twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • ABOUT
  • CATEGORIES
    • DIY
    • TRAVEL
    • THOUGHTS
    • KOREAN WAVE
  • About
  • Contact

a wonderful life

Mumpung masih bulan April dan masih konsisten sama postingan per-korea-an, saya mau menulis tentang A Taxi Driver. Sudah lama banget saya nonton film based on true story ini, yaitu sekitar akhir tahun 2017. Belakangan saya bahkan udah nonton lagi. Sudah lama pula pengen nulis (kalau bahasanya Mbak Teppy sih) review suka-suka. Awalnya yang bikin saya tertarik nonton adalah karena ada aktor Ryu Jun Yeol sebagai salah satu pemerannya dan karena tau film ini ada hubungan sama per-jerman-an. Berbeda dengan film One Way Trip yang juga saya tonton gara-gara Ryu Jun Yeol namun ceritanya menurut saya kurang apik, A Taxi Driver mengejutkan saya dengan jalan cerita yang sangat bagus. Maybe because basically I love the movie that based on true story.

Song Kang Ho, pemeran utama film A Taxi Driver. (pic source)
[SPOILER! ALERT!!]

Kondisi yang digambarkan pada adegan-adegan awal A Taxi Driver adalah kericuhan di Korea Selatan pada tahun 1980. Saat itu terjadi kudeta militer oleh seorang jenderal bernama Chun Doo Hwan dan pembunuhan terhadap presiden yang tengah berkuasa, Park Chung Hee. Jenderal Chun Doo Hwan adalah seorang diktator, ia menerapkan martial law yang sebenarnya ditentang oleh rakyat, banyak perguruan tinggi ditutup, dan ia juga menangkap para pimpinan oposisi. Para mahasiswa dan rakyat pro-demokrasi di kota Gwangju adalah yang paling frontal menentang Chun Doo Hwan. Militer bersenjata pun diturunkan untuk menghadapi perlawanan masyarakat sipil di Gwangju. Bahkan kota itu diblokade, orang tidak dapat dengan mudah keluar masuk Gwangju dan jaringan telepon juga diputus. Wartawan lokal dibatasi sementara wartawan asing dilarang masuk.

Di lain tempat, seorang supir taksi bernama Kim Man Soeb (Song Kang Ho) sedang galau karena harus membayar kontrakan seharga seratus ribu won tapi uangnya belum cukup. Ketika sedang makan siang, ia mendengar percakapan rekan sesama supir taksi, konon ada seorang penumpang WNA yang minta diantar pulang pergi dari Seoul ke Gwangju dan menawarkan upah seratus ribu won. Kim Man Seob langsung tancap gas menuju hotel yang diceritakan menjadi tempat WNA tersebut menanti taksi. Man Seob dan Peter (Thomas Kretschmann) pun berangkat ke Gwangju. Ternyata Jürgen Hinzpeter (alias Peter) adalah wartawan ARD Jerman yang berbasis di Tokyo, ia sengaja datang ke Korea Selatan setelah mendengar kabar tentang kudeta militer dan blokade di Gwangju dari rekan sesama wartawan. Dengan menyamar sebagai misionaris, ia berencana meliput demonstrasi di Gwangju.

Thomas Kretschmann yang memerankan Jürgen Hinzpeter. (pic source)
Benar saja, jalan utama dari Seoul menuju Gwangju ditutup dan dijaga tentara. Semula Kim Man Seob hendak menyerah dan membawa penumpangnya kembali ke Seoul. Didorong kebutuhan akan uang seratus ribu won, ia berusaha mencari jalan tikus menuju Gwangju. Ternyata, jalan tikus pun dijaga tentara, namun Kim Man Seob mengelabui para tentara dan berhasil masuk Gwangju. Taksi hijau Kim Man Seob berjalan menyusuri kota yang begitu sepi, toko-toko tutup, dan poster protes terpasang di seluruh penjuru kota. Tiba-tiba, sebuah truk yang ditumpangi para mahasiswa menyalip mereka dan berhenti. Peter pun turun karena ingin merekam kejadian itu. Para mahasiswa begitu senang mengetahui ada wartawan asing yang meliput, mereka berharap apa yang terjadi di Gwangju akan akan diberitakan dengan benar. Disinilah Peter bertemu seorang mahasiswa yang pandai bicara Bahasa Inggris bernama Jae Sik (Ryu Jun Yeol) yang selanjutnya bergabung dengan Kim Man Seob dan Peter, perannya adalah sebagai penerjemah Peter untuk Man Seob.

Demonstrasi di Gwangju digambarkan begitu mengerikan dalam film. Sebuah adegan di rumah sakit menampilkan banyak demonstran yang meninggal atau luka-luka akibat dihajar atau bahkan ditembak para tentara. Rumah sakit penuh sesak oleh para korban. Industri film Korsel ini bener-bener pada niat kalau bikin luka-luka terlihat mengerikan hmm. Para supir taksi di Gwangju berperan menjadi pengantar korban-korban dari lokasi demo ke rumah sakit, for free. Untuk menutupi kekerasan yang terjadi di Gwangju, pemerintah berkedok bahwa militer diturunkan demi keamanan banyak pihak untuk melawan mahasiswa yang memberontak dan pro-komunis. Berita itu pula yang tersebar di luar kota Gwangju, bahwa militer disana melawan pemberontak pro komunis. Hmm...kok jadi inget Indonesia sekarang ini yang kalau ada orang yang nggak sepaham sedikit-sedikit dikatain komunis yaa, ehehe.

Ryu Jun Yeol ketika memerankan Jae Sik.
Dari rumah sakit, Peter, Man Seob, dan Jae Sik beranjak ke sebuah jalan tempat demonstrasi besar sedang berlangsung. Disini ada tuh adegan ketika ibu-ibu membagikan makanan kepada para demonstran, sebuah bentuk dukungan dari kaum ibu. Peter, dkk kemudian naik ke atap sebuah gedung agar dapat merekam kejadian menyeluruh. Ternyata, disana ada seorang wartawan lokal juga yang sedang merekam. Ketika demonstrasi semakin panas dan tentara mulai menembakkan  gas air mata, bahkan beberapa tampak memukuli demonstran, Peter memutuskan untuk turun agar bisa mengambil gambar lebih dekat. Man Seob dan Jae Sik mau tak mau mengikuti. Tak beberapa lama, seorang tentara melihat Peter mengarahkan kamera dan mengejar Peter. Berhasil kabur dan mendapatkan gambar bagus, tiba saatnya bagi Peter untuk kembali ke Seoul. Sayangnya, taksi Man Seob justru mogok yang membuat mereka harus bermalam di rumah seorang supir taksi Gwangju bernama Tae Soo sembari menunggu taksi dibenahi.

Malam itu pula, terjadi pengeboman di sebuah stasiun televisi MBC di Gwangju. Peter memutuskan datang untuk merekam kejadian, malangnya mereka kembali dikejar pasukan keamanan. Penerjemah Jae Sik tertangkap sementara Man Seob dan Peter berhasil melarikan diri. Pasukan kemanan kini tahu ada wartawan asing di Gwangju yang menumpang taksi Seoul, merek pun memburu taksi ber-plat nomor Seoul. By the way, sound effect untuk suara-suara tembakan dan bom di film ini tuh mantap sekali. Sini nonton pake headset aja tetep kedengeran beningnya. Kerusuhan saat demonstrasi juga digambarkan apik sehingga sanggup bikin penontonnya ikutan tegang.

Keesokan harinya, berbekal peta jalan tikus dan plat nomor taksi Gwangju yang diberikan Tae Soo, Man Seob kembali ke Seoul tanpa sepengetahuan Peter dan tuan rumah. Ceritanya doi udah lelah ngurusin demo-demoan. Dalam perjalanan pulang, ia menyaksikan percakapan orang di luar Gwangju yang menyatakan bahwa demonstran Gwangju adalah komunis yang pantas dihajar tentara, sementara ia tahu kenyataanya orang-orang Gwangju justru pro-demokrasi. Hal itu memunculkan pergolakan batin dalam diri Man Seob, antara segera pulang ke rumah atau menjemput Peter dengan harapan rekaman yang dimiliki wartawan Jerman itu membawa kabar yang benar ke dunia internasional. Setelah mampir ke wartel terdekat dan mengabarkan pada putri semata wayangnya jika ia akan pulang terlambat, Man Seob memutuskan untuk kembali ke Gwangju menjemput Peter.

Sampai Gwangju ia mendapati kenyataan bahwa Jae Sik yang semalam tertangkap aparat, telah meninggal dunia dengan penuh luka. Peter dan Tae Soo sedang berada di rumah sakit menangisi kematian Jae Sik. Mereka sadar bahwa tak boleh larut dalam kesedihan karena harus menyelesaikan misi menyiarkan kabar ke seluruh dunia. Akhirnya, Man Seob mengantar Peter kembali ke Seoul. Kali ini mereka tak hanya berdua, beberapa supir taksi dari Gwangju mengantar kepulangan sekaligus mengawal mereka dari buruan tentara. Para supir taksi dari Gwangju ini rela mengorbankan diri menjadi umpan, terkena tembakan-tembakan dari mobil tentara yang mengejar hingga mengalami kecelakaan lalu lintas yang juga mencederai para tentara pengejar. Sehingga Man Seob dan Peter berhasil bebas menuju Seoul.

(pic source)
Di Bandara Internasional Gimpo, Man Seob membantu Peter menyembunyikan gulungan film dalam kaleng kue dan membungkusnya sedimikan cantik hingga petugas bandara segan membuka bungkusan yang dikira oleh-oleh tersebut. Jürgen Hinzpeter berhasil kembali ke Tokyo dan menyiarkan hasil rekamannya kepada dunia. Pemerintah Korea Selatan pun mendapatkan desakan dari warga dan dunia internasional untuk menghentikan kekerasan. Rekaman tersebut juga selanjutnya berperan dalam kebangkitan demokrasi Korea, karena tak lama setelah itu, pemilihan umum dilaksanakan. Hinzpeter juga selanjutnya diceritakan menerima penghargaan dari pemerintah Korsel atas jasanya. Bagian ending ketika Peter membacakan pidato dalam penghargaan ini benar-benar mengharukan, Thomas Kretschmann yang dari awal memerankan wartawan cuek terlihat berkaca-kaca ketika membacakan pidato. Ending-nya sungguh bikin mewek meskipun bukan love story.

Pak Jürgen Hinzpeter yang sebenarnya, muncul di akhir film.
Di akhir film, muncul rekaman Jürgen Hinzpeter yang asli menceritakan tentang keinginannya untuk bertemu kembali dengan supir taksi yang dulu membantunya meliput demonstrasi di Gwangju, namun hingga akhir hayat (meninggal tahun 2016), ia tak bisa bertemu lagi dengan supir taksi itu. Gwangju tahun 1980 tampaknya menjadi bagian paling membekas sepanjang karir jurnalistik Pak Hinzpeter, terbukti ia berwasiat agar jika ia meninggal untuk dimakamkan di Gwangju. Mungkin ia ingin dimakamkan bersama para pejuang demokrasi Republik Korea Selatan.

A Taxi Driver menyabet banyak penghargaan dan meraih 12 juta penonton selama masa penayangannya. Nggak heran sih, para pemainnya emang aktingnya top banget dan pesan yang dikandung film ini menurut saya bisa banget nyampek ke penonton. Dijamin nggak kecewa deh kalau nonton A Taxi Driver!! Kalau dari rentang nilai 1-10, saya pribadi bakal kasih nilai 8 untuk film berdurasi 137 menit yang disutradarai Pak Jang Hun ini. By the way, Pak Song Kang Ho kayaknya emang aktor kawakan di Korea Selatan, soalnya beberapa film beliau emang jalan ceritanya bagus dan nggak asal-asalan. Daebak!

‎29 ‎April ‎2018 13:32
The Duke & The Duchess of Cambridge's 7th Wedding Anniversary
April 29, 2018 No comments
Bukan, tulisan kali ini saya bukan akan membahas tentang judul blog saya. Tulisan ini terinspirasi karena saya baru saja menonton sebuah film yang baru rilis di Indonesia tanggal 13 Oktober 201 lalu yang judulnya serupa dengan blog saya. Ya, Wonderful Life.

Film karya sutradara Agus Makkie ini diangkat dari kisah nyata yang kemudian dituliskan dalam novel oleh Amalia Prabowo. Film ini bercerita tentang perjuangan seorang Ibu membesarkan anak penyandang diseleksia (gangguan membaca dan menulis). Sebelum nonton, alhamdulillah saya berkesempatan mengikuti Talkshow “Di Balik Profesi” film Wonderful Life yang digelar di Ruang Seminar Timur Fisipol UGM. Dalam kesempatan tersebut hadirlah sutradaranya, Mas Agus Makkie, sang produser Mas Angga Dwimas Sasongko, dan Mbak Amalia Prabowo sendiri. FYI, Mbak Amalia ini merupakan alumni departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahtreaan Masyarakat (PSdk a.k.a Sosiatri) Fisipol UGM angkatan 1989 yang sekarang menjadi Chairwoman dari perusahaan Advertising Agency dari Prancis; Havas Worldwide Indonesia. Nah, dalam talkshow berdurasi dua jam itu, saya mendapat banyak informasi seputar pembuatan film, khususnya dalam kasus Wonderful Life ini. Salah satu yang dibahas adalah film yang dibintangi Atiqah Hasiholan dan Sinyo ini memiliki misi untuk memberikan edukasi tentang diseleksia kepada pemirsanya. Bahwa diseleksia adalah gangguan membaca dan menulis yang dapat terjadi pada siapa saja, baik dengan tingkat intelegensia tinggi maupun rendah. Diseleksia tidak berarti seorang anak bodoh, biasanya ada kelebihan-kelebihan tertentu yang dimiliki oleh penyandang diseleksia ini. Misalnya Albert Einstein dan Leonardo da Vinci merupakan penyandang diseleksia yang diberi kelebihan di bidangnya masing-masing.

Salah satu scene dalam film Wonderful Life.
Sumber: beritagar.id
Ya, menurut saya edukasi ini perlu diberikan mengingat belum banyak masyarakat yang aware tentang diseleksia. Tema film ini menarik dan saya juga memiliki pengalaman tersendiri dengan orang yang kesulitan membaca, sehingga membuat saya menulis di blog. Ketika SD, saya memiliki teman yang sering dianggap ‘kurang berprestasi’ oleh teman-teman dan guru saya. Pasalnya, anak ini tidak bisa menulis dengan baik. Dia sering terbalik menempatkan huruf ‘b’ dan ‘d’, begitu pula kesusahan menempatkan rangkaian huruf ‘ng’. Says beberapa kali diminta oleh guru untuk duduk sebangku dengannya sambil membantunya belajar. Tapi, karena waktu itu saya masih kecil saya pun seringkali sebel kalau dia tak kunjung mengerti apa yang saya tuliskan. Permasalahan kesulitan menulis yang dialaminya ini terjadi hingga kami kelas VI.

Waktu itu, saya belum mengenal apapun tentang diseleksia. Jujur, saya baru tau tentang diseleksia ini ketika SMA karena membaca artikel sebuah majalah. Kala itu beritanya adalah tentang Bella Throne, artis Hollywood penyandang diseleksia yang kesulitan membaca naskah dialog sehingga ibunya-lah yang membacakan untuknya. Dari situ saya mulai sadar bahwa ada gangguan bernama diseleksia ini, lalu saya terpikir apakah mungkin teman saya ketika SD dulu adalah penyandang diseleksia? Jika ya, dan jika diseleksia itu ada tingkatannya, mungkin dia tingkat ringan karena meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama dan terbata dia masih bisa membaca. Saat itu, mungkin guru-guru pun masih kurang memahami adanya kemungkinan diseleksia ini. Saya rasa film adalah salah satu sarana yang baik untuk mengenalkan diseleksia mengingat budaya baca Indonesia juga tergolong rendah. Semoga teman SD saya itupun sekarang sudah hidup bahagia dan meraih sukses di jalannya! Amin.

Ada hal menarik yang disampaikan Mbak Amalia pada Talkshow film Wonderful Life yang digelar di Fisipol UGM beberapa hari lalu, kurang lebih demikian:
“Sebagai orang tua harus berdamai dengan keadaan. Bahwa anak yang terlahir dengan kebutuhan khusus adalah hak prerogatif dari Tuhan.”
Kalimat itu sejalan dengan tagline film ini “karena setiap anak terlahir sempurna” :)

Jika di sekitar kita mungkin ada anak penyandang diseleksia, maka tidak berarti dia bodoh. Bisa jadi anak tersebut memiliki kelebihan di bidang lain. Sayangnya, lingkungan kita terbiasa menilai prestasi anak hanya dari nilai-nilai akademik saja. Nah, kalau mau tau Aqil (putra dari Mbak Amalia yang diceritakan dalam Wonderful Life) ini memiliki kelebihan apa, tonton saja filmnya ya! Jatuhnya spoiler kalau saya cerita di sini haha. Saya bersyukur mendapat tiket gratis untuk menyaksikan premier film ini di Jogja hehe.

Film-nya cukup bagus kok, tipenya road movie. Tapi tempat-tempatnya nggak alay, cenderung natural. Mas Angga Dwimas Sasongko sendiri memang memnginginkan agar peran aktor dan aktris-nya tetap menonjol dalam film ini, tak semata-mata terpukau dengan setting lokasinya. Film yang menggambarkan perjuangan Ibu demi anaknya yang disampaikan tanpa harus ‘menye-menye’ juga menjadi fokus tersendiri selama penggarapan film ini. Selamat menyaksikan film, semoga semakin banyak orang yang aware tentang diseleksia ini ya :)
October 16, 2016 No comments
Older Posts

About me

About Me

Live in small and lovely town, Magelang. Enjoy making DIY project, especially hand-embroidery. Really love writing here, share some thoughts, experience, and everything that popping in my mind.

Follow Us

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Popular Posts

  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (3): Pendakian Gunung Ijen
    Setelah puas menikmati pesona Taman Nasional Baluran di Situbondo (seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya), saya sholat kemudian ma...
  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (2): Bacpacker ke Baluran di Musim Hujan
    Setelah kemarin menulis tentang rincian teknis jalan-jalan ke Banyuwangi, kali ini saya hendak menuliskan cerita tentang tempat wisatanya. ...
  • Variety Show Traveler: I Wanna Travel Like That
    Jika kalian suka jalan-jalan atau traveling ala-ala backpacker, variety show (VS) Traveler mungkin bisa jadi tontonan yang menyenangkan....
  • Reunian Teman Kuliah (MKP 2012)
    Hari pertama di tahun 2018 ini saya mulai dengan berkondangan ke Kebumen, mendatangi pernikahan salah seorang teman kuliah bernama Ela. San...
  • (no title)
    ...cause I want to live and not just survive... :) that's why I can't love you in the dark...
  • Dreiundzwanzig
    Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan bertemu penghujung tahun lagi. Diberi kesempatan untuk kembali melihat aktivitas saya setahun t...
  • Perkara Memasak
    Seminggu lebih berlalu setelah Hari Raya Idul Adha dan baru hari ini saya sempat memasak daging kurban. Tak lain, adalah karena pada Hari R...
  • Kondangan (Lagi)
    Jika di tahun 2015-2016 adalah masa saya mendatangi sidang skripsi atau wisudaan teman-teman saya, hingga akhirnya saya sendiri yang sidang...
  • [K-Drama] Queen Seondeok: Kisah Cinta Deokman, Kim Yu Shin, dan Bidam
    Sebuah drama yang tanpa kisah percintaan sepertinya akan terasa hambar, sehambar hidup tanpa cinta mungkin #halah maka The Great Queen Seon...
  • Learn to Say No
    Sometimes, it's okay to say no. Kalau kita udah tahu bahwa sesuatu itu sekiranya bakal bikin kita nggak nyaman, nggak bahagia, ...

Labels

  • DIY Project
  • Drama Korea
  • Jalan-jalan
  • KKN
  • Korean Wave
  • Life Story
  • Something Wonderful
  • Thoughts

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (3)
    • ▼  December (1)
      • Overwhelmed
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2022 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  September (5)
    • ►  July (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  October (1)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2018 (29)
    • ►  December (5)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (7)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (35)
    • ►  December (7)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  January (11)
  • ►  2016 (28)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (9)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (38)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (5)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  June (4)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (1)
    • ►  January (11)
  • ►  2013 (46)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  October (9)
    • ►  September (8)
    • ►  August (8)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (6)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (7)
    • ►  December (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
  • ►  2011 (19)
    • ►  October (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (8)
  • ►  2010 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose