twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • ABOUT
  • CATEGORIES
    • DIY
    • TRAVEL
    • THOUGHTS
    • KOREAN WAVE
  • About
  • Contact

a wonderful life


Setelah puas menikmati pesona Taman Nasional Baluran di Situbondo (seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya), saya sholat kemudian mandi (numpang di masjid soalnya air di penginapan kecil banget hiks), makan, lalu mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa ke destinasi selanjutnya: Kawah Ijen. Ketika saya berangkat, Banyuwangi diguyur gerimis kecil. Seperti sebelumnya, perjalanan menuju Kawah Ijen ini hanya berpegang pada Google Maps dan rute yang kami pilih adalah lewat daerah Licin. Saya sengaja berangkat sore sekitar jam 15.30 karena saya banyak membaca dan mendangar cerita bahwa jalan menuju Ijen sangat berkelok-kelok dan menanjak, lewat hutan pula, jadi saya nggak mau ambil risiko jalan di kegelapan. Sebisa mungkin, sebelum maghrib harus sampai pos pendakiannya. Bapak-bapak pegawai Pengadilan Agama Banyuwangi yang kami temui di kereta dalam perjalanan menuju Banyuwangi juga berpesan agar sebaiknya jalan ke Ijen pas terang aja. Noted, Pak!


Baca Tulisan Sebelumnya:
Jalan-jalan ke Banyuwangi (1): Itinerary, Transportasi, dan Biaya 
Jalan-jalan ke Banyuwangi (2): Taman Nasional Baluran

Pendakian Gunung Ijen


Perjalanan


Sepanjang jalan dari penginapan di sekitar Stasiun Karangasem hingga Pos Paltuding di kaki Gunung Ijen, jalannya sudah aspal. Sesekali kami menemui jalan-jalan berlubang, tapi semakin ke atas, jalan aspal semakin bagus. Pada awal-awal perjalanan, rumah penduduk dan bahkan kantor-kantor pemerintah masih bisa ditemui di kanan kiri jalan. Ketika sudah semakin tinggi dari atas permukaan laut, sepanjang jalan yang ditemui hanyalah hutan dengan semacam pteridophyta (ini saya keinget pelajaran biologi jama SMA haha) raksasa dan aneka macam pohon tinggi. Ketika memasuki hutan-hutan itulah jalan yang dilalui sungguh-sungguh menanjak dan berkelok, seingat saya bahkan tidak ada penerangan jalan jadi kalau gelap hanya bisa mengandalkan lampu kendaraan. Sesekali, kabut tipis turun menutupi jalan dan tumbuhan-tumbuhan hutan, memberi kesan indah tapi juga ngeri, seperti hutan di film Twilight (#mendramatisir). Tanjakan dan kelokan ini sungguh tidak main-main, saya jadi teringat cerita teman saya, Vempi, tentang yang mobilnya mundur karena tidak kuat melewati tanjakan-tanjakan ini, syukurlah dia selamat kala itu. Maka dari itu, sungguh sepanjang jalan menuju Pos Paltuding ini saya hanya bisa banyak-banyakin sholawat.


Jalur Pendakian Kawah ijen
Jalan raya menuju Pos Paltuding.

Sewa Tenda

Sekitar satu jam perjalanan, akhirnya kami melihat bangunan-bangunan di tepi jalan, dengan gapura Selamat Datang di Taman Wisata Kawah Ijen. Alhamdulillah sampai di Pos Paltuding :) Nah, saudara-saudara, begitu sampai di Pos Paltuding kita tidak bisa langsung melakukan pendakian tentu saja, karena jalur pendakian menuju Kawah Ijen baru dibuka pukul 01.00 dini hari dan ditutup pukul 12.00 siang. Maka jauh hari sebelum datang kesini, saya mencari informasi tentang tempat yang bisa saya jadikan 'penginapan' sambil menunggu jalur pendakian dibuka. Saya pernah membaca di blog orang, kalau dia menginap di Warung Bu Im ketika berwisata ke Ijen. Pernah juga membaca informasi bahwa tersedia persewaan tenda di Pos Paltuding, dan saya memilih opsi sewa tenda. Alasan saya memilih sewa tenda adalah karena tertutup, jadi saya bisa bobok cantik sambil mengistirahatkan rambut (for hijabers like me, wearing hijab in 24 hours without taking off my 'kucir rambut' is the real struggle haha, I often end-up with 'mumet' hahah).


Warung Bu Im.

Usai parkir, saya mencari warung Bu Im dan mengunjunginya, sekadar ingin ngobrol siapa tau dapat info lebih lanjut tentang sewa tenda. Hari mulai gelap, ditambah mendung, dan di Warung Bu Im belum ada penerangan. Ternyata listrik di bangunan-bangunan Pos Paltuding ini baru dinyalakan sekitar pukul 17.30 secara bersamaan. Sepertinya listrik di sini terpusat di satu titik (gimana ya jelasinnya) sehingga baru menyala ketika orang kantor (mungkin maksudnya adalah petugas Taman Wisata Kawah Ijen-red) menyalakannya. Saya masuk ke Warung Bu Im dan memesan teh panas untuk menghangatkan tubuh setelah perjalanan. Ternyata penjaga warungnya bukan ibu-ibu seperti yang saya bayangkan, melainkan bapak-bapak hehe, Pak Rudi namanya.


Sambil menunggu Pak Rudi membuat teh, seorang bapak lain datang menghampiri kami dan mengobrol. Bapak yang kemudian minta dipanggil sebagai Pak Kipli ini bercerita tentang aneka tips pendakian dan tentu saja kami membahas sewa tenda. Dari Pak Kipli, saya dihubungkan dengan seorang bernama Pak Iwan yang mengurusi persewaan tenda. Ketika saya baca di internet, sewa tenda di Ijen dibanderol Rp200.000,- per malam (sleeping bag, matras, tenda). Tapi saat itu kami mendapat harga Rp150.000,-/malam. Saya pun mengatakan, bahwa saya membawa sleeping bag sendiri jadi Pak Iwan memberi harga sewa tenda+dua lapis matras (biar gak dingin katanya) Rp100.000,-/malam. Saya deal saja tanpa nawar lagi. Btw, tendanya bersih wangi, dipasangin sama Pak Iwan dan beliau juga yang bongkar hehe. Menurut saya harga segitu sebanding laah, daripada harus bawa peralatan camping dari Jogja yang nambah berat tas atau sewa di Banyuwangi kota yang mengharuskan cari-cari lokasinya lagi hehe.


PS. Kalau teman-teman ada yang ingin sewa tenda di Pak Iwan juga, bisa saya kasih kontaknya loh. Tinggalkan saja alamat email teman-teman di Kololm komentar :)

Fasilitas Pos Paltuding

Di pos ini ada tempat parkir luas, toilet, camping ground, warung-warung (kalau tidak salah ada 3 warung), dan kekuatan sinyal 4G untuk Anda pengguna Telkomsel dan Axis (provider lain kulrang tau ya, karena saya cuma pakai dua itu hehe). Ada juga bangunan mushola di samping Warung Bu Im, namun menurut keterangan Pak Rudi mushola tersebut kurang terawat, maka beliau mempersilakan kami untuk sholat di ruangan khusus di warungnya. Terima kasih, Pak. Kalau sudah malam, beberapa pedagang senter, syal, dan kaos tangan akan membuka lapak mereka. Jadi, kalau kita ada yang kelupaan membawa equipment untuk melawan hawa dingin, bisa laah beli ke mereka.


Kondisi Pos Paltuding dari Warung Bu Im.


Suhu

Ketika kami datang, cuaca di Paltuding agak mendung, tapi makin malam alhamdulillah makin cerah. Suhu di tempat ini begitu dingin. Saya bahkan memakai baju empat lapis (hahaha) yang terdiri atas kaos, sweater tipis, jaket gunung, dan jaket biasa. Jangan lupa bawa kaos tangan, kaos kaki, obat-obatan, masker etc. Oh iya, untuk masker khusus yang biasa digunakan untuk menghidari aroma Belerang yang menyengat, kami menyewa dari Pak Rudi di Warung Bu Im seharga Rp20.000,-/masker. Sembari menunggu dini hari, waktu yang ada saya gunakan untuk istirahat. Jangan harap bisa tidur nyenyak...karena dingin banget hahaha. Di tengah dingin itu lah, saya menyeduh mie instan cup rasa kari, sungguh mantap sekali wkwkwk. Oh iya, saya sarankan bawa termos kecil biar bisa bawa sangu minum anget. Saya beli air panas di Warung Bu Im, untuk membuat mie instan dan membuat grean tea latte untuk bekal mendaki Ijen hehe.


Tiket

Pukul 01.00 dini hari, Pak Iwan sang penyewa tenda membangunkan para pelanggannya dengan cara menyorotkan senter ke tenda. Saya bangun, cuci muka, dandan, dan beresin barang-barang. Oh iya, sore sebelum beristirahat tadi, Pak Rudi berpesan agar ketika mendaki, barang-barang  yang nggak dibawa jangan ditinggal di tenda, melainkan dititipkan saja ke warung beliau, for free. Jadi, saya menuruti saran beliau dan mempercayakan barang-barang kepada Pak Rudi. Saat itu, di depan warung beliau sudah banyak mobil-mobil parkir dan para pendaki yang bersiap.

Langkah selanjutnya yang harus saya tempuh adalah membeli tiket. Ada dua loket  tiket (yang letaknya saling berjauhan, jadi saya sempat salah masuk hehe), untuk wisatawan domestik dan mancanegara. Tiket wisatawan domestik dipatok seharga Rp5.000.-/orang, betapa murahnya. Tiketnya bagus loh, terbuat dari art-paper agak tebal, sayangnya saya nggak sempet ngefoto tiket ini karena sepertinya jatuh dari jaket pas saya pulang. Selain itu, di loket ini pula kita akan ditarik retribusi parkir, karena saya membawa motor maka dikenakan retribusi Rp5.000,-.


Pendakian

Kami memulai pendakian sekitar pukul 01.45 WIB. Alhamdulillah, cuaca begitu cerah, bahkan bulan agak purnama dan terang benderang menerangi langkah-langkah kecil kami (halah). Mayoritas orang yang mendaki bersama kami adalah wisatawan asing (and most of them speak Deutsch), sangat sedikit wisatawan domestik yang naik hari itu.


Jalur pendakian berupa jalan yang lumayan lebar.

Rute Pendakian Kawah Ijen
Jalur pendakian pas udah mau sampai puncak, salah satu sisinya jurang.

Jalur pendakian di Ijen menurut saya cukup jelas karena berupa jalan yang cukup lebar
, tidak seperti jalan setapak yang pernah saya lalui ketika mendaki Lawu atau Sindoro beberapa tahun silam. Jalan yang dilalui kadang sangat menanjak dan kadang landai. Saya sungguh ngos-ngos-an dengan track ini. Suhu yang semakin dingin juga mungkin berkontribusi membuat saya menjadi lemah haha. Dalam suhu yang sedemikian itu, bule di depan saya lepas jaket dan tinggal pake singlet saja. Seperti inilah perbedaan orang yang hidup di negara empat musim dan terbiasa berhadapan dengan suhu dingin vs saya yang di suhu sepuluh derajat celcius sudah menggigil. Selain dingin, saya yang sudah tidak rutin olahraga adalah penyebab utama ngos-ngos-an ini. Jadi saya jalan pelan-pelan saja sambil sesekali berhenti (setiap lima menit sekali) hehehe.


Ada pos-pos dan toilet yang bisa dipakai istirahat.
Di beberapa titik jalur, mudah ditemukan bangunan permanen yang bisa digunakan untuk istirahat yang bahkan dilengkapi dengan toilet. Di ketinggian 2.214 mdpl Anda akan menemukan Pondok Bunder, semacam bangunan untuk beristirahat dan ada warungnya juga. Ini adalah markasnya para penambang belerang di Kawah Ijen. Dari tempat ini, pemandangan lampu-lampu kota Banyuwangi dan perairan Selat Bali yang diterpa cahaya bulan sungguh terlihat memukau, mengingatkan saya pada Pos IV Gunung Lawu. Pemandangan itulah yang akan menemani Anda sampai ke puncak nanti.

Beberapa lama berjelan setelah Pondok Bunder, bau belerang semakin menyengat. Di sinilah kami mulai menggunakan masker sewaan. Sebenernya pakai masker macam begitu sungguh sumpek, tapi yaa mau gimana lagi. Bau belerang di sini sungguh lebih dahsyat daripada Kawah Sikidang di Dieng sana. Ketika kelak menemukan jalan yang cukup landai, berbahagialah, beberapa saat lagi Anda mencapai Kawah Ijen.



Pondok Bunder.

Blue Fire

Setelah sekitar dua jam pendakian, kami sampai di puncak Ijen. Cuaca di sini sungguh tidak menentu, kabut datang dan pergi begitu cepat. Setelah perjalanan yang penuh perjuangan, menuruni lereng lewat batu-batu terjal, kami sampai di titik tempat melihat blue fire. Sekitar pukul empat kurang sedikit, blue fire menyala (atau dinyalakan), tapi hanya kecil. Saya tak mau lama-lama di tepi kawah karena kabut yang tak menentu. Saya khawatir jika kabut turun lama, jalan berbatu yang harus saya lewati untuk sampai di titik ini akan tertutup juga. Selain itu, Pak Kipli bercerita kepada kami, bahwa tepat sehari sebelum saya datang, Kawah Ijen baru saja menyemburkan gas beracunnya. Alam memang tak bisa diduga dan saya memilih tak ambil risiko.

Dalam perjalanan naik dari bibir kawah ke puncak, blue fire menyala semakin besar. Saya berhenti sejenak untuk menyaksikan fenomana alam yang memukai ini. Seorang turis asing di samping saya bertanya pada saya, "Do you want to take a photo of the blue thing?" Saya menjawab "No, I don't. I just wanna see it from here." Tak lupa saya menawarkan kalau-kalau dia pengin difotoin pake background blue fire (yaa kali doi ngode kan yaak? saya mencoba peka dong). Tapi dia tidak mau, dia hanya ingin merekam dengan matanya. Ya, kadang ada satu titik dimana kita nggak ingin memotret sesuatu karena kita ingin merekamnya lewat mata. Jadi maaf, tak ada gambar blue fire di tulisan ini. Datanglah, saksikanlah sendiri lukisan Tuhan ini! :) 


Di sepanjang jalur pendakian hingga puncak Ijen, banyak orang yang menawarkan jasa kereta dorong.
Nantinya pendaki tinggal duduk di kereta-kereta dalam foto itu, dan ditarik hingga ke puncak.
Tapi, biayanya tentu saja mencapai ratusan ribu rupiah.

Di antara batu-batu terjal yang saya lalui itu, banyak penambang belerang berlalu-lalang. Cerita tentang mereka akan saya tuliskan lain waktu, tapi yang pasti mereka adalah pejuang bagi keluarganya. Ketika berbincang dengan seorang penambang, Bapak tersebut membawa benda padat kuning yang dibentuk-bentuk lucu. Ternyata itu adalah sabun belerang yang beliau jual. Saya memutuskan membelinya, sepuluh ribu rupiah untuk setiap sabun dan saya membeli dua. Saya ingat ada yang pernah berpesan dalam blog-nya: kalau main ke Ijen, belilah kerajinan yang dibuat dan djual penduduk lokal. Mungkin, maksud penulisnya itu agar wisata di Ijen ini bener-bener memberi trickle-down effect bagi penduduk lokal dan saya setuju itu. Pada akhirnya sabun itu tidak saya gunakan sabunan, dan cuma dipasang di meja karena terlalu lucu haha.


Kawah Ijen, tapi agak ada kabut-kabutnya gitu huhu.





Perjalanan Turun

Sampai di atas, matahari terbit. But it's soo cloudy so I can't take the sunrise pic. Di atas inilah saya baru foto-foto. Oh iya, di puncak Ijen ini ada bangunan mushola dan toilet, jadi tak perlu khawatir. Tak lama di atas, saya segera turun, kembali ke Pos Paltuding. Pemandangan sepanjang jalan saya turun sungguh sungguh elok! Tampak Gunung Raung berdiri megah di seberang sana dan hijaunya Kawah Wurung. Pemandangan kota Banyuwangi dan lautan yang terlihat kelabu di bawah sana juga sungguh memukau. Saya sampai di pos pukul 08.00 pagi dan mengambil barang-barang yang saya titipkan di Warung Bu Im, sekalian mengisi perut dengan teh panas dan pisang goreng. Mungkin hanya sekitar 20 menit beristirahat dan saya melanjutkan perjalanan kembali ke penginapan.


Perjalanan turun.
Pemandangan di perjalanan turun.




Saya turun ke penginapan bersama Pak Kipli, beliau bahkan berbaik hati mengantarkan kami untuk mampir ke Air Terjun Jagir (yang sebenarnya tidak ada dalam rencana saya sebelumnya). Turun dari Pos Paltuding adalah lagi-lagi perjuangan karena jalannya menurun dengan ekstrem. Pastikan rem kendaraan berfungsi dengan sangat baik dan pastikan untuk terus merapalkan doa pada-Nya. Ini penting sekali. Dua malam sebelum kami menginap di Pos Paltuding, seorang pengendara motor kecelakaan di jalan ini karena rem blong. Bahkan saya masih bisa melihat bekas kecelakaan yang masih dipasangi garis kuning. Ngeri. Pesan saya: doa, jangan lupa doa.


Well, akhirnya selesai juga nulis cerita pendakian ke Ijen.Saya bertemu begitu banyak orang baik di Ijen yang ingin saya tuliskan di blog. Tapi, kalau saya tulis sekarang, tulisan yang sudah panjang ini akan semakin panjang hiks. Jadi saya tulis lain kali saja yaa. Yang jelas, terima kasih kepada Pak Rudi, Pak Kipli, Pak Iwan, bapak-bapak bule Chinese yang ngintilin saya sepanjang pendakian, dan mas-mas yang katanya adalah Tim SAR Sleman yang kami temui di ketika turun, kalian mewarnai pendakian kami :) 

Masih ada Jawatan Benculuk, Air Terjun Jagir, dan Watu Dodol yang ingin saya tulis disini. Saya harap minggu ini bisa khatam karena target saya, setelah Maret ini tulisan di blog temanya jalan-jalan ke Banyuwangi, April nanti bakal beda lagi temanya hehe. Apa yaa kira-kira? Kita tunggu saja yaa hahaha.


29 Maret 2018 23:13 WIB
Pada kenyataannya baru diunggah hari ini 1 April 2018,
karena abis sakit hiks :((
April 01, 2018 37 comments
Setelah kemarin menulis tentang rincian teknis jalan-jalan ke Banyuwangi, kali ini saya hendak menuliskan cerita tentang tempat wisatanya. Seperti yang sudah saya bahas di artikel sebelumnya, jalan-jalan kali ini bisa dibilang punya tujuan mainstream yaitu Taman Nasional Baluran dan Kawah Ijen. Nah, artikel ini bakal membahas that iconic Africa van Java a.k.a Baluran National Park. Here we go! Btw, sesungguhnya TN Baluran ini tidak di Banyuwangi sih, melainkan di wilayah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.
Baca Tulisan Lainnya:
Jalan-jalan ke Banyuwangi (1): Itinerary, Transportasi, dan Biaya
Jalan-jalan ke Banyuwangi (3): Pendakian Gunung Ijen 


backpacker baluran


Perjalanan

Sebenernya, mengunjungi Taman Nasional Baluran lebih disarankan ketika siang setelah dhuhur, karena pada saat itulah hewan-hewannya muncul hahaha. Berhubung jalan-jalan saya kali ini bertepatan dengan musim hujan, maka saya memutuskan untuk mengunjungi Baluran pagi hari, biar nggak kehujanan hahaha. Mohon maaf ini traveler-nya emang males kehujanan LOL. Saya, berangkat dari penginapan di depan Stasiun Karangasem itu pagi jam 08.00 dengan mengandalkan sepenuhnya pada Google Map. 

Dari Stasiun Karangasem, kami ikuti petunjuk Google Map ke arah Pelabuhan Ketapang, abis itu lurus aja ikuti jalan gede ke arah utara. Sekitar satu jam perjalanan, Anda akan menemukan batu besar yang berdiri di tengah jalan, itulah yang disebut dengan Watu Dodol. Kalau udah nemu batu ini, insyaallah TN Baluran sudah dekat. Nanti, di kanan jalan Anda akan menemukan gapura TN Baluran and...welcome to Baluran.


Inilah yang saya maksud dengan batu besar di tengah jalan.

Tiket

Sebelum menjamah Baluran lebih dalam, tentu saja saya harus membeli tiket. Kantor tempat membeli tiket berbentuk rumah panggung, resepsionis akan melayani Anda dan memberi brosur wisata Baluran. Tak lupa, dengan ramah ia akan menjelaskan ada apa aja di Baluran, titik mana aja yang bagus buat foto, dan yang paling penting: bagaimana mengatasi monyet-monyet yang berpotensi 'mengganggu'. Jadi tips dari Mbak resepsionis untuk mengatasi masalah permonyetan ini adalah: Jangan ninggalin barang di motor, jangan ngeluarin makanan, dan sok-sok-an mau ngelempar sesuatu aja kalo doi mau nyerang, (asal jangan dianiaya ya-red).


fasilitas taman nasional baluran
Baluran National Park's starter pack.

Selesai urusan tiket, saya memilih untuk melihat Baluran dari gardu pandang di samping kantor tempat saya beli tiket. Dari situ, kita bisa melihat hutan dan savana dari ketinggian (entah berapa meter). Nggak lama di gardu pandang, saya melanjutkan perjalanan.


Savana Bekol

Tempat iconic di Baluran adalah Savana Bekol. Jarak padang rumput ini dari tempat pembelian tiket adalah 12 kilometer (kata Mbak-nya). Tapi, tolong jangan remehkan 12 kilometer itu, karena jalan yang harus dilalui penuh rintangan dan cobaan. Jalannya berupa aspal sih, tapi udah berlubang dimana-mana dan tersisa butiran-butiran kerikil. Nggak kebayang kalau hujan deras, jalan ini mungkin bisa kayak sungai berbatu hiks. Sebagai pengguna motor (matic pula) maka kami sangat berhati-hati menempuh jalan ini (ditambah sesekali berhenti buat foto) maka sampailah kami di savana sekitar 45 menit kemudian. Sepanjang jalan menuju savana, kanan kiri adalah hutan dan saya banyak menjumpai kera, kupu-kupu, ayam hutan, aneka burung, musang, dan bahkan merak.


Kondisi jalan di dalam area TN Baluran.

Lubang dan genangan ini gak cuma ada satu, gaes!
Mohon untuk tetap semangat HAHAHA

Finally, yaay!!

Sampai di Savana Bekol, tentu saja kami sejenak memarkir kendaraan dan take a lot of photos. Pemandangan di sini sunggah membahagiakan. Musim hujan membuat savana ini tidak gersang kekuningan melainkan hijau sejauh mata memandang berlatar Gunung Baluran yang tampak biru gagah di kejauhan sana. So beautiful! Di dekat spot foto favorit Savana Bekol, ada warung makan dan semacam pondok kayu yang saya pikir bisa digunakan untuk menginap. Sepertinya lain kali harus merasakan menginap di tengah padang sabana dan bangun pagi untuk menikmati sunrise dari pondok kayu. So tranquil, right? (Meskipun saya nggak yakin, ini pondoknya hadap timur apa enggak sebenernya haha).





Ini yang saya maksud dengan pondok kayu,
namanya "pesanggrahan" sih sebenernya.

Ini tempat parkirnya, tapi orang-orang jarang parkir di sini
dan hanya parkir di pinggiran-pinggiran savana.

Ini ada peta habitat hewan-hewan.

Sejauh mata memandang. Nggak kebayang,
kalau hujan jalan ini pasti becek yaa huhu
NB. Itu bukan mobil saya, tapi mobil rombongan pengunjung lain.

Pantai Bama

Puas di Savana Bekol, saatnya kami melanjutnya perjalanan ke Pantai Bama yang jaraknya 3 km dari savana. Nggak usah takut kesasar, karena jalan di taman nasional ini ya cuma ada satu, jadi ikuti jalan saja. TN Baluran ini emang lengkap, abis liat hutan, liat sabana, saatnya disuguhi pemandangan pantai. Ombak di pantainya tenang, bikin kangen ombak di Seliu #halah. Ada beberapa ayunan yang bisa digunakan untuk melamunkan rindu, ada juga fasilitas mushola dan toilet, sama ada bangunan-bangunan tak berdinding yang entah fungsinya apa. Oh iya, perhatian saudara: monyet disini lebih banyak dan lebih usil daripada di Savana Bekol. Jadi, waspadalah! Di Pantai Bama, nggak cuma ada pantai aja, tapi juga ada zona buat liat burung, mangrove trail, dan sebuah tempat yang didefinisikan Mbak Resepsionis tadi sebagai "batu hitam yang bagus buat selfie" (aku langsung kabayang Batu Satam di Tanjung Pandang dong pas denger itu). Dari tiga tempat itu, saya cuma ke mangrove trail-nya. Nggak jauh kok, jalan kaki bentar doang (nggak nyampe lima menit) udah sampai. Ini pertama kalinya sih saya menyaksikan mangrove-mangrove raksasa dari dekat. Ngeri tapi menawan.


Pantai Bama.

Rasanya ingin lebih lama di tempat ini :(((

Ada musholanya, seberang mushola nanti juga ada toiletnya.

Oh iya, sepanjang perjalanan menuju savana, kami hampir tidak berpapasan ataupun disalip sama pengunjung lain, selain petugas TN Baluran yang kebanyakan naik semacam KLX. Kami baru bertemu pengunjung lain ketika berada di savana, ada dua rombongan keluarga dan satu rombongan wisatawan asing yang kami temui. Di Pantai Bama, kami juga bertemu rombongan keluarga yang ternyata adalah orang Magelang. Seriously, I meet Magelangers everywhere! Tapi beliau sudah lama tinggal di Jakarta jadi cuma sesekali mengunjungi Magelang. 


Jalan menuju mangrove-nya.

Mangrove Trail Pantai Bama, TN Baluran.

Mangrove Trail Pantai Bama, TN Baluran.
Sooo beautiful!!
Dari mangrove trail, saya memutuskan untuk pulang karena mulai mendung. Saya ngeri aja kalau harus lewat jalan balik ke pos pembelian tiket pas hujan, hmm... ngeri banget pasti itu aspal rusak, kerikil, campur air. NO! Di sepanjang perjalanan kembali ke pos saya banyak berpapasan dengan rombongan-rombongan yang mau berangkat. Mungkin mereka mengikuti yang disarankan orang-orang: mengunjungi TN Baluran selepas dhuhur. Namun, benar saja ketika saya tinggal beberapa meter menuju pos pembelian tiket, tiba-tiba hujan datang begitu derasnya yang membuat kami memutuskan berteduh dahulu di pos pembelian tiket sebelum melanjutkan perjalanan.

Curhat
[Mohon maaf, saudara-saudara...tiba-tiba ada sub-judul kayak gini HEHEHE]

Kemarin ada teman saya yang melihat foto Savana Bekol ini bilang: "Wah, sejuk sekali!" Let me tell you, gaes (sok-sok'an) meskipun musim hujan, jangan harap di sini sejuk, apalagi di Savana Bekol. Emang sih, pas lewat hutan lumayan sejuk, tapi di sabana sudah panas dong. Saya yang jarang minum aja selama pulang-pergi Baluran hampir ngabisin air mineral kemasan 1,5 liter. Nggak kebayang, kalau pas kemarau kayak apa panasnya. So, jangan lupa bawa minum dan oleskan sunblock untuk melindungi kulit :)

Trus, sepanjang lewat 12 kilometer hutan-hutan di TN Baluran, saya tuh pikirannya random kemana-mana. Mikirin jaman kerajaan dulu, transportasinya gimana ya? Randomly teringat Dyah Pitaloka yang dateng jauh-jauh dari Kerajaan Sunda ke Kerajaan Majapahit. Waktu itu Princess Dyah Pitaloka naik apa ya? Iya sih, awalnya bisa aja lewat laut, tapi pas jalur daratnya? Kan belum ada aspal tuh, pasti lewat hutan-hutan juga kan ya? Apakah Dyah Pitaloka naik kereta kencana seperti GKR Hayu pas royal wedding kemarin? Atau naik kuda sendiri didampingi orang-orangnya? Atau ditandu kayang gungju-gungju di Korea? Ah entahlah, kenapa tiba-tiba saya penasaran sekali wkwkwk. Mungkin ini efek kebanyakan nonton sageuk drama Korea ya HAHAHA. Ya sudah, mari diakhiri saja agar tak melebar kemana-mana :D


Ya, itulah perjalanan saya ke TN Baluran. Saya tidak bertemu hewan besar semacam rusa, banteng, gajah, apalagi panthera pardus. Konon, kalau musim hujan, hewannya memang tidak banyak menampakkan diri. Ya sudah tidak apa-apa, terbayar kok sama pemandangan tak biasa yang saya lihat sejak dari pintu masuk TN Baluran. Besok ke bonbin aja sekalian kalau mau lihat hewan-hewan ehehe. Semoga tulisan ini bermanfaat dan sampai jumpa di tulisan selanjutnya yang akan membahas Kawah Ijen :)

If you wanna share about your trip or have any question,
please kindly left the comments below! :D
HAPPY WEEKEND!!!
March 23, 2018 9 comments
Banyuwangi adalah sebuah tempat yang ingin saya kunjungi sejak sebelum KKN. Saya bahkan sudah menggali informasi dari teman kuliah yang sudah pernah kesana. Targetnya, setelah KKN selesai saya bisa berangkat ke Banyuwangi. Niatan itu tak kunjung terlaksana, tapi keinginan untuk berkunjung kesana tak pernah padam. Setelah sidang skripsi, alhamdulillah ada rezeki yang bisa digunakan untuk ke Banyuwangi, tapi wisudaan ternyata butuh duit yang nggak sedikit maka tabungan saya dialihkan buat perkara wisudaan ini, because saya nggak mau minta duit Ibuk heheh. Sekian lama berlalu, November 2017 saya sudah pesan tiket kereta dan bikin itinerary buat main ke Banyuwangi-Bali. Sayangnya, menjelang hari keberangkatan, ada banjir di Sidoarjo yang membuat kereta yang saya pesan tidak bisa lewat. Ya sudah, mungkin belum rejekinya.

Backpacker Banyuwangi

Sekian lama saya nggak pernah main yang jauh dan cuma mengandalkan Drama Korea sebagai hiburan akhirnya Februari 2018, ketika saya rasa ada kesempatan untuk mengunjungi Banyuwangi, saya tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Maybe, this is it, time for it. Emang sih cuacanya lagi sering hujan gini, but I take the risk! Makanya saya banyak berdoa supaya pas disana dapat cuaca cerah hehe. Berbekal itinerary yang sudah saya susun berdasarkan baca banyak artikel di blog dan menyimak cerita teman-teman (itinerary ini sebenernya adalah untuk jalan-jalan November tahun lalu) saya berangkat ke Banyuwangi. Tujuan utama saya hanya dua: Taman Nasional Baluran dan Kawah Ijen. Sebenernya Banyuwangi hanyalah tempat transit sih, karena pada dasarnya Taman Nasional itu di Situbondo dan Gunung Ijen di perbatasan Banyuwangi-Bondowoso. Kurang lebih seperti inilah gambaran wisata Banyuwangi (yang saya susun ala kadarnya).


Baca artikel selanjutnya:

Jalan-Jalan ke Banyuwangi (2): Wisata Taman Nasional 

Jalan-Jalan ke Banyuwangi (3): Pendakian Gunung Ijen

Banyuwangi Tourism Map
Peta dari Google Map, lalu diolah sendiri sama saya.
Yaa, kira-kira di situlah lokasi-lokasi wisatanya hahaha.

Here, I share the journey that I experinced in Banyuwangi. Saya akan membagi cerita saya dalam tiga bagian, yaitu: tulisan ini (yang akan membahas hal-hal teknis selama perjalanan) dan dua tulisan yang membahas tempat wisatanya. Yuk, mari dimulai.


1. Itinerary

Saya siapkan itinerary-nya kayak gini meskipun pada kenyataanya tentu saja ada pergeseran jam, meski nggak jauh-jauh amat. Detail dan perubahannya, nanti saya ceritakan di postingan berikutnya yaa. Sekali lagi intinya saya ke TN Baluran dan Kawah Ijen. Sempat terpikir mau ke Teluk Hijau atau ke Pantai Pulau Merah, tapi mempertimbangkan fisik yang abis naik Ijen saya akhirnya nggak kesana. Kesehatan adalah hal yang utama dan saya begitu mengenal fisik saya hahaha. Jadi, kalau mau dikata sayang nggak ke Teluk Hijau bla bla bla. No! Saya punya dua hari disini and this is how I manage the time I have. Btw, jika ingin itinerary versi lengkap, silakan tinggalkan alamat email di kolom komentar, saya akan dengan senang hati mengirim ke teman-teman hehe. 

Tolong abaikan poin pertama karena itu dulu dibikin pas mau trip Bali-Banyuwangi.
Tapi poin selanjutnya nggak beda jauh kok heheh.





2. Transportasi

Saya berangkat dari Stasiun Lempuyangan Yogyakarta naik Kereta Api Sri Tanjung dengan tujuan Stasiun Karangasem (Banyuwangi). Tiket kelas ekonomi ini cukup murah yaitu Rp94.000,-/orang, namun lamanya perjalanan yang harus ditempuh juga lumayan bikin sabar yaitu empat belas jam. KA Sri Tanjung ini berangkatnya pagi-pagi sekitar pukul 07.00 dari Jogja dan sampai di Karangasem sekitar pukul 21.30. Oh iya, nantinya sekitar jam 13.00, KA Sri Tanjung ini bakalan berhenti cukup lama di Stasiun Surabaya Gubeng karena bakal putar lokomotif (atau papaunlah itu istilahnya). Nah, di Surabaya Gubeng inilah ada waktu yang bisa dimanfaatkan untuk menunaikan sholat dhuhur (dijamak sholat ashar sekalian aja hehe). KA Sri Tanjung ini juga saya gunakan buat pulang kembali ke Jogja. Berangkat pagi juga dari Banyuwangi dan berhenti di Surabaya Gubeng juga sehingga waktunya bisa buat sholat.


Sewa Motor Banyuwangi
Seperti inilah motor yang saya gunakan untuk mobilisasi di Banyuwangi dan sekitarnya.

Nah, kalau selama di Banyuwangi, transportasi yang saya gunakan adalah motor Honda Vario 125. Saya menyewa motor di Rumah Singgah Banyuwangi seharga Rp75.000,-/hari. Tanpa deposit, dan cuma ninggal KTP doang. Fasilitas yang kita dapatakan hanya motor dan helm ya, jadi kalau misal perlu jas hujan harus bawa sendiri. Bisa aja tuh pakai jas hujan plastik yang murah. Kalau saya sih emang bawa jas hujan dari rumah, soalnya saya juga pengen naik ke Kawah Ijen, jadi siap-siap jas hujan. Selain itu bensin tentunya harus keluarin duit sendiri. Selama dua hari di sana, saya isi bensin (Pertalite) dua kali doang. Pertama isi Rp19.000,- lalu isi Rp25.000,-. Tapi pas kami pulang itu lumayan sisa bensinnya. Bensin segitu bisa ke Karangasem - Baluran - Karangasem - Ijen - Jagir - Karangasem -Jawatan Benculuk - Watu Dodol - Taman Sri Tanjung - Karangasem. Berapa kilo ya itu haha. Lumayan irit laah ini Vario 125.


3. Penginapan

Seorang teman pernah menyarankan bahwa jika ke Banyuwangi, bisa menginap di Rumah Singgah Banyuwangi yang letaknya tepat di depan Stasiun Karangasem. Silakan kepo instagramnya di @rumahsinggahbwi. Saya pun memilih tempat ini dengan sebelumnya sudah mengubungi nomor yang tertera di bio instagram. Ada beragam penginapan yang ditawarkan:
  • Penginapan bagus dengan kamar mandi dalam seharga Rp100.000,-/malam (bisa dihuni dua orang).
  • Penginapan yang semacam buat kelompok seharga Rp60.000,-/orang per malam.
  • Penginapan standar dengan kamar mandi luar (bisa dihuni dua orang juga). Saya memilih yang ini saja yang paling murah. Waktu itu ditawarkan dengan harga Rp50.000,-/malam. Tapi tiba-tiba si Mbah yang jaga bilang Rp40.000,-/malam. Saya nggak nawar sih, cuma udah dikasih segitu dan males nawar haha.

But, what do you expect from those price? Is it worth-it?
Buat saya sebenernya lumayan, setidaknnya ada tempat buat istirahat dan lepas jilbab. Karena kalau pakai yang buat berkelompok saya takutnya banyak orang dan jadi harus stay wearing hijab haha. Tapi, pas hari pertama di sana air di kamar mandi itu kecil sekali (sampai harus nampung air lama, baru mandi) dan kamar mandinya kotor. Untungnya, pas hari kedua, airnya sudah normal, kamar mandi sudah ada tempat sampah, dan gantungan bajunya.  Selain itu saya merasa pelayan di sini kadang slow respond. Bukan, bukan dalam hal membalas pesan haha. Tapi ketika kita bertanya atau membutuhkan sesuatu they need a little bit longer time to respond :(( Semoga ke depan pelayanannya bisa lebih baik lagi yaa, hiks.

Jadi saran saya, pastikan dulu aja penginapannya sesuai dengan yang kalian harapkan ya. FYI, di sekitar Karangasem juga ada beberapa homestay kok. Tapi yaa memang lebih jauh dari tempat saya menginap. Tapi bisalah dijangkau dengan jalan kaki lima menit. Oh ya, di sekitar tempat saya menginap ini ada beberapa warung makan juga. Tapi bukanya nggak sampai malem banget dan pagi banget juga belum buka. Mmmm mungkin buka jam 9 pagi dan tutup sekitar jam 10 malam kali ya. Kalau untuk minimarket, di sekitar stasiun ini nggak ada, tapi jalan kaki sepuluh menit ke arah berlawanan dengan stasiun (nggak tau arah mana), nanti bakal ditemui toko kecil di kanan jalan, bisa tuh kalau buat beli minum, cemilan, alat mandi, dsb. hehe.


4. Makan

Atas nama ngirit, saya bawa bekal nugget matang dan nasi dari rumah. Nugget ini setidaknya bisa dipakai makan satu hari (selama perjalanan di kereta) dan sarapan pagi (lauk doang, nasi tetep beli) berikutnya. Nah, tapi perkara makan ini saya terselamatkan. Randomly, ketika mau berangkat ke TN Baluran, nemu orang gelar dagangan di pinggir jalan. Jualan nasi bungkus model kayak yang dijualin di Koperasi Kantin Fisipol. Belilah kami buat sarapan dan makan siang, seharga Rp5.000,- per bungkus. Oh bahagia sekali nemu makanan harga segini wkwk. Rasanya juga lumayan loh, ada nasi telur sama sambal, nasi uduk sama ayam suwir, nasi suwir ayam+mie+sambel, dll. Cuma porsinya emang nggak terlalu banyak. Tapi worth-it dengan harga segitu. Hari berikutnya, saya pun kembali ke tempat ini buat njajan hahaha. Jadi, saran saya kalau masalah makan ini pinter-pinter aja ngakalinnya. Cari tempat makan murah atau bawa bekal abon misalnya. Yaa kecuali liburan Anda adalah jenis liburan yang bergelimang harta, maka bebas laah yaa hahaha.


5. Biaya

Terakhir,biaya. Ini adalah estimasi biaya yang saya susun setelah saya main ke Banyuwangi, jadi sudah berdasarkan kenyataan hahaha. Namun, ini saya hitung ala solo travel, jadi motor saya hitung Rp75.000,-/hari. Kalau teman-teman mau trip bareng temen, mungkin biaya sewa motor, bensin, dan penginapan, bisa dibagi dua dengan rekan seperjalanan biar jatuhnya lebih murah.

Oh iya, jangan lupa keperluan setiap orang beda-beda jadi bisa saja kalian akan menemukan rincian biaya yang lebih murah maupun lebih mahal dari yang saya susun ini. Semoga ini setidaknya bisa memperjelas gambaran kebutuhan biaya selama jalan-jalan, terutama jika berangkatnya dari Jogja hehe.

Estimasi biaya jalan-jalan ke Banyuwangi dan sekitarnya, dari Jogjakarta.
Disusun Februari 2018.

Baiklah, sekian dulu yang dapat saya bagikan terkait jalan-jalan ke Banyuwangi kali ini. Alhamdulillah setelah sekian lama tertunda, setelah sekian lama nggak jalan-jalan, akhirnya kesampaian juga ke Banyuwangi :) Semoga apa yang kalian cita-citakan juga bisa segera terwujud <3 span="">

Btw, I got some cynical comments about this trip :) which is I do not give any respond about that. I even don't know why they said something like that. But, I wanna say thank you for everyone who also happy for me :D
See you in the next articles!!
March 17, 2018 30 comments
Older Posts

About me

About Me

Live in small and lovely town, Magelang. Enjoy making DIY project, especially hand-embroidery. Really love writing here, share some thoughts, experience, and everything that popping in my mind.

Follow Us

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Popular Posts

  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (3): Pendakian Gunung Ijen
    Setelah puas menikmati pesona Taman Nasional Baluran di Situbondo (seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya), saya sholat kemudian ma...
  • Jalan-jalan ke Banyuwangi (2): Bacpacker ke Baluran di Musim Hujan
    Setelah kemarin menulis tentang rincian teknis jalan-jalan ke Banyuwangi, kali ini saya hendak menuliskan cerita tentang tempat wisatanya. ...
  • Nasi Goreng, Mimpi, dan Playlist
    Ide untuk membuat tulisan ini sudah terlintas sejak beberapa hari lalu, tapi sengaja saya biarkan mengendap dulu di kepala karena banyaknya...
  • Jalan-Jalan ke Banyuwangi (1): Itinerary, Transportasi, dan Biaya
    Banyuwangi adalah sebuah tempat yang ingin saya kunjungi sejak sebelum KKN. Saya bahkan sudah menggali informasi dari teman kuliah yang sud...
  • Tentang Kerajinan Kristik
    Selain menyulam yang telah saya bahas sebelumnya, di tahun 2018 ini saya juga mulai bikin kristik lagi. Sejauh ini, sudah ada dua kristik y...
  • Perkara Memasak
    Seminggu lebih berlalu setelah Hari Raya Idul Adha dan baru hari ini saya sempat memasak daging kurban. Tak lain, adalah karena pada Hari R...
  • Sebuah Kesempatan: MDP V Net Mediatama Television
    Sabtu sore, seminggu lalu, saya mendapat email dari Net Mediatama (perusahaannya Net TV) yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi administr...
  • [K-Drama] Queen Seondeok: Kisah Cinta Deokman, Kim Yu Shin, dan Bidam
    Sebuah drama yang tanpa kisah percintaan sepertinya akan terasa hambar, sehambar hidup tanpa cinta mungkin #halah maka The Great Queen Seon...
  • [K-Drama] Ringkasan Drama The Great Queen Seondeok: Perjuangan Wanita Meraih Tahta
    [ WARNING : Tulisan ini bakal sangat panjang, karena emang banyak yang harus dibahas dan karena saya begitu antusias. Nggak tahu lagi g...
  • Prangko Edisi Khusus Asian Games 2018 Jakarta-Palembang
    Halo, sudah berapa tahun cahaya saya nggak nulis blog? Ketiadaan materi membuat saya jarang nulis huhuhu, so sad . Kalau ada usulan ide bol...

Labels

  • DIY Project
  • Drama Korea
  • Jalan-jalan
  • KKN
  • Korean Wave
  • Life Story
  • Something Wonderful
  • Thoughts

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (3)
    • ▼  December (1)
      • Overwhelmed
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2022 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  September (5)
    • ►  July (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  October (1)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2018 (29)
    • ►  December (5)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (7)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (35)
    • ►  December (7)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  January (11)
  • ►  2016 (28)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (9)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  April (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (38)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (5)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  June (4)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (1)
    • ►  January (11)
  • ►  2013 (46)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  October (9)
    • ►  September (8)
    • ►  August (8)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (6)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (7)
    • ►  December (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
  • ►  2011 (19)
    • ►  October (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (8)
  • ►  2010 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  February (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose