twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • ABOUT
  • CATEGORIES
    • DIY
    • TRAVEL
    • THOUGHTS
    • KOREAN WAVE
  • About
  • Contact

a wonderful life


Happy 3rd Anniversary, kakak-kakak kesayangan akuuuhhh :*

"When I first met Kate I knew there was something very special about her. I knew there was possibly something that I wanted to explore there. We ended up BEING FRIENDS for a while and that just sort of was a good foundation. Because I do generally believe now that BEING FRIENDS with one another is a massive advantage. And It just went from there"
__Prince William, Duke of Cambridge

"I think if you really go out with someone for quite a long time, you do get to know each other very, very well; you go through the good times, you go through the bad times. You know both personally, but also within a relationship as well."
__Catherine Middleton, Duchess of Cambridge 
April 29, 2014 No comments
thanks for everything,
especially for that city light
from 99 meters tall building
thanks for take me there~

and...
i love the way you remind me
to put my seat-belt on 
April 28, 2014 No comments
Ditakdirkan untuk hidup merupakan suatu hal yang patut kita syukuri. Hidup hanya sekali, beri itu arti. Hidupilah kehidupanmu, salah satunya dengan banyak belajar, banyak mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada.

Aku hidup di suatu tempat dimana disini aku bisa belajar agama, yah walaupun sedikit demi sedikit hal tersebut tetaplah patut untuk aku syukuri. Ada hal menarik yang beberapa saat lalu aku pelajari, tentang hidup. Bahwa ada tiga hal yang tak boleh hilang dalam kita menjalani kehidupan.

Bahwa jangan sampai kita kehilangan HARAPAN. Kehilangan harapan berarti kita berputus asa, padahal bukankah Allah telah berfirman dalam Al Qur'an yang mulia itu "...dan janganklah kamu berputus asa dari rahmat Allah. sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum kafir." QS Yusuf (12:87). Dalam hal apapun jangan sampai kau kehilangan harapan kawan. Karena Allah itu ada, dan dia Maha Segalanya. Renungkanlah, betapa harapan akan rahmat Allah itu sesungguhnya selalu ada, bagi mereka yang mau berusaha, bagi mereka yang mau berdoa. Gusti Allah mboten sare! :)

Bahwa jangan sampai kita kehilangan KEIKHLASAN. Ketika kita sudah berharap namun kenyataan tak sesuai harapan, tolong jangan lupa bahwa yang selanjutnya tak boleh hilang dalam diri kita adalah keikhlasan. Ikhlas itu memang tak semudah melisankannya, butuh hati yang benar-benar lapang, hati yang benar-benar kuat untuk dapat melakukannya. Ikhlas ketika kita kehilangan, ikhlas ketika memaafkan, ikhlas ketika mendapat cobaan. Marilah kita berbaik sangka kepada Allah, bahwa pasti ada hikmah dan sesuatu yang lebih baik.

Bahwa jangan sampai kita kehilangan KEJUJURAN. Seperti yang seringkali dipesankan Ibu pada putra putrinya untuk selalu berlaku jujur. Pepatah Jawa mengatakan "jujur ajur" (jujur hancur). Ah bukankah itu tak selamanya? Jujur itu menenteramkan hati. Tak menimbulkan perasaan was-was. Jujur pada diri sendiri, dengan menerima apa adanya kita, jujur pada orang lain dengan mengatakan yang sebenarnya.

Kawan, aku memang tak sehebat itu. Aku pun hanya gadis biasa yang ingin berbagi padamu tentang tiga hal itu. Aku belum sepenuhnya bisa melaksanakan semua itu, tapi bukankah tak ada salahnya berbagi untuk bersama-sama kita memperbaiki diri.
April 13, 2014 No comments

And they said,
"Acts Speak Louder Than Words!"

April 12, 2014 No comments
Ibuk. Bagitulah aku biasa memanggil wanita yang dari rahimnya aku dilahirkan, yang dalam hadis Nabi disebutkan bahwa ialah orang pertama yang harus kita muliakan. Sejak kecil, aku memang lebih dekat dengan Ibu daripada Bapak. Ibuk berperan sepenuhnya dalam hidupku. Ibuk dan selalu Ibuk.

Ibuk adalah wanita yang pada usianya yang keduapuluhtujuh melahirkan aku. Beliau bercerita, pertama kali memegangku, memandikan aku adalah hal yang paling menegangkan. Beliau periksa seluruh tubuhku, memastikan semuanya baik-baik saja, memastikan jari kedua tanganku genap sepuluh, begitu juga jari kakiku. Ketika aku mulai tumbuh, dibisikan olehnya kata-kata di kedua telingaku, memastikan aku bisa mendengar. Diberilah aku mainan di atas mataku agar mataku mengikuti kemana arah mainan itu digerakkan, memastikan aku bisa melihat. Iya, Ibuk adalah wanita yang ‘segitunya’ kepadaku. Andaikata saat itu didapatinya aku cacat, aku yakin sepenuhnya Ibuk-lah satu-satunya sosok yang akan menerima keadaanku, then encourage me.


Ibuk adalah yang justru menangis melihat putri sulungnya yang nakal berdarah-darah karena menggenggam silet. Gadis kecil itu tidak menangis, hanya memandangi tangannya. Ibuk-lah yang menangis, menyesali kelalaiannya dan segera mengantarnya ke dokter, lalu merawat lukanya pada hari-hari selanjutnya. Hingga ketika gadis itu dewasa, luka itu tak meninggalkan bekas di tangannya

Ibuk adalah yang memeluk erat putri sulungnya yang berlari sambil menangis dan menjerit ketakutan karena melihat kupu-kupu. Ibuk pula yang memeluknya ketika ia takut mendengar suara gamelan dari pentas kesenian kampung sebelah. Memeluknya, hingga ia lelap tertidur.

Ibuk adalah yang mengenalkan putrinya akan nama hewan, buah, ataupun kendaraan yang belum pernah dilihat, lewat poster-poster di ruang belajar. Mengajarinya bermain lego. Dengan lembut mengajari putrinya mewarnai, membaca, menulis, atau juga bernyayi.

Ibuk juga merupakan sosok yang sangat keras ketika mengajar mengaji, mengajarkan ilmu agama. Ibuk begitu tegas, karena ilmu agama tidak bisa disepelekan. Anak-anaknya harus tahu ilmu agama.

Ibuk adalah yang menanyai putrinya, “Pelajaran apa yang sulit?” | “Bahasa Jawa, Buk.” | Lalu Ibuk datang ke sekolah, bertanya pada Bu Guru, buku apa yang bisa digunakan putrinya untuk membantu memahami pelajaran? Dibelikan-lah untukku buku Pepak Basa Jawa. Iya, Ibuk adalah yang ‘segitunya’.

Ibuk tidak pernah menuntut putra-putrinya untuk selalu menjadi yang terbaik di kelas. Tidak. Ibuk ‘hanya’ membantu kami, anak-anakanya, belajar dan merasa nyaman. Membuat kami belajar sepenuh hati. Tidak pernah menuntut untuk mendapat nilai tertinggi di kelas.

Ibuk tak pernah lelah mendengarkan kisah putrinya sepulang sekolah, semua tentang kejadian sekolah ia ceritakan, tentang temannya, gurunya, kakak kelasnya, perjalanannya. Semua. Dan Ibuk selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan, tidak pernah bosan.

Ibuk pula yang memberikan nasihat bagi putri sulungnya yang keras kepala. Mengajarkan padanya tentang hidup, tentang syukur, tentang kasih saying, tentang menerima, tentang semangat, tentang kemandirian, segalanya. Kadang lembut, kadang juga melalui bentakan, tapi semua kalimat terdengar benar.

Ibuk dan hanya Ibuk yang sepenuhnya memahami putri sulungnya, kemudian menerima apa adanya. Tak perlulah aku banyak berkata-kata menjelaskan apa yang terjadi, aku tidak nafsu makan saja Ibuk tau aku sedang jatuh cinta, aku diam saja Ibuk tahu ada yang tidak beres.

Ibuk yang selalu memanjatkan doa untuk putri sulungnya setiap habis sholat. Lalu meniup ubun-ubun putrinya, “agar merasuk doanya” ujar beliau. Dan segala keajaiban yang terjadi dalam hidupku, aku yakin pasti ada unsur doa ibu di dalamnya.

Ibuk adalah yang melihat putrinya pada keadaan sejatuh-jatuhnya, lalu menemani sepanjang ‘masa penyembuhan’, mengiringinya hingga ia benar-benar bisa bangkit lagi. Kemudian berkata, “Ibuk nggak mau lihat kamu ‘sakit’ lagi. Hati-hati.”

Kalau aku harus menuliskan segalanya tentang Ibuk, maka sungguh aku tak akan bisa. Karena Ibuk terlalu segalanya. Sebagian itu saja yang bisa aku tuliskan tentang Ibuk.  Ibuk adalah sahabat terbaik dan cinta paling tulus. Wanita sederhana dengan kharisma yang mengagumkan. Ibuk adalah yang meski terpisah oleh jarak satu jam perjalanan, tetap bisa memelukku dengan doa-doanya.

Thanks Allah, for giving me this Ibuk. Thanks.
Thanks mom, you rise me up to more than I can be *pelukibuk*
Allahummaghfirli dzunuubi waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaani shoghiiro



Krapyak, Yogyakarta 4 April 2014
lima puluh tiga menit lewat tengah malam
Aku sayang Ibuk :*


April 04, 2014 No comments
Adakah di antaramu yang pernah baca bukunya Tere Liye yang judulnya Rembulan Tenggelam di Wajahmu? Aku pernah, sekitar empat tahun lalu. Salah satu buku yang dari dalamnya aku bisa banyak mengambil pelajaran. Tapi, aku bukan mau mebahas isi buku itu lebih jauh tapi ada kalimat menarik dari buku yang bercerita tentang sesosok pria bernama Ray, yaitu:

"Kalau Tuhan menginginkannya terjadi, maka sebuah kejadian pasti terjadi. Tak peduli seluruh isi langit-bumi bersekutu menggagalkannya. Sebaliknya, kalau Tuhan tidak menginginkannya, maka sebuah kejadian niscaya tidak akan terjadi. Tidak peduli seluruh isi langit-bumi bersekutu melakasanakannya."

Kalimat itu terdengar begitu benar. Manusia sungguh hanya bisa merencanakan, berusaha mewujudkan, selebihnya sudah mutlak kuasa Allah. Seperti itulah yang terjadi pada kami, beberapa anak manusia yang merencanakan sebuah perjalanan. Beberapa anak manusia yang bernama Harry, Rizqi, Dhita, Ajik, Nurul, Ajeng, dan Zen. Kami merencanakan sebuah perjalanan, mendaki Gunung Api Purba, melihat matahari terbit dari puncaknya bersama-sama. Rencana semula, kami mestinya berkumpul di Jogja tanggal 14 Februari 2014 pada sore hari. Aku dan Zen seharusnya berangkat dari Magelang, Harry sama Dhita dari Solo, lainnya sudah stay di Jogja karena mereka emang udah masuk kuliah.

Tapi sungguh, manusia hanya bisa berencana. Kamis, 13 Februari 2014 sekitar pukul 22.00 Allah menghendaki Gunung Kelud yang terletak di Kediri, Jawa Timur meletus, “mengeluarkan beban beban berat yang dikandungnya”. Hingga Jumat dini harinya, hujan abu dari efek meletusnya Gunung Kelud sampai ke Solo, ke Jogja, ke Magelang, dan sekitarnya. Cukup tebal kawan, cukup menganggu. Hingga subuh itu, kami berkomunikasi lewat pesan singkat, memutuskan menunda perjalanan kami untuk mengejar matahari.

Beberapa teman sempet kecewa, apalagi Ajeng udah packing. Aku berusaha menghibur mereka bahwa pasti nanti ada waktu yang lebih tepat, yang lebih indah. Tapi, tidak sekarang, harus bersabar. Aku sendiri entah kenapa sudah punya firasat perjalanan hari itu bakalan batal, Harry juga demikian, dia ngerasa gak semangat buat berangkat. Jadi aku lebih siap dengan batalnya perjalanan kami. Ah, tertunda lebih tepatnya.

Keadaan Jogja memang ngeri waktu itu. Beberapa teman mengirimkan foto keadaan Jogja setelah hujan abu Gunung Kelud via pesan whatsapp, ada juga yang upload di Twitter. Keadaan diperparah dengan hujan yang tak kunjung datang. Debu vulkanik dimana-dimana. Mengerikan~ Aku bersyukur, kami belum jadi berangkat. Nggak bayangin kalau hujan abu itu terjadi pas kami di tengah pendakian misalnya. Ah iya kan? Pasti ada hikmah di balik semua peristiwa, pasti ada yang bisa disyukuri. Kudu “titen” kalau kata Ayahnya Harry.


Tugu Jogja ketika hujan abu akibat letusan Gunung Kelud 140214


Kampus Fisipol UGM ketika hujan abu akibat letusan Gunung Kelud 140214



…dan ketika Tuhan menghendaki sebuah kejadian terjadi, maka pasti terjadi

Sabtu, 8 Maret 2014
Kami memulai perjalanan itu. Sayang sekali minus Ajik dan Zen, karena mereka sedang punya kesibukan masing-masing :( 

Kami berangkat dari Jogja kota pukul 03.00 dini hari. Iya, sepagi itu demi mengejar matahari :DKatakanlah kami start dari Jalan Kaliurang KM 5. Sebenarnya diantara kami tidak ada yang tahu pasti jalan menuju obyek wisata Gunung Api Purba, hanya modal nekat sama semangat hahah. Aku cuma tahu sampai daerah Gunung Kidul, habis Polsek Patuk itu naik dikit ada plang arah menuju Gunung Api Purba. Iya, Cuma sampai situ selebihnya nggak tahu. Selepas dari plang itu kami sempat tersesat, untung nggak jauh. Kami balik lagi, berbekal insting kami mengikuti jalan yang minim penerangan, tapi cukup bagus jalannya. Sempat ragu sih bakal salah jalan... Ah bagai menemukan toilet saat kebelet pipis, lega banget waktu liat plang Selamat Datang di obyek wisata tersebut.
Sampai di pintu masuk gunung, kami parkir, beli tiket, dan memutuskan sholat subuh terlebih dahulu. Sekitar setengah lima baru kami mulai pendakian.

Trek yang harus ditempuh buat sampai puncak memang tidak terlalu tinggi, tapi lumayan menanjak dan ‘butuh perjuangan’. Jadi, aku sarankan kalian jangan pakai alas kaki yang bawahnya licin, mmm tapi aku pakai my beloved sandal Swallow biru aman kok :3 Nggak perlu takut tersesat meskipun tanpa pemandu, karena ada petunjuk jalan di sepanjang trek. Aku paling suka waktu melewati celah diantara dua batu besar heheh, rasanya kayak segolongan kaum yang hijrah ke negeri tetangga lewat celah misterius gitu hahah #lebay


Sunrise dari Puncak Utama Gunung Api Purba

Oh iyaa..jangan lupa slogan ini selama perjalanan >> "Take nothing but picture, leave nothing but footprints, kill nothing but time." :)

Sekitar empat puluh lima menit pendakian, sampai juga kami di puncak Gunung Api Purba. Ada sunrise-nya sih, tapi itu nggak se-spektakuler sunrise yang aku lihat di Selat Bali atau di Pantai Sanur beberapa tahun silam. Tapi, nggak kecewa-kecewa amat. Tetep seneng, pemandangannya bagussss njuk pengen lagi :3


Rombongan lain yang juga lagi 'Mengejar Matahari'

happy girl with her beloved sandal swallow biru~


Leren di salah satu pos dalam perjalanan turun
Selain ke Gunung Api Purba, kami juga sempat mampir ke Embung, sebuah Danau buatan yang tak jauh dari situ. Cuma sebentar. Why? Karena kami belum sarapan. Kami memutuskan sarapan di sekitaran Bukit Bintang.




mereka udah temenan sejak SMP,
sejak mereka partner-an jadi Sekretaris OSIS SMP hahah
happiness is more about journey than the destination

Begitulah, seringkali kata-kata adalah terbatas untuk menggambarkan sebuah perjalanan. Namun, bukankah sebuah perjalanan harus tetap dituliskan? Sebuah sejarah kawan, bahwa kita pernah melaluinya bersama :)





Hari itu terus bergulir..
dan terima kasih Tuhan, untuk sore yang hangat pada Sabtu delapan Maret dua ribu empat belas. I love that kind of afternoon~ So lovely and beautiful!


 Krapyak, YK. 30 Maret 2014
baru sempet nulis sekarang..

March 30, 2014 No comments
Setuju banget sama Raditya Dika 
yang pernah bilang, kalo
"Pacaran lagi nggak lantas berarti
udah move on!!!"

Temen aku yg beberapa waktu putus
sekarang dia milih single
tapi dia sangat menikmati hidupnya..
Itu namanya dia udah move on :D
Ada juga yang statusnya pacaran
tapi masih terjebak kenangan sama mantan,
mungkin mencari celah buat balikan.

So girls, just be happy!
Happy girl is the prettiest!:D
You'll Never Walk Alone (^^)9
March 12, 2014 No comments
LUCKY
Jason Mraz ft. Colbie Caillat


Do you hear me? I'm talking to you

Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, oh baby I'm trying


Boy I hear you in my dreams

I feel your whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when the life gets hard


I'm lucky I'm in love with my best friend

Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Ooh ooh ooh


They don't know how long it takes,

Waiting for a love like this
Every time we say goodbye
I wish we had one more kiss
I'll wait for you I promise you, I'll wait


I'm lucky I'm in love with my best friend

Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again


Lucky we're in love in every way

Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday


And so I'm sailing through the sea

To an island where we'll meet
You'll hear the music fill the air
I'll put a flower in your hair


Though the breezes through the trees

Move so pretty you're all I see
As the world keeps spinning 'round
You hold me, right here, right now


I'm lucky I'm in love with my best friend

Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again


I'm lucky we're in love in every way

Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday


Ooh ooh ooh

Ooh ooh ooh, ooh
Ooh ooh ooh,ooh




source: MetroLyrics



March 03, 2014 No comments

i can't find any words to show you how i feel inside
i don't know how to begin to write it
but you have to know,
that the person i want to write in it is always you
yes, it always been you...
they said, "love isn't spelled, it's felt..."
you know exactly who i mean, yes you
February 27, 2014 No comments
Selamat Pagi, Nusantara :D
dari Pantai Parangtritis, Jogjakarta aku mengucapkannya....
Jumat, 24 Januari 2014


Pagi ini, bangun tidur tiba-tiba diajak temen pondok buat maen ke pantai. Awalnya males, apalagi pantainya adalah Parantritis yang tentu saja tak seelok pantai-pantai di Gunung Kidul. Tapi, daripada liburan nggak ada kerjaan aku memutuskan untuk ikut aja. Yuuuk cuus, pagi-pagi udah manataiiiii B)

Kami berenam pun berangkat. Pondok pesantrenku, PP Al Munawwir Krapyak memang tak jauh dari Pantai Parangtritis, sekitar empat puluh lima menit perjalanan menggunakan motor. Jalan menuju kesana juga nggak se-ekstrem jalan menuju pantai-pantai di Gunung Kidul. Jadi, kami para rider wanita ini nggak perlu khawatir. Mantep aja laah, yang penting baca basmallah heheheh

baru aja sampai pantai, sepi rek!
Parangtritis pagi hari nggak seramai kayak waktu terakhir aku kesini beberapa tahun lalu. Parangtritis pagi hari itu sepi. Bahkan, cuma ada kami berenam sebagai pengunjung pantai, selebihnya adalah penduduk setempat. Seneng bisa menikmati pantai di pagi hari, belum ramai dan belum panas. Nyaman :) *takeadeepbreath*



Aku - A'yun - Dyah - Farida - Halimah - Mbak Airin

Dari tempat parkiran, kami berjalan menyusuri pantai ah suasananya enak banget. Di sebuah tebing tepi pantai Parantritis, terdapat air terjun. Beberapa teman memutuskan buat mainan di air terjun, foto-foto di situ. Tapi aku enggak, aku nggak seneng basah-basahan heheh. Kalau sedang berada di pantai, cukup bagiku menikmati suasananya, keindahan alamnya. Nggak ada basah-basahan! Dan aku suka pantai saat api. Aaaak, jadi pengen nge-camp di pantai lagi :3









Berada di pantai tentu saja nggak boleh melewatkan kesempatan buat foto-foto dong :p Dengan outfit-ku yang cetar membahana dan lumayan aneh itu aku masih cukup punya kepercayaan diri yang tinggi buat foto-foto. Yaaah, namanya juga dadakan pake baju seadanya aja. Liat training yang aku pakai...is that look familiar? Yes. because itu adalah training olahraga Smansa :p Celana yang menurutku selalu eksis dipakai para alumnus hahah. Itulah 'keunggulan' celana olahraga almamater kami >> tidak mencantumkan tulisan Smansa, jadi nggak keliatan banget kalo itu seragam heheh. Trus juga my beloved swallow sandal. Aaaak, itu adalah benda yang emang selalu setia menemaniku kemanapun pergi. Cek aja posting-postingan sebelumnya kalo nggak percaya. Mulai dari Merbabu, Pantai Siung, makrab, kuliah lapangan kualitatif, bahkan jalan-jalan ke Solo aja sandal itu ngeksis diapake Mbak Nisa :D Cintaku nggak cuma sama sepatu ternyata, sama sandal japit swallow juga, dan kudu yang warna biru putih B)




Tak lupa juga aku nulis-nulis di pasir pantai kayak anak galau masa kini, Eits, tapi aku nggak lagi galau, cuma pengen nulis ini aja. Especially for you, cause you're completely accepted :) Hihihi jadi maluuu...


HAPPY HOLIDAY EVERYONE!!!
Travelling-lah selagi kamu masih muda, beda, dan berbahaya :D
Karena Soe Hok Gie pernah berkata 
"Seseorang hanya bisa mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya, dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat"




January 25, 2014 1 comments
"Yang diajarkan oleh jarak yang jauh
maupun waktu yang sempit
adalah bagaimana cara menghargai
kesempatan bertemu"

tweet-nya @falla_adinda
18 Januari 2014
January 22, 2014 No comments
Solo! Dengan tagline-nya "The Spirit of Java"
Pertama kali dateng ke tempat ini pas kelas X dan langsung jatuh cinta sama Solo.
Aaaakkk....Solo :*
Cinta keduaku setelah Magelang XP
Selalu pengen balik kesana lagi tapi belum kesampaian
sampai kemaren, Sabtu 11 Januari 2014
Aku nekat ke Solo :D
Bareng kakakku dan temen kami di pondok, Puput.
Nggak bisa banyak ngomong saking bahagianya, cuma rangkaian foto ini yang bakal cerita.

our first train ticket!!!

Iya, ini pertama kalinya kami bertiga naek kereta api, setelah dua puluh tahun hidup. Ciyee banget ini pokoknya. Pertamanya naik kereta tujuannya adalah Solo tercintaaah u,u Kami naik dari Stasiun Lempuyangan, Jogja. Beli tiket alhamdulillah tanpa antri. Dan itulah, tiket Kereta Api Madiun Jaya jurusan Solo-Jebres seharga dua puluh ribu rupiah yang telah diperiksa petugas :D

Sissy Nisa dan aku. Narsis bareng tiket KA pertama :p

Aku sama Puput sesaat sebelum KA Madiun Jaya dateng.
Kereta itu so swit yaaa gaiisss :3 Aaaakkk, suka juga nih sama kereta. Kapan aku bisa naik kereta sama cinta? Udah punya cintaa, Rul?? Ugggh -___- Semoga perkeretaapian di Indonesia semakin baik jadi bisa ngerasa save kalo naik kereta. Pemandangan sepanjang perjalanan menuju Solo juga ijooooo banget... Adeeeem :)



Turun di Stasiun Purwosari, Solo.
Dari Stasiun Purwosari, kami yang gak tau apa-apa tentang Solo baca plang di stasiun. Akhirnya kami memutuskan untuk nait Batik Trans dari Stasiun Purwosari ke PGS. Oke, aku nggak jatuh cinta sama Batik Trans! :s First imppression-nya udah jelek. Jadi ceritanya di dalam trans itu kami bertiga nggak dapat tempt duduk, nggak apa-pa sebenernya berdiri di bus soalnya cuma sekitar sepuluh menit perjalanan, yang bikin sebel itu adalah bus trans yang udah jelas-jelas penuh tapi petugasnya masih maksain penumpang buat masuk. Itu nggak manusiawi banget. -___- Itu juga salah satu yang harus diperbaiki sama calon pemimpin kayak kita, pelayanan transportasi publik yang bagus! Kan kalo pelayanan transportasi publik bagus orang nggak males pakai transportasi publik :) Ayook, katanya agent of change! :p

Dari pemberhentian Batik Trans di Bank CIMB Niaga Gladak, kami nggak ngerti harus kemana. Kami memutuskan tanya dimana letak Pasar Klewer sama seorang pelajar yang lagi nunggu angkutan. Eh, ternyata orang Solo baik-baik looh, ketika orang lewat mendengar kami bertanya Pasar Klewer. Ada Bapak-bapak yang juga ikut memberitahukan jalan menuju Pasar Klewer, bahkan ada dua orang mbak-mbak yang mengajak kami barengan karena mereka juga mau jalan-jalan ke Pasar Klewer. Hmm...cewek sih yaaa, yang dicari pertama langsung pasar :3

Kami pun jalan bareng sama mbak-mbak yang ternyata kerja di gereja deket Patung Slamet Riyadi. Kami lewat Sekaten. Yup! Ternyata Sekaten nggak cuma ada di Jogja. Seriusan aku baru tahu kalo Solo juga punya Sekaten. Di tengah perjalanan, kami bertiga yang begitu lapar memetuskan makan dulu. Mbak-mbak yang mengantar kami pun memberikan arahan kemana kami harus berjalan nantinya. Berhentilah kami di salah satu warung tenda di Sekaten untuk makan, Lontong Opor sama Es Teh :)

Dari tempat makan, kami melihat menara yang kami duga adalah menara Masjid Agung Solo. Mengunjungi Masjid Agung Solo aalah kegiatan yang selanjutnya kami lakukan setelah selesai makan :p

di depan Gerbang Masjid Agung Solo,
mungkin karena ada Sekaten jadi banyak penjual di halaman masjid.

Bareng Puput di depan Masjid Agung



Di kanan-kiri halaman Masjid Agung ada pemandangan yang menarik bagi kami. Yaitu ada semacam tempat untuk bermain gamelan ada beberapa niyaga (penabuh gamelan) juga, tapi nggak maen. Menurut informasi dari seorang pemuda yang kami tanya, selama Sekaten berlangsung ada pertunjukan gamelan di depan Masjid Agung, pertunjukan berlangsung dari pagi sampai sebelum Maghrib. Ketika kami kesana, pertunjukkan sedang terhenti. Menurut pemuda tersebut, itu karena menghormati waktu Dhuhur dan ara niyaga juga lagi pada sholat. Kami menunggu sejenak untuk menyaksikan pertunjukan. Sayangnya, waktu kami terbatas sehingga tidak bisa lama-lama hanya sampai intro saja kami melanjutkan perjalanan. Lagipula tempat pertunjukkan yang dipagari jeruji besi itu juga dikelilingi buanyak manusia, sampai-sampau mau take photo penabuh gamelan yang cakep aja syusyah :o


Jalan menuju Keraton dari Masjid Agung. Sempit dan macet.

Kami mengurungkan keinginan untuk ke Pasar Klewer, selain karena acara jalan-jalan ini tidak disponsori apapun sehingga dana kami limit juga karena kelihatannya sumpek. Kami lebih memilih jalan-jalan ke Keraton Surakarta Hadiningrat. Berjalan kaki beberapa lama di tengah terik matahari, kamipun melihat ikon Keraton Solo dan tentu saja nggak lupa buat jepret-jepret di depan Keraton. Aku bilang sama kakakku, Nisa kalau aku pengen foto sama penjaga pintu Keraton. 


Ternyata boleh foto sama beliau. Aaaakkk...aku seneng banget. Bungah banget pokoknyaaa :D Suatu saat semoga juga bisa foto sama para penjaga di Istana Buckingham yaaa, Amiiin :)

Hiperbahagia bisa foto bareng beliau-beliau. Solo, men! Solo!

Membeli tiket untuk masuk ke Museum Keraton Surakarta.


Halaman depan Museum Keraton Surakarta.

Bahagia foto bareng penjaga Keraton Surakarta, kami lanjut membeli tiket untuk dapat masuk ke Museum Keraton. Sepuluh ribu adalah retribusi yang harus kami bayar untuk dapat menikmati pesona Keraton Surakarta. Kami harus berjalan beberapa ratus meter dari tempat pembelian tiket untuk mencapai lokasi Museum, dimana di tepian jalan yang kami lewati tersebut terdapat beberapa penjual souvenir dari kayu berbentuk replika kecil kendaraan, dll.


Sissy Nisa di depan singgasana Raja dan foto Raja-raja Kasunanan Surakarta.


Kesenian Tayub.

Al Qur'an dengan terjemahan Bahasa dan huruf Jawa


Museum Keraton Surakarta menyimpan benda-benda bersejarah seperti singgasana Raja terdahulu, mahkota Raja, kereta kencana, keris, tombak, bahkan alat-alat masak porsi besar, lesung, dayung perahu. Adapula miniatur manusia dengan busana-busana khas kerajaan baik dari busana rakyat jelata hingga raja. 



Puas jalan-jalan dan foto di Keraton, kami melanjutkan perjalanan. Mampir sebentar ke Pasar Grosir Solo (PGS) buat beli minum. Kami sengaja nggak masuk ke PGS karena tujuan kami adalah jalan-jalan ke Solo, jadi gak ada dana buat belanja. Apalagi namanya cewek, kalo udah liat something menarik, pasti kalap heheh. Jadi mending beli mimik ajah trus lanjut ke Taman Sriwedari.

Kami memilih transportasi becak dari PGS ke Taman Sriwedari. Saru becak bertiga hihihi. Ini menarik, aku samasekali lupa kapan terakhir kali naik becak. Saat masih TK mungkin? Entahlah yang jelas ini pengalaman naik becak setelah lama nggak naik becak daaan ini di Solo :D

Sampai di Taman Sriwedari, kami nggak ngapa-ngapain sengaja cuma foto. Niatnya juga mau mampir ke Museum Radya Pustaka yang letaknya nggak jauh dari situ. Sayangnya, museum tutup karena sedang dalam revitalisasi. Hmmm...kami pun memutuskan pulang. Berjalan kaki di sepanjang city walk dari Taman Sriwedari sampai Stasiun Purwosari sambil menikmati suasana sore di Solo yang cantiiik banget :)

Itulah ceritaku,
dalam tiga jam di Solo yang unforgettable. Solo dengan pesona dan kharismanya. Solo dengan keramahan orangnya. Solo dengan lalu lintasnya yang bagus dan kotanya yang bersih. Solo dengan akasara jawa yang selalu ada bersanding dengan nama bangunan yang berdiri dengan eloknya. Solo, aku jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama :*

Kereta Api Ekonomi Non-AC Sriwedari mengantar kami pulang ke Jogja.
11 Januari 2014

January 16, 2014 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Live in small and lovely town, Magelang. Enjoy making DIY project, especially hand-embroidery. Really love writing here, share some thoughts, experience, and everything that popping in my mind.

Follow Us

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Popular Posts

  • [K-Drama] Queen Seondeok: Kisah Cinta Deokman, Kim Yu Shin, dan Bidam
    Sebuah drama yang tanpa kisah percintaan sepertinya akan terasa hambar, sehambar hidup tanpa cinta mungkin #halah maka The Great Queen Seon...
  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (2): Bacpacker ke Baluran di Musim Hujan
    Setelah kemarin menulis tentang rincian teknis jalan-jalan ke Banyuwangi, kali ini saya hendak menuliskan cerita tentang tempat wisatanya. ...
  • [K-Drama] Queen Seondeok: Drama vs Realita
    The Great Queen Seondeok adalah sebuah drama yang dibuat berdasarkan sejarah tapi dengan menyisipkan tokoh dan cerita fiksi di dalamnya. T...
  • [K-Drama] Tokoh Favorit dalam Drama "The Great Queen Seondeok"
    Nonton K-Drama berjudul  The Great Queen Seondeok (QSD)   telah membuat saya begitu excited atau apalah perasaan ini namanya, saya kurang ...
  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (3): Pendakian Gunung Ijen
    Setelah puas menikmati pesona Taman Nasional Baluran di Situbondo (seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya), saya sholat kemudian ma...
  • Review Film 'A Taxi Driver': Peran Supir Taksi dalam Membangkitkan Demokrasi di Korea Selatan
    Mumpung masih bulan April dan masih konsisten sama postingan per-korea-an, saya mau menulis tentang A Taxi Driver . Sudah lama banget saya ...
  • Tentang Kerajinan Kristik
    Selain menyulam yang telah saya bahas sebelumnya, di tahun 2018 ini saya juga mulai bikin kristik lagi. Sejauh ini, sudah ada dua kristik y...
  • Sebuah Kesempatan: MDP V Net Mediatama Television
    Sabtu sore, seminggu lalu, saya mendapat email dari Net Mediatama (perusahaannya Net TV) yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi administr...
  • Jalan-Jalan ke Banyuwangi (1): Itinerary, Transportasi, dan Biaya
    Banyuwangi adalah sebuah tempat yang ingin saya kunjungi sejak sebelum KKN. Saya bahkan sudah menggali informasi dari teman kuliah yang sud...
  • [K-Drama] Ringkasan Drama The Great Queen Seondeok: Perjuangan Wanita Meraih Tahta
    [ WARNING : Tulisan ini bakal sangat panjang, karena emang banyak yang harus dibahas dan karena saya begitu antusias. Nggak tahu lagi g...

Labels

  • DIY Project
  • Drama Korea
  • Jalan-jalan
  • KKN
  • Korean Wave
  • Life Story
  • Something Wonderful
  • Thoughts

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (3)
    • ▼  December (1)
      • Overwhelmed
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2022 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  September (5)
    • ►  July (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  October (1)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2018 (29)
    • ►  December (5)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (7)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (35)
    • ►  December (7)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  January (11)
  • ►  2016 (28)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (9)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (38)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (5)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  June (4)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (1)
    • ►  January (11)
  • ►  2013 (46)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  October (9)
    • ►  September (8)
    • ►  August (8)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (6)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (7)
    • ►  December (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
  • ►  2011 (19)
    • ►  October (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (8)
  • ►  2010 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose