twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • ABOUT
  • CATEGORIES
    • DIY
    • TRAVEL
    • THOUGHTS
    • KOREAN WAVE
  • About
  • Contact

a wonderful life

Ini dia segerombolan kecil mahasiswa Magelang, mahasiswa gemar pulang (meski beberapa udah nggak mahasiswa lagi sih hehe). Setelah beberapa bulan terakhir sibuk dengan kehidupan masing-masing, ada yang KKN, ada yang sibuk skrispian, sibuk kerja, dan sibuk cari kerja...alhamdulillah hari ini dipertemukan kembali.

Pertemuan kali ini diselenggarakan mumpung salah seorang kawan kami sedang cuti setelah tiga bulan berada di pertambangan batu bara di Muara Teweh, Kalimantan Tengah. Yaa, kapan lagi dia bisa ketemu teman-temannya kalo nggak sekarang. Mengingat dia sudah sibuk di pit, dan cuti-cuti berikutnya siapa tahu bakal sudah sibuk dengan mencari calon istrinya heheh.



Banyak hal-hal seru yang dibahas tadi siang bersama para pejuang jarak ini. Ya, pejuang jarak karena  kebanyakan dari kami memutuskan menglaju Jogja-Magelang ketika memasuki semester akhir. Saya senang, hari ini mendengar cerita tentang KKN di pedalaman Kalimantan yang belum terjamah listrik sama sekali, cerita tentang mesin-mesin tambang batubara (yang kadang bikin saya roaming haha), cerita skripsi yang belum kelar, cerita kuliah praktik, cerita koas, cerita pencarian kerja, hingga guyon-guyon receh lainnya :D

Nggak kerasa yaa, waktu cepet berlalu. Dulu, waktu sama-sama masih di Jogja kalau kami kangen yaa tinggal ngumpul sambil makan atau sesekali jalan-jalan ke pantai-pantai di Gunungkidul. Sekarang, sebagian besar udah sibuk dengan aktivitas masing-masing, beberapa bahkan sudah nggak stay di Jogja. Nggak lama lagi, mungkin bakal misah-misah di seantero Nusantara, atau bahkan sibuk dengan keluarga kecil masing-masing. Momen-momen berkumpul bersama seperti ini pasti bakal kami rindukan. Terimakasih telah meluangkan waktu untuk sejenak melepas rindu, teman-teman. Terimakasih pula buat Ikis atas traktirannya, semoga dibalas dengan kebaikan yang lebih oleh Allah SWT dan semoga rejekinya berkah. Amin :)

See you next time,

Nurul
January 07, 2017 No comments
Ternyata, konsisten menulis sepuluh hari berturut-turut itu susah. Apalagi di tengah banyaknya gawean yang harus dikerjakan. Kemarin-kemarin mungkin sedikit lebih enak karena saya sudah menentukan gambaran mau nulis apa, tapi sayangnya itu cuma berhenti di postingan kelima, karena postingan kemarin sungguhlah seadanya dan itupun di-post pagi-pagi. Sedih :"

Ya, itu sih salahnya saya. Saya baru merancang konten untuk tujuh postingan di self-challange sepuluh hari menulis, jadinya yang tiga keteteran. Dari tujuh ide konten, sudah di-post lima dan yang dua lagi masih melayang-layang di kepala. Pasti akan di-post tapi tidak sekarang. Hari ini, karena bingung mau cerita apa. Saya cerita aktivitas sehari kemarin saja. Kenapa bukan cerita hari ini? Karena hari ini saya cuma di depan komputer, jadi kurang seru diceritain.

Jadi, kemarin saya memulai pagi dengan chat group yang ramai oleh ucapan selamat ulang tahun...di tanggal 5 Januari. Yowislah, rapopo -_-. Hari itu ke Jogja untuk suatu keperluan. Saya sampai di kampus jam setengah sepuluh dan langsung menuju perpustakaan pusat, ada hal yang harus saya kerjakan disana. Lebih tepatnya saya memanfaatkan komputer perpustakaan buat kerja, karena sungguh laptop saya minta diganti biar bisa kerja dengan maksimal, sekaligus saya butuh kerja buat beli laptop. Pelik sekali kan permasalahan ini? Hahaha. Ketika sedang konsentrasi agar angka di dua worksheet MsExcel bisa sinkron, tiba-tiba saya teringat kalau buku saya terbawa oleh seorang teman yang kemarin main dengan saya. Padahal, bakal pulang kampung hari itu juga. Segera saya chat dia, minta bukunya dibalikin. Finally, bukunya dia titipkan ke pacarnya yang siang itu mau mampir kampus. Okelah, saya pun akhirnya ketemuan dengan pacar...pacar orang maksudnya. Urusan buku kelar.

Jam makan siang, saya ada janji dengan seorang teman untuk makan siang di Kantin Teknik. Kenapa saya harus makan siang disana? Tak lain adalah amanat dari dosen untuk 'survei' Kantin Teknik yang Juara I Lomba Kantin Sehat seantero kampus itu. Metyaw bytheway! Meskipun terbiasa maen-maen sendiri, saya nggak mau makan survei sekaligus makan sendirian di Kantin Teknik. Saya takut diculik, takut kena runtuhan bangunan anak civil, takut kepalanya kena crack hammer anak geologi, atau kesetrum anak elektro, hahahaha. Awalnya saya tentu saja minta ditemeni sama sahabat gondrong, tapi dia tengah sangat suntuk karena suatu hal, makanya memutuskan pulang ke rumah malam sebelumnya. Jadilah, saya ditemani oleh salah satu dari sekian banyak orang generous di Tim KKN Seliu. 

Begitu sampai di Kantin Teknik, saya melihat sosok Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) saat KKN dulu, Pak Fatchan. Wah, senang sekali rasanya dapat bertemu kembali dengan beliau. Saya pun 'salim' dengan Pak Fatchan dan ngobrol sebentar, karena nampaknya beliau tengah terburu-buru.

Di Kantin Teknik, saya memesan gado-gado sementara teman saya memesan lotek. Saya nggak tahu, apa gado-gado emang rasanya kayak gitu atau gimana, tapi pas makan saya mikir kalo gado-gado teknik itu rasa dan isinya sama dengan gado-gado Kantin FTP. Apa satu pemilik yaa? Entahlah, cuma rasanya sama. Kalian yang pernah makan gado-gado di teknik sama FTP ngerasa gitu juga nggak? Hehe nggak penting banget yaak pertanyaan saya. Setelah makan, saya sempetin mengambil foto kantin dari berbagai sisi dan ngobrol sama teman saya tentang kantin mereka. Saya akui, Kantin Teknik memang bersih :) Tapi kalau menunya, Kantin Fisipol yang menyabet Juara II Lomba Kantin Sehat lebih variatif heheheh.

Oh iya, teman saya ini membawa teman satu orang lagi yang kemudian makan satu meja dengan kami. Setelah berkenalan, kami bertiga ngobrol biasa. Cerita mulai dari persiapan sidang mereka (iya, mereka lagi mau sidang ceritanya) hingga masalah cari kerja, cerita kecelakaan, dll. Teman baru saya ini friendly person ternyata. Siang itu, sekali jalan saya dapet survei kantin, ketemu Pak Fatchan, ketemu temen KKN, dan punya teman baru. Yaa gitu, menjalankan amanat itu yaa pasti ada hikmahnya juga :) Eh ada lagi, temen saya tiba-tiba ngasih agenda gitu, buat nulis catatan perjalanan saya katanya. Makasih banget yaa, you tau aja saya hobi nulis-nulisin agenda haha.

Usai urusan di Kantin Teknik, saya balik lagi ke perpustakaan pusat. Lanjut lagi ngerjain gawean sampe malem dan lanjut pulang ke Magelang. Menembus Jalan Magelang di tengah hujan (halah!), akhirnya saya sampai rumah sekitar jam delapan lebih seperempat, kemudian...terdampar di kasur. Zzzzz.

Oke, itu saja yang bisa saya tuliskan untuk self-challange #10HariMenulis. Maaf kalau bahasanya nggak kayak biasanya, ini malah kayak curhat hehe. Pesen aja sih, kalau mau bikin proyek nulis marathon gini, mending tentukan dulu ide pokok apa saja yang mau dituliskan selama proyek berlangsung. Demi kesehatan otak dan kesehatan tulisan tetap terjaga, dan biar nggak random gini hahah. #LessonLearned
Dah ya...ini tadi juga maghrib baru sampai Magelang. Sekarang mau bobok dulu, besok mau jogging di Lapangan Supardi. Ikut yuk! Biar badannya kayak Anna Lewandowska :P

Good Night,

Nurul

January 06, 2017 No comments

Karena menyampaikan satu kalimat pujian yang tulus dari hati itu tak mengurangi apapun darimu, and...see that bright smile in their face after you say that simple thing :)
January 05, 2017 No comments

Video ini saya ambil dari oficial account Youtube-nya Mbak Annisa Hasibuan.
Annisa Hasibuan adalah seorang desainer dari Indonesia yang menorehkan sejarah baru di New York Fashion Week (NYFW), karena dialah desainer pertama yang menampilkan model pakaian berhijab di salah satu panggung fashion show terkemuka dunia.

Suatu hari, saya pernah menyimak talkshow di televisi yang menghadirkan bintang tamu Mbak Annisa Hasibuan. Saya merinding mendengar dia menuturkan kisah hidupnya, perjuangannya hingga bisa seperti sekarang. Sebelum ia dan suaminya memiliki bisnis travel agent umroh dan memiliki usaha fashion ini, keduanya pernah membuka konter pulsa sekaligus berjualan burger di depan konter tersebut.  Ia menjelaskan bahwa usaha yang dibangun bersama suaminya adalah usaha yang penuh dengan lika-liku dan air mata, tidak instan.

Yang membuat saya juga merinding adalah dukungan sang suami kepada Mbak Annisa untuk menekuni dunia fashion, sang suami berkata bahwa ia melihat Annisa Hasibuan selalu berbinar-binar tiap kali pergi ke toko kain, ada ketertarikan Mbak Annisa setiap berurusan dengan kain dan baju, sang suami pun mendukungnya jika hendak bisnis di bidang fashion. Di sinilah takdir Allah SWT dimulai, Mbak Annisa yang les fashion secara intensif selama beberapa hari ternyata memiliki bakat luar biasa, padahal ia tak pernah mengenyam pendidikan di bidang tata busana. Ia menekuni busana haute couture. Ketika kawannya menyarankan kepada Mbak Annisa untuk mengikuti semacam pameran fashoin haute couture, ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Tak lama berselang setelah mengikuti sejumlah pameran fashion, ada kawan lagi yang menyarankan ia ikut NYFW. Sang suami kembali mendukung Mbak Annisa dengan mengizinkan ia mempersiapkan segala kebutuhan yang diminta panitia NYFW dan ia lolos ke NYFW, satu panggung dengan desainer kelas dunia Anna Sui dan Vera Wang. Fantastic!

Perjalanan Mbak Annisa Hasibuan, saya belajar bahwa segalanya harus dimulai dengan usaha dan doa. Mungkin tidak linier dengan apa yang diusahakan Mbak Annisa selama ini, tapi usaha keras kita pasti suatu saat dibayar Allah SWT dengan beragam kejutan indah yang tak kita sangka. So, jangan lelah berusaha sekuat tenaga mewujudkan mimpi yaa! Dan dukunglah orang-orang di sekitarmu meraih mimpinya! Dukungan tak melulu dengan memujanya, sebuah teguran yang disampaikan secara privat demi kebaikannya juga bisa jadi sangat berarti. Believe, dreams do come true! :*

Salam hangat,

Nurul

January 04, 2017 No comments
Selamat datang dua puluh tiga!
Beragam ucapan selamat ulang tahun saya dapatkan pada penghujung tahun 2016 lalu, ada yang ngucapin tanggal 23 Desember, ada yang ngasih ucapan tanggal 30 Desember, tangal 31, bahkan pada tanggal 1 Januari. Ada juga yang bikin ucapan ulang tahun untuk saya di Facebook pakai huruf kapital semua, tapi salah mention orang :B Wait…siapa tau ada yang ngucapin tanggal 10 Januari juga seperti tahun lalu. Kapan yaak ini ulang tahun saya sebenernya? Hahaha. But, that’s no problem, guys. Vielen dank für die schönen Wünsche!! :*

Sebuah foto yang diambil tepat ketika usia saya memasuki dua puluh tiga.
Taken by Koko.

Usia baru, harapan baru :) Izinkanlah saya mengutip kalimat dari Mbak Alissa Wahid. Sebuah kalimat harapan yang saya amini berikut ini:

“Semoga tahun ini, keimanan kita tumbuh subur disemai rahmat akal dan kearifan dari Tuhan Yang Maha Kuasa,
agar terhindar dari kenaifan.
Dan semoga kita dilimpahi teman-teman seperjalanan hidup yang memperkuat dan memperkaya hidup kita, bukan memiskinkannya.”

Meskipun kalimat itu kutipan dari kalimat orang lain, namun harapan itu pula-lah yang ada pada benak saya untuk usia dua puluh tiga. Semoga terkabul :) Saya menanti masa belajar hal-hal baru di usia ini, dan menghidupi pengalaman-pengalaman baru pula. Tetap semangat berjuang mencari sumber rejeki, Rul. #curhat Siapa tahu di usia ini dipertemukan dengan jodoh juga #eh :P
January 03, 2017 No comments
Alhamdulillah, usia dua puluh dua telah terlewati dengan sejumlah pengalaman berharga :) Di awal usia, saya mendapat ‘hadiah’ sederhana namun indah dan saya sukai, yaitu sebuah hand lettering angka dua puluh dua yang dibuat oleh Rosalia Destarisa, my talented friend. Thank you, Chak :* Satu persatu hal yang saya cita-citakan sejak awal usia dua puluh dua juga alhamdulillah terlaksana. Oleh karena itu saya menulis tulisan ini, sejenak flashback tentang beberapa pengalaman di usia dua puluh dua.

Lulus
Alhamdulillah saya berhasil lulus di usia dua puluh dua. Perjuangan mencari data hingga harus berkali-kali PP Magelang – Gunungkidul – Magelang akhirnya terbayar dengan nilai skripsi yang memuaskan. Sebenarnya, saya menargetkan wisuda bulan Agustus, tapi nyatanya saya harus mundur ke periode selanjutnya, November 2016. Tak masalah, sebab dengan demikian saya justru bisa mencapai apa yang saya idamkan selama ini: ada jarak yang cukup jauh antara sidang skripsi dan wisuda, sehingga saya ada kesempatan untuk do something selama tenggat waktu tersebut. Saya sidang awal September, sembari ‘menunggu’ waktu wisuda di pertengahan November saya melamar magang, dan alhamdulillah diterima. Jeda waktu dua bulan menjelang wisuda saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk belajar :) See? Everything happens in our life is never a coincidence. Lulus agak ‘telat’ juga tetep ada hikmahnya kok heheheh (ngeles).

My graduation. Taken by My Lovely, Mbak Fitra.

Suka sama kebayanya, warnanya nggak pasaran di hari itu.
Kebanykan wisudawati pakai pink, merah, tosca gitu soalnya heheh.

Make-up natural itu saya percayakan ke Bu Dini Salon, Kalinegoro
yang dulu juga dandanin saya pas perpisahan SMA :)

Surga di Negeri Liu-Liu
Proyek bersama temen-temen KKN Seliu yang alhamdulillah terlaksana. Ya, kami menerbitkan buku catatan perjalanan KKN PPM-UGM dengan judul Surga di Negeri Liu-Liu. Kami ingin berbagi pengalaman yang kami dapatkan selama berada di Pulau Seliu kepada orang lain. Dalam proyek buku ini, saya kebagian jatah jadi editor dan…saya belajar banyak hal tentang per-editor-an ini. Terimakasih banyak kepada Mas Kormanit BBL-11 yang telah membimbing dengan penuh kesabaran eheheh

Buku kami memang tidak diproduksi secara masif, tapi apa yang kami capai sungguh membuat kami bahagia. Kami tak menyangka akan mendapat sambutan yang demikian baik. Kami terkesan dengan Pak Tellie Gezelie, anggota DPD RI dari Belitung yang memesan buku dalam jumlah banyak. Tanpa kami sangka, beberapa bulan setelah memesan, Pak Tellie menghubungi CP yang kami berikan. Beliau mengungkapkan testimoni setelah membaca buku tersebut dan mengirimi sejumlah foto, ternyata beliau memberikan buku tersebut ke sejumlah orang, seperti kepada Pak Sahani Saleh, Bupati Belitung, kepada organisasi pemuda di Bangka, dan entah bagaimana beliau juga memberikan buku tersebut kepada Pak Abdul Kadir Karding, Sekjen PKB. Selain itu, ada pula Mbak Novianti Yenni, seorang penulis buku panduan wisata berjudul Belitung: Nature of Paradise juga tertarik membaca buku kami. Mas Ghaffar, dosen Departemen Ilmu Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM pun tertarik membaca. Sayangnya, Mbak Novianti dan Mas Ghaffar belum mendapatkan buku tersebut karena bukunya sudah habis. Saat ini, kami sedang dalam proses cetak lagi, doakan semoga lekas selesai :)

Saya sangat bahagia dengan apa yang telah kami capi bersama-sama Tim BBL-11 ini. Terimakasih kepada segenap pembaca Surga di Negeri Liu-Liu :)

Magang
Ini adalah kesempatan terindah di usia dua puluh dua. Saya belajar begitu banyak hal baru selama empat bulan magang di Tim Media Fisipol UGM. Saya tidak akan cerita banyak di sini, karena saya akan menuliskannya pada kesempatan tersendiri nantinya. Ditunggu tulisannya yaak, heheh.

Kembali ke Krapyak
Saya bersyukur, di usia dua puluh dua kemarin saya mendapat ‘hidayah’ dan kesempatan dari Allah SWT untuk sekali lagi merasakan Ramadhan di Krapyak. Saya mengenal orang-orang baru dengan beragam karakter uniknya dan kembali bertemu dengan kawan-kawan di Krapyak. Berkesampatan lagi belajar Hujjah Ahlussunnah, Dzo’ul Misbah, Jawami’ul Kalim, dsb bersama guru-guru yang begitu saya segani. Selain itu, saya juga berkesampatan datang ke Haul ke-49 Nyai Hj. Salimah Munawwir beberapa bulan lalu, mendengarkan Gus Mus secara langsung menyampaikan ceramah yang begitu sejuk di tengah ‘panasnya’ kondisi negeri ini kala itu. Semua itu adalah kesempatan yang bagi saya sangat berharga, alhamdulillah.

Hibah Riset
Dulu, ketika masih mahasiswa baru saya sempat datang ke sejumlah presentasi Hibah Riset Fisipol yang digelar setiap akhir tahun sebagai rangkaian acara Dies Natalis Fisipol UGM. Kala itu, saya tak menyangka, kalau empat tahun kemudian saya juga hadir di presentasi hibah riset, bukan lagi sebagai hadirin tapi sebagai orang yang mempresentasikan risetnya di hadapan orang-orang. Jujur, awalnya sempat gugup. But, finally I think I can handle it well :) Terimakasih kepada Pak Hary dan Bu Ola for encouraging me :)

Meet the old friends
Di usia dua puluh dua, saya sengaja menyempatkan diri bertemu kawan-kawan lama. Yaa itu tadi, mulai dari main ke pondok, main bareng temen-temen SMP, dan SMA. Atau sekedar makan bareng temen-temen KKN. Saya menikmati momen-momen ngobrol dengan mereka, mendengarkan kisah-kisah mereka setelah lama tak bersua, dan menyampaikan pula pengalaman-pengalaman saya. So positive! Bener banget lah ya, “sometimes the greatest adventure is simply a conversation” :) Terimakasih teman-teman, telah menyempatkan waktu untuk sejenak berbagi cerita.


Itulah sedikit hal yang dapat saya tuliskan tentang usia dua puluh dua kemarin. Mungkin bukan sesuatu yang 'wah', tapi saya menikmatinya. Sesekali, pada usia zweiundzwanzig lalu, saya melihat kawan sekelas yang sudah exchange ke Japan, rekan yang dulu pernah satu tim yang tengah menempuh S2 ke Korea, teman SMA yang sedang acara entah apa ke US, kakak tingkat yang menerima beasiswa LPDP dan lanjut S2 ke UK (seneng yaak, bisa salim sama Kate Middleton tuh heheh), teman KKN yang exchange ke Thailand, hingga kormanit yang sedang persiapan S2 ke Japan. Ya, mereka telah meraih semua itu di usia yang tak jauh beda dengan saya. Setiap kali mendengar cerita mereka, atau membaca caption atas foto yang mereka unggah di media sosial, saya selalu senang dan merasa termotivasi untuk ikut suami sekolah ke luar negeri eh maksudnya untuk belajar public policy lagi, untuk merantau, saya jadi on fire gitu wkwk. So, guys...you make me so much inspired, thank you. Karena saya yakin, dari kesempatan yang mereka dapatkan itu, mereka tak hanya mendapat ilmu akademis tapi pengalaman hidup yang berharga. Kemudian saya jadi pengen hehehe. But..not now. Of course I’ll try, but not now. Sebab, masih ada beberapa hal yang harus saya lakukan sekarang ini :’)

Oh iya, di penghujung usia dua puluh dua, saya baru menyadari bahwa setahun belakangan…saya kurang piknik! Ya, saya hampir nggak main kemana-mana, no mountain, no beach, no halan-halan ke tempat wisata asyik syalala lainnya. Hanya di sekitaran Magelang. Sedih :( Sebenarnya saya ada cita-cita mau ke Ijen, Banyuwangi pertengahan tahun lalu. Tabungan sudah ada, sayangnya uang tabungan yang mestinya digunakan ke Ijen harus saya alihkan untuk hal lain yang lebih mendesak, yang lebih butuh. Ijen pun batal. Tapi tak apa, semoga lain kali ada kesempatan ya. Amin.

Thanks, Allah…for the wonderful zweiundzwanzig.
I learn a lot of new things on that age.

a dreamer,

Nurul
January 02, 2017 No comments
Memasuki usia dimana teman-teman seangkatan mulai menapaki jenjang pernikahan. Pembicaraan pun beberapa kali mengarah ke tema pernikahan, entah terkait hal-hal bersifat emosional yang menyertainya hingga semacam warna gaun apa yang ingin dikenakan di hari pernikahan nanti. Yah, meski seringkali berujung kalimat; "tapi kan belum ada jodohnya" haha. Chat group juga beberapa kali ramai oleh ucapan selamat atas pernikahan seorang teman, membicarakan si A yang baru saja menikah, saling bertanya siapa saja yang mendapat undangan pernikahan si B, dan sejenisnya.

Dari beragam kisah pernikahan kawan, selalu saja ada hal yang menarik yang bisa saya jadikan pelajaran. Yang pertama jelas, bahwa jodoh itu sepenuhnya kuasa Allah SWT. Kisah orang-orang di sekitar saya yang bertemu jodohnya ini sungguh menarik. Bagaimana tidak, ada yang sebelumnya telah berpacaran lama dengan A, tiba-tiba menikahnya dengan B. Ada yang dikenal berpacaran dengan C, lalu D, lalu E, balikan lagi sama C, eh taunya menikah justru dengan si G yang baru dikenal beberapa lama. Yang bertahun-tahun menjalin kasih dengan si K, ternyata dicampakkan, lalu melabuhkan cinta pada sahabatnya sendiri. (Sorry, so much alphabet I use here hehe) Ada pula yang track record pacarannya clean sheets, alias nggak pernah pacaran lalu dijodohkan dengan seorang pilihan orangtuanya. Sungguh, suatu bukti nyata bahwa jodoh sepenuhnya rahasia Allah yang dipertemukan dengan ita melalui beragam jalan. Kita, manusia hanya bisa berdoa dan berusaha menjadikan diri terbaik untuk pasangan kita kelak.

Source: pinterest.com

Dari beragam kisah pernikahan pula, saya belajar tentang mengikhlaskan. Tentang beberapa orang yang ikhlas menerima kehendak-Nya, bahwa apa yang telah kita rencanakan kadangkala harus pupus. Ada kejutan indah dari Allah yang menanti di masa kelak.

Di usia-usia ini sering pula seorang kawan menggoda, dengan sebuah pertanyaan; kamu kapan? Cukup sering, bukan? Haha. Saat pertanyaan seperti itu ditujukan kepada saya, biasanya saya akan menjawab sambil berkelakar atau tersenyum nyengir hehehe.
Pertanyaan seperti itu, biasanya akan dilanjutkan dengan obrolan nikah-nikah yang mengalir dengan asyiknya. Saya termasuk yang sesekali membahas dengan beberapa kawan. Tapi, sejujurnya saya tak pernah benar-benar dapat mengungkapkan hal-hal yang ada dalam benak saya tentang sebuah pernikahan. Tentu saja, saya punya impian-impian untuk membangun rumah tangga kelak. Saya punya rencana, pemikiran, dan pertimbangan tersendiri atas hal bermakna besar ini. Namun saya sering merasa kurang nyaman membahasnya. Saya hanya ingin membahas pernikahan dengan orang yang sungguh saya percaya :') (That’s my introvert side, maybe…)

Ah, pernikahan. Begitu berartinya sesuatu yang dimulai dari kalimat ikrar yang diucap barang lima menit saja. Mitsaqon gholidzo. Begitu agung arti kata itu, tentang dua insan, dua keluarga besar, tentang membangun keluarga dan generasi penerusnya. Ladang ibadah, tempat kebahagiaan diperoleh dari berbagai hal sederhana di dalamnya, tapi juga sesekali kekhawatiran menyertainya. Tentang menjaga bahtera tetap kokoh berlayar ketika sesekali godaan dan cobaan menguji kekuatannya. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan lahir dan batin untuk mempersiapkan diri mengikuti sunah Rasul dan menghidupi janji suci itu nantinya. A long live learning. Dan semoga Allah SWT mengirimkan jodoh terbaik untuk kita :)


belated birthday girl,

Nurul :)
January 01, 2017 No comments
Tahun baruan kemana? Beberapa orang seringkali menanyakan kalimat itu di penghujung tahun seperti sekarang, dan jawaban saya selalu sama: nggak kemana-mana. Ya, saya memang bukan orang yang memiliki tradisi celebrating new year in somewhere in this earth heheh, paling di rumah tidur haha, atau nonton TV, atau ngobrol dengan Ibuk. Kenapa? Karena jujur saja, saya tak terlalu tertarik merayakan tahun baru dengan pesta-pesta heboh yang penuh manusia gitu. Kemarin baca berita di portal online yang menyebutkan bahwa akan ada 5.000 lampion dilepaskan pada malam pergantian tahun di Candi Borobudur, tak jauh dari rumah saya. Hmm…terdengar menarik melihat ribuan lampion mengangkasa, bukan? Kayak di film Tangled. Tapi tentu saja, saya nggak akan datang. Saya nggak nyaman berada di keramaian (another my introvert side, maybe?) Saya tahu, event pelepasan lampion (dan pesta perayaan new year lainnya) itu bakal dihadiri oleh begitu banyak manusia, crowded! Sejak kecil saya nggak nyaman di situasi ramai kayak gitu, maka pastinya saya memilih di rumah hehe. Atau kalau mau yang agak ‘spesial’ yaa berkumpul dengan keluarga besar atau teman-teman dekat di rumah hehe.

Source: travelbreezybre.tumblr.com

Tapi, ada malam-malam tahun baru dimana saya menikmati kembang api, yaitu ketika saya masih di Krapyak. Gedung pondok kami terdiri atas tiga lantai. Setiap malam tahun baru tiba, kami dapat melihat pemandangan kembang api di langit Jogja dari lantai tiga gedung pondok. Tanpa harus berjubel manusia, hanya sesama teman pondok. Dari jauh, kami bisa melihat kembang api menghiasi ujung barat hingga ujung timur langit Jogja. Paling berkesan adalah ketika saya dan teman-teman penghuni kamar 4B, membakar jagung di lantai tiga dekat jemuran kala malam tahun baru. Suasana kekeluargaan yang erat dan ceria bersama Mbak-Mbak sholehah nan hebat yang selalu saya rindukan ini :)

Selain itu, daripada merayakan tahun baru, sesungguhnya setiap akhir bulan Desember seperti ini saya justru lebih antusias menyambut usia baru. Jatah umur yang semakin berkurang :’) Lebih antusias me-review apa yang terjadi selama usia saya sebelumnya. Tentang resolusi? Hmm…tentu saja ada sejumlah impian yang ingin saya raih di usia ini. Tidak banyak memang, tapi semoga terlaksana. Seperti sebagian besar impian dan target yang teraih di usia dua puluh dua lalu :’) Amin

Selamat tahun baru, tetap semangat menggapai target-target selanjutnya!!
Semoga hidup kita tentram dan bahagia di tahun-tahun mendatang :)


December 31, 2016 No comments

...cause I want to live and not just survive... :)
that's why I can't love you in the dark...

December 25, 2016 No comments


Sometimes, it's okay to say no.
Kalau kita udah tahu bahwa sesuatu itu sekiranya bakal bikin kita nggak nyaman, nggak bahagia, dan  mungkin...justru bikin kita sedih.
It's okay to say "no" to something that we are not into it.
We all have limits.
Being kind doesn't mean we always have to say yes.
Sudah banyak kan pengalaman yang kita alami sendiri dalam hidup kita? Mestinya kita pun paham, kapan saatnya say "yes" dan kapan saatnya say "no". Kita sendiri yang bisa mengukur kemampuan kita, jangan memaksakan diri buat sesuatu yang sebenernya nggak sesuai dengan diri kita :')

Trust our intuition!
The one who can avoid us from broken heart is only ourselves!!



Jogjakarta, 16 Desember 2016





December 16, 2016 No comments
Source: downloadfreepictures.com

December,
Last month in this incredible 2016.

Welcome, December!
Let's make it awesome!

P.S. I'm in love with my eyeliner today! LOL :D

December 01, 2016 No comments
Sore itu, saya bangun tidur dengan makeup yang belum dibersihkan dengan sempurna, kelelahan selepas upacara pelepasan siswa kelas XII di Gedung Wiworo Wiji Pinilih. Saya mendapati pesan singkat dari sepupu saya yang menanyakan apakah saya diterima SNMPTN Undangan atau tidak. Saya sedikit bingung, karena seharusnya pengumuman SNMPTN dua hari lagi, namun sepupu saya mengatakan bahwa SNMPTN sudah pengumuman. “Adek kelasku SMA wis do posting ning Fb,” demikian kata sepupu yang setahun lebih tua dari daya. Ternyata benar, pengumuman SNMPTN Undangan maju dua hari. Bahkan saya menerima banyak pesan singkat dari teman sekolah yang menanyakan apakah saya lolos atau tidak. Saya justru deg-degan dengan kabar itu. Ibuk-lah yang menenangkan saya, untuk menyiapkan mental apapun hasil pengumuman itu.

Selepas mandi, saya pun membuka pengumuman berbekal laptop ibuk dan modem dengan koneksi yang agak lambat (waktu itu hp saya belum secanggih sekarang, dan paket internet masih barang langka....). Saya hanya bisa menangis sejadi-jadinya kemudian bersujud syukur pada-Nya melihat nama saya dinyatakan diterima di pilihan pertama. Bersyukur, terharu, sekaligus bahagia. Untuk beberapa saat, saya sungguh tak bisa berkata-kata.

Itulah kejadian empat tahun lalu, tahun 2012, ketika saya diterima di kampus ini.

Alhamdulillah, empat tahun satu bulan kemudian, saya menghadapi sidang skripsi. Mungkin karena nervous, saya sungguh mual dan keringat dingin sejak sejam sebelumnya, tapi syukurlah saya merasa lebih tenang dan lebih tenang ketika berada di ruang sidang. Semuanya berjalan lancar, saya mempresentasikan slide demi slide yang telah saya desain sedemikian rupa dengan baik dan tepat waktu. Saya menjawab dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dosen penguji. Tentu semua itu tak lepas dari peran kedua orangtua yang tak henti mendoakan saya dari rumah. Nilai memuaskan pun saya dapatkan. Begitu keluar ruang sidang meski lega, namun mual dan keringat dingin kembali menyerang, ditambah pusing yang cukup mengganggu. Saya menerima ucapan selamat dari teman-teman dengan badan yang sudah sangat tidak fit. Malamnya, saya pulang Magelang bersama sahabat saya dan langsung mendapat perawatan dari Ibuk.

Dua bulan setelah sidang.

Saya berada di barisan orang-orang bertoga hitam itu, memakai samir kuning khas Gadjah Mada dengan perpaduan emas khas Fisipol, berjalan memasuki Gedung Grha Sabha Pramana. Tentunya setelah melalui segala tetek bengek persyaratan wisuda. Rasanya masih sama sperti ketika empat tahun lalu pertama kalinya saya menginjakkan kaki di gedung ini. GSP selalu berhasil membuat merinding dengan aura gagahnya hehe.

Izinkanlah saya flashback ke masa-masa empat tahun terakhir. Tahun pertama, saya masih menyesuaikan diri dengan kehidupan kampus dan kehidupan pondok yang pada awalnya sulit. Saya bergabung ke Himpunan Mahasiswa Jurusan dan berpartisipasi di beberapa kepanitiaan di luar jurusan. Tahun kedua, ketika teman-teman sedang semangatnya menyemarakkan HMJ, saya justru memutuskan resign karena suatu pertimbangan khusus. Namun, saya masih tetap terlibat dalam beberapa kepanitiaan yang bersifat sementara. Di semester empat dan lima inilah, saya mulai ter-distract oleh suatu hal. Saya merasa kehilangan diri saya sendiri. Ini tidak lebay atau apa. Itulah yang benar-benar saya rasakan saat itu. Malam-malam di selasar Kantor Pusat Fakultas Teknik (KPFT) dan sahabat saya yang super galak itu-lah yang menjadi saksi masa-masa sulit itu hehe. Masuk semester enam, saya mulai bisa mengontrol diri saya kembali. Bukankah setiap kejadian pasti ada hikmahnya?



Taken by Mas Fadel Basrianto.

Tahun ketiga, saya disibukkan dengan aktivitas persiapan KKN. Lewat proses persiapan KKN ini lah, saya menemukan ide untuk skripsi saya. Ya, tema skripsi saya sejalan dengan tema KKN, yaitu Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), yang mengambil lokasi di Gunungkidul, tempat kami (sekitar lima belas unit tim KKN-PPM UGM untuk berbagai daerah) belajar pengelolaan SPAM sebelum berangkat ke daerah tujuan masing-masing. Pertengahan 2015, enam puluh dua hari melaksanakan KKN di pulau kecil bernama Seliu, Belitung. Dua bulan berproses bersama dua puluh sembilan teman lainnya benar-benar telah mengajarkan saya begitu banyak hal. Saya rasa semua keluarga BBL-11 sepakat, bahwa dua bulan di Seliu telah benar-benar menjadi pelajaran berharga dalam hidup kami. Jika ketua tim saya mengatakan, "Kamu bersama orang-orang yang tepat, Rul." Kalimat itu tidak berlebihan, dan memang benar adanya. Dua bulan bersama orang-orang hebat ini telah membawa saya menemukan diri saya kembali. Mungkin saya memang harus mengalami peristiwa-peristiwa di semester empat dan lima terlebih dahulu agar tahu betapa indahnya yang saya alami di Seliu kala itu. Sepulang KKN, saya bangkit kembali, saya bersemangat kembali. Tahun 2015 menjadi awal titik balik kehidupan saya.

Tahun keempat, saya mulai memproses skripsi saya, yang semula mengerjakan skripsi tentang kebijakan relokasi Pedagang Kaki Lima banting setir ke SPAM, menyusun dari bab awal. Alhamdulillah saya tidak menemui kendala berarti dalam pengerjaan skripsi ini. Dosen pembimbing saya, Pak Hadriyanus Suharyanto sangat membantu selama penyusunan. Bahkan, dosen penguji saya, Ibu Bevaola Kusumasari pun memberikan banyak masukan positif bagi skripsi saya. Penyusunan teori untuk skripsi sangat terbantu dengan buku-buku yang diberikan Pak Hary dan Bu Ola. Pengambilan data pun tak menemui banyak kendala, berkali-kali bolak-balik Magelang-Gunungkidul-Magelang saya lakoni dengan semangat karena saya memang tertarik dengan tema yang saya kerjakan ditambah para narasumber sangat kooperatif. Kalau alasan kenapa jadinya agak lama itu adalah karena saya sempat stuck beberapa waktu karena bingung menuliskan pembahasan hehe.

Graduation attire :'P


Rabu, 16 November 2016. Mengajak Ibuk dan Bapak saya ke GSP adalah hal yang telah begitu lama saya impikan. Seorang teman sempat dua kali bertanaya kepada saya, "Mana pendamping wisuda? Masa wisuda cuma didampingi orangtua, kayak ambil rapot aja." Saya hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Dia tidak tau, betapa berartinya kehadiran kedua orang tua bagi saya :') Meskipun saya tahu ini bukanlah hal sangat besar, meskipun saya tahu saya tidak akan pernah dapat membalas segala yang telah dilakukan Ibuk, Ibuk, Ibuk, dan Bapak untuk saya, tapi semoga kelulusan saya ini bisa menjadi kado kecil untuk beliau berdua. Terimakasih, Buk, Pak. Yaa, meskipun tanpa selempang cumlaude itu, yang berarti saya harus berjuang lebih keras di dunia kerja nanti. Meskipun tantangan ke depan akan lebih berat, saya sangat bersyukur bisa sampai ke tahap ini. Alhamdulillah.

Terakhir, terimakasih untuk teman-teman seperjuangan yang telah saling mendukung dan mendoakan. Terimakasih juga untuk teman-teman yang menyempatkan hadir memberi ucapan selamat (tambah bunga, tanaman, jajan, dan sebagainya) pada salah satu hari spesial saya meskipun di tengah panasnya Jogja. You're sweet, guys! *peluk satu-satu siniiih*

-----
Kepada seribu enam ratusan kawan yang wisuda periode November ini; Selamat atas kelulusan kalian! :)
Semoga segala ilmu dan pengalaman yang kita dapat selama berproses di Kampus Biru ini berkah dan bermanfaat. Semoga apa yang disampaikan Wakil Rektor tentang tantangan yang sedang dan akan dihadapi Indonesia kelak (yang mungkin membuat kita menarik nafas panjang) menjadi pemicu semangat untuk berkontribusi bagi Ibu Pertiwi. Semoga kita diberi keteguhan untuk senantiasa berpegang pada nilai-nilai agama dalam menjalani hidup ini. Selamat berjuang!

Jogjakarta, 28 November 2016 | 11:27 PM
November 30, 2016 No comments
Sejak kecil saya memang senang sok-sokan bikin DIY Project. Katakanlah bikin baju Barbie pakai kain perca, bikin gelang, atau hal-hal semacam scrapbook. Sok crafty sekali lah yaa hehe. Waktu SMP saya juga ada pelajaran kesenian yang membekali murid-murid dengan skill seperti bikin bros, bikin dompet rajutan, dll. Saya juga belajar membuat dompet hp, tempat mukena, dan tas kecil menggunakan mesin jahit ibu saya. Belakangan ada keinginan untuk les menjahit, karena saya memang senang dengan kegiatan jahit-menjahit ini (mungkin keturunan dari Ibuk yang juga senang menjahit) sayangnya belum ada waktu dan biaya juga sih jadinya yaa belum terlaksana hingga kini hehe.

Tiga tahun terakhir saya sedang senang membuat kerajinan yang satu ini. Kalau di luar negeri namanya cross-stitch tapi kalau di Indonesia  lebih dikenal dengan ‘kristik’. Itu lho, sulaman yang tersusun dari berjuta (halah) jahitan silang, dikerjakan menurut suatu pola, terus jadilah suatu ‘gambar’ tertentu. Tahu kan? Tahu dong yaa, Yeah, i do what your mommy did when she was young :)


Second cross-stitch project.
Hasil beli benang dan pola paketan.

Pertama saya belajar bikin kristik pas SD, tapi itu nggak membentuk suatu gambar, melainkan hanya sulaman silang kotak membentuk garis-garis saja, kan membosankan. Jadi waktu itu saya belum tertarik hehe. Lalu entah bagaimana, terbersit ide dalam benak saya untuk membuat kristik tiga tahun lalu. Triba-tiba saja, dan saya ingin ide random itu terlaksana atas nama sebuah misi khusus (halah). Maka saya pun browsing pola kristik sesuai gambar yang saya inginkan, saya cetak, beli benang dan kain strimin (bahasa bakunya apa ya? Nggak ngerti saya, taunya cuma kain strimin, kotak-kotak gitu lah, kalo mau beli, ke toko kain bilang kain strimin insyaallah mudeng kok penjualnya hehe). Ibu saya lah yang mengajarkan pada saya cara membuatnya, cara mengawali kristik, cara menyambung benang, dan cara memperbaiki saat ada kesalahan. Setelah paham teknik dasarnya, saya pun menjahit proyek itu siang dan malam. Proyek pertama ini sengaja nggak saya unggah fotonya di sini, hmm...bentuk apa nih kira-kira? Temen-temen di Krapyak pasti paham banget, soalnya mereka-lah yang menjadi saksinya  dari pembuatan hingga bener-bener selesai hahaha.

Butuh waktu tiga bulan hingga akhirnya pola kristik itu dapat saya selesaikan. Sebenernya saya agak nggak percaya sama diri saya sendiri, gimana bisa saya menyelesaikan kristik yang membutuhkan ketelitian tinggi dalam waktu tiga bulan. Melawan mood menjahit yang nggak selalu bagus, dan yang pasti…menaklukkan ketidaksabaran saya hehe. Soalnya itu bener-bener pertama kalinya saya bikin kristik, dalam membuat kristik ini dibutuhkam ketelitian buat ngitungin kotak di pola-nya. Awalnya kesalahan hitung berkali-kali terjadi dan…yang nyebelin dari kristik adalah kalo kamu salah di satu kotak aja, kamu harus bongkar jahitanmu dan ngulangi lagi dari kotak yang salah itu. Sungguh, kristik adalah melatih kesabaran bagi saya haha. Yaa gitu kali ya, maybe that’s what a Madridista can do when she is falling in love hahaha LOL!

Nah, setelah karya saya berhasil dengan aduhai. Akhirnya saya tertarik untuk bikin kristik lagi, kali ini saya membeli satu paket benang, kain, berikut pola kristiknya di toko alat jahit dekat pondok saya di Krapyak dulu (emang ada yang dijual paketan gitu). Ya, saya mencoba manut pada pola yang disediakan pabrik dan nggak cari pola sesuai keinginan via internet. Ceritanya ini adalah proyek liburan semester lima kalo nggak salah, tapi baru jadi lebih dari setahun kemudian hehehe. Inilah bagian awal proyek kristik kedua saya, sebelum akhirnya jadi seperti gambar di atas:

Second cross-sticth project.
Pola bunga belum selesai dan belum di-block untuk background-nya.

Kenapa butuh waktu sedemikian lama padahal kristik kedua ukurannya empat kali lebih kecil daripada kristik pertama dan udah lebih ‘menguasai’ tekniknya daripada yang pertama? Karena yang kedua ini cuma dikerjain kalo ada waktu dan ada mood buat menjahit. Soalnya kalo waktu ada tapi mood nggak ada yaa percuma hehe. Beda sama proyek kristik pertama yang emang punya misi khusus pada zamannya haha, Setelah proyek kedua selesai, saya pengen bikin lagi dong. Kali ini saya nggak mau menuruti keinginan pabrik, saya pengen bikin sesuai keinginan saya sendiri. Sekali lagi berbekal browsing pola, saya nemu bentuk matahari ikonik yang terinspirasi dari film ‘Tangled’, salah satu film kesukaan saya. Itu lho, film Disney 3D tentang Rapunzel hehe. Ini juga makan waktu sekitar lima bulan (alhamdulillah nggak sampai setahun) sebelum akhirnya kelar dengan bentuk yang sangat simple ini hehe.

Third cross-stitch project.
Iconic flag from
Tangled movie.


Beberapa scene dalam film Tangled.

Itulah dua kristik karya saya. Agak kuno ya, hari gini masih bikin kristik hihihi. Old-fashioned girl, am I? It’s okay, I like it and I just so much enjoy it! Saya belum mau berhenti, sebentar lagi saya akan memulai proyek kristik lagi. Bentuknya, masih rahasia hehe. Doakan semoga gak butuh waktu terlalu lama yaa hehe. Saya sebenernya juga tertarik dengan membuat sulaman menggunakan benang di atas kain. Tapi kalau menyulam yang di atas kain ini membutuhkan skill menggambar which i’m not so good at it. Selain itu saya nggak mau pindah ke lain hati kalau urusan sama kamu belum selesai eh maksud saya, saya mau nyelesain kristik saya dulu sebelum pindah ke proyek lain yaitu menyulam hehe. Bagaimana dengan rajutan? Nope! Saya pernah mencoba dan saya nggak cukup enjoy  dengan rajutan hehe.

Nah, bagi teman-teman yang tertarik juga untuk bikin kristik, kalian bisa beli paket kristik yang biasanya dijual di toko alat jahit. Biasanya udah ada pola, benang, strimin, dan jarumnya, kalian tinggal ikuti polanya. Kalau kalian ingin yang sesuai keinginan kalian, misal ingin gambar Monokuro Boo (random banget) coba aja browsing, kali aja nemu polanya hehe. Selamat mencoba yaa! :*



Magelang, 26 November 2016

with love,
Nurul
November 26, 2016 No comments

November 07, 2016 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Live in small and lovely town, Magelang. Enjoy making DIY project, especially hand-embroidery. Really love writing here, share some thoughts, experience, and everything that popping in my mind.

Follow Us

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Popular Posts

  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (3): Pendakian Gunung Ijen
    Setelah puas menikmati pesona Taman Nasional Baluran di Situbondo (seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya), saya sholat kemudian ma...
  • Jalan-Jalan ke Banyuwangi (1): Itinerary, Transportasi, dan Biaya
    Banyuwangi adalah sebuah tempat yang ingin saya kunjungi sejak sebelum KKN. Saya bahkan sudah menggali informasi dari teman kuliah yang sud...
  • Sekilas tentang Departemen MKP Fisipol UGM
    Saya adalah mahasiswa semester delapan yang memiliki seorang adik yang tengah menempuh tahun terakhirnya di SMA, bulan-bulan ini ia tengah ...
  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (2): Bacpacker ke Baluran di Musim Hujan
    Setelah kemarin menulis tentang rincian teknis jalan-jalan ke Banyuwangi, kali ini saya hendak menuliskan cerita tentang tempat wisatanya. ...
  • [K-Drama] Queen Seondeok: Kisah Cinta Deokman, Kim Yu Shin, dan Bidam
    Sebuah drama yang tanpa kisah percintaan sepertinya akan terasa hambar, sehambar hidup tanpa cinta mungkin #halah maka The Great Queen Seon...
  • Serunya "Berbagi" Kartu Pos Lewat Proyek Postcrossing
    Postcrossing adalah sebuah proyek online yang memfasilitasi para anggotanya untuk mengirim dan menerima kartu pos dari dan ke seluruh penj...
  • [K-Drama] Ringkasan Drama The Great Queen Seondeok: Perjuangan Wanita Meraih Tahta
    [ WARNING : Tulisan ini bakal sangat panjang, karena emang banyak yang harus dibahas dan karena saya begitu antusias. Nggak tahu lagi g...
  • Mata Najwa on Stage (Metro TV on Campus UGM)
    Kalian tahu Najwa Shihab kan? Jurnalis pinter lagi cantik yang punya acara talkshow berjudul Mata Najwa? Tahu kan? Tahu dong? Ada apa den...
  • A Drama that So Much Impress Me
    Saya tidak banyak menonton drama Korea, beberapa drama yang pernah saya tonton hanyalah Boys Over Flower , The Moon That Embraces The Sun ...
  • [K-DRAMA] Mr. Sunshine: Salah Satu Drama Recommended 2018
    The saddest thing about nonton K-Drama adalah ketika kamu nggak ada temen buat membahasnya. Apalagi kalau genre drama yang kamu suka adal...

Labels

  • DIY Project
  • Drama Korea
  • Jalan-jalan
  • KKN
  • Korean Wave
  • Life Story
  • Something Wonderful
  • Thoughts

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (3)
    • ▼  December (1)
      • Overwhelmed
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2022 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  September (5)
    • ►  July (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  October (1)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2018 (29)
    • ►  December (5)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (7)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (35)
    • ►  December (7)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  January (11)
  • ►  2016 (28)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (9)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (38)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (5)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  June (4)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (1)
    • ►  January (11)
  • ►  2013 (46)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  October (9)
    • ►  September (8)
    • ►  August (8)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (6)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (7)
    • ►  December (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
  • ►  2011 (19)
    • ►  October (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (8)
  • ►  2010 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose