang A Taxi Driver. Sudah lama banget saya nonton film based on true story ini, yaitu sekitar akhir tahun 2017. Belakangan saya bahkan udah nonton lagi. Sudah lama pula pengen nulis (kalau bahasanya Mbak Teppy sih) review suka-suka. Awalnya yang bikin saya tertarik nonton adalah karena ada aktor Ryu Jun Yeol sebagai salah satu pemerannya dan karena tau film ini ada hubungan sama per-jerman-an. Berbeda dengan film One Way Trip yang juga saya tonton gara-gara Ryu Jun Yeol namun ceritanya menurut saya kurang apik, A Taxi Driver mengejutkan saya dengan jalan cerita yang sangat bagus. Maybe because basically I love the movie that based on true story.

Song Kang Ho, pemeran utama film A Taxi Driver. (pic source)
[SPOILER! ALERT!!]

Kondisi yang digambarkan pada adegan-adegan awal A Taxi Driver adalah kericuhan di Korea Selatan pada tahun 1980. Saat itu terjadi kudeta militer oleh seorang jenderal bernama Chun Doo Hwan dan pembunuhan terhadap presiden yang tengah berkuasa, Park Chung Hee. Jenderal Chun Doo Hwan adalah seorang diktator, ia menerapkan martial law yang sebenarnya ditentang oleh rakyat, banyak perguruan tinggi ditutup, dan ia juga menangkap para pimpinan oposisi. Para mahasiswa dan rakyat pro-demokrasi di kota Gwangju adalah yang paling frontal menentang Chun Doo Hwan. Militer bersenjata pun diturunkan untuk menghadapi perlawanan masyarakat sipil di Gwangju. Bahkan kota itu diblokade, orang tidak dapat dengan mudah keluar masuk Gwangju dan jaringan telepon juga diputus. Wartawan lokal dibatasi sementara wartawan asing dilarang masuk.

Di lain tempat, seorang supir taksi bernama Kim Man Soeb (Song Kang Ho) sedang galau karena harus membayar kontrakan seharga seratus ribu won tapi uangnya belum cukup. Ketika sedang makan siang, ia mendengar percakapan rekan sesama supir taksi, konon ada seorang penumpang WNA yang minta diantar pulang pergi dari Seoul ke Gwangju dan menawarkan upah seratus ribu won. Kim Man Seob langsung tancap gas menuju hotel yang diceritakan menjadi tempat WNA tersebut menanti taksi. Man Seob dan Peter (Thomas Kretschmann) pun berangkat ke Gwangju. Ternyata Jürgen Hinzpeter (alias Peter) adalah wartawan ARD Jerman yang berbasis di Tokyo, ia sengaja datang ke Korea Selatan setelah mendengar kabar tentang kudeta militer dan blokade di Gwangju dari rekan sesama wartawan. Dengan menyamar sebagai misionaris, ia berencana meliput demonstrasi di Gwangju.

Thomas Kretschmann yang memerankan Jürgen Hinzpeter(pic source)
Benar saja, jalan utama dari Seoul menuju Gwangju ditutup dan dijaga tentara. Semula Kim Man Seob hendak menyerah dan membawa penumpangnya kembali ke Seoul. Didorong kebutuhan akan uang seratus ribu won, ia berusaha mencari jalan tikus menuju Gwangju. Ternyata, jalan tikus pun dijaga tentara, namun Kim Man Seob mengelabui para tentara dan berhasil masuk Gwangju. Taksi hijau Kim Man Seob berjalan menyusuri kota yang begitu sepi, toko-toko tutup, dan poster protes terpasang di seluruh penjuru kota. Tiba-tiba, sebuah truk yang ditumpangi para mahasiswa menyalip mereka dan berhenti. Peter pun turun karena ingin merekam kejadian itu. Para mahasiswa begitu senang mengetahui ada wartawan asing yang meliput, mereka berharap apa yang terjadi di Gwangju akan akan diberitakan dengan benar. Disinilah Peter bertemu seorang mahasiswa yang pandai bicara Bahasa Inggris bernama Jae Sik (Ryu Jun Yeol) yang selanjutnya bergabung dengan Kim Man Seob dan Peter, perannya adalah sebagai penerjemah Peter untuk Man Seob.

Demonstrasi di Gwangju digambarkan begitu mengerikan dalam film. Sebuah adegan di rumah sakit menampilkan banyak demonstran yang meninggal atau luka-luka akibat dihajar atau bahkan ditembak para tentara. Rumah sakit penuh sesak oleh para korban. Industri film Korsel ini bener-bener pada niat kalau bikin luka-luka terlihat mengerikan hmm. Para supir taksi di Gwangju berperan menjadi pengantar korban-korban dari lokasi demo ke rumah sakit, for free. Untuk menutupi kekerasan yang terjadi di Gwangju, pemerintah berkedok bahwa militer diturunkan demi keamanan banyak pihak untuk melawan mahasiswa yang memberontak dan pro-komunis. Berita itu pula yang tersebar di luar kota Gwangju, bahwa militer disana melawan pemberontak pro komunis. Hmm...kok jadi inget Indonesia sekarang ini yang kalau ada orang yang nggak sepaham sedikit-sedikit dikatain komunis yaa, ehehe.

Ryu Jun Yeol ketika memerankan Jae Sik.
Dari rumah sakit, Peter, Man Seob, dan Jae Sik beranjak ke sebuah jalan tempat demonstrasi besar sedang berlangsung. Disini ada tuh adegan ketika ibu-ibu membagikan makanan kepada para demonstran, sebuah bentuk dukungan dari kaum ibu. Peter, dkk kemudian naik ke atap sebuah gedung agar dapat merekam kejadian menyeluruh. Ternyata, disana ada seorang wartawan lokal juga yang sedang merekam. Ketika demonstrasi semakin panas dan tentara mulai menembakkan  gas air mata, bahkan beberapa tampak memukuli demonstran, Peter memutuskan untuk turun agar bisa mengambil gambar lebih dekat. Man Seob dan Jae Sik mau tak mau mengikuti. Tak beberapa lama, seorang tentara melihat Peter mengarahkan kamera dan mengejar Peter. Berhasil kabur dan mendapatkan gambar bagus, tiba saatnya bagi Peter untuk kembali ke Seoul. Sayangnya, taksi Man Seob justru mogok yang membuat mereka harus bermalam di rumah seorang supir taksi Gwangju bernama Tae Soo sembari menunggu taksi dibenahi.

Malam itu pula, terjadi pengeboman di sebuah stasiun televisi MBC di Gwangju. Peter memutuskan datang untuk merekam kejadian, malangnya mereka kembali dikejar pasukan keamanan. Penerjemah Jae Sik tertangkap sementara Man Seob dan Peter berhasil melarikan diri. Pasukan kemanan kini tahu ada wartawan asing di Gwangju yang menumpang taksi Seoul, merek pun memburu taksi ber-plat nomor Seoul. By the way, sound effect untuk suara-suara tembakan dan bom di film ini tuh mantap sekali. Sini nonton pake headset aja tetep kedengeran beningnya. Kerusuhan saat demonstrasi juga digambarkan apik sehingga sanggup bikin penontonnya ikutan tegang.

Keesokan harinya, berbekal peta jalan tikus dan plat nomor taksi Gwangju yang diberikan Tae Soo, Man Seob kembali ke Seoul tanpa sepengetahuan Peter dan tuan rumah. Ceritanya doi udah lelah ngurusin demo-demoan. Dalam perjalanan pulang, ia menyaksikan percakapan orang di luar Gwangju yang menyatakan bahwa demonstran Gwangju adalah komunis yang pantas dihajar tentara, sementara ia tahu kenyataanya orang-orang Gwangju justru pro-demokrasi. Hal itu memunculkan pergolakan batin dalam diri Man Seob, antara segera pulang ke rumah atau menjemput Peter dengan harapan rekaman yang dimiliki wartawan Jerman itu membawa kabar yang benar ke dunia internasional. Setelah mampir ke wartel terdekat dan mengabarkan pada putri semata wayangnya jika ia akan pulang terlambat, Man Seob memutuskan untuk kembali ke Gwangju menjemput Peter.

Sampai Gwangju ia mendapati kenyataan bahwa Jae Sik yang semalam tertangkap aparat, telah meninggal dunia dengan penuh luka. Peter dan Tae Soo sedang berada di rumah sakit menangisi kematian Jae Sik. Mereka sadar bahwa tak boleh larut dalam kesedihan karena harus menyelesaikan misi menyiarkan kabar ke seluruh dunia. Akhirnya, Man Seob mengantar Peter kembali ke Seoul. Kali ini mereka tak hanya berdua, beberapa supir taksi dari Gwangju mengantar kepulangan sekaligus mengawal mereka dari buruan tentara. Para supir taksi dari Gwangju ini rela mengorbankan diri menjadi umpan, terkena tembakan-tembakan dari mobil tentara yang mengejar hingga mengalami kecelakaan lalu lintas yang juga mencederai para tentara pengejar. Sehingga Man Seob dan Peter berhasil bebas menuju Seoul.

(pic source)
Di Bandara Internasional Gimpo, Man Seob membantu Peter menyembunyikan gulungan film dalam kaleng kue dan membungkusnya sedimikan cantik hingga petugas bandara segan membuka bungkusan yang dikira oleh-oleh tersebut. Jürgen Hinzpeter berhasil kembali ke Tokyo dan menyiarkan hasil rekamannya kepada dunia. Pemerintah Korea Selatan pun mendapatkan desakan dari warga dan dunia internasional untuk menghentikan kekerasan. Rekaman tersebut juga selanjutnya berperan dalam kebangkitan demokrasi Korea, karena tak lama setelah itu, pemilihan umum dilaksanakan. Hinzpeter juga selanjutnya diceritakan menerima penghargaan dari pemerintah Korsel atas jasanya. Bagian ending ketika Peter membacakan pidato dalam penghargaan ini benar-benar mengharukan, Thomas Kretschmann yang dari awal memerankan wartawan cuek terlihat berkaca-kaca ketika membacakan pidato. Ending-nya sungguh bikin mewek meskipun bukan love story.

Pak Jürgen Hinzpeter yang sebenarnya, muncul di akhir film.
Di akhir film, muncul rekaman Jürgen Hinzpeter yang asli menceritakan tentang keinginannya untuk bertemu kembali dengan supir taksi yang dulu membantunya meliput demonstrasi di Gwangju, namun hingga akhir hayat (meninggal tahun 2016), ia tak bisa bertemu lagi dengan supir taksi itu. Gwangju tahun 1980 tampaknya menjadi bagian paling membekas sepanjang karir jurnalistik Pak Hinzpeter, terbukti ia berwasiat agar jika ia meninggal untuk dimakamkan di Gwangju. Mungkin ia ingin dimakamkan bersama para pejuang demokrasi Republik Korea Selatan.

A Taxi Driver menyabet banyak penghargaan dan meraih 12 juta penonton selama masa penayangannya. Nggak heran sih, para pemainnya emang aktingnya top banget dan pesan yang dikandung film ini menurut saya bisa banget nyampek ke penonton. Dijamin nggak kecewa deh kalau nonton A Taxi Driver!! Kalau dari rentang nilai 1-10, saya pribadi bakal kasih nilai 8 untuk film berdurasi 137 menit yang disutradarai Pak Jang Hun ini. By the way, Pak Song Kang Ho kayaknya emang aktor kawakan di Korea Selatan, soalnya beberapa film beliau emang jalan ceritanya bagus dan nggak asal-asalan. Daebak!

‎29 ‎April ‎2018 13:32
The Duke & The Duchess of Cambridge's 7th Wedding Anniversary

[K-Drama] Queen Seondeok: Kisah Cinta Deokman, Kim Yu Shin, dan Bidam

Sunday, April 8, 2018

Sebuah drama yang tanpa kisah percintaan sepertinya akan terasa hambar, sehambar hidup tanpa cinta mungkin #halah maka The Great Queen Seondeok pun menyisipkan kisah cinta diantara percaturan politik, perbutan tahta, dan peperangan. Kisah cinta utama yang disorot dalam QSD adalah antara tokoh utama, Deokman dengan Yushin, dan selanjutnya Deokman dengan Bidam. Mungkin karena berlatar di era Silla, kisah cinta tiga orang itu digambarkan manis and soo deep, tapi tidak berlebihan.

DEOKMAN & KIM YU SHIN
Kim Yu Shin adalah hwarang yang memimpin para nangdo dan Deokman menjadi salah satu nangdonya. Saat awal mereka bertemu, Deokman masih dalam penyamaran sebagai laki-laki. Lama kelamaan, Yu Shin mengetahui kalau Deokman sesungguhnya adalah seorang wanita. Witing tresno jalaran saka kulino, sering memimpin 'latihan militer' untuk Deokman dan nangdo lainnya, slow but sure, Yu Shin jatuh hati pada Deokman yang ceria dan gigih. Meskipun kadang memberi menu latihan militer yang keras untuk Deokman, Yu Shin sebenarnya selalu berusaha melindungi Deokman, apalagi ketika mereka sedang berada di medan perang.

Kim Yu Shin dan Deokman dalam salah satu adegan saat pelarian.
(pic source).
Ketika Mishil sang bangsawan jahat mengetahui jati diri Deokman yang sesungguhnya, yaitu bahwa Deokman adalah seorang wanita yang merupakan anak Raja Jinpyeong yang dibuang, Mishil ingin menangkap Deokman. Mendengar rencana jahat itu, Deokman lari istana dibantu Kim Yu Shin. Perasaan cinta kedua makhluk ini mulai ditunjukkan secara gamblang dalam masa-masa pelarian. Deokman bertanya kepada Yu Shin tentang apa yang membuat Yu Shin rela berjuang membantu Deokman kabur, padahal nyawa bisa jadi taruhannya. Alasan yang dikemukakan Yu Shin saat itu bagi Deokman terlalu mengada-ada, lalu Deokman to the point ke pertanyaan: "Apakah kamu membantuku karena kamu mencintaiku? Itu tidak mungkin kan?" lalu Deokman pergi setelah mengucapkan kalimat itu, tapi Yu Shin menahannya dan mengatakan: "Aku tidak pernah mengatakan aku tidak mencintaimu." Helah, Mas Yu Shin bikin para pemirsa jadi shy shy aja nih. Eh, tapi Deokman sempet bilang kalau "Semua dianggap teman, para nangdo lain dan Kim Yu Shin hanyalah sebatas teman buat Deokman." Duh, Mbak...I smell another bullshit here wkwkwk. Biasanya yang bilang kek gitu lama-lama bakal jatuh cinta loh sama temennya itu. Ye kan? Akhirnya Deokman nyadar juga kan kalo deep inside doi naksir Yu Shin ahelah, kayak anak kecil wae lho wkwk.

Dalam pelarian itu pula, Yu Shin menawarkan kepada Deokman untuk kabur aja dari Silla dan kembali hidup ke Gurun Taklamakan. Lari dari segala prahara di Silla, kembali hidup jauh dari keluarga (Raja Jinpyeong, Ratu Maya, dan Putri Cheonmyeong), lepas dari penyamaran sebagai pria, dan hidup bahagia sebagai wanita...bersama Yu Shin. Awalnya, Deokman menyetujui rencana itu, namun terbunuhnya Cheonmyeong di tangan seorang pasukan Mishil membuat Deokman ingin balas dendam dengan  cara menjadi yeowang (female king). Menjadi Yeowang berarti ia harus mendedikasikan hidupnya pada rakyat Silla dan mengesampingkan perasaan sebagai wanita. Ia bahkan memilih untuk tidak menikah demi menghindari konflik politik. Di saat Deokman memilih tahta dan mengurungkan niat untuk kabur bersama Yu Shin ke gurun itu, Yu Shin pun memilih mendukung Deokman dan menjadi orang yang bakal selalu bisa Deokman andalkan. OMG! This scene make me cry a lot.

This dialogue (pic source).
(pic source)
Ini nemu di blog orang tapi lupa alamatnya apa :(( Maafkan.
But thanks for you who write this.


Cinta Yu Shin dan Deokman lebih banyak digambarkan lewat tindakan atau percakapan-percakapan yang mengena. Misalnya ketika Yu Shin bertarung mati-matian untuk menjadi Komandan Hwarang (Pongwolju), karena hanya dengan cara memperoleh kekuasaan pongwolju itulah, Yu Shin bisa membantu Deokman mewujudkan cita-citanya. Yu Shin juga memimpin pasukan-pasukan untuk berperang melawan Baekje dan Goguryeo agar Silla tak kehilangan wilayahnya. Bahkan ketika ia dijebak Bidam dan dijebloskan ke penjara, ia tetap merancang strategi perang untuk menyelamatkan Silla. Ia rela segala kekuasaan atau idenya diambil Bidam, asal Silla selamat. Kebayang kan? Betapa itu adalah cinta yang level embuh meski tak bisa memiliki. Jangan harap akan menemukan banyak kontak fisik berlebihan pada cinta mereka. Tidak. Cinta Yu Shin dan Deokman adalah cinta yang bisa Anda rasakan ketulusannya meski tidak ditunjukkan secara gamblang. Kalau biasanya saya kena sindrom pada love story-nya second lead, kali ini saya lebih suka dengan jenis cintanya Yu Shin - Deokman.

Ketulusan, kesetiaan, dan kompetensi yang dimiliki Yu Shin dikagumi oleh Mishil dan sang tokoh antagonis ingin Yu Shin menjadi anak buahnya. Mishil mengancam pengungsi Gaya (Kim Yu Shin adalah keturunan Kerajaan Gaya yang sudah runtuh) yang berada di Silla agar Yu Shin mau bergabung dengan Mishil, tapi Kim Yu Shin menolak. Ia berlutut di hadapan Mishil, memohon agar Mishil menyelamatkan pengungsi Gaya dan merelakan dirinya tetap melayani Deokman. Mishil mengizinkan dengan satu syarat: Kim Yu Shin harus menikahi keponakan Mishil. Jaman dulu mah emang gitu, segala pernikahan untuk menguatkan kekuasaan semata. Yes, Yu Shin is kinda person who swallowing his pride for something called love. Gengsinya doi nggak lebih gede dari perasaan cintanya. Karena itu memang satu-satunya cara, menikahlah Yu Shin dengan keponakan Mishil. Betapa perih hati Deokman mendengarnya, namun di sisi lain, Deokman tetap menyadari bahwa meski Yu Shin menikah dengan wanita lain, hati Yu Shin tetap untuk Deokman seorang. This is so crazy and painful. Aku jadi inget sebuat kuwots berikut ini:

Ngeri, tapi bisa jadi begitulah realitanya (pic source).
Adegan percakapan Deokman dan Yu Shin sebelum Deokman meninggal (pic source).
Dan lagi, setelah Bidam yang sempat ingin dinikahi Deokman meninggal, sebuah percakapan terjadi antara Yu Shin dan Deokman menjelang akhir hayat Deokman. Inti percakapan itu adalah: "Yu Shin, dulu kita sempet mau kabur dari Silla kan? Tapi nggak jadi. Gimana kalau sekarang kita kabur aja?" What the h*ll, ini ratu padahal yaa udah sempet mau nikah sama Bidam dan tau kalo Yu Shin punya istri eh tetep aja yaa, deep inside hati tak bisa dibohongi. Entah kenapa cinta mereka ini begitu menyentuh hati saya.... That person who you can always trust and rely on~


DEOKMAN & BIDAM
Kalau cinta Yu Shin dan Deokman digambarkan dewasa, saling memahami, dan berlandaskan rasa percaya. Lain halnya dengan Bidam dan Deokman. Keduanya bertemu dalam masa pelarian dari Mishil dimana Bidam yang seorang pendekar pedang membantu Yu Shin melindungi Deokman. Benih-benih cinta mulai tumbuh dalam hati Bidam lewat percakapan-percakapan kecil dengan Deokman. Kalau kata guru pedangnya Bidam sih, Deokman itu berhasil mengeluarkan rasa kasih sayang dalam diri Bidam yang selama ini seolah tertutup rapat.

Awal pertemuan Bidam dengan Deokman (pic source).
Jika Yu Shin nggak pernah melakukan hal-hal cheesy sekehendak hati, maka Bidam adalah orang yang impulsively bakal menuruti kata hatinya. Ada tuh adegan dimana Bidam ngasih bunga ke Deokman yang bikin Deokman tersipu malu. Bidam nggak segan-segan melempar humor lucu kalau Deokman sedih, karena ia ingin lihat Deokman tersenyum. Di saat Deokman menyandang gelar gungju dan orang-orang berbicara sopan padanya, Bidam memilih tetep bicara santai layaknya teman kepada Deokman. Kalau Deokman lagi ragu atau khawatir dengan keputusan yang diambilnya, Bidam ini nggak ragu buat genggam tangan Deokman untuk menguatkan. Bidam tidak melihat orang yang dicintainya sebagai Ratu Silla melainkan seorang wanita bernama Deokman. Dan sikap inilah yang perlahan membuat Deokman jatuh hati.

Sebuah adegan antara Bidam dengan Deokman (pic source).
Sayangnya, Bidam ternyata merupakan anaknya Mishil alias rival politiknya Deokman. Inilah yang sering bikin Bidam galau, dia takut kalau Deokman tahu doi anaknya Mishil nanti bakal dijauhin. Dia juga gak bisa sepenuhnya mendukung Deokman, karena itu berarti melawan ibunya (yang telah menelantarkannya dan bahkan nggak mengakui Bidam sebagai anak hingga akhir hayat). Dalam hati Bidam yang terdalam, dia hanyalah seorang anak yang rindu kasih sayang ibunya tapi juga mencintai wanita yang ingin dijadikan kekasih hatinya. Namun, anxiety Bidam lama-lama makin memuncak, dia khawatir kalau-kalau Deokman suatu saat bakal membunuhnya. Bidam juga cemburu dengan kepercayaan yang diberikan Deokman pada Kim Yu Shin. Bahkan, meski jabatan-jabatan tertinggi negara diberikan Deokman pada Bidam, ia tetap merasa Deokman tak mempercayainya.

Mishil menyindir sifat Bidam (pic source).
Bidam selalu mencari cara agar Deokman melihatnya, dia selalu butuh approval dari Deokman atas segala pencapaiannya. Beragam cara dilakukan Bidam buat caper ke Deokman, mulai dari nangkepin koruptor, memenjarakan Yu Shin yang dituduh memberontak, bahkan membujuk Mishil agar bersedia menyerah kepada Deokman (dan bisa dibilang berhasil). Lama-lama Bidam caper level: pengen jadi raja biar tampak nasionalis dan patut dicintai. Padahal tuh ya, tanpa harus kakean polah, Deokman udah selalu percaya sama Bidam...sampai akhir. Deokman tahu kalau Bidam berusaha melemahkan Yu Shin, mengincar tahta, dsb...tapi dia selalu berusaha positive thinking, bahwa Bidam sebenernya nggak bermaksud jahat. Mungkin ada salah paham aja diantara mereka. Tapi Bidam sebaliknya, dia mudah dihasut orang lain untuk menjatuhkan Deokman, dia mudah kemakan omongan tanpa terlebih dahulu mengkonfirmasi ke Deokman. Aih, Mas Bidam yang terhormat, komunikasi itu pentin dalam cinta. Orang yang sering komunikasi aja bisa berakhir nggantung, apalagi kalau komunikasinya kurang sip.

Di tengah semua kejahatan (yang seolah tanpa sadar dilakukan) Bidam, ia masih sering mengunjungi Deokman, menanyakan kesehatannya, menghiburnya, mengkhawatirkannya. Disini Deokman seneng, ketika semua orang melihat dia sebagai Ratu yang didewakan, Bidam selalu melihatnya sebagai manusia. Mereka pun memutuskan menikah. Mendengar kabar itu, Yu Shin sedih oh ternyata tapi ia tetep mendukung pernikahan Deokman dan Bidam, karena dengan begitu ia lega bahwa Deokman akan mendapatkan sandaran hatinya, dan itu adalah Bidam yang begitu dikenalnya. Nah, ini agak bingungin sih...kayak di hati Deokman itu ada dua orang gitu. Cintanya terbagi, buat Yu Shin di sisi terdalam hati dan direlakannya plus buat Bidam yang disayanginya. Memang yha Mbak Deokman, realita cinnta kadang memang sepelik itu ahahaha.

Ini mereka berdua udah tukar cincin gitu ceritanya (pic source).
Sebelum menikah, Bidam dan Deokman bertukar perjanjian atas inisiatif Bidam. Isi perjanjian itu adalah bahwa Bidam akan menyerahkan segala jabatan politiknya saat ia menikahi Deokman kelak. Yah, namanya orang kasmaran emang suka seenaknya bikin janji, yang pastinya bakal dilanggar sendiri. Sounds familiar kan pemirsaa? Yes, karena terpengaruh omongan bawahannya, boro-boro turun dari jabatannya, Bidam malah menyusun pasukan buat mengkudeta Deokman. Seperti yang sudah saya tulis di artikel-artikel sebelumnya, Bidam ini kasihan, doi butuh psikiater buat nolong kesehatan emosionalnya tapi waktu itu belum ada profesi psikiater huhu.

Deokman tuh ya dalam hati sebenernya berniat bahwa dia bakal turun tahta dan hidup normal sebagai orang biasa setelah menikahi Bidam. Janji Deokman ini nggak sempet ia ucapkan kepada Bidam, karena Bidam keburu berbalik melancarkan aksi kudeta. Akhirnya Deokman sebagai Ratu nggak punya pilihan lain, pemberontak di Silla, siapapun itu harus dihukum mati. Maka ia memerintahkan Kim Yu Shin untuk menumpas pemberontakan dan membunuh Bidam sekaligus pengikut-pengikutnya. Dalam kondisi terdesak pasukan Yu Shin dan jelas-jelas udah kalah, Bidam ngotot ketemu ratu. Dengan kemampuan bela dirinya, ia meringsek masuk melewati blokade pengawal kerajaan. Tentu saja, pemberontak nggak boleh ketemu ratu. Akhirnya, di hadapan Sang Ratu, Kim Yu Shin menghunuskan pedang pada Bidam. Di hadapan wanita yang dicintainya, Bidam tumbang dan menghembuskan nafas terakhirnya. Doekman yang dalam hati masih cinta sama Bidam pun pingsan di lokasi karena tak kuat menahan sedih. Namun, sebagai ratu ia tak punya pilihan lain.

Bidam di hari pemberontakannya (pic source).
Itulah akhir hidup Bidam, he has no glory at all. Sejarah mengenangnya sebagai pemberontak, pun ia tak berhasil menikahi gadis yang dicintainya dan tak berhasil menjadi Raja Silla. Kalau biasanya kisah cinta second lead itu bikin nyesek nggak karuan, kali ini saya tidak. Saya sudah gemes sama inkonsistensi Bidam dari awal. Apa yang dilakukan Bidam juga banyak didasari pamrih yang justru membuat ia tak memperoleh apa-apa. Di sisi lain, saya kasihan juga sama sosok Bidam yang bisa dibilang sejak kecil nggak bahagia dan nggak mendapat kasih sayang sepenuh hati dari siapapun. 

[K-Drama] Queen Seondeok: Drama vs Realita

The Great Queen Seondeok adalah sebuah drama yang dibuat berdasarkan sejarah tapi dengan menyisipkan tokoh dan cerita fiksi di dalamnya. Tentu saja banyak sekali perbedaan antara kisah yang ditayangkan dalam drama dengan kejadian sebenarnya yang tercatat dalam sejarah. Saya menemukan artikel menarik yang membahas perebedaan itu dan saya jadikan sumber utama dalam menuli ini. Setelah menonton film dan membaca artikel tersebut, saya jadi lebih mudah memahami sejarah Korea, khususnya pada era Kerajaan Silla. Ya, bayangkan aja dalam enam puluh dua episode, QSD menceritakan empat era pemimpin Silla (Raja Jinheung, Raja Jinji, Raja Jinpyeong, Ratu Deokman) jadi yaa...bisa sekalian banyak belajar sejarah kan hehe. Yasudah, ini nih perbedaan cerita dalam drama vs real history-nya:

Real painting of Queen Seondeok (pic source).
1. Putri Kembar
Dalam drama disebutkan bahwa ada ramalan yang menyatkan bahwa jika Ratu melahirkan putri kembar, maka pewaris tahta laki-laki akan berhenti dilahirkan. Lalu dari rahim Ratu Maya (istri Raja Jinheung) lahirlah putri kembar Cheonmyeong dan Deokman. Demi menutupi kelahiran anak kembar, Deokman dilarikan dari istana dan menghabiskan masa kecil di Gurun Taklamakan. Pada kenyataanya, tidak ada rekaman sejarah yang menyatakan bahwa keduanya kembar, melainkan adalah kakak beradik. Deokman juga tidak tumbuh besar di gurun melainkan di Seorabol (ibukota Silla). Selain itu, sebenarnya ada satu lagi putri Raja Jinpyeong yang terkenal yaitu Putri Sonhwa yang sama sekali tidak disinggung dalam drama (biar nggak terlalu kompleks kali ya).


2. Raja Jinpyeong yang Lemah
Drama-drama kolosal memang kerapkali menampilkan sosok raja yang meski cerdas dan berkeinginan kuat mensejahterakan rakyat, namun secara politik mereka lemah. Ini jugalah yang tampak pada Raja Jinpyeong dalam QSD. Raja Jinpyeong begitu powerless di bawah bayang-bayang Mishil. Kenyataannya, Raja Jinpyeong merupakan salah satu raja yang kuat selama 54 tahun era pemerintahannya. Bahkan disinyalir, Deokman bisa menjadi ratu juga karena kekuasaan ayah yang begitu besar. Mungkin Raja Jinpyeong sengaja diceritakan lemah agar bisa mendramatisir kemampuan Deokman yang lebih oke daripada ayahnya dalam hal melawan Mishil.


3. Ratu Seondeok Tidak Menikah
Hwarang Kim Yu Shin sempat terjebak friendzone dengan Deokman meski lama kelamaan cintanya berbalas. Lewat painful and deep conversation, kedua orang itu memutuskan untuk tidak bersama dalam ikatan pernikahan tapi tetap bekerja sama sebagai putri/ratu dan abdinya. (that famous dialougue by Yu Shin was: "I choose you, but you decide to choose the throne.") Yu Shin akhirnya menikah (demi sebuah alasan politis) dengan keponakan Mishil yang tentu saja break my heart and Deokman's heart. Selama menjadi ratu hingga akhir hayatnya, Deokman tidak menikah. Ia memutuskan mengabaikan perasaan sebagai wanita dan mendedikasikan hidupnya demi Silla semata. Namun, dalam catatan sejarah Hwarang Segi, Ratu Seondeok diperkirakan menikah dan memiliki tiga suami dimana salah satunya bahkan menjadi Sangdaedeung (semacam perdana menteri) demi memperkuat kekuasaannya.

Bidam - Deokman - Kim Yu Shin (pic source).
Kondisi Deokman yang dalam drama diceritakan nggak menikah mungkin adalah untuk memberikan efek kontras dengan rivalnya, Mishil yang dalam drama digambarkan memiliki tiga suami. Selain itu juga agar memungkinkan sang penulis menyisipkan kisah asmara Deokman dengan Bidam yang tentu saja tak terjadi di dunia nyata.


4. Makeup Hwarang
Ketika menuntut suatu perkara yang sangat penting kepada raja, para hwarang akan merias wajahnya, menyuarakan tuntutan di istana, dan biasanya diakhiri dengan aksi bunuh diri agar tuntutan dikabulkan. 'Ritual' itu dinamakan nanjang. Itulah yang diceritakan dalam drama, ada suatu adegan hwarang Alcheon merias wajah ketika menuntut penyelidikan kematian tragis Putri Cheonmyeong. Ia tau kalau Cheonmyeong dibunuh orang dari kubu Mishil, namun raja memutuskan bahwa kematian putrinya adalah murni kecelakaan. Alcheon sebagai pengawal sang putri tak terima dan ingin si pembunuh dihukum, maka ia melakukan nanjang.

Nanjang-nya hwarang Alcheon (pic source).
Sejarah tak pernah mencatat tentang adanya nanjang, namun hwarang memang dikisahkan merias wajah saat hendak perang. Sementara dalam drama, hwarang malah nggak merias wajah ketika perang. Merias wajah yang dimaksud adalah merias biar cantik gitu, bukan coreng-coreng buat penyamaran. Oh iya, selain itu, realitanya Cheonmyeong did not death tragically, dia hidup lama dan bahagia bersama suaminya.


5. Pertempuran Benteng Sokham
Pertempuran di Benteng Sokham antara pasukan Silla dengan Baekje menjadi peperangan pertama yang dilalui Deokman. Iya, doi literally terjun ke medang perang sebagai nangdo-nya Yu Shin. Pertempuran ini dipimpin oleh kaki tangan sekaligus suami Mishil, Jenderal Seolwon yang tak lain adalah Menteri Perang Silla. Di sini ditampakkan betapa Seolwon pandai merancang taktik perang untuk mengecoh dan menglahkan Baekje. Namun, yang sesungguhnya terjadi adalah Seolwon sudah meninggal ketika Sokham Fortress diserang Baekje dan Deokman sebagai gungju tentu saja tidak terjun ke medan perang.

Jenderal Seolwon (pic source).
6. Pemberontakan Bidam
Rasa tidak percaya kepada sosok yang dicinta telah menghancurkan pikiran Bidam. Ia memutuskan memberontak demi menjadi Raja, mencintai Silla, memiliki Deokman di sampingnya, dan dikenang sepanjang masa. Namun, akhirnya keserakahan itu menelannya, ia mati dalam pertempuran, dikenang sebagai pemberontak, dan tak bisa meraih cintanya. Itulah yang dilukiskan dalam drama. Sementara yang terjadi di dunia nyata tentu berbeda, Bidam memang pernah menjadi Perdana Menteri Silla dan memimpin pemberontakan terbesar yang pernah ada di Silla, namun alasan dibalik itu semua tak jelas. Ada yang menyatakan bahwa pemberontakan didasari ketidakrelaan Bidam karena selama kepemimpinan "female king", Silla terus menerus diserang Baekje dan Goguryeo. Bidam menganggap, invasi tetangga ini tidak teratasi karena wanita tidak kompeten memimpin. Ada pula yang menerangkan bahwa ketiadaan pewaris laki-laki setelah Seondeok, membuat Bidam yang menjabat PM semestinya naik tahta, bukan malah diwariskan kepada sepupu ratu yang juga seorang wanita (Queen Jindeok).

Bidam insecurity (pic source).
Dalam drama dijelaskan, bahwa setelah Bidam dibunuh Yu Shin dan pemberontakan berhasil dihentikan, Seondeok meninggal tiga hari setelahnya. Namun, sejarah mencatat Seondeok meninggal ketika pemberontakan berlangsung, dan Bidam meninggal beberapa hari setelahnya lewat sebuah eksekusi yang diperintahkan Ratu Jindeok (penerusnya Seondeok).


7. Kisah Terkenal
Sebuah catatan sejarah berjudul Samguk Yusa merekam sebuah kisah tentang Ratu Seondoek. Konon kisah ini terkenal dalam sejarah Korea. Dan dua kisah yang menggambarkan kepekaan Sang Ratu ini sama sekali tidak disinggung dalam drama.

Pertama: suatu hari Deokman menerima bingkisan dari Dinasti T'ang (China) yang berupa benih bunga dan lukisan tiga bunga berwarna merah, putih, dan ungu. Melihat lukisan itu, Deokman berkata bahwa benih bunga dari Dinasti T'ang tidak akan mimiliki aroma wangi. Ucapan itu terbukti ketika benih yang ditanam telah mekar. Saat ditanya, bagaimana ia bisa tahu  bahwa bunga tak beraroma sebelum melihat bibit tumbuh, Ratu Seondeok menjelaskan bahwa jika bibit itu wangi, mestinya ada kupu-kupu yang juga ditulis dalam lukisan yang dikirim. Selain itu, Ratu juga mengatakan bahwa hadiah itu sebenarnya adalah sindiran dari Dinasti T'ang karena dirinya tidak (atau mungkin belum) bersuami. Tiga bunga dalam lukisan juga dipercaya merupakan 'ramalan' Kaisar T'ai-tsung bahwa Silla kelak akan dipimpin tiga wanita dan ramalan itu terbukti benar karena selanjutnya, Silla dipimpin Seondeok, Jindeok, dan Chinseong.

Beautiful Lee Yo Won portrayed Deokman very well (pic source).
Kedua: pada musim dingin, para katak biasanya berhibernasi, namun suatu fenomena aneh terjadi di Silla, ketika musim dingin tiba, katak-katak di sebuah kolam dekat Gerbang Jade justru menampakkan diri dan berkotek selama kurang lebih tiga hari. Mendapat laporan tentang kejadian aneh itu, Ratu Seondeok tiba-tiba memerintahkan Hwarang Alcheon dan Piltan untuk membawa dua ribu pasukan ke sebuah lembah di arah barat Silla (dikenal dengan anam Women's Valley) dan mencari musuh yang bersembunyi di hutan. Ternyata, pasukan itu menemukan tentara Baekje yang hendak menyerang Silla sedang bersembunyi di hutan dan musuh berhasil dikalahkan.

Konon, Ratu Seondeok memahami hal itu dari mengintepretasikan fenomena alam. Katak yang berisik ia umpamakan para tentara yang marah, warna putih salju musim dingin menggambarkan arah barat (simbol astronomi mas itu), dan Gerbang Jade menggambarkan organ kewanitaan yang selanjutnya diasosiakan sebagai nama lembahnya. Yha gini nih hasilnya kalau orang sangat memahami tanda-tanda yang dikirimkan alam.

Ya, itulah beberapa perbedaan antara drama dan sejarah yang ada dalam The Great Queen Seondeok. Sebenernya, masih ada lagi beberapa perbedaan, tapi saya rasa sekian saja yang saya tuliskan. Semoga menambah pengetahuan dan menghibur  ya :D

Magelang | 08 April 2018 00:45 WIB
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS